Chapter 3
“AAAAA ... !!!”
Teriak keenam orang itu berbarengan. Jangan kalian kira mereka berada di ruangan yang sama. Jika kalian berpikir seperti itu maka apa yang kalian pikirkan salah besar. Mereka semua terbangun di rumahnya masing-masing dalam keadaan capek dan bingung. Seperti halnya Deni dan Devi sekarang.
Mereka saling pandang tanpa bicara apapun.
‘Syukur, tenyata itu semua hanya mimpi,’ ucap keduanya dalam hati. Lama mereka terdiam satu sama lain dan masih berkecimpung dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian Devi merasa perutnya amat sakit lalu meringis membuat Deni kaget.
“Kamu kenapa?” tanya Deni panik
“Sakit, A[1] ... Perut Devi sakit ....” ucap Devi masih terus meringis menahan sakit di perutnya.
“Oke, sekarang kita ke rumah sakit aja, kamu tunggu di sini dulu. Aku mau siapin mobil. Yang kuat yaa ...” kata Deni panik mengecup sekilas puncak kepala istrinya, lalu dia bergegas keluar kamar dan mengambil kunci mobilnya.
“Aa[2]aaa!” teriakan yang berasal dari kamar mereka berdua membuat Deni bergegas berlari ke kamarnya setelah mempersiapkan mobilnya.
Dilihatnya tubuh Devi sudah membiru semua dan dia juga tidak sadarkan diri. Deni langsung mengangkat tubuh Devi dan membawanya masuk kedalam mobilnya. Deni benar-benar panik dan tidak tahu apa yang terjadi pada Devi. Dia mendudukan istrinya di jok penumpang bagian depan, lalu dia berlari memutari kap mobil untu masuk kedalam mobil.
Waktu menunjukan pukul 06.00 saat Deni melihat jam kecil yang terpasang di dashboard mobilnya. Deni bergegas membawa mobilnya kearah Rumah sakit. Hari masih cukup pagi di Tasikmalaya, membuat jalanan tidak begitu macet. Lokasi rumah Deni dan rumah sakit lumayan jauh dan tidak bisa disebut dekat. Ketika melewati pasar yang memang selalu sudah ramai dengan orang-orang dan kendaraan di sana, tiba-tiba dari sebuah truk yang berpapasan dengannya beterbangan ayam-ayam ke depan kap mobil bagian depan milik Deni. Deni tidak bisa ngebut di daerah sini karena terlalu banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang.
Deni terpaksa meminggirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. Lalu dia keluar untuk mengusir ayam-ayam hitam itu.
“Kunaon, Jang?[3]” tanya seorang bapak-bapak yang kebetulan ada di sana. Bapak itu menggunakan bahasa Sunda yang artinya: Kenapa, Jang?.
Jang dalam bahasa Sunda adalah sebutan bagi laki-laki muda.
“Ieu, Pak. Hayam-hayamna alimeun nyingkah tina mobil abi[4],” jawab Deni dalam bahasa Sunda juga sambil mengusir Ayam-ayam itu dari kap mobilnya dibantu oleh si bapak yang bertanya, “Naha make bisa hayam-hayam ieu aya dina mobil Ujang? Bade diical ka pasar?[5]”
“Aduh, Pak. Hapunten, sanes kitu ... abi teh bade nganter pon bojo ka Rumah Sakit. Itu pun bojo nuju teu damang. Mangga atuh, pak. Abi teh enggal-enggal[6],” jawab Deni segera dan langsung berlari terburu-buru masuk kembali ke dalam mobil.
“Hatur nuhun, Pak[7],” ucap Den berterima kasih kepada bapak itu dengan membuka kaca jendelanya.
“Ati-ati, Jang! Hayam nu tadi lain hayam biasa tapi Hayam Camani.[8]”
DEG!
Perkataan bapak itu membuat dia kaget dan jantungnya berdegup kencang. Tanpa pikir panjang lagi, Deni bergegas menerobos jalanan pasar yang ramai dengan mobilnya menuju RSUD Tasikmalaya.
