Mission Escape

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Fathi Muin

Rasa Yang Hilang

Hari ini gue hanya bisa berdiam diri di rumah. Nggak ada siapapun selain dentuman musk pop rock dari Avenged Seven Fold.
Ponsel gue bunyi lagi. Gue baru ingat ponsel satu itu sudah gue telantarkan sejak semalam. Entah kenapa rasa penasaran membuncah di dada yang membuat gue tertarik meraih ponsel.
Sudah ada dua belas sms masuk. Enam di antaranya dari Bunga, dua dari Ujo, dan empat … dari operator.
Perasaan tadi gue hitung ada sepuluh. Ah bodo amat.
Gue lalu baca satu per satu pesan yang masuk. Nggak termasuk sms mesra dari si operator.
Pesan 1:
Dari Bunga.
Assalamu alaikum, Mas.
Pesan 2:
Dari Ujo.
Bro, lo baik-baik aja, ‘kan?
Pesan 3:
Dari Ujo.
Gue ama anak-anak nongkrong di tempat biasa. Kalau lo udah baikan, lo ke sini aja, gue tunggu.
Pesan 4:
Dari Bunga.
Mas Kean belum bangun?
Pesan 5.
Dari Bunga:
Aku udah di kantor. Mas ke sini, ‘kan?
Pesan 6.
Dari Bunga:
Mas, kok nggak dibales, sih?
Pesan 7 dan 8:
Dari Bunga.
Mas?
Gue nggak semangat membalas SMS mereka. Itupula yang membuat gue kembali menelantarkan ponsel. Pikiran gue sibuk keinget Nyokap.
***
Kalau dipikir-pikir, nggak semua yang gue mau nggak dipenuhi sama Nyokap. Pernah sekali waktu gue masih SMP, gue kepengin punya sepatu futsal. Karena menurut gue semua temen kelas udah punya. Tinggal gue aja yang belum.
“Ma, kali ini ajalah Ma. Beliin Kean sepatu futsalnya.” Gue merengek sebisa mungkin kayak anak kecil yang minta permen.
“Nggak. Mama bilang nggak. Tahun lalu Mama ‘kan udah belikan kau sepatu futsal.”
“Duh, Ma. Sepatu aku udah rusaklah. Mana bisa buat main.” Sekali lagi gue mengemis-ngemis sambil masang muka babyface kadaluarsa.
Tapi sebesar apapun perjuangan gue memelas, Nyokap nggak ada tanda-tanda mau beliin gue sepatu futsal.
Hingga suatu pagi, gue bangun. Dan tiba-tiba sebuah paket berbentuk kotak ukuran sedang bertengger di meja kamar gue. Di sana, ada secarik kertas embel-embel.
Gue kira itu cuma kertas garansi atau nota pembelian.
Gue lalu baca.
Sepatu buat anakku, Kean.
Kau jaga baik-baik sepatu ini. Biar tahun depan masih bisa kau pakai lagi.
Mama.
Nyokap gue bisa romantis juga ternyata. Romantis ‘kan nggak melulu dengan pasangan. Bisa dengan siapa aja. Sahabat, bos, karyawan, bahkan anak sekalipun.
Setelah loncat-loncat pocong, gue langsung keluar kamar, lalu teriak-teriak kayak tarzan.
“Mama, ya? Yang beliin Kean sepatu?” Sambil pegang sepatu baru gue tanya ke Nyokap.
“Iyalah. Mama yang belikan.” Nyokap menjeda. “Pake duit Bapak kau.”
Terus pernah juga waktu itu gue masih SMP. Gue yang kayak anak kampung ini langsung girang begitu melihat air mancur yang menyembur ke segala arah. Dan saat itu, di samping gue, ada seorang anak yang sepertinya ragu-ragu untuk nyebur ke kolam. Gue kesel aja. Dia udah sok banget pasang kuda-kuda. Kepala sampai badannya mengarah ke depan. Bersiap layaknya perenang professional yang lagi ikutan championship. Tapi dia nggak juga nyebur. Insting kenakalan gue meningkat menjadi seratus persen. Gue dorong dia sampai anak itu langsung kelelep. Dia nangis. Dan alhasil, gue kena damprat Nyokap sampai rumah. Meskipun awalnya, kuping gue dijewer dulu.
Gue jadi kangen dengan berbagai macam omelan Nyokap yang memekakkan telinga, kangen dengan berbagai macam pem-bully-an Nyokap yang bikin patah hati. Dan Nyokap, dengan bangganya menceritakan aib gue ke semua orang. Gue pengen pulang tapi satu sisi gue sayang melepas apa yang udah diberikan orangtua angkat gue. Terus gue harus gimana?
***
Gue nggak mau jadi malin kundang dan menyesal di kemudian hari. Maka dari itu hari ini gue pulang. Jelas gue nggak langsung masuk. Gue tunggu sampai si Gaga keluar.
Dua jam kemudian, akhirnya Gaga keluar. Pas kelar gerbang.
“Pst! Pst!”
Gaga mengernyit sambil berbalik. Gue langsung kasih kode untuk mendekat. Gaga mendekat.“Gimana keadaan Nyokap?”
