Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Benih-benih Cinta

Malam harinya. Reni hanya menangis melihat batu nisan yang ada di depannya. Batu nisan tersebut tertulis nama Renita. Ia tak menyangka kini ia sudah jadi almarhum. Ia tak bisa lagi memeluk mamanya, online.
Ia kembali ke rumah, tapi entah mengapa ia merasakan suatu keanehan yang terjadi dengan dirinya. Kini ia tak bisa berjalan lagi, ia hanya bisa ngesot. Pemakamannya jauh dari rumah, itu yang menyebabkan Reni malas ke rumah. Ia mengamati sekitarnya, tak salah lagi pemakaman ini adalah tempat pertama kali dipertemukan dengan Adit.
“Hihihihi ….” Reni mencoba menirukan gaya ketawanya mbak kuntilanak. Siapa tahu aja ada yang lewat sini, dan bisa mendengarkan suaranya.
“Reni, ngapain lo cekikian sendirian? Ntar mbak Kunti ngamuk lho kamu meniru suara dia?” sahut seorang pria. Suara pria tak asing di telinga Reni. Ia menoleh dan ternyata pria itu adalah Rangga.
“Rangga ngapain lo kesini? Lo bisa liat Gue?” tanya Reni.
“Gue sengaja ke sini, karena Gue tau lo kesepian,” jawab Rangga.
“Jadi lo tau arwah gue penasaran?”
“Ya, taulah. Gue kan make kacamata pemberian kakek gue, jadi Gue bisa melihat makhluk tak kasat mata. Gue juga tau kenapa sekarang arwah lu berubah menjadi kecil seperti boneka Susan.”
“Kenapa?”
“Tadi siang pas di café. Si Natasya mengucapkan sumpah serapah gitu ke lo, makanya lo jadi kayak gini.”
“Lha, trus gimana caranya biar gue bisa normal lagi? Capek tau ngesot.”
“Satu-satunya cara ya, buat Natasya menarik sumpah serapahnya.”
“Rangga lo maukan bantuin Gue?” tanya Reni. Rangga hanya menggangguk. Tak berapa lama Rangga mengajak Reni pulang ke rumahnya. Berhubung Reni tak bisa jalan lagi maka Rangga memutuskan menggendong Reni. Betapa bahagianya Reni digendong Rangga. Reni yang tadinya marah dengan Natasya, kini ia malah berterimakasih dengan Natasya.
Setengah jam perjalanan Reni dan Rangga sudah berada di depan rumah yang klasik sangat kental dengan nuansa sejarahnya. Mereka memasuki rumah itu. Reni terpesona dengan rumah tersebut.
Rumah Rangga sangat berbeda berbanding seratus delapan pulu derajat dengan rumahnya yang modern. Reni menduga bahwa cat tembok di rumah Rangga memang sengaja di biarkan terkelupas.
Ornamen-ornamen batik menghiasi seluruh jendela dan pintu rumah rangga. Tatanannya pun masih sangat kuno. Persis seperti rumah-rumah Belanda jaman dulu. Aneh! mungkin kata itu yang wajib orang ucapkan saat berada di rumah Rangga dengan perkembangan jaman yang sangat pesat. Apalagi sekarang mereka berada di era globalisasi di mana rumah-rumah sudah sangat modern dan bagus.
“Ren, kok lo bengong?” tanya Rangga.
“Gue berasa di jaman penjajahan dulu aja,” jawab Reni.
\"Ini belum seberapa,\" kata Rangga karena dia sedikit mendengar ucapan Reni. Tangan Rangga menunjuk kea rah pojok sudut. Mata Reni terperanjat ketika dia melihat isi dari rumah tersebut.beberapa piala dan penghargaan terpajang rapi di almari sebelah kiri pintu masuk. Foto-foto hitam putih menghiasi seluruh dinding rumah Rangga. Senjata-senjata tempo dulu. Reni tak habis fikir mengapa Rangga memajang semua foto-foto itu di dinding rumahnya.
Reni masih berada dalam gendongan Rangga. Rangga memperlihatkan seluruh sudut di rumahnya. Selain itu Rangga juga bercerita, bahwa rumah ini adalah rumah kesayangan kakek Rangga. Ternyata selama ini Rangga hidup bersama kakeknya. Tapi sebulan yang lalu kakeknya meninggal. Ibunya Rangga meninggal saat melahirkan dia. Sedangkan ayah Rangga, tak tau di mana keberadaannya.
Reni pun langsung bersyukur bahwa dirinya masih mempunyai mama yang sangat menyayangi dirinya. Sedangkan Rangga tak pernah merasakan kasih sayang orangtua sejak lahir. Selesai bercerita Rangga membawa Reni ke sebuah kamar. Di depan pintu kamar.
