Chapter 2
“Oke, kalian paham ‘kan cara mainnya?” tanya Aria lagi.
Mereka semua menganggukkan kepala. “Sebelumnya gue mau kita semua pejamkan mata kita, sebut dalam hati kalau kalian ingin melihat jin, setan, atau apalah kalian menyebutnya. Terserah,” lanjut Aria. Semua teman-temannya menurutinya. “Gue hitung dari 1-10, kalian bisa buka mata kalian setelah hitungan ke-sepuluh.”
Aria mulai menghitung pelan dari angka satu sampai sepuluh. Ruangan sepi hanya suara hitungan Aria yang terdengar. Tiba-tiba lampu yang dari tadi menyala mati. Di angka sepuluh mereka membuka mata. Namun, semuanya gelap. Atmosfer yang dirasa terasa berbeda dari yang tadi. Entah kenapa gelap ini seperti tidak membuka mata. Masing-masing dari mereka berpikir ingin bertanya namun bingung dengan rules yang tadi disebutkan oleh Aria. Hanya terasa saja jika di samping ada orang lain, itu dalam pikiran mereka.
“Lampu mati, sepertinya ‘mereka’ sudah tahu niat kita,” ujar Aria yang akhirnya memecahkan keheningan.
“Apa perlu gue nyari lilin dulu? Gue rasa di kamar nyimpen persediaan lilin,” ucap Rehan yang merasa takut. Namun, dia menutupi ketakutannya.
“Gak usah. Kita langsung aja main permainannya. Gue harap kalian inget peraturan yang udah gue sebut tadi. Gue gak tahu gimana jadinya kalau kalian gak matuhin aturan itu. Meskipun emang, aturan itu gue yang buat seendiri,” tutur Aria kembali.
Lalu mereka semua menyanyikan lagu Ayang-ayanggung dan memutar tali pita yang mereka pegang berpindah tangan dari satu tangan ke tangan yang lainnya.
Ayang-ayanggung
gung goongna ramé
ménak Ki Mas Tanu
nu jadi wadana
naha manéh kitu
tukang olo-olo
loba anu giruk
ruket jeung Kumpeni
niat jadi pangkat
katon kagoréngan
ngantos Kangjeng Dalem
lempa lempi lempong
jalan ka Batawi ngemplong
ngadu pipi jeung nu ompong
Tiba-tiba seperti sudah disetting sebelumnya, setelah kalimat terakhir lagu itu lampu kembali menyala membuat semuanya kaget kecuali Aria. Aria hanya terdiam dan tidak menampakan ekspresi apapun.
“Deni!” ucap Aria. Yang lain malah bengong dan belum mengerti alur permainan yang mereka lakukan. Aria memejamkan matanya lagi dan beberapa detik kemudian membuka matanya. Tiba-tiba lampu kembali mati dan terdengar suara seperti guntur yang menggelegar, membuat semua teman-temannya melepaskan tali pita itu. Entah apa yang dipikirkan Aria tiba-tiba di tengah kegelapan ini Aria berteriak dengan sangat kencangnya seperti orang kesakitan.
“Ar, lo kenapa?” tanya Dania panik tapi tidak bisa melihat posisi Aria ada di mana.
Tiba-tiba Ada suara lengkingan yang cukup kuat, membuat semua yang ada di sana menutup telinganya dan berteriak kesakitan. Tidak ada yang bisa mereka lihat dalam kegelapan ini. Anehnya, setelah mereka semua berdiri juga tidak tahu di mana posisi satu sama lain, karena meskipun mereka melangkah ke sana-ke mari, mereka tidak bertubrukan atau apapun.
PRANG!!!
Entah suara barang apa yang terjatuh, tapi suara dengingan yang kuat tadi menghilang begitu saja.
“Jawab gue kalau kalian masih ada di sini!” teriak Sarah. Dia merasa tidak ada orang lain selain dirinya di tempat gelap ini.
“Gue, Sar. Tenang aja. Gue denger suara lo. Tapi, gue gak tahu posisi lo sekarang di mana?” Sarah mendengar suara Dania yang menggema, di ruang kosong ini suara Dania menggema. Tapi, kenapa suranya sendiri terdengar tidak menggema?
Sarah merasa tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi? Ke mana teman-temannya? Kenapa di rumah Rehan ini begitu gelap? “Ayolah ... ini bukan hal mistis kan? Sumpah ini gak logis banget, masa sih permainan anak-anak kek gitu bisa manggil setan?“ ucap Sarah dalam hati.
“Hey, guys. Gue mohon, selain Dania. Tolong jawab gue. Gue gak bisa lihat apa-apa nih!” teriak Sarah. Namun, lagi-lagi tidak ada yang menjawabnya.
Tiba-tiba Dania merasa mual karena mencium bau anyir di sekitarnya. Entah bau apa, yang jelas baunya sangat menyengat dan membuat kepalanya juga sakit.
“Hoeek ... hoeek!”
Dania tidak bisa menahan perutnya yang sangat mual dan memuntahkan semua isi perutnya di situ juga, Dania merasa sesak dan tidak bisa bernapas. Dirasakan kini matanya terasa melihat cahaya yang menyilaukan yang malah membuat kepalanya sakit dan akhirnya Dania tidak sadarkan diri.
