Akhir Cerita
Gina kini meringkuk dalam sel bersama para narapidana yang lain. Sementara pihak berwajib sudah menghubungi keluarga gadis itu. Mama Gina shock dan pingsan ketika mendapat laporan kalau putri kesayangannya terlibat dalam kasus illegal penjualan organ manusia. Papa Gina ikut shock dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan putri satu-satunya.
Mereka segera menghubungi pengacara pribadi yang terkenal untuk membela anak mereka satu-satunya. Gina meringkuk dalam sel sebagai pesakitan. Tapi tak satu pun penghuni sel yang berani mendekatinya karena gadis itu masuk sel dengan kasus penjualan organ tubuh manusia.
Sementara Jovan meringkuk di sel yang lain. Wajahnya kuyu dengan kaki dan tangan yang terkena peluru. Tak pernah ia berpikir akan berakhir dalam sel sebagai orang tahanan. Selain itu belum ada juga seorang pun pengacara yang akan membelanya di persidangan.
“Gina keluar, ada keluarga yang datang berkunjung,” teriak petugas sel.
Gadis itu berjalan lunglai. Wajahnya semakin tirus dan pucat. Di balik kaca itu dia hanya bisa berbicara melalui telpon. Petugas tak mengijinkan untuk bertemu langsung dengan pengunjung.
“Gina, apa kabarmu, sayang?” sapa Mamanya sambil menangis.
Gadis itu hanya tersenyum tipis tanpa bersuara. Disamping Mamanya ada seorang pengacara yang ia juga mengenalnya.
“Kamu sehat, Nak? Mama kuatir dengan kesehatanmu. Jangan kuatir ya Nak, Mama sudah membawakan seorang pengacara yang hebat untuk membelamu.”
“Makasih, Ma,” jawabnya singkat.
“Tenang saja, Om akan membelamu sampai tingkat banding. Semua bisa di atur nanti,” jawab pengacara itu memberi semangat pada Gina.
“Oya, Nak. Kemarin seorang petugas polisi mencarimu. Mereka ingin menanyakan tentang hilangnya Dion. Kamu nggak terlibat dengan masalah itu kan, Nak?” Tanya wanita itu sambil menatap putrinya.
Gina hanya diam. Wajah kuyunya tertunduk lemas. Tak mungkin juga dia berkata jujur pada Mamanya tentang apa yang sudah dilakukannya pada cowok itu. Tak boleh ada yang bersuara, baik dia atau Jovan. Tapi, apakah lelaki itu bisa menutup mulutnya?
Gadis itu hanya menggeleng. “Nggak kok, Ma. Jangan kuatir yah,” jawabnya menenangkan hati Mamanya.
Bel pengunjung telah usai. Gina harus kembali ke sel. Wanita itu tak dapat menahan air matanya. Ia tak menyangka kalau putrinya akan berada dalam tempat yang tak pernah sedikitpun dibayangkannya.
“Kamu bersikap baik yah, Gin. Om akan membelamu bersama tim di persidangan nanti.” Kembali pengacara itu meyakinkan Gina.
Di sel yang lain, Jovan tidur meringkuk. Tak ada satu pun yang datang menjenguknya. Tak juga Rein, sahabat yang mengenalkannya pada Gina. Suasana dalam sel begitu dingin terlebih untuk dirinya yang menderita luka di kaki dan tangannya.
***
Pagi itu awan mendung menyelimuti langit Jakarta. Pak Deni, Papanya Gina terduduk sendiri di ruangan besar itu, Di sampingnya ada wanita setengah baya yang menemani. Mereka termenung mengingat nasib putri mereka yang meringkuk dalam sel. Bel ruang tamu terdengar sampai ke dalam. Seorang ART berlari kecil membukakan pintu itu. Lalu ia mengantarkan tamu untuk menemui tuan dan nyonyanya.
“Maaf Tuan, Nyonya … ini ada petugas polisi yang mencari,” wanita tua itu langsung masuk ke dalam setelah mempersilakan tamunya untuk duduk.
Pak Deni dan Ibu Sinta begitu terkejut melihat kedatangan dua orang polisi ke rumah mereka. Di tangan polisi itu ada sebuah map yang berisi berkas-berkas.
“Maaf Bapak dan Ibu. Kedatangan kami untuk menyampaikan surat penangkapan dan penahanan saudari Gina.”
“Lho … bukannya putri kami sudah ada di dalam tahanan?” Tanya Bu Sinta bingung.
“Ya, benar Bu tapi ini soal kasus lain.”
“Kasus apa lagi?” Tanya Pak Deni.
“Ini kasus penculikan dan pembunuhan berencana saudara Dion,” jelas petugas yang satunya.
Bu Sinta tak dapat menahan rasa terkejutnya. Dia langsung jatuh pingsan. Pak Deni meminta dua orang petugas itu membantunya membawa ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit bu Sinta langsung masuk ke ruang IGD. Dokter yang memeriksa memastikan kalau Bu Sinta terkena serangan jantung.
