Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Frustasi

Reni melemparkan photo yang memajang wajah ganteng Adit yang sedang tersenyum manis. Photo itu mendarat kasar di dinding kamar Reni, kemudian jatuh tak berdaya ke lantai. Photo yang awalnya rapih menjadi puing-puing yang rapuh. Serapuh hati Reni.
\'\'Argghh,\" Reni menyapu semua yang ada di meja. Yang awalnya tertata rapi terhempas dan berserakan di lantai. Reni menjatuhkan tubuhnya di ranjang, lalu tangan halusnya meraba-raba seprai mencari laptopnya. Jangan salah, laptop ini tidak akan dihempaskan ke lantai oleh Reni, tapi sebagai sarana bagi Reni untuk membuka akun Facebooknya.
Dengan lincah Reni menetik email dan password-nya sudah sangat hafal olehnya. Jelas Reni hafal, wong setiap hari dia online di facebook.
Setelah memastikan emailnya benar dan tidak ada kekeliruan Reni menekan tombol Enter. Tanpa buffering, muncul di monitor laptopnya beranda facebooknya. Sudah muncul pula beraneka ragam status galau dan status gak jelas lainnya.
Dengar berair mata, dan kemarahan Reni mengklik kolom status.
KEMBARAN SIALAN! TEGA-TEGANYA NUSUK SAUDARANYA DARI BELAKANG. TAU GAK! GARA-GARA ELO. RASANYA GUE MAU MATI SAAT INI.
Reni sengaja mengetik status dengan huruf capital semua. Karena huruf kapital semua menandakan ia lagi marah. Ia mengklik bagikan, barang satu detik, dua detik. Status kemarahannya secara lancar tanpan macet tercantum di berandanya.
Setelah statusnya dipastikan update. Reni mengklik keluar, ia benar-benar tidak mood sekarang untuk mengkomen statu atau menglike status teman dunia mayanya. Reni langsung offline dan melipat laptopnya kemudian membenamkan wajahnya di bantal. Reni kembali menangis.
Reni beranjak dari tempat tidur. Ia meraih gunting yang terletak di atas meja belajarnya. Setelah gunting berada di tangannya, Reni menggunting seprainya menjadi beberapa bagian. Kemudian menyambung nyambungkan beberapa ujung yang bagian yang telah ia gunting. Stelah cukup panjang dan kuat kemudian Reni menggantung tali tambang hasil karyanya itu ke pintu kamar mandi.
Selamat tinggal dunia, selamat tinggal mama, papa, Rena. Selamat tinggal Adit. Maafkan aku harus pergi secepat ini. Apalah arti hidupku tanpa kamu. Jika aku hidup, aku nggak tau siapa yang bakal hapuskan semua sepiku, ucap Reni dalam hati. Reni pun melakukan aksinya.
*****
\"Ren, buka pintunya, Nak!\" ucap Dewi, mamanya Reni dan juga mamanya Rena. Ia mengetuk pintu kamar anak gadisnya. Dari kemarin malam, Reni belum juga keluar kamar. Dewi kontan khawatir, karena tak biasanya Reni sepert ini. Reni itu periang, ceria dan dia juga bukan anak yang penyendiri. Kesimpulannya Reni ada apa-apanya.
\"Reni, kamu dengar Mama kan?\" Dewi mencoba bersabar menunggu anaknya keluar kamar. Sayang, anak gadisnya itu belum juga menampakan batang hidungnya.
“Ren, kamu dengar mama kan?’ Tiba-tiba atmosfir ketegangan menyelimuti hati Dewi, perasaan tidak enak menyeruak ke dalam hatinya. Batinya merasakan sesuatu yang terjadi pada anaknya, dan ini bukan perasaan yang biasa. Tak sabaran kagi, Dewi meraih handel pintu. Ternyata pintu kamar Reni tidak terkunci.
\"Astagfirullah, Reni, apa yang kamu lakukan?\" teriak Dewi histeris tak menyangka dengan apa yang dilakukan anaknya. Dewi melihat Reni gantung diri di pintu kamar mandi. Kenapa Reni bisa senekat ini? Dewi berlari tunggang langgang mencari bantuan. Barang kali di luar ada Suroso sopir pribadinya dan pak Kadim sang kepala satpam kompleks rumanya.
\"Pak Kadim, pak Suroso … Tolongg anak saya Pak!\" teriak Dewi sekencang-kencangnya. Beberapa menit kemudian datanglah Pak Kadim.
“Anak Ibu kenapa?” tanya Pak Kadim.
\"Anak saya gantung diri Pak!\'\' jawab Dewi histeris.
Ekspresi pak Kadim tak kalah kagetnya dengan Dewi, saat pertama kali menyaksikan anaknya tergantung di pintu kamar mandi. Tanpa intrograsi lebih lanjut. Pak Kadim langsung berlari masuk ke rumah kediaman keluarga Reni.
\"Masya Allah,\" ucap pak Kadim saat melihat Reni tergantung. Pak Kadim langsung melepaskan Reni dari cekikan kain yang menggantung nyawa anak majikanya itu. Nyawa Reni berada di ujung tanduk. Tak berapa lama kemudia ikatannya terlepas. Pak Kadim dibantu Dewi, ibu Reni membopong tubuh Reni yang mungil itu.
