Pesta Barbeque
Iko menunduk. Ponsel di telinganya. Abel sedang menelepon, mengatakan kalau acara barbekyu nanti malam di rumahnya dibatalkan. Iko diam saja ketika Abel menyudahi obrolan dan memutus sambungan telepon. Dia mendongak sesudahnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Rencana kita berhasil,” ujarnya disambut ‘yes’ oleh Renita. Iya, Renita. Cewek absurd itu yang merencanakan ide gila ini—membuat Abel marah sejak kemarin, lalu memberinya kejutan ulang tahun nanti. Egi juga ada di sana, ikut menjadi tim sukses.
“Jadi, selanjutnya apa, nih?” tanya Iko. Dia sebenarnya agak ragu Abel mau memaafkan kelakuan mereka. Iko mengenal Abel sejak lama. Dia tahu cewek itu akan sulit memaafkan seseorang yang sudah membuatnya sedih. Kalau hanya kesal saja, Abel mudah memaafkan. Dia itu tipe cewek yang meledak-ledak. Kalau kesal, dia marah. Tapi, lalu sudah. Setelah puas mengomel-ngomel, dia akan kembali bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Tapi jika dia marah karena sedih dan kecewa, akan sulit baginya untuk memaafkan.
Nah, Renita juga sudah kenal Abel sejak lama. Sama seperti Iko, cewek itu mengenal Abel sejak SMP. Tapi, berbeda dengan Iko, Renita lebih sibuk dengan keabsurdannya. Sifat Renita yang nggak bisa diam dan selalu mencari hal-hal baru yang menurutnya ‘asyik’ itu, menjadikannya seseorang yang mudah bercerita, mudah bergaul, mudah melakukan apa saja, tapi… kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Iko juga memahami sifat Renita yang ini. Makanya, dia sedikit ragu dengan ide si cewek absurd kali ini.
“Oke, Ko?”
Iko mengerjap. Sesaat tadi dia melamun.
“Gimana?” tanya Renita lagi.
“Terserah lo aja, deh, Re,” jawab Iko. Toh, dia juga nggak ngerti-ngerti banget rencana Renita dan kejutan apa saja yang sudah cewek itu siapkan.
Renita mengangguk. “Oke, kalau gitu lo berangkat sekarang bareng temen-temen yang lain, ya. Nanti gue nyusul bareng Egi. Lo nggak apa-apa, kan, Gi?”
Egi mengacungkan jempolnya.
***
Suara bel pintu mengalihkan Abel dari keripik kentangnya. Cewek itu mengusap kasar wajahnya—menyapu jejak air mata—dan merangkak turun dari ranjang. Tisu bekas ingus dan kantung-kantung kosong bekas keripik kentang berserakan nggak keruan di kamarnya yang bernuansa merah jambu.
Bel pintu masih melengking-lengking di depan. Entah tamunya terlalu udik—kampungan—atau hanya kurang kerjaan sampai-sampai memencet bel berkali-kali begitu.
Abel menuruni tangga cepat-cepat. “Ya…,” sahutnya, berharap si pemencet bel mendengar suaranya dan berhenti menyiksa bel tak berdosa itu.
“Siapa, sih? Berisik banget!”
Abel membuka pintu dan melongo. Wajah-wajah konyol—sebagian cukup menakutkan sebenarnya—menatapnya di depan pintu. Lima, tujuh, entah ada berapa. Semuanya dengan bibir membentuk senyum lebar. Saking lebarnya, dan diperparah dengan riasan bibir ala Joker, sampai-sampai kelihatan seperti bibir mereka robek sampai ke telinga.
“Hai, Abeeelll…!” seru mereka bersamaan. Dan, sebelum Abel sempat bereaksi apa pun, masing-masing dari mereka memeluk Abel, menepuk, mencubit pipinya bergantian, dan menerobos masuk begitu saja.