Ayam Camani adalah Ayam yang dianggap mempunyai kekuatan mistis dan menimbulkan kesialan. Ciri-ciri ayam ini adalah warnanya dari mulai bulu, kulit paruh sampai kakinya berwarna hitam gelap. Bahkan darah ayam ini dipercaya memiliki kekuatan mistis yang kuat. Meski kebanyakan ayam ini sering dijadikan sesembahan untuk orang-orang yang percaya akan ilmu penyugihan.
Sesampaikanya di depan Sakit, Deni menggendong istrinya yang sudah tidak sadarkan diri dengan sekujur tubuh yang membiru itu ke lobby rumah sakit. Ada beberapa petugas medis yang langsung membantu membawa Devi menggunakan ranjang dorong pasien.
“Dev ... Sayang ... Kamu bertahan ya ... kamu harus sadar,” ucap Deni seraya mengusap-ngusap kepala Devi.
Deni terus saja menggumamkan kata-kata kepada Devi. Tubuh Devi entah kenapa semakin membiru seperti lebam disekujur tubuhnya. Dengan cepat Deni dan paramedis mendorong ranjang beroda itu ke ruangan yang terletak di ujung rumah sakit ini. Namun, saat di depan pintu yang bertuliskan UGD, Deni dilarang ikut masuk atas dasar akan dilakukannya pemeriksaan.
“Tapi, saya suaminya,“ ucap Deni dengan nada memohon. Namun tetap saja Deni tidak diizinkan masuk, lalu salah satu perawat menyarankan agar dia mengurus administrasi di resepsionis yang ada di depan.
Deni berjalan gontai menuju tempat resepsionis. Tiba-tiba ada sebuah bola yang menggelinding di bawah kakinya. Deni mengambil bola itu dan melihat ke semua arah. Namun, di lorong yang kini dia berdiri tidak ada satu pun anak kecil yang terlihat. Hanya ada beberapa perawat yang berlalu-lalang dan ada pula beberapa pasien dan mungkin keluarga pasien yang sedang menjenguk.
“Nu abi, eta[9].” Suara pelan anak kecil terdengar dari belakang Deni. Deni membalikan tubuhnya mencari suara anak kecil tadi. Dilihatnya anak kecil yang berdiri tanpa alas kaki tidak jauh darinya. Deni melangkah mendekati anak kecil itu. Tubuh anak kecil itu terbalut baju putih rumah sakit ini. Warna kulitnya sangat pucat dan wajahnya pun sangat layu.
“Nih, kamu jangan maen bola di sini. Nanti kena orang,” ucap Deni tersenyum menyerahkan bola itu kepada anak kecil yang pucat itu.
Seseorang menepuk pundak Deni, membuatnya menengok ke arah orang yang menepuknya. Deni tersenyum dan berdiri menghadap seorang yang memakai baju dokter yang barusan menepuknya.
“Anda sehat? Anda berbicara dengan siapa di sini?” tanya dokter itu dengan wajah bingungnya.
“Ini. bicara dengan anak ini, Pak,” jawab Deni sambil menunjuk tempat anak kecil tadi berada. Namun, anehnya anak kecil itu kini sudah tidak ada di tempatnya membuat Deni kaget. “Tadi dia ada di sini, Pak. Di depan pintu ini. Apa dia masuk? Atau dia sudah lari?” tanya Deni yang malah bermonolog sendiri.
“Tidak ada, Jang. Gak ada anak kecil di sini. lagian ini masil pagi. Kayaknya Ujang butuh istirahat. Mungkin bisa ikut saya ke kantin RS? Ini pintu kamar mayat.” Deni terdiam. Dia tidak mendengar penuturan Dokter dan malah bergumam tidak jelas. Lalu dilihat lagi sosok anak kecil itu ada di belakang sang dokter dengan wajah yang berlumuran darah di bagian kepala membuat Deni berteriak.
“Itu, Pak ... itu ... dia di belakang Bapak!”
Dokter itu bingung dan mencoba untuk menenangkan Deni. Beberapa perawat datang membatu Sang dokter. Namun, tiba-tiba Deni pingsan tak sadarkan diri. Semua paramedis yang ada di sana mencoba membantu Deni dan membawanya ke ruang perawaataan.
