Chapter 1 : Mayat Perempuan Tak Dikenal
Sesosok mayat perempuan muda ditemukan mengambang di atas kali. Tubuhnya mengembung, menandakan sudah beberapa hari jasadnya terapung di air. Kondisinya pun sudah rusak, tak bisa dikenali lagi. Hanya rambut panjangnya yang masih tampak dan gaun yang melekat di badannya, menandakan bahwa ia berjenis kelamin perempuan. Ditaksir usianya masih muda, antara duapuluh hingga duapuluhlima tahun.
Dada Yanti terasa sesak menatapnya. Sebenarnya bukan sekali ini saja ia menyaksikan pemandangan menggiriskan seperti itu. Jabatannya sebagai penyidik di satuan kriminal serse mengharuskannya berhadapan dengan berbagai macam kasus kejahatan, tak terkecuali pembunuhan. Tapi yang membuatnya ngeri dan prihatin, kerapkali korbannya adalah kaum perempuan. Seakan nyawa mereka tak ada harganya sama sekali.
Yang menyedihkan lagi, jasad korban diperlakukan sadis dan semena-mena. Ada yang dimutilasi, dibuang di sungai, dimasukkan septic tank, bahkan ada yang dikubur hidup-hidup. Tak ubahnya seonggok sampah. Yanti tak mengerti, kenapa kaumnya mesti mengalami nasib setragis ini. Posisi mereka sebagai korban saja sudah cukup menyedihkan, apalagi dengan cara dibunuh.
Kasus pembunuhan dengan korban perempuan hampir mendominasi kasus kriminal di negeri ini, bahkan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Entah, apa sebabnya perempuan yang selalu menjadi korban. Apakah karena mereka makhluk lemah, sehingga mudah diperdaya dan disakiti? Atau karena budaya negeri ini yang masih mengagungkan patriarkhi. Bahwa kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding perempuan, sehingga mereka berhak memperlakukan perempuan sekehendak hatinya.
Lebih sering kasus pembunuhan yang menimpa kaum perempuan disebabkan karena pemerkosaan, perampokan, cemburu, sakit hati, atau persoalan ekonomi. Pelakunya pun terkadang dari orang terdekat si korban. Tapi yang memiriskan hati Yanti, lebih banyak korban pembunuhan adalah para perempuan muda, bahkan ada yang masih di bawah umur. Rata-rata mereka dibunuh oleh suami, pacar, mantan pacar, atau juga menjadi korban trafficking.
Terlepas dari statistik kasus kriminalitas dengan korban perempuan, Yanti melihat ada hal yang tak beres dengan negeri ini. Sistem pendidikan, sistem pemerintahan, sistem peradilan, dan segala sub sistem yang dikembangkan di negeri ini masih belum bisa menempatkan perempuan pada proporsinya yang benar. Belum ada kesetaraan hak antara kaum perempuan dan laki-laki. Hegemoni kaum laki-laki masih mendominasi setiap lini kehidupan di negeri ini. Diskriminasi gender masih sangat kental.
Sebenarnya, emansipasi perempuan tidak harus menempatkan perempuan pada jabatan tinggi atau posisi dalam segala bidang, tapi lebih pada kesempatan yang diberikan seluas-luasnya kepada kaum perempuan dalam memberdayakan diri dan mengembangkan potensinya di segala aspek kehidupan. Dengan demikian perempuan akan lebih percaya diri dan bisa menempatkan dirinya setara dengan kaum laki-laki. Mereka tidak akan diperlakukan dengan semena-mena!
“Ini berkas laporan forensik korban pembunuhan kemarin,” kata Iptu Budi sambil menyodorkan map kepada Yanti.
Polwan berpangkat Iptu itu segera membukanya. Sejenak dia membaca data laporan yang diberikan rekan kerjanya itu. Kedua alisnya sesekali menaut, menandakan seperti ada yang janggal.
“Jadi perempuan ini sedang mengandung janin?” cetus Yanti bertanya seraya menatap Budi yang masih berdiri di seberang mejanya.
“Ya! Menurut ahli forensik sekitar empat atau enam minggu usia janinnya,” jawab Budi.
“Identitasnya?”
“Belum jelas. Di bajunya tak ditemukan KTP atau kartu identitas lainnya. Kita sudah menyebar informasi ke masyarakat bilamana ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Kita tunggu beberapa hari, apakah ada yang melapor dan mengenali korban.”
“Apa penyebab kematiannya?”
“Pendarahan otak dan gagal jantung. Ini dikarenakan pukulan benda keras pada kepalanya yang menyebabkan retak pada tulang tengkorak dan pecahnya pembuluh darah di jaringan otak. Melihat posisi retaknya tulang tengkorak bagian belakang, ada kemungkinan dia dipukul dari arah belakang.”