\"Cepat telepon dokter, Bu!\" perintah pak Kadim begitu Reni sudah tergeletak tak berdaya di ranjangnya. Kali ini sopir boleh menyuruh majikannya karena keadaan sekarang sangat emergency alias gawat darurat. You know?
Keberuntungan sekarang berpihak pada Dewi ibu Reni, sebab karena ià menemukan Reni baru beberapa saat setelah Reni menggantungkan nyawanya. Ia sangat bersyukur mendapati nyawa Reni belum terbang ke neraka. Karena orang yang bunuh diri tidak akan masuk surga.
Mengetahui keadaan Reni sudah membaik dari doter keluarganya, ia terlonjak kaget. Tidak ada kebahagiannya selain bisa melihat Reni di sampingnya. Itu adalah kekebahagian yang tiada tandinganya. Tiba datanglah Rena menjenguk Reni.
\"Ma, maafin Rena,\" sesal Rena ketika menyadari kegilannya kepada Adit, menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi pada Reni saudara yang ia sangat sayangi, saudara yang paling memahaminya. Bagi Rena, Reni tiada duanya. Tapi manusia tak luput dari salah dan lupa dan inilah yang dialami Rena sekarang. Ia tergoda dengan rayuan Adit.
\"Tak perlu lagi kata maafmu Ren!\" Mama Dewi bicara sadis. Mama Dewi sangat mengerti kenapa Reni begitu mudah putus asa dan memutuskan bunuh diri itu karena sebuah pengkhianatan.
Reni adalah fotokopi Dewi. Dulu Dewi pernah dikhianati mantan suaminya, papa Rena dan Reni. Sekarang Reni pula yang dikhianati Rena, sepertinya Rena hasil cimplakan dari Papanya.
\"Tapi, Reni kan baik-baik aja Ma,\'\' tak tahu mengapa, sekarang egois sepertinya menjadi milik Rena.
\'\'Mama sudah menelpon papa kamu. Kami sudah memutuskan, kamu bakal tinggal sama papa,\" ujar Dewi tegas walau dalam hatinya tak tega. Bagaimanapun ibu mana yang mau berpisah dengan anaknya? Tetapi ia sudah berjanji kepada mantan suaminya sewaktu mereka bercerai tiga tahun yang lalu.
Perjanjiannya adalah Rena bakal ikut papanya setelah ia lulus SMA. Sekarang Rena maupun Reni sudah lulus SMA, jadi perjanjian itu harus terlaksana. Lagian ini demi kebaikan Reni dan Rena karena mereka tak bisa disatukan.
*****
Keadaan fisik maupun psikis Reni sekarang sudah normal. Ia ditangani oleh orang yang handal dibidangnya. Reni perlahan sudah melupakan masalahnya dan pengkhianatan Reni. Reni belajar melupakan semu kenyatan pahit yang harus ia hadapi. Ia sadar yang ia lakukan kemrin adalah tindakan bodoh yang akan menghancurkan hidupnya.
Sekarang Reni memang belum bisa move on, ia masih dibayang-bayangi oleh kenangan bersama Adit, sampai saat ini ia masih sangat mencintai pria yng membuat ia membenci saudara kembarnya sendiri.
Tiba-tiba Reni kangen dunia maya. Reni langsung meraih laptopnya yang ada di meja belajar. Semenit kemudian Reni telah berhasil membuka akun facebooknya.
“ Wuih, ada 99 pemberitahuan!” Batin Reni. Ia mengklik pemberitahun. Di pemberitahuan tersebut tertulis Rere Imut, Rangga Alexander, Natasya Indah dan dua teman lainnya mengomentari stastus anda status \"SAUDARA KEMBAR SIALAN, TEGA-TEGNYA NUSUK SAUDARANYA DARI BELAKANG, TAU NGGA! GARA-GAR ELO, RASANYA GUE MAU MATI SAAT INI\'\'
Reni langsung mengklik keluarlah status yang ia buat dua hari yang lewat.
Renita Chantika Anara SAUDARA KEMBAR SIALAN, TEGA-TEGNYA NUSUK SAUDARANYA DARI BELAKANG, TAU NGGA! GARA-GAR ELO, RASANYA GUE MAU MATI SAAT INI - Kamis 11oktober 2012
Rangga Alexande Sabar - hadapi masalah dengan kepala dingin. Jangan gegabah - Kamis 11 Oktober 2012 (di-like, 3 orang).
Reni bernapas lega, ternyata masih ada orang yang peduli padanya. Ia melanjutkan membaca koment-koment yang ada di statusnya.
Natasya Indah - Pengin mati ? Oh noo. Jangan sia-siain hidup sobat! - Kamis, 11 Oktober 2012 (di-like, 1 orang).
Rere Sahila - Gue tau elo sedih, tapi lo ngga boleh nyianyiain hidup lo - Kamis 11 Oktober 2012.
“ Rere ada benarnya juga. Hidup ini adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk kita.” Ucap Reni dalam hati.
