Kebohongan Renita
“Renitaaa…!!!”
Suara Abel melengking memenuhi kantin. Bahkan, saking melengkingnya suara cewek berbadan bongsor itu, kaca-kaca jendela sampai bergetar diikuti dengan suara ‘prang!’ keras. Bukan, itu bukan suara kaca yang pecah melainkan suara mangkuk bakso yang terjatuh hingga isinya tercecer mengenaskan di lantai.
“Abel!” tegur cowok yang tadinya memegang mangkuk bakso itu. “Bisa nggak, sih, nggak teriak-teriak? Gara-gara lo, gue jadi kehilangan makan siang gue, nih!”
“Diem lo, Boncel!” sahut Abel sambil melengos pergi.
Si cowok yang dipanggil Boncel mendecih sebal. Dia memandang dengan nelangsa baksonya yang tumpah ruah. Padahal, itu bakso dapat ngutang dari Ibu Kantin. Sekarang dia harus menahan lapar sampai pulang nanti. Rencananya, dia akan nebeng makan—lagi—sama teman sekosannya.
Mengabaikan si Boncel, Abel menggebrak meja di sudut belakang kantin. “Nggak usah sembunyi, deh!”
Dari bawah meja yang digebrak Abel, muncul seorang cewek berambut sebahu. Dia memegangi kepalanya yang barusan terantuk meja. “Eh, elo Bel,” ujarnya sambil cengengesan. “Udah kelar kelasnya?”
Abel cemberut dan mengempaskan pantatnya di kursi. “Lo sengaja, kan, ngubah nada dering ponsel gue?” tuduhnya tanpa tedeng aling-aling.
“Hah?” Renita melongo, tapi Abel hanya mengibaskan tangannya. “Nggak usah pura-pura, deh. Dasar Susan!”
Renita terkikik. Dia nggak keberatan dipanggil Susan. Suaranya memang cempreng tingkat dewi—bukan dewa, ya, Renita kan cewek!—meski secara fisik, sih, cewek ini yakin 200% kalau dia jauh lebih cakep daripada Susan. Dia punya mata sipit macam artis-artis Jepang, sementara Susan matanya belok. Renita tinggi, Susan pendek. Dia juga punya kaki jenjang yang sering bikin dirinya keserimpet-serimpet saat jalan, sementara Susan… jangankan kaki jenjang aduhai, boneka itu bahkan nggak bisa jalan! Iya, kan? Susan selalu digendong. Makanya Renita yakin dirinya lebih cakep daripada si boneka usil. Satu-satunya hal yang menyamakan keduanya adalah suara cempreng Renita dan keusilannya. Oke, itu dua hal.
“Serius, deh, Re,” kata Abel lagi. “Lo ngapain, sih, pakai iseng ngubah nada dering gue? Tadi itu gue lagi ada kuis. Mana ini kelasnya Pak Budi, lagi. Berkat lo, gue jadi diusir dari kelas.”
“Serius lo diusir?” tanya Renita. Dia nyengir lebar saat melihat anggukan Abel. “Pantesan lo bisa keluar lebih cepet.” Cewek itu makin ngakak saat Abel menimpuknya dengan selembar tisu. Ya elah, Bel, tisu selembar doang mana bikin sakit…. Kecuali kamu menimpuknya satu boks!
“Dasar Susan!” gerutu Abel. “Seneng banget lo ketawa di atas penderitaan gue.”
“Sori, sori…. Ya udah, sebagai permintaan maaf gue, lo gue traktir, deh.”
Wajah Abel berubah cerah macam ada bohlam menyala di kedua pipinya. Matanya berbinar-binar seperti baru mendapat hadiah semilyar.
“Gue tahu lo laper, kan, abis marah-marah. Hihi, sana pesen makan yang banyak.”
Abel berdiri. Tapi sebelum melangkah, dia memicingkan mata ke arah sohibnya sedari SMP itu. “Lo beneran traktir, kan? Nggak akan kabur, kan?”
“Iya, iya. Kapan, sih, gue bohong sama lo?”
“Sering!”
