Chapter 2 : Rencana Pernikahan
Nada dering ponselnya berbunyi. Tanda ada sms masuk. Yanti segera membukanya, ternyata dari Danang. Laki-laki itu mengajaknya makan siang di restoran favorite mereka. Yanti langsung mengiyakan. Di tengah rutinitas kerjanya sebagai penegak hukum, Yanti tetap punya ruang untuk kehidupan pribadi. Sebagaimana gadis lajang pada umumnya, dia juga mendambakan hadirnya kekasih yang bisa mengisi kekosongan hatinya.
Danang adalah laki-laki yang sesuai dengan impiannya. Dia seorang eksekutif muda yang sukses, tampan, cerdas, intelek, baik, penyayang, sabar, pengertian, dan dari keluarga baik-baik. Bahkan keluarganya terbilang masih golongan ningrat. Mereka keluarga kaya, terpandang, dan terhormat. Saat pertama kali mereka berkenalan Yanti sempat minder juga. Karena ia sadar hanya berasal dari keluarga biasa, kedua orang tuanya bukan pegawai tinggi dan hidup sederhana.
Tapi hal itu tampaknya tak menjadi soal buat Danang. Karena cintanya pada Yanti tulus suci tanpa memandang latar belakang keluarga. Ketika diperkenalkan kepada orang tua Danang, nyali Yanti sempat ciut. Rumah Danang besar dan mewah, bergaya victorian. Aroma aristokrasi sangat kental mewarnai kehidupan mereka. Danang mesti sungkem dan mencium tangan orang tuanya dulu. Dia tak akan lancang bicara sebelum kedua orang tuanya bicara. Memang terkesan kaku dan terlalu formil, tapi justru itu yang membentuk Danang menjadi pribadi yang santun dan berbakti pada orang tua.
Yanti yang tadinya berdebar-debar, khawatir tak bisa diterima di tengah keluarga Danang, akhirnya bisa bernafas lega. BRAy. Setyorini, yang biasa dipanggil Kanjeng Ibu oleh anak-anaknya, tampak menaruh respek pada Yanti. Perempuan paro baya yang masih tampak cantik dan awet muda di usianya yang berkepala empat itu sepertinya punya wibawa dan pengaruh besar dalam keluarganya. Bahkan suaminya yang usianya sudah cukup tua dan beruban rambutnya, lebih banyak diam saat istrinya bicara. BRAy. Setyorini tipikal perempuan ningrat yang perfeksionis!
Yanti yakin, jika bukan karena jabatannya sebagai polisi wanita berpangkat perwira, mungkin dirinya sudah didepak keluar dari rumah itu. Dan sebesar apa pun Danang mencintainya, pemuda itu akan lebih menurut kepada ibunya. Mungkin ini merupakan keberuntungan bagi Yanti, karena tanpa embel-embel keningratan di depan namanya, dia bisa diterima oleh keluarga Danang. Meskipun sebenarnya Yanti tak suka dengan model seperti ini. Yang namanya cinta adalah perasaan universal, tak ada orang berhak melarang dua insan yang saling mencintai!
Danang sudah menunggu di restoran itu sebelum Yanti datang. Dia duduk di sudut, dengan balutan kemeja warna putih. Wajahnya tampak cerah dan sumringah. Begitu Yanti muncul Danang langsung memberikan surprise yang tak disangka-sangka. Dia menghadiahi Yanti buket bunga mawar dengan kalung liontin menjuntai di kelopaknya. Hati Yanti berbunga-bunga, tak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya. Sungguh, Danang seakan diciptakan untuk selalu memberi kejutan!
Dan semua kejutan yang diberikan Danang mampu menimbulkan rasa bahagia di hati Yanti. Dia merasa sangat tersanjung dan diperhatikan karena kerap diperlakukan istimewa oleh kekasihnya. Tak terbayangkan bagaimana indahnya perkawinan yang mereka jalani nanti mengingat Danang laki-laki yang sangat romantis dan tahu bagaimana caranya menyenangkan hati pasangan. Mungkin tiap hari Yanti akan sering dihujani hadiah-hadiah yang sangat menyenangkan!
“Bagaimana, Yan? Kamu suka, kan?” cetus Danang.
“Ya, Mas! Aku suka sekali. Terima kasih ya, Mas,” jawab Yanti masih belum hilang suka citanya.
“Kamu pesan makanan apa?”
“Seperti biasa, Mas. Tapi minumnya jus lemon.”
Danang kemudian memesan kepada sang pelayan makanan favorite mereka, spagheti.
Sambil menunggu pesanan datang, keduanya meneruskan obrolan.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Danang.
“Yaah… seperti biasa, Mas. Tiap hari selalu ada kasus kriminal yang harus ditangani. Kali ini tentang kasus pembunuhan seorang wanita muda tak dikenal, yang kemarin mayatnya ditemukan mengapung di sungai,” tutur Yanti.
“Ya, aku sudah membaca beritanya di media online.”
