Ikatan Rasa
April 2011, 17.29 WIB.
Bengkulu sore itu sangat tidak bersahabat. Angin laut bertiup sangat kencang, pertanda badai akan datang. Banyak nelayan tidak melaut dan memilih bersantai di rumah bersama anak dan istrinya sambil menyesap teh hangat. Namun, tidak dengan pria paruh baya dengan kumis tipis di atas bibirnya yang tebal berwarna hitam. Ia tampak gagah dalam balutan kemeja dan celana jins, juga rambut gondrongnya yang disisir rapi dan diikat satu ke belakang. Matanya yang hitam tajam memandang tersenyum ke arah cermin, seolah bangga dengan penampilannya sendiri. Tangan kekarnya yang setiap hari terlatih bekerja keras menggapai pewangi pakaian beraroma mawar, lalu menyemprotkannya ke hampir seluruh tubuh. Ia merapikan rambut dan kemejanya sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari bilik kamar.
“Mau ke mana, Yah?”
Suara berat Kanza yang berjalan dari arah dapur membuatnya menoleh. Ia tersenyum sinis, memandang tak suka.
“Ke mana aku pergi bukan urusanmu.”
“Sebentar lagi badai, duduklah di rumah. Aku masak mie, sudah lama kita tidak makan bersama. Ibu dan adik sebentar lagi pulang dari klinik.”
Laki-laki muda berumur 21 tahun itu berbalik menuju dapur. Mata tajamnya menyiratkan ajakan pada ayahnya yang jarang ia temui sejak dirinya masuk asrama. Atau mungkin sebelum itu. Ketika pria paruh baya itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, menghambur-hamburkan uang demi duduk bersama gadis cantik nan seksi.
Ia tak ingat pasti, dan tak ingin ingat. Di benaknya sekarang hanyalah mengakhiri penderitaan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya. Yang rela bekerja keras demi mewujudkan cita-cita yang dianggap ayahnya konyol—menjadi seorang detektif.
Ya, berkat rekan sekaligus teman satu kamarnya, ia mengetahui ada cara lebih mudah untuk menyingkirkan pria pembuat masalah dan penderitaan itu. Percobaan kecil yang mungkin beberapa orang ketahui ketika hidup mereka tidak lagi berarti.
Laki-laki bertubuh tegap itu menuangkan mie kuah yang dimasaknya bersama telur, sawi, dan cabai rawit ke dalam mangkuk. Uap mengepul, menguarkan aroma menggoda. Pria paruh baya yang dipanggilnya ayah itu duduk di kursi meja makan, menunggu tak sabaran.
“Makanlah,” katanya, meletakkan mangkuk berisi mie di depan ayahnya.
“Kenapa hanya satu? Kau tidak makan?”
Kanza tersenyum tipis, seraya menggeleng. “Aku akan menemani saja.”
Pria itu mulai menyuapkan kuah ke dalam mulutnya. Terdiam sebentar, lalu melanjutkan ke suapan berikutnya ketika dirasanya enak. Di depannya, Kanza yang tahun ini akan menyelesaikan sekolahnya itu tersenyum. Tangannya merogoh saku celana, di mana terdapat sisa biji buah bintaro atau cerbera manghas yang dimasukkannya ke dalam mie yang dimasaknya tadi. Buah beracun yang dapat meyebabkan gangguan otot jantung, pernapasan, kemudian kematian. Seperti apa yang diinginkannya terhadap pria yang telah membuat ibunya menderita.
Ia tak cukup khawatir jika sang ayah kelak diotopsi lantaran kematiannya yang mendadak, sebab dalam beberapa kasus, racun dalam biji buah ini sering diabaikan. Tidak heran, jika rekannya itu pernah menggunakannya terhadap gadis yang telah mengkhianatinya. Sama seperti kejadian beberapa bulan lalu, ketika asrama heboh. Esok pun, para tetangganya akan heboh. Ia tersenyum memandang ayahnya yang masih lahap memakan mie yang dibuatnya.
“Ayah, aku keluar sebentar,” katanya, seraya berjalan ke luar rumah. Dirogohnya saku celana bagian lain, mengambil gawai, dan menekan nomor telepon sang adik.
“Ya, Kak, kenapa? Sebentar lagi kami pulang.”
