Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Awal Yang Akan Menentukan Akhir

\"Diikuti?”
Kening Kanza mengernyit setelah mendengar cerita Arsha beberapa menit lalu. Ia memandang gadis berwajah pucat itu dengan mata memicing. Mencoba mencari kepalsuan dari cerita gadis yang kali ini akan menjadi rekannya memecahkan kasus. Namun, ia tak menemukan apa-apa di sana selain ekspresi datar.
“Hmm, yang pasti bukan aku.”
Arsha menatap kesal. Tentu saja itu bukan Kanza, tetapi siapa? Untuk apa orang itu mengikutinya? Ia tidak pernah melakukan hal-hal aneh, bahkan sengaja menghindar dari kehidupan sekitar. Sungguh aneh jika orang itu hanya sekadar penguntit biasa, dan itu sangat mustahil.
“Baiklah lupakan. Aku akan mengatasinya sendiri,” ucap Arsha akhirnya, meski ia sendiri tidak merasa yakin. “Jadi, apa yang akan kita bicarakan?”
“Tidak banyak, tapi aku sudah membuat daftar untukmu menyelidiki lebih dalam tentang Sania. Aku tahu, ada sesuatu yang pernah dia ceritakan padamu.”
“Entahlah, aku tidak terlalu memasukkannya ke dalam memori.”
“Ya, aku mengerti. Oh, perlu kautahu, bahwa kasus Sania sama seperti dua kasus sebelumnya. Seorang gadis dibunuh lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam dan diletakkan di taman. Coba kaulihat, ini adalah apa yang kukumpulkan.”
Arsha membaca buku catatan yang disodorkan Kanza. Ia memang melihat ada kesamaan di sana. Seorang gadis bernama Andini yang bekerja di toko boneka dan dikenal baik lagi rajin oleh rekan kerjanya. Bahkan tetangganya mengatakan bahwa ia gadis yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tidak ada catatan buruk mengenainya. Hanya saja dua minggu terakhir sebelum ia ditemukan tewas, sikapnya sedikit berubah. Menjadi lebih sering tersenyum dibandingkan biasanya. Orang-orang terdekatnya mengaku bahwa itu prilaku yang cukup aneh.
Salah seorang sahabat gadis bernama Naya Putri yang ditemukan tewas dua bulan lalu mengatakan bahwa sahabatnya itu tidak pernah lagi meminjamkannya ponsel. Tidak seperti biasanya ketika ia meletakkannya sembarang dan meminjamkannya dengan sukarela. Yang lebih aneh, ia mengenakan pakaian bermerek yang sebelumnya tidak pernah bisa ia beli mengingat kebutuhan sehari-hari dan harus mengirim uang pada orang tuanya di kampung.
Di antara dua kasus sebelumnya, diketahui bahwa jumlah uang dalam tabungan kedua gadis itu bertambah setiap tanggal 11 di setiap bulannya. Tidak dengan nominal yang sama, tetapi cukup besar untuk seorang gadis yang bekerja di toko boneka atau gadis SPG. Itu merupakan hal yang aneh. Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan uang?
Arsha memusatkan pikirannya. Namun, ia yang memang masih awam tentang hal-hal berbau misteri ini akhirnya menyerah. Disodorkannya kembali buku catatan Kanza pada pemiliknya, kemudian beralih pada buku menu.
“Aku butuh cokelat panas dan roti bakar dengan keju.”
“Ah, baiklah. Aku akan membuatkannya untukmu.”
“Membuatkan?”
“Ya, ini kafe milik adikku,” Kanza menggerling seraya beranjak dari duduknya menuju dapur.
Sepeninggal Kanza, Arsha menatap sekitar. Baru ia sadari bahwa kafe ini bernuansa alam yang di setiap sudutnya terdapat bunga hias dan beberapa tulisan yang dasarnya terbuat dari kayu. Sebuah jam yang berbahan dasar sama menjadi bagian paling mencolok. Lampu-lampu kafe sengaja dibuat menjuntai dengan watt rendah, menghadirkan suasana hangat yang khas. Ditambah alunan musik klasik yang terdengar dari speaker di sudut kiri dan kanan kafe, membuat hati Arsha lebih tenang. Untuk sesaat, ia menikmati suasana ini dengan perasaan nyaman.
