Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Kupu-kupu Hitam

Seseorang pernah berkata, jika ada kupu-kupu hitam di rumahmu, maka akan ada kematian di rumah itu. Tidak diketahui persis mitos yang beredar dan dipercayai masyarakat ini bermula dari mana, orang-orang percaya jika itu adalah benar. Bukan sekadar ucapan isapan jempol.
Minggu pagi, yang dalam artian benar-benar pagi, Arsha menyelinap masuk ke flat sebelah. Garis polisi yang sebelumnya memagari kamar itu kini telah dilepas. Kemungkinan terbesarnya, polisi masih berusaha menyelidiki apa yang terjadi.
Gadis 20 tahun yang hanya memakai celana pendek di atas lutut dan kaus kebesaran itu menatap sesaat pintu bernomor 212. Perlahan, matanya memejam. Membayangkan dulu di dalam sana ada banyak tawa yang memecah, juga obrolan-obrolan yang cukup mengganggunya. Namun, kini terasa sepi. Bahkan desir angin pagi pun tak terasa.
Arsha menghela napas dalam, seraya memasukkan jepit lidi ke dalam lubang kunci. Ia cukup ahli dalam hal ini, mengingat salah seorang pamannya adalah pencuri kecil yang memangsa rumah orang kaya hampir setiap minggunya. Mengambil sebagian uang dan perhiasan mereka, menukarkannya dengan barang-barang di toko manisan, kemudian membagi-bagikannya pada mereka yang membutuhkan. Tak lupa, ia meninggalkan sebuah surat pendek dan bunga mawar putih di depan pintu rumah.
Pada saat ia berumur sepuluh tahun, sebelum pamannya meninggal karena penyakit paru-paru, ia diajari caranya membuka pintu rumah dengan jepit lidi. Kata pamannya, itu mungkin akan berguna pada suatu hari nanti. Benar saja, keahlian yang terkesan sepele itu sekarang berguna.
Cklek.
Hati-hati Arsha membuka pintu kamar Sania. Ia mengintip pelan ke bagian dalam, sebelum akhirnya masuk dan menutup kembali pintu itu dengan cara yang sama. Arsha merogoh saku celana, mengambil senter kecil yang memang sudah dipersiapkannya. Ia tak mau menghidupkan lampu, terlalu berisiko.
Saat matanya telah terbiasa dengan suasana gelap yang sekarang cenderung temaram, Arsha menyapu pandangan ke sekitar. Perabotan Sania masih berada pada tempatnya. Mungkin keluarganya belum sempat untuk mengambil dan membawanya pulang ke kampung halaman—Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan. Atau mungkin pada siang nanti pasca tiga hari kematian gadis malang itu.
Tanpa menunggu lama, Arsha bergegas mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk untuk mengungkapkan identitas si pelaku. Setidaknya begitu yang diberitahu Kanza padanya kemarin lalu. Ia berjalan menuju kamar Sania setelah memeriksa ruang tamunya yang hanya terdiri dari sofa panjang dan lemari televisi. Lemari pakaian tiga pintu menjadi yang pertama kali menarik perhatiannya. Arsha memeriksa setiap sudutnya dengan saksama. Kemudian beralih pada meja kecil dengan laci di samping tempat tidur Sania yang berukuran king size, ketika tidak menemukan apa pun di sana selain baju-baju dan kotak perhiasan. Ada bangkai kupu-kupu hitam di dekat lampu tidur, yang entah kenapa tidak diambil sebagai barang bukti oleh polisi. Mungkin saja kupu-kupu itu diletakkan dengan sengaja.
“Diari?” gumam Arsha, mengambil sebuah buku tebal berwarna merah bergambar bunga mawar putih yang memiliki gembok dengan sapu tangan yang telah disiapkan sebelumnya. Kanza juga memberitahu untuk tidak menyentuh apa pun dengan tangan terbuka. Sidik jari yang tertinggal sangat mempengaruhi keadaaan. Bisa saja ia yang akan dicurigai sebagai pembunuh.
Ia tersenyum tipis, tidak menyangka bahwa gadis seperti Sania memiliki diary. Benar-benar di luar dugaan. Dengan jepit lidi lebih kecil, Arsha membuka diary Sania. Ia membacanya teliti. Memasukkannya ke dalam memori kepala dan berusaha merekam detail yang ia garis bawahi sendiri seperti Sania tengah jatuh cinta pada seseorang. Melakukan makan malam dengan orang tersebut, juga berinvestasi. Anehnya, Sania tidak pernah menuliskan nama orang itu selain julukan ‘Dewa Penolong’ yang selalu ditulis dengan tinta warna merah. Aneh sekali.
Catatan terakhir hanya tentang Sania yang akan bertemu lagi dengan Dewa Penolong-nya setelah seminggu tak berkabar. Arsha yakin, Sania sangat bahagia saat menuliskannya. Terlihat dari gaya tulisannya yang sedikit lebih rapi dari sebelumnya.