“Tidak usah, Kakak mau ke rumah Nenek. Ajak Ibu langsung ke sana.”
“Iya, Kak.”
Telepon ditutup, seiring tangannya menutup pintu rumah. Senyumnya masih mengembang di wajah tegasnya.
***
“Selamat Siang, Pak.”
Satpam bernama Hadi yang tengah membaca koran harian itu mendongak. Matanya melotot tak percaya melihat gadis paling pendiam yang tak pernah membalas sapaannya itu tadi malah menyapanya. Meski terdengar kaku bahkan tanpa seulas senyum yang biasa ia dan orang kebanyakkan lakukan, tetapi tadi itu cukup membuatnya senang.
“Siang juga, Mbak,” teriaknya, sebelum gadis berambut sebahu yang mengenakan ransel dengan banyak gantungan kunci itu berjalan jauh.
Arsha menoleh sebentar, tersenyum tak lebih dari tiga detik, kemudian berbalik dan berjalan lagi. Sudah beberapa hari ini, sejak kasus yang ia selidiki bersama rekannya yang ternyata adalah pelakunya itu selesai, ia mulai beraktivitas seperti biasa. Kembali bekerja, menonton film setiap senggang, atau sesekali keluar rumah untuk menghirup udara segar.
Sebenarnya, ia ingin seperti gadis-gadis seusianya yang menikmati waktu bersama teman atau kekasih mereka, tetapi ia tak bisa. Kesendirian dan membahagiakan diri sendiri telah melekat kuat dalam dirinya meski sesekali polisi berwajah tampan dengan senyum manis itu sering mengajaknya. Sekadar nonton bioskop atau ke tempat wisata terdekat di Bengkulu. Ia tidak bisa.
Terlebih, ada sesuatu yang seolah mengganjal hatinya. Ya, kalimat Kanza waktu itu. Tentang satu misteri lagi yang belum terpecahkan. Ia merasa, memang demikian adanya, tetapi pengakuan Kanza membuatnya percaya bahwa memang Kanza-lah pelakunya. Bahkan ia pernah mengunjungi adiknya Kanza—Kesha—di rumah nenek mereka di daerah Pondok Kelapa.
Laki-laki muda yang usianya tak berbeda jauh dengannya itu menutup sementara kafe Venus yang ia dirikan dengan penuh kasih dan memilih tinggal di daerah pinggir pantai, membantu nenek beserta paman dan bibinya mengurus penginapan yang masih berada di kawasan wisata Sungai Suci. Salah satu pantai di Bengkulu yang memiliki keindahan dalam pemandangan. Ada jembatan gantung yang terbuat dari tali yang menghubungkan sisi pantai dengan sebuah dataran seperti pulau kecil di tengah laut. Terdapat pohon cemara rindang dengan rumput jepang yang menutupi area sekitar, kecuali bagian yang paling dekat dengan air. Hanya berupa tanah kuning yang mengeras terkena sinar matahari dan air laut terus-menerus, membentuk gundukan-gundukan.
Kesha datang setiap hari di sana. Berjualan es kelapa muda dan jagung bakar. Selain menenangkan diri, ia juga harus mendapat uang dan melanjutkan hidup. Terlalu lama terpuruk akan membuatnya menjadi seseorang seperti kakaknya, yang mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Namun, untuk kembali ke kafe yang merupakan ‘rumahnya’, ia masih belum bisa. Terlalu banyak kenangan tentang kakaknya di sana, dan itu menyakitkan.
Arsha mengerti akan keputusan Kesha. Jika itu adalah dirinya, tentu ia akan melakukan hal yang sama. Ah, bukankah ia tengah lari dari kehidupannya sendiri? Memilih menjauh dari dunia sekitar setelah tidak ada lagi orang yang dapat ia percayai, bahkan orang tuanya yang ternyata adalah orang tua angkatnya. Sebuah rahasia besar yang ia ketahui saat usianya menginjak 15 tahun. Cerita lama, dan ia tak ingin mengingatnya.
“Arsha!”
Satu suara familier menghentikan langkahnya. Ia menoleh, mendapati sebuah mobil sedan berwarna merah berada di sampingnya. Kaca mobil yang dibiarkan terbuka membuatnya dapat mengetahui wajah si pemilik suara.