Kali ini Renita sukses ngakak sambil guling-guling. Benar-benar gegulingan. Cewek absurd itu melompat turun dari kursinya dan tertawa sambil memegangi perutnya.
“Dasar sarap!” umpat Abel sebelum berlalu. Renita abai. Dia masih tertawa sambil memegangi perutnya.
Sebuah telapak tangan mendarat di kening Renita nyaris membuat cewek itu terjengkang.
“Nggak panas,” gumam Iko si pemilik tangan. “Lo ngapain ketawa sampai segitunya?” tanya cowok cungkring kerempeng bin kering kerontang itu. Alisnya bertaut membentuk garis-garis manja di keningnya yang membuat siapa saja kepingin nabok. Sebuah kacamata yang selalu melorot bertengger di hidungnya. Iya, hidung, bukan mata. Eh, tunggu, kacamata kan nggak bisa nangkring di mata, ya? Oke sekip.
Cowok itu bernama Iko, anggota terakhir sekaligus paling ganteng di antara tiga sahabat yang memproklamasikan diri mereka sebagai Trio Ketoprak—keren, ngetop, dan antinorak—itu. Iya, Trio Ketoprak. Geng—yang nggak mau disebut geng—koplak itu beranggotakan Abel si gendut tembem bongsor pemarah, Renita si Harley ‘Susan’ Queen KW10, dan Iko si kurus kerempeng tinggi menjulang berkacamata minus sekian. Ketiganya kenal saat duduk di kelas yang sama sewaktu SMP, yaitu kelas 3C. Mereka bersahabat baik sejak saat itu.
Suatu ketika di siang hari saat ketiga insan beda segalanya itu berjalan tertatih-tatih karena kelaparan setelah mengikuti pelajaran tambahan—gara-gara nilai ketiganya jeblok, Abel melihat keajaiban. Keajaiban berwujud mamang-mamang berkaus entah-cokelat-entah-putih, memakai topi anyaman pandan dengan handuk lap di leher, dan mendorong gerobak ketoprak.
“Ketoprak!” seru Abel seketika saat itu. Dia pun langsung berlari menyerbu si tukang ketoprak, diikuti oleh Renita dan Iko. Ketiganya makan dengan barbar. Tak sampai tiga menit, tiga piring ketoprak porsi jumbo sudah habis mereka lahap. Abel bahkan nambah!
Setelah perut masing-masing terisi, ketiganya termenung menatap piring ketoprak yang kosong. Lalu, seolah bertelepati, ketiganya saling pandang.
Renita tersenyum. “Gue setuju!” Dia mengangguk yakin.
“Hah?” Abel dan Iko berpandangan. “Setuju apaan, Re?”
“Kelompok kita ini,” sahut Renita. “Kalian mau mengusulkan kalau nama kelompok kita adalah Trio Ketoprak, kan? Gue setuju.”
“Hah???” Abel dan Iko makin speechless. Kapan mereka ngomongin soal usul nama? Dan, apa-apaan nama ketoprak itu?
Tapi Renita sudah manggut-manggut sok paham. “Gue ngerti, kok. Kalian pasti sungkan, kan, mau ngungkapinnya. Nggak apa-apa, gue setuju, kok. Trio Ketoprak lumayan juga. Ketoprak. Keren, ngetop, antinorak. Oke deal!”
Abel dan Iko nggak bisa berkata-kata. Saat itu mereka belum lama kenal dan Renita terlihat sangat bersemangat. Mereka merasa kasihan ingin menolak. Maka, sejak saat itu mereka menjadi Trio Ketoprak. Siapa sangka, ternyata semangat Renita nggak pernah pudar. Bahkan, semakin hari cewek itu semakin absurd saja. Kalau Abel dan Iko ditanya kenapa mau berteman dengan cewek absurd itu, jawabannya… telanjur!
“Biasa, Ko, dia lagi kumat sarapnya.” Abel yang sudah kembali dengan semangkuk bakso porsi jumbo menyahut.
Iko mengikuti Abel duduk. “Ngapain lagi?” tanyanya, mencomot bakso di mangkuk Abel.