Si Gaga makin mengernyit.“Maksud lo?”
“Duh! Dasar tolol. Nyokap ‘kan lagi sakit. Nah, gue tanya keadaannya gimana? Nyokap sakit apa?” Gue langsung kasi dia pertanyaan yang bertubi-tubi, hingga alisnya semakin nggak bisa lagi terpisahkan.
“Elo yang tolol. Orang Mama baik-baik aja.”
Giliran gue yang mengernyit.“Loh? Kemarin gue dikasih tahu sama si Ujo, Nyokap lagi sakit.”
“Oh … iya. Kemarin tuh Mama emang sakit.”
“Nah ‘kan? Terus Nyokap sakit apa?”
Si Gaga diam sesaat.“Sakit perut gara-gara makan sambel tumis kebanyakan.”
Asem.
Mission Complete
Si Ujo emang sekampret-kampretnya temen. Bawa berita tapi isinya hoax. Nggak tahu apa orang lagi panik. Akhirnya, malam itu juga gue langsung sms si buto ijo itu.
Emang dasar buto ijo, lo. Kata lo Nyokap lagi sakit?
Sekitar lima menitan, dia baru balas.
Nyokap lo ‘kan emang lagi sakit? Gue salah di mana?
Gue balas.
Iya. Sakit perut gara-gara makan sambel kebanyakan.
Ujo langsung balas.
MUAHAHAHAHAHAHAHHAAH.
Dia sebenernya emang sudah tahu kalau Nyokap lagi sakit perut. Tapi dia sengaja buat gue panik. Emang kalau berteman dengan orang nggak waras gitu deh jadinya.Setelah gue sms Ujo. Berikutnya gue sms Bunga. Buat ngabarin dia kalau besok gue mau ke kantor untuk urus surat proposal kerja sama dengan perusahaan lain.
***
Begitu gue sampai di kantor. Bunga langsung masuk ke ruangan gue dan Bapak angkat gue—yang kebetulan satu ruangan. Dia langsung menyodorkan sebuah berkas berisi proposal dengan senyumannya yang meneduhkan hati.
“Mas udah baikan?”
“Iya, udah baikan, kok,” kata gue sambil memberikan kembali berkas.
Bunga tersenyum, lalu berlalu dari ruangan.
Seharian itu gue tetap nggak bisa lepas memikirkan Nyokap. Walaupun nyatanya Nyokap nggak kenapa-kenapa, tapi ujung-ujungnya gue juga bakalan pulang.
Gue melempar tatapan ke arah jendela yang berbentuk segiempat memanjang. Di sana, gue bisa melihat lalu lalang orang dengan kesibukannya masing-masing. Pikiran gue tiba-tiba melayang.
Gue mulai sadar. Ada begitu banyak hal yang gue nggak dapatkan di orangtua angkat gue. dan gue juga sadar, ada begitu banyak memori yang nggak akan pernah gue lupakan di orangtua kandung gue.
Gue sadar, kenikmatan yang gue dapat ini nggak ada apa-apanya dengan segala bentuk pengorbanan yang orangtua kandung gue lakukan.
Orangtua angkat gue bisa memberikan apa yang gue minta. Tapi, bagaimana pun juga, mereka nggak benar-benar bisa menjadikan gue anak mereka seutuhnya. Di situ gue menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang sempurna berada di tengah-tengah orangtua kandung.
Ada begitu banyak memori yang orangtua angkat gue nggak bakal pernah bisa buat. Di situlah gue mulai benar-benar sadar kalau nggak ada yang bisa menggantikan posisi keluarga gue. Bukan cuma gue.
Tapi buat seluruh keluarga.
***
Gue merebahkan tubuh begitu sampai di kamar. Lagi-lagi otakku kembali memutar potongan-potongan memori tentang apa yang seharusnya gue pikirkan.Di saat seperti ini, Gaga pasti datang dengan ketengilannya yang nomor uno.
“Bang,” kata Gaga sambil menyodorkan gue kedua tangannya yang tergenggam di depan muka gue.
“Apaan?”
“Tebak apa yang ada di kedua tangan gue. Salah satunya jebakan.”
Gue menautkan alis. Perasaan gue jadi nggak enak.“Ehm ….” Gue berdehem sambil berpikir ala-ala Einstein.
Gue tatap Gaga yang menyeringai.
“Yang ini, nih.” Gue menunjuk tangan kanannya.
Kenapa tangan kanan? Karena semua hal-hal yang baik pasti ada di tangan kanan. Setelah gue tebak. Gue kembali menatap wajah si tengil itu.
Kalau aja wajah Gaga bisa bicara, dia pasti bilang, “Kena, lo.”
Dia buka tangan kanannya. Tiba-tiba dalam waktu 0,00001 detik. Sebuah, bukan, seekor serangga. Lebih tepatnya kecoak. Lebih tepatnya lagi kecoak hidup. Terbang dengan riang seolah baru bebas dari kurungan raksasa.Kalau aja anak ini bukan Adek gue, gue udah goreng hidup-hidup. Dan parahnya, gue tiba-tiba kangen dengan segala ketengilan si Gaga. Dia nggak bisa diam kalau nggak ngejailin gue.