“What the?” Abel bingung merespon makhluk-makhluk jejadian yang menyerbu rumahnya. Setelah mereka masuk, tersisa satu orang. Memakai tuksedo yang ujung-ujungnya koyak-koyak dan di beberapa bagian terbakar, topi ala detektif, dan riasan Joker seperti yang lain. Meski demikian, Abel sangat mengenalinya. Cowok. Cungkring. Kurus kering kerontang dan menjulang bak tiang listrik. Kacamata melorot di hidungnya.
Cowok itu mengedikkan bahu dan berkata, “Halo, Bel,” seraya menyerahkan kotak berbungkus kertas kado merah dengan pita merah jambu di tangannya.
Abel mengerjap. Si cungkring mengacak rambut Abel. “Sudah puas nangisnya?”
“Ikooo!” Abel merengut. Dicubitnya dada si cungkring keras-keras sampai cowok itu mengaduh kesakitan.
Setelah puas mencubit, Abel memeluk Iko tiba-tiba. Eh, sebenarnya menubruk, sih. Iko sampai terjengkang ke belakang. Kalau kamu pernah kejatuhan sekarung beras, seperti itulah rasanya. Iko membuat catatan baru sekarang: kalau kamu kurus nggak punya daging, jangan bikin cewek bertenaga gorila ngambek! Iko nggak sedang main-main. Percayalah, kamu bakalan gepeng kalau nekat melakukannya.
“Bel,” panggil Iko ngos-ngosan, “gue nggak kuat lagi….”
Eh? Kenapa adegan ini terasa horor, ya? Cepat-cepat Abel bangkit dan membantu Iko berdiri. Cewek itu kemudian menatap sekelilingnya.
Makhluk-makhluk jejadian sudah mengambil alih rumahnya. Mereka mengangkuti peralatan untuk barbekyu di halaman belakang. Sebagian menghambur ke dapur dan menyerbu kulkas. Sebagian yang lain bertebaran di sana sini, memakan keripik dengan barbar, atau berebut remote tivi. Tumpukan kado teronggok begitu saja di meja ruang tamu.
“Semoga lo nggak mangaka, ya, Bel,” kata Iko di samping Abel. Cowok itu nyengir lebar melihat tingkah barbar teman-teman mereka. Berkat cengirannya itu, dia benar-benar tampak seperti hehantuan di film-film Hollywood: pipi tirus, mata panda, muka pucat, riasan bibir yang seoalah-olah seperti robek sampai telinga.
Abel diam saja. Istilah ‘mangaka—marah ngamuk murka’ itu memang Iko yang memberinya.
“Bel, jagungnya manaaa?” teriak Indri, salah satu teman satu fakultas dengannya.
Abel bergegas mendekat setelah meletakkan kado dari Iko ke atas lemari. Senyum lebar merekah di bibirnya.
Acara bakar-bakar berlangsung cukup meriah. Iko mengeluarkan kembang api yang sudah disiapkannya dan menyalakan kembang api itu. Reno yang tergabung di band kampus memetik gitarnya. Beberapa anak menyanyi dengan suara yang campur aduk nggak jelas.
Meski terlihat nggak meyakinkan, mereka semua tertawa-tawa.
Abel mengedarkan pandangan menatap teman-temannya. Mereka semua tampak seperti hantu. Terlebih, dengan sinar api menyoroti mereka.
“Abeeelll!” Teriakan yang sangat dikenali Abel terdengar.
Abel menoleh. Dilihatnya Renita sudah berdiri di pintu menuju halaman belakang. Kedua tangannya membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin menyala. Tapi, fokus Abel terpaku pada cowok yang berdiri di samping Renita. Egi.
“Sori, ya, gue telat,” ujar Renita seraya mendekat. Dia terlihat kesulitan turun ke halaman dengan sepatu hak tinggi di kakinya. Egi membantu Renita dengan satu tangan memegangi lengan cewek itu dan tangan yang lain di pinggangnya.
“Selamat ulang tahun, Abel.” Renita mengangkat kue di tangannya setinggi hidung. Dia tersenyum manis sekali. Harley ‘Susan’ Queen KW10 itu yakin rencananya bakal sukses melihat kemeriahan pesta di halaman belakang rumah Abel. Tapi, tanpa disangka olehnya, Abel justru menampik keras kue di tangan Renita hingga terjatuh dan teronggok nelangsa di rerumputan.
Melihat reaksi Abel, suasana hening seketika. Iko dengan tanggap berdiri dan mendekat ke arah Abel.
“Teman macam apa lo?” cerca Abel murka. “Sahabat macam apa yang menusuk temennya dari belakang? Gue bener-bener nggak nyangka lo selicik itu.”
“Bel,” Iko memanggil, tapi Abel menepis tangannya.
“Diem, Ko!” salaknya. “Lo nggak usah ngebelain Renita. Dia nggak pantes lo bela. Lo juga diem, Gi!” Abel menatap galak pada Egi yang hendak menyahut. Membuat Egi langsung mengkeret.
Renita menatap Abel pias. Dia nggak menyangka Abel akan semarah itu dengan permainannya.
“Lo salah paham, Bel,” kata Renita. Dia terkikik. “Sini, deh, gue jelasin.”
Abel menampik uluran tangan Renita. “Salah paham, kata lo? Mau jelasin apa lagi, lo? Lo pikir gue bego gitu setelah semua kekonyolan yang lo lakuin selama ini?” Abel ngos-ngosan. Dia benar-benar sudah habis kesabaran sekarang. Lihat saja, setelah semua kelakuannya, Renita masih bisa terkikik begitu. Teman macam apa itu?
“Gue selama ini diem, ya, Re. Gue tahu lo emang absurd dari awal dan demi persahabatan kita, gue terima semua tingkah laku lo yang konyol sampai yang paling menyebalkan sekalipun. Tapi lama-lama lo semakin gila, Re. Lo nggak peka sama perasaan sahabat lo sendiri. Dan lo…,” Abel kehabisan kata-kata. Dia menarik napas panjang. “Lo sebaiknya pergi dari sini, Re!”
Renita bengong. Padahal rencananya, setelah membuat Abel cemburu, Renita akan membawa Egi ke pesta ulang tahun Abel dan mengatakan kalau mereka sengaja melakukan itu untuk memberi kejutan pada si penyuka warna merah jambu. Apa yang salah dari hal itu? Dia berusaha membuat sahabatnya senang. Dan ini yang didapatkannya? Bahkan Abel mengungkit semua hal yang pernah dilakukannya. Sekarang Renita yang kecewa dengan Abel.
“Nggak peka, lo bilang?” Renita tersenyum miris. “Lo pikir lo peka? Ngaca, dong, Bel. Lo itu pemarah, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit ngamuk. Lo pikir lo siapa? Lo nggak ngerasa selama ini lo udah bossy banget sama gue dan Iko? Dan lo bilang gue nggak peka? Ngaca, dong, lo! Dan sekarang setelah semua yang gue dan Iko lakuin buat bikin kejutan ulang tahun buat lo, lo malah marah-marah. Lo cemburu, gue dateng sama Egi? Asal lo tahu, ya, Bel, gue ngajak Egi ke sini buat lo. Karena lo cuma gede badan doang. Lo itu pengecut, Bel!”
Abel menampar Renita. “Sumpah, ya, Re, bahkan Susan aja ngomongnya masih lebih beradab daripada lo,” ujarnya. Air mata sudah mengalir deras di pipi chubby-nya. Cewek itu kemudian berlari ke dalam rumah. Sampai di bawah tangga, dia berbalik. “Pesta malam ini selesai. Gue minta kalian semua pergi. Gue mau sendiri.”
“Pengecut, lo, Bel!” teriak Renita. Dia berlari menyusul Abel.
Abel berbalik murka. “Gue sumpahin lo matinya nanti jadi arwah gentayangan, terus lo jadi boneka susan, ngesot pula!” raung Abel. “Pergi lo dari rumah gue. Gue nggak mau lihat muka lo lagi!”
Setelah menyumpahi Renita, Abel menaiki tangga cepat-cepat dan membanting pintu kamarnya dari dalam. Di bawah tangga, Renita tertawa miris. Teman-teman yang lain juga ada di sana, berpandangan satu sama lain. Iko di belakang hanya menghela napas. Dia sudah menduga ini akan terjadi.
***
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...