Di ruangan UGD, Devi mengamuk tidak jelas seperti orang yang kesurupan. Ah, tidak. Sepertinya dia memang benar-benar kesurupan. Lihat saja kini dia mengangkat tiang infusan dan mengarahkannya kearah para petugas medis yang ada di sana. Ruangan ini menjadi hancur dan beberapa peralatan ada yang rusak.
Tiba-tiba setelah beberapa menit Devi seperti itu, badannya melorot dan jatuh ke lantai dengan lemas. Semua petugas langsung membawa tubuh Devi kembali ke ranjang pasien. Seorang suster menyuntikkan obat penenang di tangan Devi.
***
Sudah beberapa kali Sarah mengumpat hari ini. Pikirannya bercampur aduk, bayangan semalam yang baginya hanya mimpi selalu membayanginya. Entah kenapa Sarah selalu merasa takut juga merasa ada yang mengawasi. Sehingga dari kekagetannya bangun dari tidur Sarah bergegas pergi ke kampus karena ingat jika dia memiliki kuliah pagi hari ini.
Kesialan terjadi pada Sarah hari ini, karena dia tidak diperbolehkan masuk oleh dosennya karena dia telat 15 menit dan itu tidak ada toleransi baginya. Dengan wajah kesal dan mulut terus mengumpat, Sarah berjalan menuju taman fakultas. Entah kenapa hari ini taman ini sangat sepi karena biasanya banyak mahasiswa dan mahasiswi seperti dirinya memenuhi taman ini.
Sarah adalah mahasiswa semester 5 di kampusnya. Biasanya dia tidak pernah bolos atau apapun. Hanya hari ini dia membolos satu mata kuliah dan yang membuat Sarah kesal adalah banyaknya SKS yang ada pada matkul ini, 3 SKS. Menurut Sarah itulah yang paling horor dalam hidupnya.
Sarah merasa ada yang meniup tengkuknya, tapi saat dia menengok ke belakang tidak ada apapun di sana. Sarah melihat ada sesuatu di balik pohon besar yang terletak tidak jauh darinya. Entahlah, di antara mahasiswa yang berlalu lalang, sosok itu tetap saja ada di sana. Mereka seperti tidak melihat adanya sosok yang dilihat oleh Sarah.
Sarah mendekati sosok itu, tapi tiba-tiba sosok itu menghilang saat Sarah semakin mendekatinya.
“Ah, mungkin aku kecapean. Itu sepertinya hanya halusinasi.” Sarah bangkit dari bangku taman itu. Namun, entah angin dari mana yang Sarah rasakan tiba-tiba dia terjengkang ke belakang. Membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana menertawakannya.
Dengan rasa malu yang tidak bisa ditutup Sarah berlari menjauh dari taman. Dia sendirian karena teman-temannya yang lain masih ada kuliah. Jika hari ini tidak ada kuliah lagi ingin rasanya Sarah pulang saja.
Sarah masuk ke toilet, di dalam toilet itu ada 3 kamar toilet dan ada cermin yang cukup besar tergantung di temboknya. Ketika menatap cermin itu sekilas dia melihat sosok lain yang mengikutinya karena penasaran Sarah balik lagi melihat cermin. Namun ternyata tidak ada apa-apa. Sarah lalu kembali ke toilet yang tadi akan dimasukinya.
Setelah dia menyelesaikan urusannya di dalam toilet. Dia kembali menghadap cermin itu, lama diperhatikan tidak ada apa-apa. Namun, ketika Sarah berbalik dari ekor matanya dia melihat bayangan di belakang tubuhnya. Seketika jantung Sarah berdetak keras sekaligus cepat. Sarah berteriak lalu keluar dari toilet itu.
Sarah berlari sampai ruangan depan gedung ormawa[10]. Dengan napas yang tersenggal, Sarah mendudukan tubuhnya diatas kursi yang ada di depan gedung itu.
“Hey, Sar,” sapa Dania yang baru datang dan melihat Sarah ada di sana.