“Sadewa?”
Laki-laki berparas tampan yang tidak memakai baju dinas itu tersenyum hangat. “Mau ke mana?”
“Kerja.”
Sadewa melirik jam di dasbor mobilnya. 15.47 WIB.
“Masih sore, kau biasanya masuk jam lima, ‘kan?!”
“Iya, aku mau jalan-jalan sebentar.”
“Kalau begitu, ayo, kuantar.”
“Tidak usah. Aku naik angkutan umum saja.”
“Tidak apa-apa, kita teman, ‘kan? Ayolah,” Sadewa tersenyum, seraya membuka pintu mobil. Ia yakin pasti, gadis yang tak pernah terpesona akan dirinya itu tidak bisa menolak. Terlebih ia sudah memasang senyum terbaiknya. Senyum paling memikat yang dikatakan gadis-gadis yang ia temui.
“Terima kasih, tetapi aku ingin berjalan sendiri,” tolak Arsha. Tersenyum tak lebih dari tida detik, kemudian menyetop angkutan umum yang lewat.
Di tempatnya, Sadewa terdiam. Ini kali kesekian Arsha menolaknya, dan baginya itu adalah sebuah penghinaan besar.
“Tunggu saja!”
Sadewa menutup pintu mobil, kasar. Merogoh laci mobil, mengambil kotak lensa kontak berwarna hitam dan memakainya. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju daerah Anggut Atas. Ia ingin melampiaskan kekesalannya pada gadis yang baru ia kencani seminggu lalu di kamar 107.
Senyumnya mengembang saat matanya terlihat lebih tajam dan tegas di kaca mobil.
***
Arsha memasuki flatnya dengan perasaan lelah yang teramat sangat. Minimarket tempatnya bekerja hari ini sangat ramai. Entah dari mana saja orang-orang itu datang. Ia berjalan gontai menuju kamar setelah mencuci muka dengan sabun pembersih. Meletakkan tasnya sembarang di atas kasur, dan merebahkan dirinya di sana.
Matanya yang sedikit sipit itu memandang langit-langit kamar. Seolah menerawang jauh ke langit malam di mana gemintang menggantung penuh cahaya. Bukan seperti dirinya. Ia masih tak bisa mengeyahkan pikiran tentang kasus yang dianggapnya dan polisi selesai. Sudut hatinya paling dalam merasa yakin, ada sesuatu yang Kanza sembunyikan. Akan tetapi, ia tidak bisa menebak. Laki-laki itu hanya meninggalkan kalimat penuh teka-teki dan buku catatan.
“Ya, catatan!”
Arsha terbangun seketika. Ia beranjak dari kasurnya menuju laci di meja di samping jendela di mana ia menyimpan catatan-catatan kecil yang Kanza berikan. Ada dua buku catatan yang tersimpan di sana. Arsha meraihnya dan membawanya kembali ke kasur. Namun, belum sempat ia membuka catatan itu, matanya menangkap sebuah surat beramplop merah terselip di bantalnya.
Lagi, perasaan takut itu menyerang dirinya. Sama seperti kemarin. Dengan tangan gemetar, Arsha membuka amplop merah dan membaca surat yang ditulis dengan tinta warna merah.
Teruntuk Kekasih dalam angan,
Kita bertemu. Saling menyapa dan tersenyum meski kauragu. Hatiku jatuh padamu. Ikatan rasa kurasakan sejak kau mengatakan apa-apa yang tak dikatakan gadis kebanyakkan. Aku dalam keadaan jatuh sejatuh-jatuhnya, kautahu?
Tidak, bukan? Kau tak acuh. Membuat hatiku sakit. Namun, harus kautahu, merah darahmu bisa membuatku tersenyum dan sembuh.
Huruf ‘S’ dengan tinta hitam yang tertutup cap bibir berwarna merah darah terukir di akhir surat membuat darah Arsha berdesir hebat.
“Sadewa? Astaga! Kanza, apa yang kaulakukan sebenarnya? Kenapa?”
Arsha terduduk lemas di lantai kamarnya yang terasa lebih dingin. Sebuah kenyataan baru ia terima, dan mungkin saja kali ini ia benar-benar dalam masalah.
***
Other Stories
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...