***
Mobil sedan berwarna merah itu parkir tak jauh dari kafe Venus. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan penampilan casual keluar dari dalam mobil. Gayanya teratur, seolah ia memang terbiasa dengan hal-hal mewah. Bisa dilihat dari wajahnya yang mulus tanpa jerawat, menandakan ia sangat memperhatikan diri.
Laki-laki berwajah tampan dengan bibir tipis itu berjalan perlahan menuju bangku kayu di bawah pohon tanjung di depan kafe. Mata sayunya menatap ke bagian dalam kafe, tepatnya pada meja di samping jendela di mana seorang gadis dan laki-laki lainnya duduk berhadapan.
“Memang dia. Bagaimana harus menyapanya?”
Ia menggigit-gigit bibir tanpa melepaskan pandangan. Sesekali ia memainkan jari tengah dan jempol hingga menimbulkan bunyi teratur yang enak didengar. Sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan dilakukan. Ia tak ingat, yang pasti jauh sebelum dirinya mengenal gadis yang mencampakkannya dulu.
Masih ditatapnya dari jauh gadis berambut panjang sebahu yang ditemuinya di flat tadi. Hingga akhirnya, laki-laki di depan gadis itu berdiri dan berjalan ke bagian lain kafe.
“Kesempatan!”
Ia berdiri cepat, dan berjalan menuju kafe. Ia akan menyapa gadis itu ramah seperti yang sering dilakukannya. Setidaknya ia ingin menciptakan kesan baik di awal pertemuan mereka. Atau mungkin pertemuan kedua atau ketiga? Entahlah.
Pintu masuk kafe berdenting setiap kali ada tamu yang datang. Sedetik membuat beberapa orang menoleh, kemudian melanjutkan lagi aktivitas mereka. Hal yang lumrah terjadi. Namun, tidak dengan gadis yang menyapu pandangannya pada setiap sudut kafe. Ia tampak tak peduli, bahkan ketika laki-laki itu berdiri di depannya seraya tersenyum ramah.
“Hai, aku Sadewa.”
Ia memperkenalkan dirinya saat gadis yang diamatinya sejak tadi tak juga kunjung bicara dan malah menatapnya hati-hati.
“Oh! Saudara Fila?”
Sadewa mengangguk. Tangannya terulur pada sandaran kursi kayu. Mengerti maksud laki-laki di depannya, gadis itu mengangguk.
“Terima kasih. Kau berubah menjadi gadis cantik sekarang, Arsha.”
Arsha tak membalas, tersenyum pun tidak. Membuat perasaan aneh tersendiri bagi Sadewa. Ia seolah berkaca ketika melihat ekspresi Arsha. Itu adalah dirinya yang beberapa waktu lalu, saat hari-hari yang dijalaninya begitu sepi tanpa gadis yang ia cintai.
“Bagaimana bisa tahu aku di sini?”
Pertanyaan Arsha membuat Sadewa tersentak. Ia mengubah ekspresinya. Ya, Sadewa cukup ahli dalam hal ini, ia sudah mempelajarinya beberapa tahun belakangan.
“Aku melihatmu keluar dari flat, tetapi aku ragu itu benar kau atau bukan.”
“Lalu kau mengikutiku?”
“Ya, begitulah. Maaf, jika kau merasa terganggu.”
“Tidak masalah. Jadi, apa yang akan kaulakukan? Maksudku, Fila mengatakan kau akan menjagaku. Penjagaan seperti apa?”
“Entahlah, tetapi kupikir kita bisa mulai berteman dari sekarang.”
Sadewa tersenyum hingga menampilkan sebuah lekukan kecil di pipi sebelah kanan Lesung pipit yang berhasil membuat gadis-gadis jatuh cinta. Namun, ia sedikit ragu jika senyum memikat itu akan berfungsi terhadap Arsha. Gadis yang lebih suka berekspresi datar itu seolah tidak memiliki ketertarikan pada laki-laki atau kemewahan seperti wanita kebanyakkan yang ia temui.
“Maaf aku lama.”
Sadewa menoleh demi mendengar suara yang dirasa kenalnya itu. Satu wajah familier menyambutnya dengan tatapan tak suka bersamaan diletakkannya secangkir cokelat panas dan roti bakar yang di atasnya ditabur keju dan susu di atas meja.
“Kau?! Sedang apa di sini?” Kanza menatap tajam. Rahangnya mengeras pertanda ia tengah menahan amarah.