Dania dan Sarah memang satu tempat kuliah. Mereka selalu bersama-sama meski apa yang mereka sukai berbeda. Jika Sarah menyukai buku-buku tebal dibanding olahraga, maka Dania kebalikannya. Dania seorang anak klub olahraga.
Sarah melihat ke arah datangnya Dania. Dia masih mencoba mengatur napas dan mengatur degup jantungnya yang tidak bisa dikendalikan karena ketakutan.
“Lo, kenapa?” tanya Dania, “Jiga nu diudag-udag jurig wae[11],” tambah Dania setelah sampai di depan Sarah. Sarah menundukan kepalanya masih dengan napas yang tersengal, lalu dia mencoba bicara pada Dania. Namun, tiba-tiba Sarah malah menangis.
“Heh ... Hey, Ari maneh kunaon[12]?” tanya Dania yang bingung dengan apa yang dilakukan oleh Sarah. “Ju-juu ... huwaa ....” Sarah kembali menangis. “Ju, ju, ju naon? Jurig? Lo seriusan lihat, Sar?” tanya Dania lagi. Lalu Dania meliat ke sekitar yang ternyata dia melihat juga ada banyangan Hitam yang berada di pojok luar depan gedung ini.
“Sebaiknya kita pindah dari ini. Ayo! Jangan nangis dulu. Lo kan gak percaya gituan, masa sekarang lo takut, sih?” Dania mencoba agar ketakutan Sarah tidak membesar. Karena dia juga merasa kalau sejak mimpi semalam, dia pun diikuti oleh sosok yang tidak menampakan wujudnya. Namun, sudah beberapa barangnya yang hilang ataupun terbang seperti ada yang mengendalikan.
Dania dan Sarah melangkah menuju gerbang utama kampusnya, lalu Dania memesan layanan taksi online lewat aplikasi smartphonenya. Dania mencoba untuk membawa Sarah ke tempat yang ramai. Meski Sarah berkali-kali menolak dan bertanya, “Kenapa lewat sini? banyak orang.”
“Makanya itu, pokoknya lo ikutin dulu gue. Gue mau cerita sesuatu sama lo. Kayaknya kondisi kita lagi sama.” Perkataan Dania yang tidak dipahami Sarah membuat Sarah memilih untuk mengikutinya saja dan tidak melawan.
Setelah Taksi yang dipesan Dania, mereka langsung masuk dan menuju tempat yang dipesan oleh Dania.
“Pak, tolong abaikan pembicaraan kami.” Entah kenapa Dania berbicara seperti itu kepada si Supir. Supir itu hanya mengangguk dan diam saja.
“Jadi, ayo cerita sama gue. Apa yang terjadi sama, lo?”
Sarah sepertinya ingin kembali menangis, tapi dia menahannya. Baru kali ini Dania melihat sahabatnya yang satu ini menangis seperti ini.
“Gu-Gue ... tadi lihat hantu! Benaran dah! Bahkan tadi waktu pagi, waktu gue telat masuk matkulnya Pak Tono kan gue diusir. Nah, gue ke taman, di taman gue jatoh dengan sendirinya seperti ada yang narik pundak gue dan gue terjengkang di depan banyak orang. Terus gue ke WC, dan di WC itu gue lihat ada hantunya di cermin! Serius, Dan ... gue gak bohong ....” tutur panjang Sarah denga isakan tangisnya.
“Berarti bener, kayaknya kita sama. Gue juga dari pagi ampe sekarang ngerasain kalau gue diikutin mulu. Sepertinya ada sebabnya deh kita berdua diikutin. Tapi gue gak tahu apa-apa. Gue cuma mimpi aneh aja semalem.”
Dania mencoba berpikir. Padahal biasanya dalam keadaan bagaimanapun selalu Sarah yang mempunyai ide atau sering memikirkan sesuatu secara logis. Namun, berbeda dengan hari ini pikiran Sarah malah kalah dengan rasa takutnya yang entah sejak kapan datangnya.
“Mimpi? Gue juga mimpi aneh banget tadi malem,” kata Sarah sedikit kaget.