“Apakah TKP-nya di lokasi tempatnya ditemukan?”
“Menurutku tidak! Kemungkinan dia dibunuh di tempat lain, lalu jasadnya dibuang ke sungai dan hanyut terbawa arus. Tapi aku yakin, TKP-nya masih di wilayah kota ini. Karena cabang sungai itu tidak mengarah ke mana-mana, hanya di seputar kota ini saja!”
“Bagaimana kalau dia dibunuh di luar kota lalu diangkut oleh mobil dan dibuang ke kota ini?”
“Kemungkinan itu bisa saja! Namun, seperti keterangan ahli forensik, begitu korban dibunuh dia langsung diceburkan ke sungai. Ini berdasarkan perhitungan waktu saat air sungai masuk ke dalam saluran pernafasan dan paru-parunya!”
Yanti mengangguk-angguk, mengerti. Terkadang ia merasa jenuh dan muak dengan kasus-kasus pembunuhan seperti ini. Sejujurnya, dalam lubuk hatinya yang dalam, dia berharap tidak pernah ada lagi kasus pembunuhan. Persetan dirinya makan gaji buta, karena tak ada pekerjaan ditanganinya. Bukankah lebih baik begitu, alangkah indahnya dunia ini bila kehidupan berjalan damai, tenang, rukun, harmonis, tanpa ada setetes darah pun tumpah akibat perselisihan.
Namun tak bisa dipungkiri pula bila ada nyala gairah dalam dirinya menghadapi kasus kriminalitas semacam ini, apalagi bila masih diselimuti misteri dan teka-teki. Naluri detektifnya segera menggejolak, seakan ingin segera menelusuri jejak si pelaku. Ketika akhirnya, semua berhasil diungkap dan pelaku ditangkap lalu dijebloskan penjara, maka ada semacam kepuasan karena purna melaksanakan tugas. Ah, dua sisi perasaan yang sangat ambigu!
“Oh ya, Yan! Aku ada kabar gembira untukmu. Atas rekomendasi komandan, kamu akan dimutasikan ke bagian tipikor. Tugas menyidik kasus korupsi ini tampaknya lebih menjanjikan untuk menunjang karir kamu. Bagaimana?” cetus Budi tiba-tiba memberikan kabar baru.
“Tapi aku masih harus menangani kasus ini,” tukas Yanti tidak terlalu gembira menerima kabar itu.
“Sudahlah, kamu tinggalkan saja. Kan bisa diganti personil lain, nanti aku bilang sama Komandan!”
“Tapi, Bud…?”
“Ayolah, Yan! Ini kesempatan yang bagus buatmu. Jangan sampai diserobot orang lain. Lagian, apa kamu tidak jenuh dan bosan menangani kasus-kasus seperti ini? Kamu perlu penyegaran juga, kan?”
Yanti tercenung. Apa yang dikatakan Budi memang benar. Sudah hampir empat tahun dia berkutat di bagian tindak pidana kejahatan umum. Saatnya dia berpikir menangani bidang lain yang lebih menantang dan menjanjikan promosi jabatan. Menangani tipikor akan menjadikannya tampak lebih elegan, keluar masuk kantor dan ruang berbau wangi. Tidak telusupan di tempat yang kotor, jorok, dan berbau busuk. Berhadapan dengan wajah-wajah pucat mayat!
Tapi… ah, ada sudut hatinya yang enggan untuk beranjak dari ruang kerjanya ini. Bukan karena ia tak tergiur meningkatkan karir. Tapi rasanya masih ada hutang janji bila tidak menyelesaikan kasus ini. Apalagi korban pembunuhan kali ini menimbulkan rasa empati yang dalam. Perempuan muda dengan janin di perutnya. Alangkah kejamnya orang yang tega menghabisi nyawanya, bukan satu nyawa tapi dua nyawa sekaligus. Rasanya, Yanti ingin mencongkel mata pembunuh biadab itu jika berhasil menemukan orangnya!
“Maaf, Bud. Sepertinya aku harus menunda dulu menerima tawaran mutasi itu. Aku mesti menunaikan tanggung jawab profesi menyelesaikan kasus ini!” ujar Yanti dengan tegas.
“Baiklah, terserah kamu. Tapi jangan kecewa dan menyesal kalau nanti lowongan itu diisi yang lain.”
Yanti hanya tersenyum tipis. Baginya, tak ada kata kecewa dan menyesal hanya karena kehilangan kesempatan naik pangkat. Dia lebih kecewa dan menyesal bila tak berhasil menyelesaikan tugas yang dipikul!
***
Other Stories
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...