Rahma Imut - Jangan ngomong gitu, perkataaan adalah doa. Ntar elo beneran mati - Jumat 12 Oktober 2012.
Reni mengklik kolom komentar. Beberapa saat ia mengetik di keyboard.
Reni Chantika Anara - Rangga, Natasya, n\' Rere : Thank\'s buat semua masukan dari kalian. Rahma: Gue udah mau mati, sayangnya nyokap nemuin gue semenit sudah gue gantung diri, jelas gue gak jadi mati, nyokap bawa pasukan buat nyelamatin gue!
Semenit kemudian muncul lagi koment dari teman-temannya itu.
Ranggga Alexande- Masama, elo gantung diri ? Ckckckckckck nekat bener lo. Untung nyokap lo, cepat nemuin lo. Kalo nggak lo udah keok.
Natasya Indah - Unwell, lo gantung diri ? ya ampuuuuuuuuuuuuuun, lo kok bisa senekat itu Ren?
Reni membaca dengan saksama balasan komentar dari Rangga dan Natasya. Bibir mungilnya tersenyum kecil setelah membaca balasan komentar itu. Reni sedikit menegakkan badannya bersiap membalas komentar dari Rangga dan Natasya.dengan cepat jari jemari Reni sudah beradu dengan keyboard laptopnya.
Reni Chantika Anara @Rangga Alexander gue emang sangat beruntung nyokap gue duluan nemuin gue, bahkan gue nyesel udah mau bunuh diri. @Natasya Indah waktu itu gue udah bener-bener nggak bisa ngendaliin fikiran sama emosi gue. Jadi gue nekat bunuh diri.
Tak selang lama setelah Reni mengklik komentar.komentar dari Rangga muncul lagi.
Rangga Alexander - Ren, seharusnya lo tuh tau kalau Tuhan tuh masih menginginkan lo tinggal di dunia ini dan membahagiakan orang yang patut lo bahagiain. Dunia tuh enggak kayak keramik Ren, enggak mulus gitu. Jadi lo harus berpetualang di kehidupan lo. Baru saja selesai ada satu orang me- like.
Rere Sahila - Sama-sama. Bener tuh kata Rangga. Untung lo di temuin duluan. Kalau enggak dah kayak lontong kali lo sekarang. Ikat sana sini kwkwkwkw.
Reni membaca komentar dari teman-temannya dengan sangat antusias. Reni menarik nafas sejenak lalu mulai mengetik lagi.
Reni Chantika Anara - Rangga Alexander thanks ya Ngga, lo udah memotivasi gue. Gue janji! mulai sekarang gue nggak bakalan nyia-nyiain hidup gue.
Rere Sahila - hahahaha iya Re, untung aja lodiselamatin nyokap lo sebelum jadi lontong.
Reni tertawa kecil lalu dia log-out akun facebooknya. Reni menutup laptopnya dan mengeletakkan di sampingnya. Ia merebahkan diri di ranjang empuknya. Matanya menatap lembut langit-langit kamarnya. Reni teringat peristiwa bodoh yang ia lakukan dua hari yang lalu.
\"Hmmm …, gue bener-bener bodoh kemarin. Kenapa gue bisa berfikiran senekat itu. Padahal nyokap begitu sayang sama gue. Tapi gue malah beniat buat ninggalin dia sendiri di dunia ini. Sekarang prinsip gue cuma satu, pertahanin orang yang buat gue bahagia dan tinggalin orang-orang yang buat gue sedih,\" Reni menyemangati dirinya sendiri.
Ia sejenak memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang. Ketika matanya terbuka tangannya sudah meraih laptop di sampingnya. Reni membuka aku facebooknya lagi. Reni melihat di situ sudah tertera pemberitahuan. Reni perlahan membacanya dalam hati.
Rahma Imut, Rere Sahila dan dua orang lainnya mengomentari status anda. Reni langsung mengklik pemberitahuan tersebut. Perlahan Reni menggeser kursor laptopnya ke bawah.
Rangga Alexander - Nah, gitu dong. Jangan pernah putus asa jadi orang - 4 menit yang lalu. Like! Reni clik.
Rere Sahila - Wah nekat lo ya. pasukan? Pasukan apa yang di bawa nyokap lo? 2 menit yang lalu. Like! Reni clik
Reni membalas lagi komentar-komentar dari teman-temannya. Reni Chantika Anara @Rangga Alexander okey sippp Bray. @Rahma Imut pasukan berkuda hahaha enggak gue cuma bercanda, cuma sopir gue sama kepala satpam komplek gue aja kok.
Natasya, Rangga, Rere dan Rahma gue minta no kalian dong. Kirim ke inbox gue ya. J
Baru saja kelar.
Like! Muncul dari teman-temannya.
Reni kembali mengotak-atik facebooknya melihat beberapa status temannya. Namun Reni hanya membaca dan like saja. Sesaat mata Reni tertuju pada pesannya. Muncul 4 pesan. Tentu saja itu dari Natasya, Rangga, Rere dan Rahma yang mengirimi Reni nomor ponsel mereka. Reni buru-buru mencatat nomor ponsel itu satu persatu.

Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Download Titik & Koma