“Tunggu, semalem kita semua sehabis reunian pada ngumpul dulu gak, sih? Di mana ... gitu? Ngebahas apa gitu?” tanya Dania. Sarah kini sudah tidak menangis lagi. Dia pun ikut berpikir akan semua kejadian yang belum pernah dia alami ini.
“Gak tau, gue lupa. Yang jelas gue bangun tidur tadi serasa capek banget. Sumpah!” Sarah mengangkat kedua jarinya. “Baju yang gue pake basah sama keringet. Udah itu kepala gue puyeng. Ya, makanya gue telat ngampus juga.”
“Lo ... ngimpi didatengin, gak?” tanya Dania ragu.
Mobil berhenti karena telah sampai tujuan. Sopir yang sedari tadi diam memberi tahu kalau mereka sudah sampai. Jarak kampus ke tempai ini lumayan agak jauh, tapi tidak terlalu jauh juga. Dania ingin mengatakan kalau dirinya juga sangat merasa takut. Namun, dia urungkan karena khawatir akan kondisi Sarah.
“Lo gak mau cerita ke gue, apa yang terjadi juga sama lo?” tanya Sarah yang kini sudah mencoba menenangkan dirinya. “Gak tahu ah, gue pusing.” Dania mengambil smartphonenya lalu membuka aplikasi kamera.
“Lo mau ngapain, sih? Selfie? Situasi kayak gini lo masih mau selfie? Gusti ... lo alay banget sih?” ucap Sarah kesal. Sempat-sempat saja Dania berselfi ria di tengah keadaan yang seperti ini.
“Aaa!” Tiba-tiba Dania berteriak dan hampir saja melempar smartphone yang dipegangnya.
“Lo kenapa, sih? Jangan teriak-teriak kek gitu,” tegur Sarah karena kaget.
Dania malah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Sarah. Beberapa orang yang melewati mereka merasa heran dengan Dania yang tiba-tiba berteriak seperti itu. Dania melihat bergantian ke arah belakang dan ke arah smatrphone yang dipegang. Sarah semakin merasa kesal melihat tingkah Dania dan merebut smartphone itu.
“Lo ... lo lihat, kan? I-itu apa?”tanya Dania tergagap.
Sarah juga merasa kaget dengan apa ysng tergambar di foto yang diambil oleh Dania. Di belakang Dania ada sosok yang sangat sulit dijelaskan. Dengan mata merah wajah seperti meleleh dengan gigi yang besar dan kupluk yang ada di kepalanya. Sarah merasa ingin muntah melihat sosok yang tergambar pada foto itu.
“Hapus! Gue gak mau pokoknya hapus!” kata Dania semakin panik. Sarah mencoba menghapus foto itu. Namun, lima kali Sarah mencoba menghapusnya foto itu tidak terhapus sama sekali meski setiap kali dihapus loading-nya sangat lama.
“Ini gimana ngehapusnya? Udah gue hapus beberapa kali masih ada juga.”
“Lo bisa gak sih? Tinggal pencet perintah delete!”
Baru hapusan yang keenam barulah bisa terhapus dengan loading yang lebih lama dari sebelumnya. Dania dan Sarah menghela napas lega. Sepertinya apapun yang dilakukan mereka maka akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
13.00
Angka yang tertera di sana. Anehnya, meskipun waktu sudah tegah hari tapi langit seperti menunjukan masih pagi. Mungkin karena mendung dari tadi.
“Jika kita berangkat sekarang, otomatis kita akan pulang malam nanti, bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan?”
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah ini?” Sarah menanya balik pertanyaan yang diajukan Dania. Dia benar-benar merasa ketakutan.
***
Kini entah apa yang dipikirkan Aria. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan kuliah yang disampaikan oleh Dosennya. Tugas yang diberikan sejak tadi pun tidak dia kerjakan sama sekali. Apalagi semua bayangan makhluk selain manusia yang harus dilihatnya. Pemandangan ini memang sering dia lewati setiap harinya.
Namun, dari salah satu makhluk itu, ada tiga makhluk yang terus saja menatapnya. Ingin sekali Aria mengumpat, namun sepertinya hal itu tidak akan berguna.