“Ren, selama lu tinggal di sini. Lo tidur di kamar kakek. Meskipun lo sekarang jadi setan, bisa nembus tembok. Lo jangan asal masuk ke kamar gue, kalau masuk ke kamar Gue bilang dulu!” jelas Rangga panjang lebar.
“Emang kenapa sih kok Gue harus bilang dulu sebelum masuk kamar lo?”
“Gue kalau tidur gak make baju,” ucap Rangga. Reni senyum-senyum sendiri. Ia juga mengedipkan mata nakal.
“Kenapa lo senyum-senyum sendiri? lo lagi mikir mesum ya?” tanya Rangga. Reni hanya cengengesan. Rangga membuka pintu kamar. Rangga juga menurunkan Reni di tempat tidur kakeknya. Reni mengucapkan banyak terima kasih. Reni memandangi seisi kamar.
“Waaaaaww, serem juga ni kamar. Emm, tapi kan gue juga setan, jadi biasa aja.” pikirnya.
“Ya udah. Istirahat dulu gih.” Perintah Rangga sebelum kembali ke peristirahatannya. Sejenak Reni mematung menatap Rangga penuh keterkesima.
“Ooh Rangga ... beruntung banget deh Gue ketemu sosok penolong seperti dirimu. Tapi kenapa ya hati gue berdebar-debar gini. Hmm, rasanya pengen balik ke dunia mereka lagi, tapi sayang...” rautnya memelas.
“Sadar Reni. Sadar! Yang terpenting elu bebas dari sumpah serapah ini! Yah, itu harus ditarik!” lanjutnya membatin.
Ia pun tertidur pulas di atas kasur empuk blasteran emas kehitam-hitaman. Suasana ruangan yang cukup ekstreme utuk bersantai melepas lelah.
Paginya, Rangga mencium aroma kemenyan yang cukup tajam menusuk hangat di penciumannya. Ia tak lagi heran karena kini rumahnya dihuni oleh roh gentayangan yakni Reni, sahabatnya sendiri.
Di sisi lain...
“Aduuuhhhh, mau ngapa-ngapain, susah!” rintihan Reni yang ngesot keluar kamar.
“Sudah bangun lo?” Rangga menyapa.
“Iya, nih baru kali ini gue ngerasain jadi setan. Lebih parah lagi gue jadi Susan ngesot. Sekarang gue baru tahu bagaimana penderitaan suster ngesot,” ucap Reni dengan raut wajah yang sedih.
“Tenang aja, gue bakal bantu nyelesaiin masalah ini.” Rangga menenangkan. Rangga juga mengajak Reni sarapan.
“Nyamm nyammm, enak,” sambil sarapan Rangga menggoda Reni yang tak bisa lagi sepertinya.
Seperti manusia biasa yang bisa menikmati hidangan sarapan pagi sesukanya.
Reni cemberut dan hanya bisa pasrah. Rangga beranjak dari tempat duduk. Sepertinya Rangga ingin mengambil sesuatu.
Sekitar dua menit Rangga kembali membawa bunga melati yang banyak. Rangga meminta Reni untuk makan bunga itu. Awalnya Reni nggak mau makan bunga tapi ia sadar, saat ini ia sudah jadi setan. Dan setan makanannya adalah bunga melati.
“Ehh, lo cantik juga yah kalau jadi boneka Susan kayak gini.” senyumnya mengejek dan makin menggoda. Reni hanya manyun. Rangga malah semakin tertawa melihat dirinya manyun. Tapi hati Reni malah bahagia melihat Rangga tersenyum.
“Entar malam kita langsung aja ya, ke tempat Natasya. Dengar-dengar dia mau balik ke luar kota bekerja.”
“Haaaa?” mata Reni yang berwujud boneka itu terbelalak mendengar kabar bahwa Reni akan ke luar kota dengan segera.
Malampun tiba suasana jalanan yang cukup sepi di antara kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Rangga melajukan mobil bututnya menuju rumah Natasya. Di dalam mobil, Reni cemas kelabakan. Ia kebingungan dengan usaha apa yang akan Rangga lakukan.
“Ada pocong di bawah pohon, tuh!” sahut Rangga melirik ke arah pohon sambil menyetirkan kendaraan roda empatnya.
“Ngapain tuh pocong di situ sendirian! Hmm,” Reni membalikkan badan melihat ke belakang dengan mobil yang masih melaju dengan kencangnya. Akhirnya perjalanan mereka yang memakan waktu lima belas menit saja, pun tiba tepat di depan gang menuju rumah Natasya si pemilik sumpah serapah tersebut.
Tiingg Toong!
Rangga menekan tombol belt di depan pintu.
“Rangga???” Natasya membuka pintu.