“Tapi yang mengejutkan, setelah hasil forensik keluar, ternyata dia sedang mengandung janin bayi di perutnya. Huh, betapa biadab pelakunya!”
“Apakah sudah ketahuan siapa pelakunya?”
“Belum! Tapi aku yakin pelakunya laki-laki. Ini ditengarai dari hasil visum yang menyebutkan dia mengalami pukulan keras di bagian belakang kepalanya. Hanya tenaga kuat seorang laki-laki yang mampu menghancurkan tulang tengkorak manusia!”
Danang manggut-manggut. Pembicaraan tentang peristiwa kriminal memang kerap mewarnai obrolan mereka. Mungkin terasa membosankan dan jenuh mendengarnya tiap hari, tapi Danang sepertinya enjoy saja. Dia tampaknya sadar, memiliki pacar seorang polisi sama saja menabung kecemasan demi kecemasan karena si doi harus sering berhadapan dengan bahaya. Penjahat sekarang makin pintar, makin lihai, dan makin canggih. Mereka pun tak segan melawan petugas demi menyelamatkan diri dari ancaman penjara. Senjata api pun jadi andalan.
“Oh ya, bagaimana rencana pernikahan kita, Yan?” Tiba-tiba Danang mengalihkan pembicaraan.
“Kemarin aku sudah bicara sama Bapak dan Ibu. Pada prinsipnya mereka sudah merestui kita. Hanya soal waktunya, mereka minta kita harus bersabar dulu. Bapak masih ada tanggung jawab pada kuliah adikku yang tinggal beberapa bulan lagi. Paling tidak mesti menunggu tahun depan setelah adikku lulus kuliah,” kata Yanti.
“Ya, aku bisa mengerti hal itu, Yan. Aku bisa bersabar menunggu. Tapi…?”
“Tapi kenapa, Mas?”
“Kanjeng Ibu…”
“Kenapa dengan Kanjeng Ibu?”
“Beliau meminta kita segera meresmikan pernikahan. Kalau perlu bulan depan. Kanjeng Ibu tak sabar lagi ingin menimang cucu!”
Yanti tercenung. Dia tahu apa artinya kalau Kanjeng Ibu membuat sebuah permintaan. Itu berarti harus dipenuhi. Kanjeng Ibu bukan tipe orang yang mau menerima penolakan. Jika sudah ada maunya, siapa pun tak bisa menghadang. Yanti tahu, apa akibatnya bila dia masih menawar permintaan calon mertuanya itu. Bukan saja pernikahan itu tak bakal terjadi, hubungan dirinya dan Danang terancam putus di tengah jalan.
Oh, kepala Yanti tiba-tiba jadi pening. Sesungguhnya, bukan soal waktu dan adiknya yang belum lulus kuliah jadi pertimbangan orang tuanya, tetapi juga soal dana. Dalam adat Jawa, acara pernikahan biasanya dilangsungkan di rumah mempelai wanita. Meskipun Danang kaya raya dan mampu menanggung semua biaya pesta pernikahan, tapi orang tua Yanti tak mau mengharapkan bantuan pada siapa pun. Mereka bukan orang yang suka memanfaatkan aji mumpung.
Sedapat mungkin mereka akan mengusahakan biaya pesta pernikahan itu dari kantong sendiri. Mengingat butuh banyak dana untuk acara pernikahan, maka orang tua Yanti mesti menabung dulu, dan itu tentu butuh waktu. Yanti pun memahami dengan kondisi orang tuanya. Sedikit banyak ia ikut membantu mereka mengumpulkan dana dengan menyisihkan sebagian gajinya. Bagaimana pun segala sesuatu butuh persiapan dan perencanaan matang.
Tapi sekarang, tiba-tiba calon mertuanya meminta agar acara pernikahan dilaksanakan dengan segera. Sebenarnya Yanti bisa saja meminta Danang memberi pengertian kepada ibunya untuk bersabar menunggu, tapi tampaknya itu hanya akan sia-sia. Sebab, wanita berhati keras itu tentu tak akan mau menerima alasan Danang. Sementara Danang sendiri tak punya keberanian menentang titah ibunya!
“Maafkan kalau hal ini mengganggu pikiranmu, Yan. Aku sebenarnya sudah pernah menyampaikan pada Kanjeng Ibu tentang rencana pernikahan kita, tapi sepertinya beliau tetap bersikeras agar pernikahan kita dilaksanakan dengan segera. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu tahu sendiri, bagaimana Kanjeng Ibu,” ucap Danang jadi tak enak melihat wajah Yanti diliputi gundah.
“Tak apa-apa, Mas. Aku bisa mengerti dengan keinginan Kanjeng Ibu,” tukas Yanti kalem.
“Sebaiknya kamu sendiri yang bicara dengan Kanjeng Ibu tentang rencana kita dan keinginan orang tuamu, Yan. Mungkin kalau kamu yang bicara, Kanjeng Ibu mau menerimanya dan merubah permintaannya itu.”
Yanti hanya mengangguk.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...