Si bongsor melotot gemas. “Balikin nggak tuh?” ancamnya mengacungkan garpu.
Mulut Iko yang sudah menganga lebar siap menampung bakso dengan terpaksa mingkem lagi. Abel itu kerjaannya marah-marah. Kayaknya, nggak ada hari tanpa mencak-mencak di hidupnya. Makanya selain Si Susan, Iko juga kadang menjahilinya. Tapi tentu saja, kejahilan Iko hanya sebatas mencomot makanan yang dipegang si bongsor atau nyeruput minumannya tanpa izin. Cowok yang lebih mirip tiang listrik itu bakal langsung mengkeret kalau Abel sudah melotot. Ya iyalah. Dibandingkan Abel yang sesempurna angka nol, Iko cuma segaris tipis angka satu. Pokoknya, kalau mereka lagi jalan berdua, mereka bakal terlihat persis seperti angka sepuluh. Nah, dengan perbedaan fisik yang mencolok begitu, Iko mana berani adu otot sama Abel. Bisa-bisa dia malah terempas ke tembok!
Berbeda dengan Iko, Renita sama sekali nggak ada tampang bersalah meski sudah usil. Cewek absurd yang mengaku masih saudara dengan Harley Queen gara-gara tanda cinta di pipinya itu sepertinya sudah karatan urat sarafnya. Ada saja tingkah-tingkah konyolnya yang kadang agak keterlaluan. Seperti mengganti nada dering ponsel Abel, misalnya. Ya, kalau lagu yang dipilih jenis lagu yang kalem mendayu-dayu begitu. Lha ini, sudah musiknya nggak jelas, nyanyinya pun cuma ‘wacaca caca caca’ gitu doang. Setidaknya, itu yang terdengar di telinga Abel.
Nah, tentu saja abel ngamuk. Sudah dasarnya si bongsor nggak suka musik macam begitu, eh ponselnya malah bunyi di saat yang nggak tepat. Pak Budi itu terkenal seantero kampus sebagai dosen super duper killer kuadrat dikali empat. Benar-benar saat itu Abel kepingin memutilasi cewek absurd bernama Renita yang sialnya adalah sahabatnya semenjak SMP itu!
Renita menguap lalu menengok jam di ponselnya. “Bosen, nih. Main, yuk!”
“Gue masih ada kelas,” sahut Iko. Abel ikut-ikutan mengangguk, dia lagi nggak bisa ngomong karena mulutnya penuh. Dan dia masih ada kelas.
“Ah, kalian nggak asyik!’’ Renita mengucapkan kata terakhir dengan ‘sy’ tebal ala si Ratu Dangdut. Cewek bertanda lahir model cinta di pipinya—sebenarnya tompel yang entah bagaimana sang malaikat melukisnya jadi berbentuk begitu—itu bangkit. “Kalau gitu gue duluan, deh. Daaah…!”
Melihat sahabatnya hendak pergi, Abel buru-buru menelan bakso di mulutnya. “Tungguin, Nyet!” seru Abel. Setelah terbatuk-batuk sebentar dan menyeruput jusnya untuk melegakan kerongkongan, dia melanjutkan, “Jangan main kabur, dong!”
Renita balas menatap heran. “Hah? Kan lo bilang nggak bisa main karena ada kelas.”
“Dasar Susan! Kan lo janji mau traktir gue. Nih, bayar dulu sebelum pergi.”
“Kok gue nggak ditraktir juga?” Iko nyerobot. “Gue ikut!” Si cungkring langsung memelesat ke depan dan memesan semangkuk bakso porsi jumbo. Dia kembali beberapa saat kemudian sambil cengengesan.
Renita mendengus. “Makan sebanyak itu, kok lo bisa tetep cungkring, sih.”