Kalau Gaga udah beraksi, dia akan mengeluarkan jurus andalannya. Ngaduin ke Nyokap. Alhasil, ujung-ujungnya gue yang kena sial. Semua moment itulah yang nggak akan pernah gue dapatkan di keluarga angkat gue. Moment yang bahkan nggak akan pernah lepas dari darah daging kita.
Sekarang, gue lagi mikir cara agar gue bisa pulang tanpa melukai perasaaan orangtua angkat gue.Gue harus minta izin ke Ibu dan Bapak angkat gue. Gue pikir, misi gue kabur dari rumah cukup sampai di sini.
Mission complete.
Dan ini waktunya gue pulang ke rumah.
***
Malam tiba. Gue melangkah keluar dari kamar setelah Ibu angkat gue panggil untuk makan malam.Seperti biasa, Ibu angkat gue menyendokkan beberapa kali nasi dan berbagai lauk yang sudah terhidang. Di tengah kita makan, gue memberanikan diri untuk bersuara.
“Bu, Pak.” Tenggorokan gue hampir tercekat.
Keduanya langsung menatap gue.“Kenapa, Kean?” kata Ibu angkat gue.
“Ehm … ada sesuatu yang Kean mau omongin.”
Sekarang, mereka bertukar tatap.“Ada apa, Kean? Ngomong aja sama Ibu.”
Di situ, gue merasakan ada setitik cahaya. Mungkin mereka akan mengerti dengan apa yang akan gue katakan.“Kean ingin minta izin pulang.”
“Apa!?” Dua suara menggelegar tiba-tiba keluar. Perasaan gue tiba-tiba nggak enak. Setitik cahaya yang gue rasa, seketika pudar gitu aja.
“Sebelumnya, aku mau minta maaf. Sebenarnya Kean masih punya orangtua. Cuma, aku kabur dari rumah dan pada akhirnya, Kean bertemu dengan kalian.” Gue mencoba tenang.
Gue bergeming.Ibu dan Bapak angkat gue juga bergeming.
“Kean benar-benar minta maaf. Dan sekarang, sudah saatnya Kean pulang ke keluarga.”
Meskipun gue berkata dengan nada sayu, gue tetap berharap mereka bisa mengizinkan gue pulang.
“Kean benar-benar minta maaf. Bukan maksud Kean untuk memanfaatkan kalian. Kalian udah baik banget.”
Ibu Bapak angkat gue masih diam.
“Aku udah anggap kalian orangtua Kean sendiri. Tapi, biar gimana pun, Kean harus kembai pulang. Kean benar-benar minta maaf, ya, Bu, Pak.”
Satu dua menit mereka masih bergeming.
“Baiklah kalau gitu.” Bapak angkat gue akhirnya bersuara. Pelan-pelan dia menurunkan sendok dan garpu yang dia pegang.
Kembali ada segetir rasa lega yang gue rasa. Akhirnya mereka mengizinkan gue pulang.
“Meskipun kamu masih ada keluarga. Tapi kami tetap nggak izinkan kamu pulang. Kami ingin kamu masih tetap tinggal bersama kami,” sambung Bapak angkat gue.
Jedar.
“Kenapa, Pak?”
“Kamu udah kami anggap anak kami sendiri. Lagian, kalau kamu pulang, yang urus kantor siapa? Bapak ingin kamu yang meneruskan perusahaan Bapak.”
Jujur, itu buat gue terharu. Tapi tetap aja, gue harus pulang ke keluarga gue. Gue kembali menatap Ibu angkat gue yang juga menatap gue nanar.
Saat itu, gue nggak bisa lagi berkata apa-apa. Seketika suasana menjadi hening. Detik berikutnya, Bapak angkat gue berdiri lalu berlalu ke ruang tengah. Sementara Ibu angkat gue mulai memberesi makanan dan piring kotor.
***
Bagaimana nih? Orangtua angkat gue nggak mengizinkan gue untuk pulang. Apa gue harus di sini selamanya? Tanpa melihat dan ketemu dengan keluarga gue?
Gue masuk ke kamar. Berpikir bagaimana cara untuk bisa kembali pulang ke Nyokap Bokap gue.Apa gue harus kabur untuk kedua kalinya? Sekilas, tiba-tiba ada tebersit sebuah ide brillian.
Ting, ting, ting,
Ayu ting-ting.
Kalau kayak gini, otak gue encer juga. Ketimbang jawab soal matematika dari si Laras. Mending gue cari ide untuk gimana caranya biar gue bisa pulang.
Malam ini, sebelum tidur, gue memantapkan diri untuk benar-benar melakukan ide gokil itu.Tapi, gue masih sedikit ragu. Gue nggak mau kalau sampai gue memberikan kesan yang buruk bagi orangtua angkat gue.Setelah berpikir tujuh kelilling. Mandi kembang tujuh rupa di bawah bulan purnama (ini apa?), akhirnya gue akan melakukan ide ini dengan segenap hati gue.Gue akan membuat diri gue diusir.

Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Download Titik & Koma