“Tumben malam-malam begini ke sini. Kok nggak ngasih kabar dulu ? Ayo masuk.”
“Hehee, iya. Mau ngajakin Rere dan Rahma, tapi udah kemalaman. Lagipula ada sesuatu hal penting yang ingin gue sampaikan ke elu, Nat,” Rangga terbata-bata.
“Ohh ya? Ya udah duduk dulu gih, aku buatin minum dulu yah.”
“Eee ee eeeh, nggak usah!” Rangga menahan.
“Aku lagi buru-buru. Lagipula, masih agak kenyang, hehe.”
“Ooh ... ya udah, duduk gih.” Dalam ruangan segi empat yang jarang terlihat dekorasi itu mereka pun duduk berbincang-bincang dengan seriusnya.
“Tumben pakai kacamata?”
“Oh ini, lagi pengen pakai aja.”
“Oh ya, gimana kabar anak-anak? Udah lama nih kita nggak pernah ngumpul lagi, semenjak aku sibuk kerja ... he…he…he.”
“Mereka baik-baik aja kok. Ooh ya ... dengar-dengar, kamu mau balik ke luar kota lagi yah?”
“Iya nih, besok. Hehe, untung aja ya masih sempat ketemu. Tapi tiap dua minggu, aku balik ke sini lagi.”
“Sibuk banget ya,” Rangga mengatur jalannya pembicaraan dengan trik memancing alur pembicaraan terlebih dahulu.
“Duuh, Rangga makin cakep aja nih.” gumam Natasya dalam hati.
“Nat, Nat,” Rangga melambaikan tangannya di depan wajah Natasya yang sedang mematung layaknya orang yang sedang diam memikirkan sesuatu.
“Eh eh, iya. Ada apa, Ngga?”
“Eeh, tadi gue ketemu Adit dan Rena loh.”
“Ooh, ya??” Mendengar ucapan Natasya, hati Reni langsung berlinang kerinduan yang mendalam kepada mereka semua yang pernah ia jumpai di hidupnya, terutama sang mama. Sesaat ia pun bisa melupakan untuk sementara ini. Reni pun makin cemas kelabakan. Ia terus memukul pundak Rangga agar tak berlama-lama berbasa-basi.
“Iya ... Iya, sabar.”
“Ha? Ngomong ama siapa?” tanya Natasya sedikit heran.
Rangga pun mulai menjelaskan.
“Jadi gini, gue kemari mau ngomongin sesuatu hal yang penting ke elu, Nat.”
“Lo ingat, nggak? Sumpah serapah yang pernah lo ucapkan buat Reni? Sahabat kita yang meninggal akibat kecelakaan maut yang menewaskannya seketika itu?” Sambil menunduk berpikir tajam dan dengan sedikit acuh ia menjawabnya, “Iya, ingat. Kenapa?” tanyanya sedikit singkat.
“Rohnya ada di sini sekarang.”
“Haaaah!” Natasya melompat kaget mendekati Rangga sedekat mungkin.
“L0e ngomong apaan sih, Ngga? Becanda aja.”
“Nggak! Gue serius. Cuma gue yang bisa melihat roh Reni. Dan perlu kamu ketahui, sekarang roh Reni benar-benar penasaran. Sumpahmu ke dia benar-benar menjadi kenyataan. Sekarang wujudnya benar-benar mirip boneka Susan, dan parahnya, dia benar-benar ngesot. Udah nggak bisa jalan lagi. Mau tidak mau, aku harus gendong dia ke mana aja dia pergi.”
“Kalau mau lihat dan buktiin sendiri, nih pakai aja kacamata gue ... kacamata ini pemberian kakek sewaktu masih hidup. Berkat kacamata inilah aku bisa melihat roh-roh gaib.” Natasya mulai percaya mendengarkan penjelasan Rangga. Dengan sedikit ragu dan takut, Natasya belum mau memakai kacamata itu.
“Lalu, apa yang musti gue lakuin?”
“Yah. lo harus menarik kembali sumpah serapahmu itu, agar roh Reni bisa kembali ke wujud manusia asli dan bisa tenang di alamnya.”
“Caranya gimana?” tanyanya berat.
“Tarik kembali ucapan lo!”
“Emm ... masa sih Susan ngesot, mmm ... kalau gitu bagus deeh, biar dia tahu rasa!” pikir Natasya yang kembali mengingat masa di mana dulu Reni pernah mencuri perhatian Rangga, pria sekaligus sahabat yang dikaguminya.
“Nggak mau!” jawab Natasya sigap. Dengan raut kekesalan, Reni terus membujuk Rangga.
“Kenapa nggak mau? Kalau lo nggak narik ucapan itu, otomatis Reni akan terus gentayangan dan boleh jadi terus menghantui elu, Nat.” Rangga menakuti.