Setelah puas membaca diari Sania, Arsha meletakkan kembali ke tempatnya semula. Matanya menangkap buku catatan kecil berwarna ungu. Penasaran, ia pun membukanya pula. Tidak ada yang istimewa selain catatan mengenai saldo tabungan yang entah mengapa Sania catat di sana.
Arsha menyusuri bagian lain, mencoba mencari apa saja yang bisa ditemukan. Namun, tidak ada apa pun yang cukup berarti. Gadis berambut sebahu itu memasuki kamar mandi yang tidak jauh berbeda dengan miliknya. Hanya saja, Sania memiliki sebuah kotak kecil yang ditempel ke dinding seperti yang sering ia lihat di beberapa kamar mandi dalam film yang ditontonnya. Arsha membukanya, dan menemukan ada banyak pembersih dan krim wajah di sana. Juga shampo dan beberapa lulur. Merasa tidak penting, Arsha hendak menutup pintu kotak itu, tetapi tak jadi saat matanya menangkap ada selembar kertas berwarna merah yang disimpan di bagian belakang. Tertutup oleh botol shampo dan lainnya.
Arsha menyingkirkannya, masih menggunakan sapu tangan yang dibawanya tadi untuk menghindari tertinggalnya sidik jari. Tampak jelas di sana bentuk kertas yang tadi dilihatnya. Bukan kertas biasa, melainkan sebuah amplop. Ia membuka amplop itu dan menemukan secarik kertas putih terselip di dalamnya.
“Surat cinta?”
Tertulis surat berisikan pesan cinta dengan tinta merah, yang diakhiri dengan cap bibir berwarna merah menyala. Merasa surat ini penting, ia memasukkannya ke dalam saku, dan berjalan keluar hati-hati seperti saat pertama ia masuk tadi.
Pintu kamar 212 tertutup. Arsha berbalik menuju kamarnya, tanpa tahu bahwa di tangga berdiri seorang laki-laki yang mengamati gerak-geriknya.
***
“Kau melakukannya terlalu jauh, Nona.”
Laki-laki bertudung itu berjalan pelan tanpa mengeluarkan suara. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans. Langkah kakinya mantap dengan pandangan lurus ke depan. Sesekali diliriknya kamera pengintai di sudut langit-langit. Senyumnya mengembang, setidaknya ia berterima kasih pada gadis yang memasuki kamar yang ingin dimasukinya pula. Entah dengan cara apa gadis itu mematikan kamera CCTV di saat satpam berjaga di depan layar komputer di ruang kecil di samping gedung.
Ketika sampai di depan pintu bernomor 212, ia mengeluarkan tangan kanannya yang ternyata dibungkus sarung tangan karet. Sebuah kunci tergenggam erat di sana. Lagi-lagi ia tersenyum misterius. Dibukanya pintu kamar pelan, kemudian ia masuk dengan langkah hati-hati.
Setelah berada di dalam kamar Sania, ia berdiri sejenak, mencoba membiasakan matanya dengan keadaan gelap. Tak lama, ia berjalan hati-hati mencapai tempat tidur king size. Berdiri agak lama di depan meja kecil di samping tempat tidur. Tatapannya menyipit, kemudian berubah tajam, lalu menyipit lagi. Ia berjongkok di sana. Mengamati dengan saksama setiap detail meja dan lampu tidur yang berada di atasnya, seolah mencari sesuatu yang penting.
Tidak memakan waktu lama. Di menit berikutnya, ia tersenyum lega seraya menjulurkan tangan ke bagian dalam lampu yang berbentuk payung itu. Mengambil sesuatu di dalamnya. Alat penyadap.
“Dasar polisi-polisi bodoh!”
***
“Kak, mau ke mana?”
Pertanyaan Kesha membuat Kanza menoleh. Ia merapikan tali tasnya yang turun dari bahu.
“Ada yang harus kuselidiki. Penting!”
“Oh, sudahlah, Kak, jangan melakukan hal tidak berguna begitu. Serahkan saja pada polisi.”
“Diamlah. Kau tidak mengerti apa yang terjadi, dan polisi-polisi itu juga tidak akan menemukan pelakunya jika mereka hanya duduk-duduk santai. Ini penting, aku harus menemukan psikopat gila yang membunuh gadis-gadis tak bersalah itu.”
“Terserah apa katamu. Jam tujuh malam kauharus pulang atau tidak ada makan malam dan sarapan untukmu,” dengkus Kesha.
“Kau mengancamku?”
Kanza menatap adiknya tak percaya. Namun, tak lama ia tersenyum, mengacak rambut Kesha penuh kasih sayang.
“Aku pergi. Masakkan aku nasi goreng teri untuk nanti malam.” Ia menggerling, kemudian berjalan ke luar kafe penuh semangat. Ya, memang ada hal yang harus dipastikan. Catatan-catatannya memberitahu itu tadi malam.
***

Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Download Titik & Koma