“Lo nyindir gue?” Di luar dugaan, Abel yang emang dasar sifatnya gampang kesetrum itu sewot. Memang, masalah berat badan selalu sensitif bagi Abel. Padahal, baik Iko maupun Renita nggak menganggap itu sebagai kekurangan. Ya, jelas, itu kelebihan Abel. Kelebihan daging dan lemak. Eh, enggak ding. Renita dan Iko serius, kok, nggak mempermasalahkan itu. Mereka berdua menerima Abel apa adanya. Mereka tetap sayang, kok. Meski sering jahil.Abel ngambek. Benar-benar ngambek. Dan kalau cewek chubby itu ngambek, bisa terjadi gempa lokal. Serius, langkah-langkahnya yang penuh tenaga sebagai pelampiasan amarahnya itu selalu sukses menciptakan getaran-getaran nggak nyaman. Ya, seperti getaran-getaran di dada penduduk kosan saat Ibu Kos mulai menagih tunggakan kamar yang sudah beberapa bulan nggak dibayar. Getarannya persis seperti itu. Membuat siapa pun yang sedang berada di sekitarnya melipir dan cepat-cepat menyingkir.
Iko juga sama. Melihat bahaya mengancam jiwanya, cowok yang sulit dibedakan kalau sedang berdiri di dekat tiang listrik itu langsung melipir. Meski bersahabat, dia nggak mau kalau harus jadi tumbal. Nggak. Iko masih ingin menikmati masa-masa mudanya. Apalagi dia belum menikah. Atau setidaknya pacaran, lah. Iko masih kepingin pakai kaus couple, kepingin makan es krim semangkuk berdua, beli gula kapas satu untuk berdua, makan sepiring berdua… pokoknya semuanya berdua, deh. Biar hemat begitu. Karena dengar-dengar, biaya untuk pacaran itu mahal.
Iko dengar dari teman-temannya. Kalau apel setiap malam minggu, harus bawa hadiah. Cokelat, kek. Bunga, kek. Gorengan dari gang depan, kek. Pokoknya harus bawa sesuatu, nggak boleh tangan kosong. Belum lagi kalau si cewek ngajak ke mall, belanja ini itu, makan di restoran ini atau kafe itu, terus dua minggu sekali nonton di bioskop. Filmnya harus yang romantis, yang penuh cinta dan adegan tangis-menangis. Dan kalau ceweknya cantik, hobi dandan pula, maka sebulan sekali perlu ke salon atau spa. Hah, Iko mana bisa begitu.
Balik lagi ke Abel yang marah-marah. Kenapa dia sampai ngambek begitu? Coba tebak!
Ya, siapa lagi kalau bukan Renita yang jadi biang keroknya? Entah kapan cewek absurd itu akan insaf dan kembali ke jalan yang benar. Sejak kemarin cewek yang selalu mengaku-ngaku bersaudara dengan Harley Queen—sekali lagi, karena tompel berbentuk lambang hati di pipinya—itu sudah iseng. Kemarin sore saat Trio Ketoprak nonton bareng film horor di bioskop, saat adegan sedang tegang dan hantunya muncul tiba-tiba, Renita bukannya terkejut seperti yang lain, tapi malah tertawa ngakak sampai terpingkal-pingkal. Please, deh, Re. Itu adegan tegang, lho. Hantunya nongol tiba-tiba. Mukanya yang pucat menyeramkan dengan luka-luka menganga, mata kosong, dan rambut awut-awutan itu seharusnya bikin kamu takut. Atau setidaknya terkejut, kek. Tapi Renita bukanlah cewek normal. Dari awal dia sudah absurd, nggak masuk akal, nggak jelas.
“Tapi itu tadi lucu banget, Bel,” kata Renita membela diri. “Lo nggak lihat tadi si hantu itu bedakannya tebel banget? Dia kayak geisha salah pakai eyeshadow di jidat, pakai lipstik di pipi, dan habis putus cinta makanya celaknya meleber ke mana-mana begitu.”
Abel menoyor jidat Renita. “Tapi gara-gara imajinasi nggak jelas lo itu bikin kita diusir dari dalam, Nyet!”
Renita mengusap keningnya. Dia sudah akan mengajukan argumen tambahan saat Iko bergerak di antara dirinya dan Abel.