“Aria!”
Panggilan itu membuat Aria tersadar dari lamunannya. Lalu dia meliaht ke arah depan yang ternyata itu adalah Rehan dan sepertinya kuliah yang tadi diikutinya sudah berakhir.
“Lo ngelamunin apaan?” tanya Rehan yang kini sudah berada di dekat kursi yang di duduki Aria. Rehan mengambil kursi yang lain untuknya duduk.
“Kagak, kok. Gue gak ngelamun.”
“Halah, lo bilang kagak. Orang tadi lo ngelamun gitu. Sampe sampe kayaknya lo gak dengarin Pak Dion ngasih materi apaan.”
Jika Sarah dan Dania satu kampus tapi beda jurusan. Lain halnya dengan Aria dan Rehan. Mereka satu kampus bahkan satu jurusan dan yang lebih kebetulan lagi mereka selalu mengambil mata kuliah di jam yang sama. Sehingga mereka selalu terlihat bersama.
“Eh, oh iya.” Rehan mengambil sesuatu yang ada di dalam tasnya. “Ini punya lo, ‘kan? Soalnya gue gak punya model kamera kek gitu,” lanjutnya seraya memberikan kamera itu kepada Aria.
“Tapi, emangnya kapan ya lo ninggalin ini kamera di rumah gue? Perasaan lo udah lama gak pernah maen ke Rumah.”
Aria merasa aneh dengan ucapan Rehan. Seinget Aria bukannya semalem Aria dan teman-temannya waktu SD ke rumah Rehan? Masa Rehan gak inget?
“Lo nemuin ini di mana?” tanya Rehan.
“Di depan kamar gue, sama tripod-nya sih tapi gue males bawa tripodnya. Berat. Lo aja yang ngambil sendiri ke rumah. Gimana?”
“Kamar lo yang di lantai atas, ‘kan?” tanya Rehan lagi untuk memastikan.
“Iya, kok lo tahu? Gue kan baru pindah kamar ke atas 1 bulan yang lalu. Lo kapan sih ke rumah gue? Atau pas gue gak ada?”
Jawaban Rehan membuat Aria semakin paham kalau memang ada yang salah dengan sahabatnya yang satu ini.
Tiba-tiba, ponsel Aria bergetar. Terlihat di logname yang tertulis nama Deni yang memanggil.
“Ya? Ada apa, Den?”
“Maaf, kami dari RSUD Dr. Sukardjo memberitahukan kalau pemilik nomor ini sudah tidak sadarkan diri dari sejak beberapa jam yang lalu. Sekitar 5 jam yang lalu,” ucap suara di seberang sana.
“Terima kasih atas informasinya apakah Anda sudah memberi tahu pihak keluarganya? Saya hanya teman lamanya yang baru kemarin bertemu,” tutur Aria dengan wajah paniknya, tapi tetap mencoba tenang.
“Sudah, kami sudah menelpon ke semua nomor yang ada di log panggilan terbarunya dan ada nama Anda. Tapi, sejak tadi belum ada sanak keluarga yang mendatanginya.”
Rehan bertanya tanpa suara mengatakan ‘Siapa yang menelpon?’ tapi Aria mengangkat tangannya untuk memberi isyarat ‘Nanti dulu!’
“Saya akan segera ke sana.”
Setelah sambungan telepon dimatikan Aria bertanya pada Rehan, “Lo bawa kendaran, gak? Soalnya gue gak bawa.”
“Emang mau ke mana?” tanya Rehan.
“Udah, pokoknya lo ikut aja dulu. Entar gue jalasin.”
Rehan dan Aria bergegas menuju parkiran yang ada di depan gedung fakultasnya. Aria merasakan jika akan ada hal yang terjadi diluar dugaannya. Dia juga melihat para makhluk yang tadi ada di kelasnya tetap mengikutinya. Firasat yang tidak baik untuk ini.
“Kita mau ke mana?” tanya Rehan yang kini sudah masuk kedalam mobilnya. Hari ini entah kenapa Rehan ingin membawa mobil ke kampus. Karena biasanya dia membawa motor kesayangannya.
