Pasar Gelap
Gina sampai di Jakarta. Mobil sport merahnya memasuki halaman rumahnya yang mewah itu. Seorang sopir menggantikannya membawa mobil Gina masuk ke garasi. Dia berjalan lincah dengan seraut wajah penuh kepuasan. Rumah tampak sepi.
“Gin!” panggil Mamanya.
Gadis itu terkejut ketika suara Mamanya tiba-tiba memanggilnya.
“Hay, Mam. Aku kangen sama Mama,” jawabnya sambil memeluk erat wanita itu.
“Gimana liburannya? Jovan mana?”
Gina hanya tersenyum. “Liburan yang paling mengasikan, Mam. Dan Jovan langsung pulang karena ada pekerjaan mendadak,” jawabnya berbohong. “Aku ke kamar dulu ya, Mam.”
Gina berjalan menuju tangga. Gadis itu menghentikan langkahnya ketika wanita itu memanggilnya lagi. “Gin…kamu tahu kalau Dion menghilang?”
Gina tak menoleh tapi dia mengatur ekspresi wajahnya agar wanita itu tak curiga. “Kenapa memangnya, Mam?” tanyanya pura-pura.
Wanita itu hanya mengangkat bahunya. “Sudah seminggu ini Dion nggak ada kabarnya. Ponselnya pun nggak aktif. Keluarganya sudah lapor ke polisi. Mereka curiga Dion diculik oleh preman. Tapi sudah seminggu ini nggak ada satu pun yang minta tebusan?”
“Hemm…mungkin Dion mau menyendiri, Mam. Bukankah dia mau menikah?” tanyanya lagi masih berdiri di anak tangga.
“Justru itu keluarganya bingung mencari ke mana. Waktu adiknya datang ke mari, dia mau tanya kamu tempat-tempat yang biasa Dion datangi.”
“Ah, aku nggak mau berurusan lagi soal Dion. Aku sudah bahagia bersama Jovan.” Jawabnya meninggalkan Mamanya sembari menaiki tangga.
Gina merebahkan tubuhnya di kasur. Senyum kepuasan terus mengembang di wajahnya. Terbayang saat Dion menjerit kesakitan dan memohon padanya agar di kasihani. Lalu lantas dia mengerutkan keningnya mengingat saat-saat dirinya memohon untuk tidak ditinggalkan lelaki itu.
Mampus kau, Dila! Kau akan jadi janda sebelum pernikahanmu. Itu akibat yang kau terima karena merampas apa yang jadi milikku!
Suara hati Gina terus mengumpat. Sumpah serapah untuk Dion dan Dila. Dirinya tertawa penuh kelicikan. Siang nanti dia dan Jovan akan pergi ke pasar gelap untuk menjual organ tubuh Dion. Karena semua organ itu tak bisa bertahan lama di dalam frezer kecil miliknya. Hasilnya nanti akan dia pergunakan untuk foya-foya bersama Jovan dan brewok. Merayakan keberhasilan kerja keras mereka yang pertama. Hitung-hitung sebagai pengganti semua uang yang sudah berikan untuk Dion selama jadi pacarnya.
Gina terlelap dalam kepuasan. Segala sakit hatinya sudah terbalaskan. Seperti sumpahnya, Tak akan ada yang dapat memiliki Dion selain dirinya. Tak juga Dila atau yang lain. Berulangkali dia memohon dan mengemis pada cowok itu. Tapi tetap saja Dion tak menggubrisnya. Bahkan cowok itu seperti tak punya hati untuk sedikit saja mengasihaninya.
Kriiing…kriingg…kriiing…
Bunyi alarm mengejutkan Gina. Dia terbangun segera. Dilihatnya pada ponsel ada sebuah pesan whatsapp dari Rein, sahabatnya.
Gin, gimana liburannya sama Jovan? Kayaknya kalian cocok deh. Ehya, gimana juga rencana lo buat Dion? Gue denger cowok itu menghilang yah?
Gina tak menjawab pesan Rein. Tak ada yang tahu rencananya selain Jovan dan brewok. Walaupun rencana itu asalnya dari Rein, tapi sahabatnya itu tak perlu tahu. Semakin sedikit yang tahu, maka semakin aman rahasia terjaga.