“Menurutmu apa?”
Kanza mendengkus kesal. Sebaliknya, Sadewa menampilkan senyum yang di mata Arsha tak biasa. Gadis itu tahu, ada sesuatu di antara kedua laki-laki di depannya. Namun, ia akan memilih diam tanpa harus bertanya ‘Kalian saling mengenal?’ seperti kebanyakkan orang lakukan, setidaknya itu adegan yang sering ia lihat dalam sebuah drama atau film percintaan yang diam-diam ditontonnya.
“Dia rekanku, jika ada yang ingin kautanyakan, silakan bertanya padaku. Jika tidak ada, kuharap kaupergi. Kami akan membahas kasus yang tidak berhasil polisi selesaikan,” tegas Kanza. Matanya masih menatap tajam ke arah Sadewa.
Laki-laki 27 tahun itu tersenyum tipis, menyembunyikan rasa kesalnya. Ini pertemuan pertama dengan bekas detektif yang pernah menjadi saingannya dulu. Yang tentu saja membangkitkan ingatan akan masa lalu.
“Jangan salah paham. Aku diminta temannya untuk melindunginya. Bukankah begitu, Arsha?”
Sadewa menoleh pada Arsha yang tengah menyesap cokelat panasnya. Gadis itu tak menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Ia hanya menatap keduanya dengan tatapan yang bisa diartikan Sadewa sebagai ketidakpedulian begitu besar.
“Kaulihat? Rekanku tidak meng-iya-kan. Jadi, pergilah. Aku tidak mau melihatmu atau berurusan denganmu lagi.”
“O, ya? Tetapi, kurasa kita akan bertemu lagi, dan berurusan seperti dulu. Kasus kali ini aku yang menangani.”
“Begitu? Baiklah jika itu katamu. Kita lihat saja, siapa yang akan menemukan pelakunya terlebih dahulu. Aku atau kau!”
“Boleh juga.”
Sadewa tersenyum sinis. Untuk beberapa waktu lamanya mereka saling menatap seperti perang batin yang dilakukan orang-orang dulu.
“Aku tidak peduli dengan urusan kalian berdua, tetapi bisakah diam? Atau tinggalkan aku saja sendiri.”
Sadewa memalingkan tatapannya seraya merogoh saku celana bagian belakang. Di mana tersimpan dompet panjang dengan logo mahkota yang di kiri kanannya diapit pedang berwarna perak. Ia mengambil sebuah kartu nama lalu menyodorkannya pada Arsha.
“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Baiklah aku permisi dulu, sampai jumpa.”
Sadewa menggerling kemudian berjalan angkuh menuju pintu yang diikuti tatapan tajam Kanza. Bahkan sampai ia menghilang di balik rimbunan pohon tanjung yang berderet di seberang kafe, tatapan Kanza masih bertahan di sana. Seolah ingin menguliti tubuhnya.
“Sial. Dia lagi!”
***
“Aku yakin pernah melihatnya, tetapi di mana?”
Kanza membuka-buka buku catatannya yang lain. Namun, tak juga menemukan apa yang dicarinya meski ia yakin pernah menggambar logo di dompet milik Sadewa yang dilihatnya tadi siang.
Laki-laki berwajah tegas yang tidak memiliki seseorang yang dicintai itu mengacak rambutnya. Menggerak-gerakkan tangannya seraya berdiri dan berjalan hilir mudik di depan meja kerjanya yang berantakkan. Tidak ada penerangan apa pun dikamar 2x3 meter persegi itu selain lampu LED kecil yang diletakkannya di sisi kiri meja. Bersebelahan dengan bingkai foto keluarganya yang masih lengkap, dulu. Sebelum ayahnya yang meninggal tiba-tiba dan disusul ibunya yang memang sakit-sakitan sebulan kemudian.
Entah berapa lama ia melakukan hal itu. Sampai akhirnya ia duduk secara tiba-tiba. Mengambil kotak hitam kecil yang disembunyikannya di atas tumpukkan buku di sisi meja lainnya. Ia membuka kotak dengan ukiran bunga rafflesia dan menemukan sebuah buku berwarna hitam dengan tulisan ‘Black List’ di depannya. Tanpa menunggu lama, Kanza membuka buku catatan itu.
Seulas senyum tercetak di wajahnya yang lega.
***

Other Stories
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Download Titik & Koma