“Rumah sakit.”
“Ha? Lo beneran mau ke Rumah Sakit? Emang siapa yang di Rumah Sakit?” tanya Rehan heran.
“Deni, katanya dia di RSUD.”
“Deni? Deni yang mana?” tanya Rehan membuat Aria malas menanggapinya. Sepertinya anak ini lupa sama kejadian semalam, pikir Aria.
“Deni temen SD kita dulu, lo gak inget?”
“Dia ada di Tasik? Sejak kapan? Kok lo tahu sih? Kok gue gak dikasih tahu?” Serentetan pertanyaan Rehan membuat Aria memijat keningnya.
“Udahlah, gue jelasin juga lo gak bakalan ngerti.”
“Sialan, lo!”
Di tengah perjalanan mereka menuju Rumah Sakit, tiba-tiba Rehan rem mobilnya mendadak karena melihat sepertinya ada sesuatu yang ditabraknya tadi. Aria kesal dan kaget karena hal itu membuat Aria terdorong kedepan dan hampir saja kepalanya terbentur dashboard mobil.
“Lo kenapa sih? Ngerem dadakan? Untuk kepala gue gak kejedot!”
“Lo diem dulu, lihat ke belakang gih ada apaan? Lo bisa lihat yang gituan kan? Pasti lo tahu lah,” ucap Rehan sambil memegang kemudinya.
“Lihat apaan, sih?” Aria menengok ke belakang tapi dia tidak melihat apa-apa. Makhluk halus atau apapun itu tidak juga dilihatnya.”Gak ada, gak ada apa-apa,” ucap Aria kemudian melihat kearah Rehan.
“Anjrit! Lo beneran bisa lihat gak sih? Itu ada di jok belakang kita, Bego!” umpat Rehan. Saat dia menengok ke belakang, ternyata makhluk yang tadi dilihat tertabrak mobilnya kini ada di jok belakang dengan wajah yang seperti meleleh dan tersenyum lebar dengan gigi yang besar.
“Udah, lo tenang dulu. Lo nyetir aja. Gue jamin tu makhluk gak bakalan gangguin kita.” Aria mencoba menenangkan Rehan agar tidak ketakutan. Tapi sayangnya ketakutan bisa datang sendiri dan tidak bisa dikontrol.
“Gue harap lo jangan takut, karena sosok kayak mereka malah lebih suka sama orang penakut. Pokoknya jangan takut, oke?”
Rehan mencoba mengontrol dirinya dan kembali menjalankan mobil. Aria mencoba untuk bisa berkomnikasi dengan makhluk yang kini ada dibelakangnya. Namun, entah kenapa dia tidak bisa bicara dengan makhluk ini. Bahkan ‘teman-teman’ hantunya tidak datang saat dia mencoba untuk memanggilnya.
Apa sih yang terjadi tadi malem? Gue Cuma inget sebagian, Sialan! umpat Aria dalam hatinya.
Sesampainya di Rumah Sakit. Rehan langsung keluar dari dalam mobilnya disusul oleh Aria. Rehan benar-benar ketakutan sekarang.
“Tunggu, kenapa mata gue jadi kek gini?” tanya Rehan setelah melihat sekelilingnya yang aneh. Banyak makhluk-makhluk yang sepertinya bukan manusia, karena bentuknya yang aneh. Bahkan ada orang yang berjalan terseok-seok dengan tubuh yang berlumuran darah. Kemudian Rehan mengusp matanya sendiri lalu kembali melihat sekitarnya dan anehnya semua makhluk yang tadi dia lihat sudah tidak ada.
“Udah?” tanya Aria. “Ayo! Cepet kita ke ruangan Deni.”
Rehan mengangguk dan mencoba melupakan apa yang dilihatnya barusan. Oke, gue gak tahu apa yang gue lihat tadi. Sepertinya banyak kejanggalan yang gue rasa hari ini. Gue anggap aja semua yang gue lihat cuma film horor. Rehan tetap mencoba menenangkan dirinya.