Bagai disambar geledek, Pak Deni begitu shock dengan rentetan kejadian dalam keluarganya. Hidupnya seketika hancur. Nama baiknya tercoreng sudah di kalangan rekan bisnisnya. Tak ada harapan untuk membela anak gadisnya di persidangan nanti. Pasal berlapis melibatnya.
Sidang perkara akan digelar pada minggu depan. Sebuah tim pengacara hebat sudah siap membela putri pak Deni. Setidaknya mereka bisa meringankan hukuman atau bisa naik banding. Gina meminta Papanya untuk menyediakan seorang pengacara buat Jovan. Bagaimanapun Jovan juga berhak di dampingi pengacara untuk membelanya di pengadilan.
Namun Pak Deni pesimis dengan semua ini. Kasus anaknya bukanlah kasus mudah yang dengan kekuasaan bisa diubah hukumannya. Ini menyangkut nyawa manusia dan kemanusiaan. Ada keletihan yang jelas terlihat di mata tua itu. Sebuah warna hitam menyamar di bawah matanya.
***
Persidangan pertama Gina dan Jovan terkait kasus penculikan dan pembunuhan beencana dengan korban Dion di gelar. Persidangan ini menarik perhatian pers karena yang menjadi tersangka adalah putri dari seorang konglomerat dan raja bisnis. Banyak wartawan yang hadir di sana. Petugas polisi pun siap berjaga-jaga dengan senapan laras panjang. Situasi di pengadilan dan sekitarnya terlihat tegang dan mencekam. Persis seperti mengadili bandit kelas kakap.
Di dalam ruang pengadilan tampak keluarga Dion dan keluarga Dila. Mereka duduk di barisan paling depan. Gina masuk ke dalam ruang pengadilan di sambut dengan teriakan dan sorak tamu yang menghadiri sidaing tersebut. Gadis itu duduk dengan tenangnya di kursi panas sebagai tersangka.
Sidang dimulai. Kronologi kasus digelar dari kejadian awal sewaktu percekcokan antara Gina dan Dion. Berlanjut dengan ancaman Gina akan keselamatan korban jika dia tak mau menuruti permintaannya. Pihak keluarga curiga dengan menghilangnya Dion seminggu setelah percekcokan itu. Pada saat yang bersamaan Gina juga tak terlihat di tempat kediamannya ataupun di kampus.
Kecurigaan makin berlanjut ketika adik korban tak mendapati tersangka di rumahnya tepat dengan menghilangnya korban. Padahal saat itu adik korban hanya ingin mengetahui tempat mana saja yang sering dikunjungi korban. Polisi terus melacak keberadaan Gina dan Dion. Diduga gadis itu tidak bekerja sendirian. Ada beberapa orang yang membantu penculikan itu.
Dari gelar perkara, polisi positif mencurigai Gina yang menculik Dion dengan alasan sakit hati. Seminggu setelah korban menghilang penyelidikan polisi mengarah pada dugaan pembunuhan terhadap korban. Mereka curiga kalau korban di bawa ke suatu tempat oleh beberapa orang. Ada satu saksi mata yang melihat mobil Gina meluncur ke arah pinggiran Jakarta melaju dengan kecepatan tinggi. Sayangnya saksi tak mengikuti karena ada urusan suatu hal.
Dari keterangan orang tua tersangka, putrinya sedang liburan bersama pacar barunya yang bernama Jovan tapi pada saat itu Gina hanya sendirian di dalam mobil. Di duga pacar baru Gina sudah menunggu di suatu tempat bersama korban yang sudah di culik lebih dulu.
Kemungkinan selanjutnya, Gina dan beberapa orang menyekap korban dan menyiksanya sebagai pelampiasan rasa sakit hati. Sidang berhenti sampai di situ. Polisi terus menyelidiki Jovan yang membawa nama brewok. Dari sidang terpisah polisi mendapati bukti-bukti kalau korban dianiaya sebelum dibunuh.
Penyelidikan beralih pada penjualan organ tubuh manusia yang mereka jual di pasar gelap. Barang bukti sudah di bawa ke laboratorium untuk di periksa apakah organ tersebut milik Dion atau bukan. Sidang di tunda sampai minggu depan. Keluarga Dion meminta hakim untuk menuntut Gina dan teman-temannya dengan hukuman seumur hidup.
***
Polisi terus mengadakan penyelidikan. Dari keterangan brewok terungkaplah rentetan kejadian yang sesungguhnya. Gina menyewa Jovan melalui Rein, sahabatnya. Dalam menjalankan aksinya Jovan di bantu brewok. Dari penculikan hingga pembunuhan berencana. Polisi terus menyusuri tempat kejadian perkara. Setelah lengkap bukti-bukti dan saksi, pihak berwajib mengadakan rekap ulang.
Dua lobang yang ditunjuk brewok sebagai tempat mengubur mayat dan kepala korban yang terpisah digali kembali. Mereka menemukan satu karung yang berisikan mayat tanpa kepala yang diduga adalah mayat Dion. Dan satu lobang lagi sebuah kepala yang di bungkus plastik hitam yang di duga adalah kepala milik Dion.
Sidang akhir kembali digelar. Polisi makin memperketat penjagaan karena pengunjung pengadilan semakin geram melihat para tersangka. Mereka meneriakan suara agar tersangka dihukum seumur hidup. Ruang sidang pun ramai. Hakim membacakan hasil sidang dengan tegas.
Tersangka Gina, Jovan dan brewok sudah sah menjadi terdakwa. Mereka terjerat pasal berlapis. Penculikan dan pembunuhan berencana, pelaku di jerat dengan pasal 340 kuhp yang berbunyi : “Barang siapa yang sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, Paling lama 20 tahun.”
Palu hakim sudah diketok. Pak Deni dan istrinya terkulai lemas. Belum lagi jika terbukti kalau mayat yang ditemukan di rumah kayu itu benar jasad Dion. Dan selanjutnya kasus penjualan organ manusia secara illegal yang ternyata organ itu adalah milik korban yang sama.
Ibu Sinta tak dapat menahan tangisnya. Dia memohon pada hakim agar memberi keringanan untuk putrinya. Gina selama ini tak pernah berbuat kriminal atau melanggar hukum. Tapi pihak keluarga Dion berteriak histeris dengan protes keras bahwa hukuman itu tidak setimpal dengan perbuatan gadis itu. Sidang di tutup. Kasus pembunuhan berencana sudah terkuak. Minggu depan akan dibuka lagi kasus lain dengan tersangka yang sama yaitu Gina, Jovan dan brewok. Kasus penjualan organ tubuh manusia secara illegal.
Rein pun ikut terseret dalam kasus ini. Karena dia yang membujuk Gina untuk membalas dendam pada Dion dan mengenalkan gadis itu pada Jovan. Tapi dia tak tahu menahu tentang pembunuhan berencana dan kasus jual beli organ tubuh manusia itu. Hukuman Rein masih ringan dibanding ketiga tersangka yang lainnya.
Sidang baru dengan kasus penjualana organ manusia dibuka. Setelah polisi menyelidiki dan mengadakan penggeledahan di rumah kayu yang dicurigai tempat penganiayaan dan pemotongan korban Dion. Dari hasil pengusutan dan penyelidikan laboratorium, dugaan mengarah pada pembenaran kalau organ yang tersangka jual di pasar gelap adalah milik korban Dion.
Dari sidang sebelumnya polisi menemukan motivasi pelaku adalah karena alasan balas dendam dan sakit hati terhadap korban. Lalu timbul niat yang lebih serius lagi untuk menjual organ tubuh korban dengan tujuan mendapat keuntungan. Motiv balas dendam sudah beralih pada bisnis perdagangan illegal.
Atas kasus di atas kepolisian mengenakan pasal 64 ayat (3) Undang-undang No 36 tahun 2009. Pelanggaran terhadap pasal tersebut akan dikenakan pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 1 miliar.
Ruangan sidang riuh dengan suara gaduh dari pengunjung sidang yang melihat persidangan dari layar tv di halaman pengadilan. Keluarga menyatakan ingin naik banding. Namun reaksi keluarga korban begitu keras yang menolak adanya banding untuk terdakwa.
Gina tertunduk lemas. Tak ada ekspresi apa pun dari wajah cantiknya. Gadis itu hanya diam mematung. Tak terlihat penyesalan sedikit pun. Atau permohonan maaf selama sidang berlangsung. Gadis itu sudah benar-benar seorang psikopat. Dia tak menunjukan kesedihan. Di ruangan lain, Jovan pun tertunduk lemas. Dia menangis dan menyesal telah mengikuti kemauan Gina. Walau lelaki itu juga seorang bandit kelas kakap tapi untuk berbuat kriminal seperti yang Gina lakukan sungguh tak pernah ada dalama pikirannya.
Mereka kini mendekam dalam penjara untuk masa yang sangat lama. Atau bahkan bisa seumur hidup. Gina meringkuk di sudut ruangan sel. Tatap matanya kosong. Rambutnya acak-acakan. Kadang dia tersenyum sendirian. Lalu berteriak histeris dan pada akhirnya tertawa. Kadang dia juga menyumpah serapah.
Mampus kau Dion, kini tak ada lagi yang bisa memilikimu. Semua organ tubuhmu bercerai berai. Pergi saja kau ke neraka. Itu akibat bagi orang yang sudah membuatku terluka. Kau adalah setan Dion. Kau setaaaan!
Gina histeris. Dia sudah tak dapat menguasai dirinya lagi. Jiwanya sakit. Tak ada penyesalan. Baginya apa yang telah dia lakukan terhadap Dion adalah suatu pembenaran dari rasa sakit hatinya. Dan semua itu memberikan kepuasan tersendiri. Cinta telah membutakan mata hatinya. Dan orang gila yang berlagak waras itu adalah Gina.
END
Other Stories
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...