Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Arshadevi Sagaara

Berita mengenai penemuan gadis di dalam kantong plastik di taman kota menjadi headline news di stasiun televisi daerah. Bahkan masyarakat setempat heboh membicarakan gadis yang diketahui bekerja di klub malam itu. Ibu-ibu yang belanja sayur di pasar atau warung, anak-anak sekolah, pekerja kantoran, tukang bangunan, sopir angkutan umum, bahkan anak-anak jalanan yang tahu benar seluk beluk taman kota yang biasanya menjadi salah satu markas mereka. Hampir semua kalangan membicarakannya.
Namun, mereka tidak pernah tahu atau membayangkan kejadian apa yang sebenarnya terjadi, yang membuat gadis 20 tahunan itu mati dibunuh atau terbunuh. Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa pada saat kejadian, sang gadis tengah merasa sangat dicintai. Tidak ada yang tahu, jika pada saat itu sang gadis baru saja pulang dari nonton bioskop bersama teman-temannya, sebelum akhirnya ia kembali ke dalam flatnya dan hendak pergi bekerja di klub malam yang telah membesarkan namanya. Mawar Merah, begitu julukannya.
Tidak ada yang tahu, bahwa pada saat kejadian tengah malam itu, saat tubuhnya yang telah bugil dan dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam besar, dan akan diletakkan di sudut taman kota, seseorang melintasi tempat ia berada bersama si pembunuh berdarah dingin. Entah sadar atau tidak, seseorang melihatnya yang tak bernyawa di kantong plastik,­ dibiarkan tergeletak begitu saja menunggu seseorang lainnya atau beberapa orang menemukannya.
Orang-orang hanya membicarakan gadis yang telah mati itu. Menduga-duga siapa pelaku sebenarnya. Banyak yang berprasangka bahwa ia dibunuh oleh kekasihnya sendiri. Namun, sebagian orang yang mengenalnya, mencoba menepis prasangka itu, dan memilih dugaan lebih kuat yang membuat gadis primadona itu mati. Ya, dibunuh oleh sesama rekan kerjanya dengan motif iri.
Namun, mereka seolah lupa pada kejadian beberapa minggu lalu, saat dua orang gadis ditemukan tewas dengan keadaan yang sama persis. Sejauh ini, polisi mencoba menyelidik. Mencari kebenaran untuk segera diungkapkan.
Akan tetapi, sama seperti kasus yang sudah-sudah yang terjadi di Indonesia. Lambat laun orang-orang akan lupa, dan mulai menjalani aktivitas seperti biasanya. Lupa bahwa seorang psikopat berada di tengah-tengah mereka, dan siap menghabisi mereka atau kerabat mereka kapan saja.
***
Hari Kamis di bulan Januari yang terasa lebih dingin dari Kamis bulan-bulan sebelumnya, Arshadevi bangun lebih cepat dari biasanya. Suara berisik dari luar flatnya yang terletak di lantai dua, menyusup masuk lewat celah-celah ventilasi. Riuh.
Ia sering mengalami hal seperti ini di pagi atau siang hari saat jam makan siang. Gadis-gadis, atau ibu-ibu berkumpul mengitari sesuatu yang entah apa, dan mulai menyebarkan berita, lebih tepatnya gosip karena mereka melebih-lebihkan apa yang mereka ketahui.
Arsha—begitu biasa ia disapa—menggeliat kesal. Jauh berbeda saat ia bangun tidur dengan kemauannya. Biasanya ia akan menggeliat senang dengan senyum yang ditujukan pada dirinya sendiri, lalu merenggangkan otot-otot yang kaku sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi berwarna pink pudar. Ia akan menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi, memanjakan tubuhnya dengan sentuhan sabun beraroma lavender, dan sebuah lilin beraroma sama. Dengan musik klasik yang dinyalakannya dari radio kecil yang sengaja diletakkannya di meja wastafel. Ia menikmati waktunya, tanpa peduli waktu lain yang menunggu. Baginya, menciptakan bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, baru orang lain.
Namun, kali ini, Arsha tak melakukan itu. Ia mengintip ke luar jendela. Di mana di parkiran bawah terdapat banyak mobil polisi dan orang-orang yang berkumpul. Bukan sekadar ibu-ibu yang bergosip saat tengah belanja sayur.