“Oh ya, Roh Susan sekarang tinggal di rumah gue untuk sementara ini sampai wujudnya benar-benar berubah kembali.” Natasya kebingungan. Di satu sisi, dia tak ingin menarik kembali ucapan yang pernah ia luapkan karena dia memang senang bahkan gembira mendengar kabar bahwa Reni sekarang menjadi Susan ngesot. Di sisi lain, dia tak ingin Reni makin berlama-lama ngedekatin Rangga karena dia tak akan pergi dari Rangga selama sumpah itu belum jua ditariknya.
Akhirnya Natasya memutuskan untuk tetap tidak akan mau kembali menarik ucapan yang pernah ia buat. Amarah yang dulu pernah redam akibat ketidaksengajaannya, kini kembali membuncah panas akibat kedekatan mereka kembali. Ia berencana untuk membiarkan Reni menjadi Susan Ngesot untuk sementara waktu sampai ia benar-benar siap tuk menarik kembali sumpahnya itu.
“Maaf, Ngga. Gue nggak bisa!” jawabnya.
“Loh?? Kenapa?” tanya Rangga sedikit kecewa.
“Tetap nggak bisa. Gue nggak akan menarik sumpah ini sampai Reni mau meminta maaf dulu padaku.”
“Loh, kenapa? Reni salah apa? Kenapa lu jadi berubah gini, Nat? Bukan Natasya sahabat gue yang seperti dulu! Yang ceria dan bersahabat di waktu kapan pun itu. Pemaaf dan bukan seperti orang yang ada di hadapanku saa ini! Lagipula, dulu Reni menyiramimu dengan orange juice itu karena keadaannya waktu itu masih dalam kondisi kurang fit, baik jasmani maupun pikirannya. Kita hadir sebagai sahabat barunya adalah untuk memperindah suasana hatinya, menenangkan keadaan fisiknya. Tapi lo malah menuduh dia nggak-nggak.” Rangga sedikit tak percaya akan sikap Natasya yang berubah sembilanpuluh derajat.
“Itu karena gue suka sama lo!!!” Natasya berteriak singkat. Sesaat ruangan yang sepi kian menjadi hening. Mereka bertiga yang ada di dalamnya tercengang dengan jawaban pengakuan singkat yang dilontarkan oleh Natasya. Hati Reni makin carut marut mendengar kenyataan ini. Ia tetap iba memikirkan nasib dirinya.
“Sorry, gue mau istirahat dulu, Ngga.” Natasya tak ingin berlama-lama menemui Rangga. Bukan karena malu ataupun takut, tapi karena ingin menenangkan suasana hatinya. Rangga pun masih terbelalak kaget mendengar pengakuan singkat dari seorang yang ia anggap sahabat.
“Nat ... dengerin gue dulu, Nat.” Natasya hanya bungkam menunduk dan memalingkan wajah menyimbolkan agar Rangga segera pergi.
“Ya udah, gue pamit dulu, Nat.”
“Tapi, usahakan yah! Untuk bisa menarik sumpah lo itu kembali!” Akhirnya Reni dan Rangga pulang dengan kekecewaan serta mendapat jawaban dari pertanyaan yang telah membuat suasana menjadi pelik hingga saat ini.
“Sabar yah, Ren. Gue akan tetap ada di sisi lo selama kutukan ini belum berakhir.” Reni pun terpesona dan bahkan berdecak bahagia bila bisa terus ada di sisi Rangga. Diam-diam Reni pun menaruh rasa ke Rangga.
“Eeh, Si Pocong masih ada aja tuh. Tapi kali ini ama Mbak Kunti. Haha...” mereka melihat pocong dan kuntilanak dari dalam mobil menuju pulang. Sesampainya mereka di rumah. Rangga kembali menggendong boneka Susan ngesot yang tengah bersamanya menuju kamar. Reni pun makin terpesona dibuatnya. Rasanya ia pun mulai merasakan cinta lagi setelah lama menyendiri. Dengan Rangga lah, hatinya kini terpaut.
“Ya udah, istirahat aja dulu. Besok kita ke tempat Rere dan Rahma minta bantuan.” Rangga kembali menenangkan. Reni hanya terdiam dan manggut-manggut mengiyakan. Rangga keluar dari kamarnya. Reni pun merebahkan diri sambil memikirkan watak, paras hati dan kepedulian Rangga terhadapnya.
“Kapan-kapan, gue juga mau ngungkapin perasaan ini akh. Semoga nggak bernasib buruk seperti Natasya tadi.”
Malam pekat kembali menyelimuti suasana keheningnya yang berpacu pada aroma-aroma khas makhluk halus.

Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Download Titik & Koma