“Udah, deh,” lerai si cungkring. “Daripada ribut, mending kita makan. Gue udah laper, nih.”
Abel masih sebal, tapi mendengar kata makan membuatnya lapar. Dengan segera cewek itu mengiyakan ajakan Iko. Dengan langkah-langkah lebar, kedua kakinya yang berbalut sepatu sport merah jambu mengikuti Iko ke salah satu food court. Renita? Dia sudah ngacir duluan.
Sepulang dari sana, bentrokan-bentrokan kecil terus terjadi antara Abel dan Renita. Misalnya saja, saat Renita dengan tanpa bersalah membuang tisu penuh ingus ke bawah jok mobil. Atau, memakan snack dengan cara barbar sampai remah-remahnya berjatuhan di jok mobil.
Abel itu sangat peduli pada kebersihan. Apalagi kebersihan mobilnya. Dan Renita kenal Abel sejak lama. Cewek itu tahu benar apa yang disukai dan tidak disukai oleh sahabatnya. Maka mengherankan kalau tiba-tiba si Harley Queen KW10 ini bertingkah demikian. Seolah-olah Renita memang sengaja membuat Abel kesal.
Pagi ini, kekesalan Abel meningkat sekian kuadrat. Hampir saja Iko jadi bahan pelampiasan kemarahannya. Untung Iko cepat-cepat melipir kabur. Telat sedikit saja, bisa-bisa dia sudah jadi Iko penyet. Gepeng dan teronggok mengenaskan.
Kali ini Renita bukan sekadar membuat gaduh di dalam bioskop atau mengotori mobilnya, tapi sudah benar-benar keterlaluan. Padahal sore nanti Abel berulang tahun. Renita berjanji kemarin akan menemaninya memesan kue ulang tahun dan berbelanja beberapa hal seperti jagung manis dan sebagainya, sementara Iko menyiapkan kembang api. Mereka bertiga akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Abel.
Ritual ini sudah mereka lakukan sejak bertahun-tahun lalu. Tapi dasar Susan. Pagi ini dia menelepon Abel dan mengatakan kalau harus pergi ke acara teman sekelasnya—entah acara apa dan siapa, Renita nggak mau ngaku. Makanya Abel dongkol setengah murka. Bayangkan saja, dibanding teman sekelas Renita yang entah siapa itu, dirinya jelas-jelas sudah bersahabat dengan si Harley Queen KW10 sejak lama. Bisa-bisanya makhluk bersuara cempreng bak boneka susan itu dengan tidak tahu diri lebih memilih main sama teman kampus yang baru dikenalnya belakangan. Jelas saja Abel ngambek!
Apalagi, Renita sama sekali nggak terlihat—atau ‘terdengar’ karena mereka ngobrol lewat telepon—merasa bersalah sudah melakukan itu.
“Ya elah, Bel, gitu aja lo ngambek, sih. Gue juga cuma sebentar ini perginya. Nanti gue ke rumah lo, gue temenin lo sepuasnya. Gue temenin tidur juga, deh!” Begitu kata Renita, yang sukses membuat Abel semakin murka dan dengan penuh dendam memencet tombol end call.
***
Abel gegana—gelisah, galau, merana. Bolak-balik dia tengok jam di ponselnya. Pukul 3 sore. Pukul 4.
Pukul 5.
Sampai pukul 6, baik Iko maupun Renita nggak ada yang nongol bahkan ujung hidung mereka sekalipun. Abel sudah berubah dari gegana menjadi mangaka sekarang. Bukan mangaka yang kerjaannya membuat komik Jepang itu, tapi marah-ngambek-murka.
Sejak pukul 2 siang tadi, Abel sudah bersemangat menyiapkan segala sesuatunya. Iya, dia sudah nggak ngambek lagi karena Renita menelepon dan bilang kalau dia nggak jadi pergi sama temannya. Iko juga kirim BBM kalau dia sudah siap dengan kembang apinya dan sebentar lagi meluncur ke rumah Abel. Eh, maksudnya naik motor butut ke rumah Abel, bukan naik roket kembang api terus meluncur ke rumah si cewek ambekan.