Otaknya berpikir, menduga-duga apa yang terjadi. Akan tetapi, dirinya yang tak acuh dan tak pernah ingin ikut campur pada urusan orang lain, akhirnya memilih menutup gorden dan menuju kamar mandi, setelah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 09.25 WIB.. Ia ada janji siang ini dengan teman lamanya. Namun, ia akan keluar kamar lebih cepat untuk menghindari kebisingan yang tidak biasanya.
Telur mata sapi yang dimasaknya tiga menit lalu menjadi menu sarapan yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai camilan mengingat sekarang jarum pendek jam telah berada di angka sepuluh. Arsha melahap dua telur mata sapi yang diberi saus sambal dalam hitungan detik. Menyesap susu cokelat dan mengambil satu buah cokelat persegi yang didalamnya terdapat kacang mede dari toples kaca bergambar bunga-bunga pemberian neneknya. Kemudian memasukkannya ke dalam mulut, sambil melangkah menuju meja kecil di samping jendela di dalam kamarnya.
Ia menyapu wajahnya dengan pelembab, dilanjutkan bedak tabur berwarna senada dengan kulitnya yang kuning langsat. Sedikit polesan lip balm agar bibirnya yang pink alami itu tetap lembab. Sentuhan mascara dan eyeliner akan membuat matanya yang sedikit sipit lebih tajam. Gadis 20 tahun itu tersenyum samar. Ia menatap dirinya di depan cermin kecil. Mengangguk-angguk melihat penampilannya yang casual, tetapi tetap keren. Seperti image yang berusaha ia ciptakan sejak masa sekolah dulu. Celana jins yang lututnya sengaja disobek dengan silet, dan kaos berwarna putih yang ditutup rompi jins, senada dengan warna celananya.
Setelah merasa puas dengan penampilannya, Arsha mengambil ransel kecil dengan banyak gantungan kunci yang selalu ia kenakan. Menyandangkannya di punggung, dan berjalan ke luar flat kecilnya. Di mana suara ribut terasa lebih gaduh dari sebelumnya.
Namun, belum lagi ia membuka pintu flatnya, sebuah ketukan telah lebih dulu terdengar. Arsha gugup seketika. Selama ini, jarang yang mengetuk pintu kamarnya, selain gadis baik hati, tetangga sebelahnya. Akan tetapi, biasanya gadis bernama Sania itu menyapanya di waktu sore, bukan pagi seperti ini.
Lidah Arsha kelu. Napasnya sesak dan detak jantungnya bergerak tidak teratur seiring suara ketukan pintu yang semakin keras. Hingga akhirnya suara laki-laki kasar membuatnya tersentak. Ia mundur satu langkah, mengatur napas, kemudian menjawab dengan suara berat.
“I-iya.”
***
Sebuah kepala menyembul dari balik pintu kamar bernomor 213. Tampak wajah pucat yang sedikit tak wajar membuat petugas polisi yang tadi mengetuk pintu kamar berjengit. Alis tebalnya bertaut dengan tatapan mata menyelidik yang membuat siapa saja ngeri melihatnya. Namun, tidak dengan gadis itu. Ekspresi wajahnya sulit ditebak.
Hening.
Gadis yang masih saja menyembunyikan tubuhnya di balik pintu tak bicara sepatah kata pun seperti orang-orang lainnya yang pintu kamarnya diketuk keras. Sebaliknya, gadis itu seolah menunggu apa yang hendak dikatakan orang di depannya. Secara tidak langsung membuat petugas polisi bertubuh tambun yang menjaga kumisnya dengan baik itu jengah.
“Bisa Anda keluar dan memberi keterangan?”
Gadis berwajah datar itu mengernyit. Terlihat wajahnya yang tidak mengerti akan situasi yang dihadapinya. Orang-orang berkurumun. Polisi yang entah kenapa begitu banyak. Bahkan wartawan yang menggantung kamera di lehernya atau memegang gawai canggih yang hampir setiap saat menimbulkan blitz kamera.
“A-ada apa, ya, Pak?” tanyanya, gugup.
“Anda tidak tahu apa yang terjadi?”
Gadis itu menggeleng pelan. Matanya yang sedikit sipit memandang sekitar lebih saksama. Sampai pandangannya berhenti pada garis kuning polisi, matanya membesar. Ia memandang petugas polisi di depannya dengan tatapan bertanya. Yang di mata polisi tampak seperti seorang pelaku kejahatan tengah menyembunyikan identitasnya dengan kepura-puraan atau ketidaktahuan.