Jam 17.30
Gina kelabakan bangun dari tidurnya. Dia sudah janji dengan Jovan untuk membawa organ-organ itu ke pasar gelap karena di sana sudah ada seorang broker yang menanti untuk membelinya. Lagipula semua organ itu tak dapat bertahan lama di luar setelah di ambil dari tubuh. Seperti jantung dan paru-paru yang hanya bertahan 4-6 jam. Liver yang hanya bertahan 12-15 jam. Ginjal yang dapat bertahan lama yaitu 36-48 jam. Empedu yang bertahan lebih lama.
Jovan mengurungkan niatnya untuk menawarkan semua organ itu ke rumah sakit tempat temannya bekerja. Resikonya lebih besar karena berhubungan dengan pihak rumah sakit. Di pasar gelap harga organ-organ itu bisa jauh lebih murah dari harga jalur legal. Gina amat memahami ini adalah cara mengerikan dalam bentuk organ trafficking, yaitu menculik orang untuk diambil organ tubuhnya.
Tepat pukul 18.00, Jovan menjemput Gina. Mereka pergi ke sebuah rumah pemakaman tempat teman Jovan yang akan mempertemukan mereka dengan seorang broker. Dari sana mereka akan menuju pasar gelap untuk melakukan transaksi.
Jovan mengeluarkan frezer kecil itu dari bagasi mobilnya. Dia sempat melirik kiri-kanan sekelilingnya takut kalau ada orang yang mencurigai mereka. Gina berjalan santai di samping Jovan. Sepertinya gadis itu lebih menguasai diri di banding lelaki bertubuh besar yang ada di sampingnya.
Di dalam rumah pemakaman sudah menungu tiga orang lelaki. Dua orang bertubuh tinggi besar seperti Jovan dan yang satunya bertubuh gempal. Sepertinya orang itu adalah bos dari kedua lelaki itu. Jovan memperkenalkan Gina pada mereka. Dua orang tadi memeriksa isi frezer dan memastikan keadaan dan kualitas semua organ itu dalam keadaan baik.
Salah satu dari mereka berbisik pada si tubuh gempal. Jovan dan Gina saling pandang. Lalu si gempal terlihat mengangguk.
“Sorry, dari hasil pemeriksaan ternyata paru-paru tidak bisa kami beli karena kondisinya yang sudah tidak bagus. Jantung masih oke lah dan ginjal, limpa, leverdan empedu siap kami beli.” Kata si gempal.
Gina dan Jovan tersenyum senang. Tak masalah kalau mereka tidak membeli paru-paru Dion. Mereka bisa membuangnya di laut setelah transaksi nanti.
“Bagaimana dengan harga?” Tanya Gina.
Lelaki gempal itu mengepulkan asap rokok ke hadapan Gina. Lalu menyuruh kedua anak buahnya untuk segera menutup frezer agar organ tidak terkontaminasi dengan udara luar.
“Kami hanya tim pemeriksa. Dan untuk negosiasi serta transaksi dilakukan di pasar. Bos kami yang memegang semua soal transaksi,” jawabnya tegas.
“Kalau begitu kita persingkat waktu aja untuk segera pergi ke pasar. Gue lagi banyak urusan bos. Dan bos gue juga harus segera berangkat ke Singapore malam ini,” ujar Jovan berbohong.
“Oke, kita berangkat sekarang.” Ajak si gempal.
“Sorry bro, frezer gue yang bawa karena belum ada kesepakatan harga,” ucap Jovan sembari menahan frezer yang akan di bawa salah seorang anak buah si gempal.
Mobil sedan hitam itu melaju kencang diikuti mobil Jovan dari belakang. Hanya kurang dari satu jam mereka sudah sampai di pasar gelap perdagangan oragn tubuh manusia. Gina memerhatikan sekeliling pasar. Jovan juga mengawasi orang-orang yang ada di pasar itu.
Mereka diajak ke sebuah ruangan di belakang pasar. Sepertinya itu ruangan rahasia karena yang masuk ke sana tidak bisa sembarang orang. Mereka bisa masuk kalau ada orang dalam dan harus melewati beberapa pemeriksaan.
Pintu ruangan terbuka. Di sana sudah menunggu tiga orang lelaki yang duduk serius. Satu antaranya bertopi dan tidak begitu jelas wajahnya. Gina dan Jovan diperkenalkan pada mereka. Kemungkinan orang bertopi itu adalah bos besar mereka. Frezer kembali di periksa. Lalu tuan bertopi itu memerhatikan wajah Jovan dan Gina dari balik kacamata hitamnya.
“Apa kalian ada kaitannya dengan human trafficking?”
Lagi-lagi Jovan dan Gina saling pandang.
“Kami nggak ada hubungannya dengan human trafficking atau apa pun. Kami berjalan sendiri. Rasanya nggak penting juga kami jelaskan darimana kami dapatkan semua organ ini,” jelas Jovan.
“Kalian orang baru rupanya,” ucap si gempal sambil senyum mengejek.
“Oke, kita nego aja cepat, karena kami masih ada urusan lain,” sambung Jovan lagi.
Tuan berkcamata itu memberikan kode pada si gempal. Secarik kertas dia sodorkan ke hadapan bosnya. Lelaki bertopi itu manggut-manggut. Lalu kertas itu digeser ke arah Jovan. Gina melirik kertas itu dan mengambilnya dari Jovan. Di sana tertera jumlah yang cukup fantastis untuk semua organ yang dibawa Gina dan Jovan. Ada rincian harga yang cukup jelas di sana.
Sepatang bola mata di hargai 18 juta rupiah. liver dengan harga 1,4 miliar, jantung di hargai lebih dari 1 milyar, ginjal dengan harga 500 juta dan empedu dengan harga 11 juta. Jovan melirik pada Gina. Jantungnya berdebar melihat deretan angka yang belum pernah dia miliki.
“Bagaimana, kita sepakat?” Tanya si Tuan bertopi.
Gina langsung mengiyakan. Sebuah tas koper berisi sejumlah uang yang telah di sepakati berpindah ke tangan Gina. Frezer milik mereka pun beralih ke tangan pembeli. Transaksi selesai. Namun tiba-tiba terdengar kegaduhan di luar. Ada yang berteriak razia dari luar.
Mereka yang ada di dalam panik. Masing-masing menyelamatkan diri. Gina dan Jovan ikut panik. Dia tak mau tertangkap razia. Jovan dengan sigap menyelamatkan uang dalam koper itu dan lari menuju pintu belakang. Gina bergerak menuju pintu yang lain. Semua kocar-kacir menyelamatkan diri.
Pintu berhasil didobrak. Beberapa orang berjaket hitam siap membidik dengan pistol di tangan. Salah satunya berteriak agar Gina tak lari. Gadis itu keburu ketahuan sebelum sempat keluar dari pintu belakang. Satu orang mendorong tubuh Gina ke tembok. Gadis itu tak dapat bergerak. Ketika tangannya di borgol.
Jovan terus berlari lewat lorong kecil di belakang pasar. Yang lain sudah bersembunyi di tempat aman yang mereka kuasai. Jovan tak paham dengan situasi tempat tersebut. Ia terus berlari menyusuri lorong sempit.
Dooorr!!!
Satu tembakan peringatan tak digubris Jovan. Dia terus berlari sekencang mungkin dengan koper masih dalam pelukannya. Napasnya terengah-engah, namun masih dapat kuat untuk berlari jauh. Tak sedikitpun ia menengok ke belakang. Pikirannya fokus pada pembebasan bagi dirinya dari petugas.
Doorr!!!
Satu peluru panas berhasil mengenai betis kaki kanannya. Jovan terseok tapi masih kuat dia untuk mencapai pagar kawat untuk melewati lorong sempit itu. Namun sayangnya satu peluru panas lagi mengenai tangan kirinya yang memegang koper. Kali ini Jovan terjatuh bersamaan dengan koper yang terpental dari pelukannya.
Jovan tak berkutik. Dia kalah dengan dua peluru panas itu. Petugas langsung meringkus Jovan dengan memborgol kedua tangannya. Lelaki bertubuh besar itu kini tak berdaya. Tubuhnya yang tak mampu berjalan normal di seret petugas.
Gina yang sudah berada di dalam mobil petugas mengawasi Jovan yang tak berdaya. Mereka di pisahkan dalam mobil yang berbeda. Gina diam mematung. Pikirannya kacau. Dia tak mungkin bisa menghadapi orang-orang berpeluru ini. Seribu macam berkecamuk dalam benaknya. Sumpah serapah pun terucap dalam hatinya.
Jovan masih mengerang kesakitan. Petugas itu tak sedikitpun memberi kesempatan padanya untuk membalut luka tembaknya. Hari yang naas bagi mereka semua. Khususnya bagi Gina dan Jovan yang baru pertama kali berada di sana. Mereka akan berhadapan dengan yang namanya pengadilan dan rumah bui.
Other Stories
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...