Sarah panik mendengar suara Dania. “Dania! Lo kenapa?”
“Dania! Lo kenapa? Jawab gue!”
Tidak ada jawaban apapun dari Dania yang bisa didengar oleh Sarah. Sarah mencoba berjalan di kegelapan. Namun, semakin lama Sarah berjalan. Sarah malah kebingungan. Dia seperti bukan berada di rumah Rehan. Karena, dirasanya tidak mungkin jika lantai 2 rumah Rehan seluas ini. Pasti Sarah bisa menemukan atau setidaknya menabrak dinding. Tapi ini tidak.
Pikiran Sarah berkecamuk. Sarah bingung apa yang harus dilakukannya. Sarah merasa ada embusan angin yang melewatinya. Namun, dia tidak merasakan ada siapapun di sekitarnya. Secara tiba-tiba, tangan Sarah seperti ada yang menariknya. Sarah mencoba mempertahankan tubuhnya, tapi lantai yang dipijaknya tiba-tiba Roboh, Sarah yang terjatuh berteriak dan tak sadarkan diri.
***
“Devi ... kamu di mana?!” teriak Deni.
Deni bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya dan teman-temannya, bahkan dia terpisah juga dari Devi, istrinya. Kini Deni berada di sebuah hutan yang lebat dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Yang lebih membuat Deni tidak paham adalah di hutan ini hanya ada dia sendiri dan sepertinya langit yang mengintip dari sela-sela dedaunan begitu cerah.
“Apa ini sudah siang? Kenapa aku ada di sini? Bukannya tadi aku ada di rumah Rehan?” tanyanya entah pada siapa
Deni berjalan menyusuri hutan yang lebat itu dengan terus memanggil nama istrinya, Devi. Sepertinya hutan ini belum terjamah oleh manusia, karena masih sangat begitu lebat dan suara-suara burung dan binatang lainnya begitu terdengar seperti irama yang bersahut-sahutan membuat hutan yang begitu luas sejauh mata memandang ini tidak begitu sepi, namun malah membuat Deni takut. Saat melihat ada jalan setapak Deni sungguh merasa bahagia. Jalan setapak ini sangat panjang dan ternyata di ujung jalan ini ada rumah yang terbuat dari bambu, namun sepertinya rumah itu adalah rumah tua.
“Siapapun! Apakah ada orang di sini?” teriak Deni lagi.
Deni mendekati rumah tua itu. Terlihat di sana banyak sekali pohon bambu yang mengelilingi rumah itu. Di depannya ada beberapa pohon bambu pendek yang rapi seperti pagar pembatas. Deni melihat seperti ada orang di balik pohon-pohon bambu itu.
“Hey! Siapa di sana?”
Tiba-tiba datang sebuah benda yang melesat menabrak Deni dengan cepat, membuat tubuh Deni terpental dan menabrak pohon besar di belakangnya. Membuat kepala dan punggung Deni terasa sakit.
“Arrgh! Apa ini?” ringis Deni kesakitan memegang kepalanya lalu beralih ke punggungnya. Sepertinya akan ada memar di punggungnya. Saat melihat benda yang melesat tadi bergelinding tak terlalu jauh di sampingnya yang jika diperhatikan benda itu mirip dengan sebuah bola. Bola yang berwarna hitam namun cukup besar.
“Bola? Bola siapa itu?” tanya Deni penasaran.
Deni mendekati benda yang seperti bola itu. Karena penasaran Deni mengangkat bola itu. Betapa kagetnya Deni saat benda itu sudah ada ditangannya. Sekeliling benda bulat itu terdapat ribuan mata yang berkedip-kedip.
“Ma-mata ...? Mata Sewu[1]!” teriak Deni kaget dan melemparkan benda itu ke sembarang arah.
Menurut berbagai sumber, hantu ini menampakan dirinya dengan menyerap energi ketakutan pada orang atau makhluk yang ada di sekitarnya.
Deni berlari dari tempat itu menuju rumah bambu tadi dengan sangat cepat. Namun, tiba-tiba ada sebuah cahaya seperti portal yang menyedot tubuhnya. Deni berteriak kesakitan sampai tertelan cahaya itu dan lenyap entah kemana.
***
“Tunggu, gue teleportasi atau apaan nih?” tanya Rehan yang kini ada disebuah ruangan dengan dinding bambu dan lantai tembok tanpa kramik. Rehan berkeliling menyusuri tembok itu mencari pintu yang dapat mengeluarkannya dari ruangan ini. Anehnya di ruangan ini tidak terlihat adanya pintu. Pikir Rehan mungkin design pintunya disamakan. Namun, setelah satu putaran dia mengelilingi ruangan itu tetap saja tidak ada knop atau pun gagang pintu yang menghubungkan dengan ruangan ataupun keluar ruangan ini.
“Woy! Siapa yang ngurung gue di sini?” teriak Rehan.