“Tetangga Anda ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota. Sekarang, silakan Anda keluar dan beri keterangan tentang apa saja yang Anda lakukan sejak kemarin.”
Wajah gadis itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Tampak ia menghela napas dalam dan bersusah payah untuk menghirup lebih banyak udara. Bila diperhatikan lebih, tangannya yang memegang handle pintu sedikit gemetar. Sesaat ia mematung, sampai sebuah deheman keras milik si polisi membuatnya tersentak dan perlahan keluar dari flat. Ia berdiri tegang di depan pintu, sembari meremas-remas tangan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan polisi.
“Jadi, Anda bekerja dari sore hari dan kembali pada tengah malam?”
Gadis bernama Arsha itu mengangguk mantap. Ia telah menceritakan apa yang dilakukannya dengan baik meski dadanya berdegup tak beraturan.
“Baiklah, kami akan mengonfirmasi tempat kerja Anda. Jika terbukti tidak benar, kami akan meminta keterangan lebih lanjut. Mohon Anda tidak pergi dulu.”
Arsha mengangguk pelan. Polisi tambun itu berbalik dengan wajah tak senang. Tangannya yang tampak seperti jempol semua mengepal erat. Tersembunyi amarah di wajahnya yang jenaka. Yang tanpa sadar menimbulkan senyum samar di bibir Arsha.
Gadis 20 tahun itu memandang lorong yang di setiap sudutnya terdapat CCTV. Tetangga flatnya terlihat berkumpul di sisi lain lorong sambil bercakap-cakap dan sesekali melirik tajam ke arah flat yang dipasang garis polisi. Milik gadis baik hati yang sering mengetuk pintu kamarnya. Sania.
Arsha tahu, para tetangga yang rata-rata gadis muda itu sedang membicarakan temannya—setidaknya itu yang bisa ia katakan meski nyatanya mereka jarang terlihat bersama. Menyangkut pautkan kematian mengenaskan Sania dengan pekerjaannya sebagai gadis yang bekerja di kafe jika tak mau dikatakan sebagai wanita malam.
Ia mendengkus kecil. Mata cokelatnya kembali mengitari sekitar. Masih banyak polisi yang hilir mudik. Masuk ke dalam flat Sania dengan beberapa kertas yang ia yakini berisi laporan, lalu keluar lagi dengan wajah tegang yang tak dibuat-dibuat. Beberapa lainnya tampak membawa plastik-plastik berisi barang milik Sania.
Ia ingat film yang ditontonnya kemarin siang sebelum gadis cantik berambut panjang itu mengantarkan makanan untuk dimakan bersama. Film bergenre misteri itu memiliki situasi yang sama persis seperti yang terjadi di depannya. Seorang gadis baik-baik dibunuh. Tak ada jejak pelaku yang tertinggal, bahkan sehelai rambut pun tidak. Orang-orang berspekulasi bahwa orang terdekatnyalah yang membunuhnya. Namun, tak ada bukti yang menjurus ke sana. Semua orang terdekatnya bersih dari tuduhan, alibi mereka sempurna. Sesaat Arsha berpikiran sama, ia juga menduga bahwa orang terdekat Sania yang membunuhnya. Pacar atau mungkin sahabatnya yang sering datang ke rumah setiap malam. Ia sering memergoki gadis berambut pendek yang memiliki wajah manis mengantar Sania pulang atau sengaja menunggu di depan pintu kamar dengan beberapa kantong plastik yang diletakkan di sampingnya.
Arsha merogoh saku celana. Mengambil gawai yang dipasang casing bergambar hello kitty berwarna hitam. Lalu mulai menekan-nekan sebuah nomor di kontaknya. Perlahan, ia berjalan ke dalam flatnya dan membalas sapaan halo dari seberang telepon.
“Ya, maaf. Aku mungkin akan datang terlambat. Kau pesan saja makanan duluan. Tidak, tidak usah. Oh, kautahu? Ya, umh, entahlah. Tetapi kurasa, aku akan ditahan untuk dimintai keterangan lagi. Tidak begitu dekat. Baiklah, terima kasih. Bye.”
Arsha menutup telepon, dan kembali ke luar kamar. Tepat pada saat itu, seorang polisi muda bertubuh atletis menyodorkan selembar kertas padanya.
“Ap-apa ini?”
