Tomboy Vs Banci
Gue ingat, cewek itu pakai topi, baju kemeja gelap dengan jeans yang sobek-sobek di bagian dengkulnya. Gelang aneka macam tersemat di pergelangan tangannya. Tapi bedanya, biarpun penampilannya yang tomboy, cewek ini punya rambut yang panjang.
Kali ini gue nggak bahas soal tas gue. Tas itu sudah gue ikhlasin.
“Eh, Mbak. Kita ketemu lagi.”
Dia menatap gue curiga. Jangan-jangan dia kira gue mau rampok dia lagi.
“Itu loh, yang tanyain tas Mbak,” sambung gue.
Dia masih bergeming.
“Ada apa, ya?”
“Nggak, Mbak—“
“Lilis.”
“Eh?”
“Panggil gue Lilis.”
“Oh, ya. Lilis. Nama yang bagus. Kenalin juga, gue Ke-an. Dengan huruf ‘ea’ dibaca ‘e’, jadi Ken.”
Ngomong apa sih, gue?
“Sori, kalau gitu gue permisi.”
Setelah itu, gue hanya memandang punggung mungilnya yang semakin mengecil.
***
“Tadi siapa, Kean?”
“Oh, nggak, Bu. Cuma kenalan aja.”
Gue menjalani keseharian gue di rumah ini. Gue juga tetap berangkat ke kampus. Dan anehnya, nggak ada kabar kalau Nyokap cariin gue. Ajaib.
“Nggak, tuh,” jawab Ujo. Sebelumnya gue tanya dia tentang Nyokap gue datang ke rumahnya apa nggak.
“Amanlah kalau gitu.”
“Lagianlo. Ngapain sih pake kabur segala? Kayak anak SMA labil aja, lo,” ketus si Ujo.
“Suka-suka gue, dong. Kenapa lo yang sewot.”
Sepersekian detik, tiba-tiba Ujo melayangkan tangan hammer-nya ke kepala gue.
“Apaan, sih, lo?” kata gue protes.
“Gue nggak sewot kalau lo nggak repotin gue, dasar banci bercula dua.”
Ngomongin soal banci. Gue jadi teringat setahun lalu, waktu gue sama Ujo lagi beli es cendol di depan kampus.Saat itu, siang menjelang sore. Gue dan Ujo akhirnya memutuskan untuk singgah menyegarkan diri.Sembari makan es cendol, masing-masing dari kita pada sibuk menikmati makanan surga di depan kita. Tiba-tiba si Ujo menyenggol gue. Gue pun berhenti makan es cendolnya.
“Apaan?” kata gue.
“Tuh, arah jam dua.”
Gue mengikuti arah pandangan Ujo, karena gue sendiri nggak tahu arah jam dua itu apa. Di sana, seorang cewek seperti membelakangi kami. Dari kejauhan gue lihat itu cewek kulitnya putih, pasti mulus. Rambutnya tergerai lurus, hitam pekat. Penampilannya, rok mini sedikit di atas lutut. Atasannya, toptank.
“Kayaknya bohai, nih, Bro,” ketus si Ujo.
Gue cuma menatapnya datar.
“Ya udah, samperin aja.” Gue pun menyuruh Ujo untuk mengambil tindakan. Tapi, pas Ujo udah pasang kuda-kuda, tiba-tiba cewek itu berbalik. Ujo dan gue sama-sama membelalak.
Itu cewek jadi-jadian.
Asli, parah!
Ujo hampir aja jadi mangsa.
“Goblok. Makan tuh bohai.” Puas gue.
Yang tadi, masih mending. Si Ujo masih aman-aman aja. Lain halnya dengan gue.Waktu itu gue baru aja pulang dari kampus. Kebetulan di depan kampus gue ada taman. Nah, di taman itu ada penjual batagor. Mendekatlah gue ke Mas-mas batagor tersebut.
Setelah itu, gue duduk di taman. Gue memandang sekeliling sambil menikmati batagor yang gue beli tadi. Pas gue berbalik ke kiri, mata gue melebar.Sepasang muda-mudi lagi asik bercengkerama. Yang parahnya. Pas gue perhatikan, yang cewek gayanya macho, sedangkan yang cowok gayanya lekong.
Nggak hanya itu. Malam hari, sewaktu Ujo dan gue pulang dari rumah Ari—temen kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok. Kita kesasar. Bayangin aja, dua cowok yang katanya jantan, macho, bisa kesasar. Soalnya ini baru pertama kalinya gue dan Ujo ke rumah Ari.
Akhirnya gue memberanikan diri untukbertanya. Di sudut persimpangan, gue lihat ada seorang cewek. Rambutnya panjang, tergerai ke samping. Dress-nya menjuntai sampai ke lutut. Apesnya, gue bertanya di orang yang salah.
“Misi, Mbak.”
Di berbalik.
“Ya?”
Amalak.
Suaranya menggelegar. Seakan menusuk jantung. Ternyata si Mbak-nya cowok setengah matang. Tapi pada akhirnya, gue tetap niat untuk bertanya.
“Eh, Mas.”
“Jangan panggil, Mas. Panggil Jane,” kata banci kaleng itu.
“Ah, iya. Mbak.”
“Jane.”
“Ja-Jane.”
“Kenapa? Mau aku temenin?”
Gue langsung merinding. Gue tatap Ujo sesaat. Sekejap gue langsung tancap gas secepat mungkin. Sesekali gue suruh Ujo nengok ke belakang. Takut kalau banci kaleng itu mengejar kita.
Setelah hampir dua jam kesasar. Dan bertanya ke orang—yang tepat, akhirnya kita sampai di rumah.
***
Temen gue juga ada yang masih setengah matang. Namanya Dani. Dani orangnya ramah, suka menolong, baik dan rajin menabung. Tapi kalau sebut namanya, dia harus dipanggil Dini. Padahal di KTP-nya jelas-jelas namanya Dani. Kalau nggak, dia akan ngomel sepanjang dua kilometer.
Dia nggak segan kalau berteman. Gue yang awalnya men-judge banci itu berperilaku agresif, setelah bertemu Dani, seketika itu berangsur-angsur memudar. Kalau kita kenal lebih dekat, mereka juga akan ramah ke kita.
Other Stories
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...