Setelah bertanya kepada resepsionis ruangan yang ditempati Deni, mereka berdua bergegas menuju ruangan itu. Di tengah koridor yang penuh dengan pasien dan paramedis yang berseliweran ke sana-ke mari, Rehan kembali melihat salah satu perawat dengan pakaian yang penuh dengan darah dan memiliki wajah yang penuh luka. Rehan mencoba untuk tidak memperdulikan penglihatannya.
Sepertinya lama kelamaan gue bakalan gila, ucap Rehan dalam hati.
“Maaf, apa benar pasien yang bernama Deni dirawat di kamar ini?” tanya Aria kepada seorang perawat perempuan bertubuh tinggi.
“Apakah Anda keluarga pasien?” tanya perawat itu.
“Bukan, saya hanya sahabat kecilnya. Apakah keluarganya belum ada yang menjenguknya?” tanya Aria kembali.
“Tidak ada, belum ada keluarganya yang datang. Kalau begitu silahkan Anda menjenguknya,” ucap perawat.
“Ada di syal No.3. Silakan.” Perawat itu menunjukan ranjang pasien yang ditempati, Aria dan Rehan menghampirinya. Di satu ruangan ini ada 4 ranjang pasien yang masing-masing dibatasi oleh gorden. Namun, hanya ranjang pasien Deni yang terisi. Sehingga di ruangan ini hanya ada dia seorang.
Menurut Rehan sungguh mengerikan melihat kondisi Deni saat ini, dengan selang infus yang terpasang di tangannya. “Kenapa Deni bisa seperti ini, Sus?” tanya Rehan kepada perawat itu dengan panggilan ‘Sus’ yang menurutnya ‘Suster’.
“Tuan Deni ini tadi pingsan di depan kamar mayat setelah berbicara dengan Dokter Ardan tadi pagi, sampai sekarang beliau belum sadar juga. Menurut Dokter Ardan, Tuan Deni ini mengalami depresi karena istrinya yang tengah hemil besar mengalami gejala aneh di kehamilannya,” tutur Perawat itu.
“Istrinya juga dirawat di sini?” tanya Rehan terkejut.
“Iya, Beliau masih berada di ruangan UGD.”
“Lo mau lihat keadaan istrinya gak?” bisik Rehan kepada Aria.
Rehan lalu menanyakan letak UGD kepada perawat itu. Sebelum Rehan keluar dari ruangan tempat Deni dirawat, perawat itu pamitan terlebih dahulu untuk mengecek pasien lain.
“Lo gak mau ikut, Ar?” tanya Rehan diambang pintu.
“Gak lah, gue di sini aja. Siapa tahu keluarganya si Deni dateng atau kali aja si Deni sadar.” Aria mengambil duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang pasien yang ditiduri Deni.
[1] Panggilan “Kak” untuk laki-laki dalam bahasa sunda
[2] Panggilan “Kakak” untuk laki-laki dalam bahasa sunda (asumsikan Deve sedang memanggil Deni dengan berteriak)
[3] “Kenapa, (panggilan sapaan kepada laki-laki muda; dalam bahasa indonesia biasanya Aden/den)” –dalam bahasa sunda
[4] “Ini, Pak, Ayam-Ayamnya tidak mau pergi dari mobil saya.” –dalam bahasa sunda
[5] “Kok bisa ayam-ayam ini ada di mobil Ujang? Mau dijual ke Pasar?” –dalam bahasa sunda
[6] Aduh, Pak. Maaf, bukannya begitu ... Saya mau nganter Isteri saya ke Rumah Sakit. Itu Isteri saya lagi sakit. Saya pamit, Pak. Saya buru-buru.” –dalam bahasa sunda
[7] “Terima kasih, Pak.” –dalam bahasa sunda
[8] “Hati-hati, Jang! Ayam tadi bukan ayam biasa tapi ayam Camani.”
[9] “Punya saya, itu,” –dalam bahasa sunda
[10] Organisari mahasiswa
[11] “Kayak yang dikejar hantu saja,” –dalam bahasa Sunda
[12] “Kamu kenapa?” –dalam bahasa Sunda
Other Stories
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...