“Formulir keterangan, tolong diisi.”
“Anda menuduh saya pelakunya?” Arsha menelan ludah kelu seusai mengucapkan apa yang dipikirnya barusan. Tak jauh berbeda seperti reaksi orang-orang terdekat gadis yang ditemukan tewas pada film kemarin.
“Bukan. Kami hanya perlu data orang-orang terdekat korban dan para tetangga untuk menindaklanjuti kasus ini.”
Arsha tak menyahut. Ia menatap wajah polisi muda yang jika saja ia mau, ia bisa menjadi seorang model majalah dibandingkan seorang polisi. Ya, wajahnya bisa dibilang tampan dengan setiap bagiannya yang sesuai porsi. Matanya tajam, dengan alis hitam yang melengkung layaknya seorang perempuan. Hidungnya mancung dengan tulang hidung yang sedikit bengkok. Bibirnya tidak begitu tebal, juga tidak begitu tipis. Namun, penuh dan menggoda setiap kali ia menggerakkannya. Rahangnya tegas dengan dagu belah yang beberapa tahun lalu menjadi daya tarik tersendiri. Kaubisa membayangkan sosok Indra L Brugman. Paras polisi muda ini tak jauh berbeda dengan salah satu aktor ternama pada tahunnya.
“Silakan, Nona.”
Suara berat milik polisi membuyarkan lamunan sesaat Arsha. Ia mengambil kertas dan pena yang disodorkan, membacanya sekilas, dan kembali menatap wajah si polisi. Tahu tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sulit keluar dari mulutnya, akhirnya Arsha mengisi lembar formulir meski enggan.
Tak lama, ia kembali menyodorkan kertas dan pena pada petugas polisi yang menunggunya dengan ekspresi tenang. Jauh berbeda dengan polisi lainnya yang berwajah tegang.
“Bolehkan saya pergi? Saya ada janji dengan teman siang ini.”
“Untuk hal itu, saya tak berani mengizinkan. Silakan tanya pada atasan saya.”
Polisi muda itu menunjuk polisi tambun yang menemuinya pertama kali tadi. Arsha mengangguk kecil dengan wajah kaku. Ia menghela napas dalam, matanya kembali memandang sekitar. Orang-orang masih berkumpul dengan ekspresi berbeda-beda. Ia berbalik, mengambil kunci flat di dalam tas dan menguncinya. Perlahan, ia melangkah menuju polisi tambun yang tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya.
“Permisi, Pak,” ucapnya, kali ini tanpa gugup seperti sebelumnya.
“Ya, ada apa?”
“Saya ingin izin pergi. Ada janji dengan teman siang ini.”
“Maaf, tidak bisa. Semua orang belum diperbolehkan pergi. Ini perintah.”
“Tapi, Pak. Saya harus pergi. Teman saya menunggu.”
“Tetap tidak bi—” Polisi tambun itu melirik ke arah lain. Ia mengangguk saat seorang laki-laki berpakaian bebas yang baru saja keluar dari dalam flat Sania tersenyum mengangguk. “Baiklah, sudah mengisi formulir?”
“Sudah.”
Polisi tambun yang setiap lekuk tubuhnya adalah lemak mengangguk. “Kami akan menghubungi Anda jika menemukan sesuatu atau ada yang ingin kami tanyakan.”
Arsha tak membalas juga tak mengangguk meng-iya-kan. Baginya, itu bukan hal yang dapat diterimanya. Ia tidak membunuh, bahkan berpikir membunuh seseorang saja tidak. Dalam situasi yang serba abu-abu ini, secara tidak langsung ia dituduh membunuh tetangganya yang baik hati. Tentu hal itu tidak bisa dibenarkan. Konyol, pikirnya.
Gadis berambut sebahu itu berbalik, berjalan cepat menuju tangga. Bisa ia rasakan orang-orang tetangga flatnya yang jarang ia temui sedang menatapnya dengan tatapan tak biasa. Tatapan menohok seolah mencurigai. Akan tetapi, untuk seorang Arsha yang tidak cukup peduli pada sekitar, ia tak acuh. Pandangannya lurus ke depan. Meski begitu, otaknya berputar. Menduga-duga siapa yang tega membunuh gadis baik hati seperti Sania. Ya, setidaknya ia cukup tahu banyak tentang gadis yang sering dicap negatif oleh tetangga sekitarnya itu.
***

Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma