Boneka Susan
“Lo beneran nggak apa-apa, Re?”
Egi dan Iko menatap Renita. Ketiganya masih berada di halaman depan rumah Abel. Teman-teman yang lain sudah pulang ke habitat masing-masing. Iko mewakili kedua sahabatnya meminta maaf atas pesta yang kacau.
“Nggak apa-apa kali, Gi,” sahut Renita. Dia tertawa miris. “Udah biasa gue berantem sama Abel. Emang dia begitu, kok.”
Egi diam. Dia melirik Iko yang mendongak menatap langit. Egi sebenarnya nggak terlalu tertarik dengan Abel. Dia menyukai Renita. Tapi si cewek absurd nggak pernah menyadarinya meski berbagai macam cara Egi lakukan untuk menarik perhatiannya. Renita justu sibuk mencomblangkan dirinya dengan Abel. Egi merasa nggak enak mau menolak, tapi dia juga kasihan dengan Abel. Sebenarnya Egi cukup senang dengan kesalahpahaman Abel tadi. Dengan begitu, Abel akan berhenti berharap padanya dan dia bisa bebas mengejar Renita.
“Hah, apa-apaan si gembul itu,” kata Renita lagi. “Masa dia nyumpahin gue jadi Boneka Susan, sih? Susan aja nggak bisa jalan, begitu. Masa gue mesti ngesot ke mana-mana? Ogah gila!”
Renita ngakak. Egi ikut tertawa. Dia senang cewek yang ditaksirnya ini nggak berlarut-larut sedih. Renita memang ajaib. Dia selalu tertawa seolah nggak ada hal di dunia ini yang bisa menghalanginya untuk tertawa.
Iko menatap layar ponselnya kemudian menoleh ke arah Renita dan Egi. “Kalian nggak balik?” tanyanya.
Renita mengedikkan bahu. “Motor gue ada di rumah Egi. Lo balik kapan, Gi?”
“Ngikut lo aja,” sahut Egi. “Lo mau balik sekarang? Lo sekalian bareng, Ko?”
Iko mengangguk. “Boleh,” ujarnya pendek.
Sepanjang perjalanan, Iko hanya diam mendengarkan obrolan Renita dan Egi yang entah membahas apa saja. Keduanya terlihat seperti nggak ada masalah yang baru saja terjadi. Begitulah Renita, dia seperti nggak menganggap serius segala hal.
Iko menatap ke luar jendela. Ponsel di sakunya sama sekali nggak bergetar. Dan itu membuat si cungkring gelisah.
Egi menghentikan mobil di depan kosan Iko. Setelah Iko turun, dia langsung meluncur kembali. Motor Renita ada di rumahnya.
***
Renita memacu motornya dengan kecepatan 60 km/jam. Hari sudah larut dan jalanan menuju rumahnya mulai sepi. Renita melaju seorang diri.
Ada alasan kenapa Renita nggak betah sendirian. Dia selalu melamun saat sendiri. Dan sekarang, lamunannya mengarah ke pertengkaran dirinya dengan Abel tadi. Dia nggak menyangka Abel akan begitu. Renita memang salah, tapi nggak seharusnya Abel begitu. Renita tahu Abel sedih, tapi apa Abel tahu kalau dia juga sedih? Dia berteriak-teriak di depan teman-teman. Apa si gembul itu nggak bisa menunggu pesta selesai baru marah-marah? Sudah begitu pakai menyumpahinya, pula!
Sekarang Renita jadi marah. Dilihat dari mana pun, dia lebih mirip sama Harley Queen dibanding Susan. Tapi Abel senang sekali mengatainya Susan hanya gara-gara suara cempreng yang sialnya dimiliki Renita. Cewek itu ingin protes pada Tuhan sekarang. Kenapa coba giliran dia diberi suara cempreng begini? Eh, hus! Nggak boleh menghujat Tuhan, lho! Itu namanya kamu nggak bersyukur, Re. Coba pikir, berkat suara cempreng itu kamu jadi dikenal oleh hampir seluruh orang di kampus. Itu prestasi, lho!
Pikiran Renita jadi melantur. Dia bahkan nggak sadar kalau kecepatan motornya sudah bertambah menjadi 70 km/jam. Dia juga nggak waspada. Seharusnya cewek itu mengurangi kecepatannya mendekati perempatan. Tapi karena pikirannya melantur, dia melaju begitu saja. Sebuah truk gandengan—nggak, ini sedang tegang suasananya, nggak ada pakai acara “Truk aja gandengan, masa lo nggak?” begitu—melaju dengan kecepatan tinggi dari arah lain. Saat motor Renita menyeberangi perempatan, truk itu menyambutnya. Keduanya seperti dua titik yang membentuk garis dan bertemu di satu sudut siku-siku.
Suara klakson keras terdengar merobek malam diikuti decit rem. Motor Renita terpelanting keras ke bahu jalan. Pengendaranya terlempar di lain arah.
Supir truk mengusap wajahnya. Degub jantung bertalu-talu. Dia beristighfar berkali-kali. “Gimana, Bang?” tanya kenek yang duduk di sampingnya.
“Gue nggak lihat tadi,” sahutnya, membuka pintu dan bergegas keluar. Diperiksanya tubuh Renita yang lemas bersimbah darah.
“Neng, Neng?” Supir truk mencoba membangunkan Renita, tapi cewek itu nggak merespon. Kedua matanya rapat terpejam.
“Panggil ambulans, Jo!” seru si supir pada keneknya yang barusan ikut turun. “Panggil ambulans, cepet!!!”
Joko, si kenek, buru-buru merogoh ponsel keluaran lama dari kantung bajunya. Tangannya gemetar memencet tombol. “Ha-halo?”
***
Bunyi klakson panjang memekakkan telinga Renita. Cewek itu tersadar dari lamunannya saat lampu terang menyorot tajam dari arah samping. Semuanya terjadi begitu cepat. Dia bahkan belum sempat berteriak ketika moncong truk melemparkan motor yang dikendarainya. Renita sendiri terpelanting cukup jauh. Kepalanya terantuk sesuatu sehingga terasa sakit sekali. Lalu semuanya gelap.
Hening.
Benar-benar hening.
Renita nggak biasa dengan suasana hening seperti ini. Dia juga nggak bisa melihat apa pun selain kegelapan yang ganjil. Lalu tubuhnya terasa ringan. Pelan-pelan, Renita merasa seolah-olah dirinya terangkat ke atas. Pernah meletakkan plastik di dasar bak berisi air? Pelan-pelan plastik itu akan terangkat ke permukaan. Nah, seperti itulah yang Renita rasakan sekarang. Sesaat tadi dia merasa seperti terjatuh di tempat paling bawah, lalu pelan-pelan terangkat ke permukaan.
Semakin mendekati permukaan, Renita bisa melihat hal lain selain kegelapan. Masih buram. Renita terus naik-melayang seperti plastik yang hendak mencapai permukaan air. Lalu dia merasakan sensasi dingin yang sangat menusuk. Begitu tiba-tiba seperti plastik yang melompati garis permukaan air. Dia terus naik dan pemandangan di sekitarnya semakin jelas terlihat. Dari sudut pandang yang ganjil.
Renita seperti melihat semuanya dari helikopter—tapi tanpa suara bising baling-baling pesawat capung itu. Dia melihat hiruk pikuk di bawah sana, tepatnya di tepi perempatan jalan tempat terakhir yang diingatnya tadi. Banyak orang berseliweran di sana. Ada polisi, paramedis, dan orang-orang yang sekadar menonton. Renita melihat motornya yang sudah remuk, dipinggirkan dan diperiksa oleh seorang polisi. Lalu dia melihat sesosok tubuh yang ditandu dan dimasukkan ke dalam ambulans.
Renita merasa dirinya ditarik—atau diremat, entahlah. Intinya dia merasa dirinya menyusut. Semakin kecil dan terjatuh pelan ditepi jalan. Bukan sebagai dirinya, tapi dalam wujud boneka kain.
Perasaan Renita nggak enak tiba-tiba. Dia merinding, tapi nggak ada bulu-bulu halus di tengkuknya yang menggelitik.
Diiringi rasa penasaran sekaligus nggak percaya, Renita mengangkat lengannya yang terbuat dari kain dan meraba pipinya. Dia benar-benar menjadi boneka!
Dia mencoba bangkit tapi kaki bonekanya nggak bisa menahan tubuhnya. Oh, Renita nggak percaya ini. Jangan bilang dia—
Nggak, nggak!
Renita menggeleng keras-keras. Sambil ngesot dia mencoba mendekat ke salah satu motor polisi yang diparkir nggak jauh darinya. Dia kepingin ngaca. Tapi spion mobil itu terlalu tinggi. Jadi Renita menyeret tubuhnya dan memanjat. Sambil bergelantungan, akhirnya Renita bisa juga mengaca.
Mata bulat, pipi tembem, bibir mungil, poni dan rambut panjang…. Ini nggak salah lagi. Renita sudah menjelma menjadi boneka susan. Ngesot pula!
Ya kali, Susan bisa jalan, kan malah aneh. Namanya boneka susan itu ke mana-mana ya digendong. Tapi please, deh, masa Renita harus ngesot juga? Dia, kan sudah jadi hantu sekarang? Setidaknya, mestinya dia bisa terbang, begitu.
“Lho, boneka siapa ini?” tanya seorang polisi ganteng pemilik motor tempat Renita bergelantungan. Polisi itu dengan enteng mengangkat boneka susan yang tersampir di spion motornya dan melemparkan begitu saja.
Renita mengaduh pelan—dengan suara yang sialnya tetap cempreng—ketika tubuhnya terempas ke trotoar. Dia mengingat-ingat kenapa dirinya bisa sampai terjebak di dalam tubuh boneka seperti ini.
“Sial,” gerutunya. “Ini pasti gara-gara sumpah serapah Abel yang nggak jelas tadi. Kok bisa banget manjur, sih? Dasar nenek sihir!”
Renita terus ngomel-ngomel sambil mengesot pergi. Setelah capek mengomel—dan ngesot, si boneka rebahan. Dia harus mencari cara untuk lepas dari kutukan ini. Sebuah lampu menyala di atas kepalanya. Bukan, itu bukan lampu yang nongol seperti saat tokoh utama mendapatkan ide di komik-komik begitu. Itu cuma lampu dari senter yang dipegang oleh seorang bapak-bapak petugas ronda.
“Ih, kok ada boneka jelek kucel begini, sih, di sini,” gerutu si tukang ronda. Diangkatnya boneka dekil yang tergeletak di jalan dan dia buang ke tong sampah. Lalu dengan santai lelaki itu melanjutkan langkah.
Si boneka yang baru saja dicemplungkan ke tempat sampah terbatuk-batuk. Dia misuh-misuh kemudian.
“Sial banget deh gue,” gerutunya seraya memanjat naik dan menjatuhkan diri keluar dari tempat sampah.
“Gue harus cari cara, deh,” ujarnya kemudian. Mendatangi Abel jelas nggak mungkin. Jadi dia akan mencoba meminta bantuan pada Iko saja. Semoga si cungkring mau menolongnya.
Renita pun mengesot ke arah rumah tempat Iko indekos yang jaraknya nggak bisa dibilang pendek. Iyalah…, Iko, kan, ngekos di dekat kampus! Nah, dari sini ke kampus saja Renita perlu sekitar lima belas menit pakai motor kecepatan 60 km/jam. Artinya, sekitar 15 km!
Hah, Renita nggak sanggup mengesot sejauh itu!
Renita punya ide. Dia kembali ke lokasi kecelakaan. Kalau beruntung, barang-barangnya akan masih ada di sana. Dia bisa menyelinap dan mengambil ponselnya—kalau itu belum rusak—lalu menghubungi Iko. Bingo!
***
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...