Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
susan ngesot
Susan Ngesot
Penulis Ariny Nh

Honestly

Ricky membiarkan Rangga menggendong Susan dan melepaskan kepergian mereka dengan kepercayaan penuh kalau Rangga lelaki yang bisa dipercaya.
Sampai bayangan Rangga dan Susan menghilangkan. Ricky yakin kesetiaan dan keyakinan hanya dengan Susanlah kebahagiaan akan dijemput di sisa masa ketersesatannya hingga bersama kembali pada Sang Maha Kuasa.
“ Susan Rek meni…kamu sepertinya sudah bahagia ya dengan Ricky ?” Rangga tiba-tiba bertanya memecah keheningan antara mereka.
“Ya Rangga, penolakan kamu padaku yang cacat sungguh menyalkitkan hatiku. Aku saat itu sangat terpuruk, aku terlalu berharap banyak padamu kalau kamu akan mau menjadi kekasihku. Tapi setelah aku pikir-pikir memang kita beda dunia dan aku bukan Reni lagi yang cantik dan sempurna. Tapi aku hanyalah Susan Ngesot, boneka cebol yang tergantung pada orang lain. Aku seperti seonggok barang yang tidak berguna.”
“Ssst Susan eh Reni kamu terlalu berperasaan sensitive, maaf aku membuatmu terluka. Tahukah kamu ada satu rahasia dalam hatiku tentangmu dan saudara kembarmu Rena ?” hati-hati Rangga mengatur bicara sambil terus menggendong Susan.
“ Waktu kamu menulis status di FB tentang saudara kembarmu Rena sebagai pengkhianat aku baru tahu kalau Rena punya saudara kembar, makanya aku ikut nimbrung saja dengan teman-teman lain mengomentai status kamu. Waktu kamu merasa patah hati karena Adit direbut Rena, sebenarnya aku juga merasakan yang sama. Tahukah kamu Reni aku sungguh mencintai saudara kembarmu. Bahkan sampai sekarang, walau dia telah memutuskan aku karena lebih memilih Adit. Saat pertama bertemu kamu aku seperti mempunyai semangat hidup lagi, sayang aku tidak berani gegabah menyatakan perasaanku karena aku yakin kamu akan menganggap cintaku hanya pelarian dari saudara kembarmu, aku memilih jalur bersahabt dulu. Berharap dengan bersahabat aku pelan-pelan bisa memasuki hatimu dan bersama kita menghapus luka kita. Tapi kutukan Natsya menimpamu, makanya Susan kalau bukan karena rasa cintaku padamu buat apa aku mencarimu setelah kamu mati.”
“Ranggaa….” Reni merebah erat tubuhnya di punggung Rangga, cerita Rangga tanpa terasa membuat air matanya menetes.
“Reni…kamu menangis…” Rangga merasakan punggung bajunya basah menghangat dan guncangan akibat isakan menandakan kalau Reni Susan tengah menangis.
“Iya Rangga aku sedih, aku baru tahu cerita yang sesungguhnya. Rangga maafkan aku yang berprasangka buruk tentangmu, yang menganggap aku mahluk terjelek dan tidak layak menjadi pacarmu.”
“Sudahlah maaf aku membuat kamu bersedih, akhirnnya aku merasa lega bisa bercerita sesungguhnya. Dan terutama aku lebih tenang karena di alammu sudah menemukan soulmate yang sempurna. Ricky ganteng dan sayang banget yach Susan.” Rangga berusaha menetralisir agar Susan tidak sedih terus.
Susan mencubit punggung Rangga dengan tersipu-sipu.
“Ihhhh apaan sih Rangga!” ada sebongkah bahagia mengembang dalam hati Susan.
Reni walau kamu telah tiada akan aku simpan tentangmu dalam relung hatiku. Dan sekarang aku harus menepati janjiku untuk membantu kamu terlepas dari kutukan Natasya.” Rangga tersenyum sambil menengok wajah Susan yang masih sedkit kelabu karena bekas air matanya yang mengalir.
“Terima kasih sekali lagi Rangga, telah kau berikan aku cinta tanpa syarat dan kau bisa simpan sosok kenangan tentang aku.”
Free From The Curse
Senja mulai menjemput berdua menyusuri trotoar jalanan Rangga tampak menggendong Susan yang tertidur karena rasa nyaman dan sejuknya angin menerpa.
Mungkin kalau tidak karena Rangga yang tiba-tiba berteriak kaget, Susan tetap terlelap sampai rumah Rangga.
“Natasya…ya ampuuunnn….” Susan kebingungan guncangan akibat Rangga yang tiba-tiba berlari kencang memburu kerumunan sebuah city car menabrak pembatas jalan dan meringkuk pada sebuah pot raksasa yang berisi berbagai bunga.
“Iya cewek…sepertinya ngantuk…kecelakaan tunggal…aduh kasihan…ah darahnya banyak banget…” berbagai omongan dari banyak orang berseliweran, Susan kebingungan.
“Cepat panggil ambulance, ini teman saya…tolonnngggg cepat!” Rangga berteriak kencang.
“Rangga ada apa ?”
“Susan kamu tetap di punggungku, Natasya …Natasya menabrak pembatas jalan. Darahnya banyak sekali dari kepala…!”
“Ya Allah…cepat Rangga, minta pak Polisi itu memanggil ambulance!” Susan ikutan panik.
“Engggung……Enggggggggung….” Untunglah sepuluh menit bantuan ambulance Rumah Sakit terdekat segera datang.
“Ayo kamu yang ikut ya! Kamu temannya Nona inikan..!” Pak Polisi gembul berwajah baik hati segera menyuruh Rangga masuk ke ambulance.
*****
“Nat…Nat…kamu kenapa bisa nabrak pembatas jalan. Pasti kamu terlalu banyak minum.”
Tiba-tiba…
Suara yang sudah sangat dikenal…”Iya Rangga aku mabuk…hiks…”
“Hiiihh ahhhh Natasya!” Rangga kaget karena tiba-tiba Natasya dalam wujud berbayang menyahut omongan Rangga.
Rangga sadar kalau semua ini gara-gara kacamata kakek yang masih dipakai sehingga Rangga bisa melihat dunia lain.
“Mas kenapa ? Mas nggak apa-apakan ?” kata salah satu suster yang sedang membersihkan luka kepala Natasya.
“Upps nggak Sus, nggak kenapaa-kee eenapa. Saya cuma kaget saja…iya kaget!” Rangga melirik Natasya yang malah tersenyum geli melihat Rangga yang ketakutan.
“ Hai Susan eh Reni, kamu masih ikut Rangga terus ya ? “ ada nada cemburu dari pertanyaan Natasya.
“Eeee Nat nggak sih, ceritanya panjang biar nani Rangga yang cerita ke kamu ya. Tapi kamu harus sehat dulu…” kata Reni bijak tidak ada lagi dendam akibat kutukan Natasya maka dia jadi Susan ngesot.
Bertiga Rangga, Natasya dan Reni mengikuti tubuh Natasya yang sekarat ke Unit Gawat Darurat. Rangga tidak diijinkan masuk, bertiga duduk di bangku ruang tunggu.
Ketiganya kaget tiba-tiba suara tangisan histeris menyanyat menggema di lorong ke UGD, “Natasyaaaaa my daughter….anakku….Tuhan tolong selamatkan anakku satu-satunya…huuuuuhuuuuuhuuuu….”
Ternyata suara tangisan menyayat itu adalah suara tangisan Debby mamanya Natasya.
Selama ini mama Debby wanita karir yang jarang memperhatikan Natsya, saat mendengar Natasya kecelakaan tiba-tiba baru merasakan ketakutan luar biasa kalau anak tunggalnya akan meninggalkan dia.
Mama Debby terlalu banyak melalaikan Natasya sampai anak gadisnya terkadang suka nge-fly dengan berbagai obat dan minum-minuman-pun dia tutup mata.
“Nat, mama-mu kasihan sekali Nat…” Rangga menegur Natasya yang tampak cuek dengan kehadiran mamahnya.
“Hmmm iya biarin aja dia nangis, selama ini emang dia peduli akan aku. Aku mau sakit, nangis, wisuda Mama tidak peduli kok. Dan sekarang kalau aku mati juga nggak akan pengaruh!”
“Nat jangan berkata begitu…kasihan mama Debby…” Rangga tidak tega melihat mama Debby yang semakin meraung-meraung melihat Natsya yang koma dari balik jendela kaca UGD.
Apalagi setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani Natsya berkata,” Sabar ya Bu, puteri anda mengalami benturan keras, sementara ini dia masih koma…”
“Tapi gimana Dokter, tolooong selamatkan anak saya Dok..dia nak satu-satu kami…”
“Mama…mama sabar…” tiba-tiba Rona, papanya Natsya sudah memegangi isterinya dan memeluknya untuk bersabar.
“Apa ! Papa lepaskna aku…buat apa kamu kemari! Mana isteri mudamu!” mama Debby bukannya tenang dengan kehadiran suaminya malah sebaliknya histerid dan pingsan.
“ Hai Guys! Cabut yuks ngapain juga nonton adegan sinetron gak bermutu…” Natsya berkata cuek, padahal Rangga dan Susan sudah iba setengah mati melihat adegan barusan.
“Eeeeh Nat tunggu, lo harus balik ke jasad kamu. Kasihan mama papa kamu! Lihat Nat mereka masih sangat peduli dan sayang sama kamu…” Rangga meyakinkan Natasya.
“Ah sudah biarin aja mereka baikan dulu baru deh aku balik! Habis kerjaannya bertengakar mulu! Aku capai Ngga, San dengar mereka ribut. Mana pernah mereka peduli dengan aku. “ Natasya yang mendadak ringan tubuhnya ngeloyor.
Mau tak mau Rangga berlari-lari menggendong Susan mengejar Natasya.
“Eh kita nongkrong di café Cinta yuks…tempatnya nyaman dan musiknya enak klasik-klasik. Kita bisa ngobrol-ngobrol.” Natasya memberikan usul.
Rangga dan Susan bagai kerbau dicocok hidungnya mengikuti aja kemaunan Natasya, apalagi Rangga yang tiba-tiba merasa tidak mau kehilangan teman untuk kedua kalinya. Baru saja Reni meninggal, apakah harus kehilangan sahabt dia juga Natasya?
Café Cinta, Bilangan Kemang
“Hmmm Susan sekarang aku bisa merasakan jadi orang yang hidup di seberang alam, by the way…kamu susah sekali ya jalan dengan ngesot ? “ Natasya baru menyadari saat masuk ke café Rangga mampir ke toilrt dan Susan berusaha ngesot untuk bisa mengikuti Natasya menuju ke salah satu meja yang terletak memojok.
“Hmmm begitu deh…” Susan berusaha duduk, tapi tiba-tiba Rangga sudah mengangkat dan membantunya duduk.
Natasya menatap kelembutan Rangga terhadap Susan, jujur masih ada rasa cemburu yang amat sangat, tapi Natasya berusaha membunuh rasa cemburu yang tidak ada alasan. Ya Rangga tidak bisa mencintai dirinya seperti Rangga mencintai Reni bahkan mungkin Rena mantannya.
“Ngga…kamu sayang sekali ya sama Reni…eeehhh…jujur…” Natasya ragu untuk mengatakan isi hati yang sebenarnya.
“Nat, jujur saja pada Rangga. Aku dan Rangga tidak ada apa-apa lagi kok! Aku menganggap Rangg kakak-ku.” Reni menerangkan dengan sirat mata yang jujur.
“Oh benarkah ? wah pasti seru ya selama kamu bergentayangan…” Natasya menatap takjub.
“Tugas Rangga nanti bercerita kalau kamu sudah sehat, bukan begitu Rangga! Kamu mau-kan menemani Natasya selama penyembuhan.” Reni mengedipkan sebelah matanya, mengisyaratkan agar Rangga mau menjawab dengan ya!
“Iya…pastilah! Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kali teman yang aku sayangi.” Rangga tersenyum sumringah, walau terselip sedikit bohong.
“Sungguh! Benar Rangga! Aku senang sekali bila kamu bisa menemaniku. Aku kesepian sekali Rangga…” Natasya berwajah sedih.
Akhirnya sejenak mereka bagai reuni tertawa riang hingga tanpa terasa malam merambat menjelang tengah malam.
“Ehhh liat ada cowok bule ganteng tuh…” tiba-tiba Natasya melihat sosok mahluk halus yang indah.
“Nat! jangan buat aku cemburu!” belum Rangga dan Susan sempat menengok siapa yang datang, Rangga sudah mem-protes saat Natasya mengatakan cowok ganteng.
“Jangan jealous gitu ding Rangga! Tetap kamu yang terganteng di hatiku kok!” Natasya menanggapi kecemburuan Rangga yang entah beneran atau tidak tapi secercah cinta dapat Natasya rasakan dari tatapan Rangga yang tajam.
“Ya ampun Ricky! Ricky sini…” Susan berteriak cempreng.
Ricky membalikan badan dan melambaikan tangan, lalu membentangkan tangan dan hup Susan sudah dalam pelukan cowok bule yang sangat tampan dengan hangat.
Natasya dan Rangga sempat terlongo-longo, tapi akhirnya mereka berdua saling tersenyum penuh arti.
“Wah Mas Ricky ini ya San yang buat kamu kabur dari Rangga ? hahaha pantesan, eiiit Rangga jangan marah…jujur aku bahagia karena Susan sudah ada jodohnya maka Rangga jadi milikku sepenuhnya.” Natasya tersenyum ceria.
“Nat…Nat…siap bilang aku suka dengan kamu….. ?” Rangga balik mencerca.
“Jadi …Ngga kamu tidak amu menemani aku lagi! Kalau gitu aku lebih baik mati! Aku tidak mau kembali ke jasadku. Matiiii saja! Daripada kesepian tanpa mama, papa dan kamu!” Natsya yang labil berteriak-teriak kesal.
“Upppps uppps cup cup Sayang….Nat aku belum selesai ngomong…aku memang tidak suka dengan kamu kalau kamu pemarah, pendendam tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu….Nat aku sudah banyak belajar, tidak ada yang sempurna dari setiap pribadi, termasuk aku. Aku sudah mulai jatuh cinta padamu Natasya…dan aku berharap setelah kamu bebaskan Reni dari kutukan Susan Ngesotnya dia bisa tenang pergi dengan Ricky dan kita memulai semua hubungan kita dengan lebih baik. Bagaimana ?” Rangga berkata sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Natasya.
“Iya…Reni maafkan aku ya telah mengutuk dirimu jadi Susan Ngesot karena terbakar rasa cemburu. Mungkin saja karena kutukan ini kamu jadi meninggal. Maafkan aku Reni…maafkan aku….” Natasya memeluk Reni dan menangis.
Ajaib tiba-tiba tubuh Susan ngesot berubah menjadi wujud asli Reni saat hidup. Rick terpesona dengan gadis yang berdiri tepat di hadapannya.
“Sus…Reni….kamu cantik sekali.”
“Terima kasih Ricky, apakah kamu tidak sedih sosok Susan telah hilang…” Reni merasa khawatir.
“Mau kamu wujud Susan, Reni aku jatuh cinta pada keduanya.” Bahagianya Reni dipeluk Ricky.
Tiba-tiba angin berhembus keras, Rangga sadar saat ini maka dia tidak akan pernah lagi bisa bertemu Reni Susan dan Ricky. Mereka telah hilang ke alam selanjutnya. Seperti Rangga duga dengan berakhirnya kutukan Susan ngesot yang dilepaskan dengan ikhlas oleh Natasya maka Reni bisa melanjutkan perjalanan selanjutnya.
*****
Rumah Sakit Mawar Malati, pukul 24.00
“Natasya…Nat…ini Mam…maafkan Mama dan Papa. Kami berjanji untuk tetap menjagamu dan kita menjadi keluarga utuh.” Mama Debby berjanji di depan tubuh Natasya.
Tangan Natsya bergerak dan matanya terbuka.
“Dokterrrr anak saya siuman!” Papa Rona memanggil dokter Darwis yang menangani Natasya.
“Alhamdulilah, masa kritis Natasya sudah terlewati. Bapak dan Ibu tunggu di luar dullu ya saya akan melakukan pemeriksaan lebih insentif.
Natasya tersenyum tipis melihat dari balik jendela kaca Rangga tersenyum penuh cinta menatapnya.

Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Download Titik & Koma