Rehan mencoba untuk mendobrak bagian dinding itu, karena dia pikir hanya bambu, pastilah bisa didobrak oleh tubuhnya. Namun sayang, dinding itu begitu keras membuat Rehan terpental ke dinding bagian lain.
“Aww ... A-aww ....” ringis Rehan seraya mengusap punggungnya yang menbrak dinding.
Rehan bangkit dari duduknya. Rehan memperhatikan seluruh penjuru ruangan yang tidak besar ini. Bambu-bambu ini disusun sangat rapi. Di ruangan ini tidak begitu gelap. Warna bambunya kuning, karena merupakan jenis bambu haur.
Lama Rehan termenung, tiba-tiba dia merasakan tempat yang dia duduki menjadi empuk, tapi semakin lama-semakin empuk dan terasa menghisap tubuhnya. Rehan meronta menggapai-gapai dinding bambu itu.
Tiba setelah tubuh Rehan hampir tenggelam semuanya entah darimana ada sesosok makhluk dengan wajah yang tidak beraturan dengan badan yang hanya terlihat seperti kepulan asap yang lebat menarik-narik tangan Rehan.
Rehan semakin berteriak kesakitan hingga akhirnya dia tenggelam dalam lantai yang manghisapnya.
***
Setelah berjalan lama, Devi mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat sakit. Sangat berat membawa tubuhnya yang tengah hamil besar berjalan di tengah Hutan seperti ini. Devi menangis dalam diam.
Hutan ini begitu gelap bagi Devi, Dia melihat dan memperhatikan sekitarnya. Dilihatnya ada seseorang yang memakai jubah hitam tak jauh darinya.
“Siapa kamu?” tanya Devi panik namun berusaha tenang.
Orang berjubah itu seperti tidak mendengar perkataan Devi karena dia terus saja bergeming di tempatnya berdiri, ingin Devi bangkit mendekati makhluk berjubah yang memiliki tubuh yang besar itu. Siapa tahu itu orang bisa memberi tahu Devi dimana sekarang dia berada dan bisa dimintai bantuan. Tidak lama kemudian, Devi merasakan perutnya sakit tidak tertahankan. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari plipis dan tanganya. Ingin Devi menjerit tapi suaranya tidak keluar.
Devi dikagetkan oleh benda yang jatuh dari atas pohon tempatnya beristirahat. Tidak, itu bukan benda. Itu seperti makhluk hidup. Namun, Devi merasa dia tidak pernah melihat makhluk semengerikan itu. Devi hanya bisa menahan napas karena kaget dan juga menahan sakitnya. Suaranya tetap tidak bisa keluar. Dalam hatinya dia terus memanggi-manggil nama Deni, suaminya.
Makhluk itu bergerak. Besar tubuhnya seperti layaknya manusia, tapi jika dilihat lagi itu bukanlah manusia dengan bulu-bulu hitam yang lebat menyerupai gorila. Namun, jika disebut gorila pun makhluk ini tidak sama. Bentuknya yang aneh ditambah kepalanya yang runcing seperti kerucut.
Tiba-tiba makhluk itu berubah wujud menjadi kepulan asap yang sangat besar dan menghempas tubuh Devi hingga dia tidak sadarkan diri.
***
“Di mana gue sekarang? Kenapa kalian membawa gue, hah? Apa yang kalian mau?” teriak Aria di sebuah kebun yang terdapat banyak pohon bambu. Aria memang tahu jika dia dibawa ke alam yang bukan alamnya.
“Hahaha ....” Tiga suara tawa terdengar bercampuran dan berbarengan; suara anak kecil, suara perempuan, dan suara berat laki-laki. Aria menutup telinganya karena kesal dan malas mendengar suara-suara itu. Setelah itu terdengar suara geraman yang besar, membuat badan Aria tiba-tiba kaku dan bergetar.
“Kau yang membuat kami sial, Aria!” ucap keras suara berat laki-laki.
Aria tahu yang berbicara itu bukanlah manusia, ingin Aria membalasnya tapi dia tidak bisa menjawab, selain badannya yang bergetar dan kaku untuk digerakan ternyata mulutnya juga terasa kaku dan rapat.
“Ke-ke-ke ma-na ... se-mu-a teman-teman gu-e, hah?” tanya Aria terbata dengan suara yang dipaksakan untuk bicara. Aria merasa dirinya bodoh karena melakukan ritual itu di rumah Rehan yang sebelumnya dia memang merasakan jika aura di rumah Rehan memiliki banyak aura negatif menurutnya.
Suara geraman dan dengingan saling bersahutan di telinga Aria. Ingin Aria menutup telinganya namun tangannya terasa berat seperti sedang tertarik sesuatu. Secara tiba-tiba kakinya sudah terbelit oleh rambut yang panjang lalu tergusur membuat badan dan kepalanya terbentur tanah dan dia mencoba berteriak sekencang-kencangnya dan menahan sakit yang dirasanya.
[1] Mata Sewu adalah sosok hantu yang dipercaya oleh sebagian orang terutama di wilayah Tasikmalaya dengan ciri-ciri bentuk seperti bola dan terdapat banyak mata yang berkedip di seluruh permukaan bola tersebut.
Other Stories
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...