Mendapat kabar bagus dari dua sahabatnya, tentu saja membuat Abel jadi bersemangat. Dia siapkan segala sesuatunya, dari menggotong meja ke halaman belakang, menyeret pemanggang, mengangkuti kursi… semua dia lakukan seorang diri. Bukannya dia nggak mau minta bantuan, tapi memang nggak ada yang bisa dimintai tolong saat itu. Mama dan Papa sedang ada urusan di Singapura. Mama nggak mempekerjakan asisten rumah tangga. Katanya biar mereka mandiri. Dan, meski ada tukang kebun, Pak Bono hanya datang di pagi dan sore hari. Pukul 7 pagi dan pukul 4 sore. Praktis Abel sendirian di rumah.
Untungnya, Abel punya kelebihan. Dia bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki seperti angkut-angkut barang dan sebagainya. Dan, tentu saja, kelebihan lainnya ada pada tumpukan lemak di balik kulitnya. Oke, abaikan yang terakhir. Mari kembali ke Abel yang lagi mangaka—marah, ngambek, murka.
Pukul 2.40 tadi Renita SMS, dia kena macet katanya. Selang beberapa belas menit kemudian ganti Iko menelepon, sebelah sepatunya nggak ketemu. Entah keselip di mana. Dan karena itu sepatu kesayangannya—lagaknya ngomong begitu, padahal nyatanya sepatu butut itu memang sepatu milik dia satu-satunya—maka Iko perlu mencarinya dulu. Singkatnya, dia bakal telat ke rumah Abel.
Abel kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Kedua sahabatnya itu juga sedang kesulitan sekarang. Abel nggak mau membuat mereka merasa nggak dihargai kalau dia marah, padahal mereka sudah berusaha buat dia. Jadi dia bersedia menunggu.
Sambil menunggu kedua sahabatnya datang, Abel menonton film. Sekantung besar keripik kentang menjadi saksi bisu ketika cewek bongsor itu menangis meraung-raung melihat adegan film yang menyedihkan. Kalau saja kantung keripik itu punya telinga, telinganya pasti berdenging dan berpotensi tuli mendengar raungan Abel yang melengking manja mengalahkan lengkingan kucing saat sedang bercintaaah. Dan, kalau kantung itu punya dua tangan juga, dia pasti akan menutup telinganya rapat-rapat. Atau jika tidak, menyumpal mulut Abel dengan keripik kentang sebanyak-banyaknya agar nggak bisa meraung lagi. Sayangnya, kantung keripik itu hanyalah kantung biasa. Jadi pasrah saja menerima nasib.
Saat keripik kentangnya ludes, Abel mulai bosan. Filmnya mulai membosankan dan dia juga sudah mulai bosan menunggu. Beberapa kali dia menguap. Setelah entah berapa belas kali menguap, dia nggak sadarkan diri. Bukan, bukan pingsan. Hanya ketiduran.
Abel mimpi aneh. Awalnya dia sedang merayakan pesta ulang tahunnya. Banyak sekali yang datang untuk memberi ucapan selamat. Tapi, ketika dia hendak meniup lilin, tiba-tiba terdengar suara bising yang memekakkan telinga. Lalu Dr. Spock datang. Alien bertelinga runcing itu tersenyum miring. Di tangannya, sebuah gergaji besi memutar dengan ganas.
Abel membuka mata seketika. Suara bising gergaji dalam mimpinya masih terdengar. Eh, apa dia masih bermimpi? Abel mengerjap-ngerjap lalu menutup mata rapat-rapat. Dia miring, mencari posisi nyaman agar mimpinya berganti. Tapi suara bising itu tetap terdengar. Abel bangkit. Dia mengingat-ingat. Suara itu terdengar seperti suara mesin pemotong rumput. Arahnya dari halaman belakang.
Oh, rupanya Pak Bono sudah datang dan saat ini sedang memotong rumput di halaman belakang.
Abel menengok ponselnya. Pukul 4.30 sore.
Si bongsor memutuskan ke kamar mandi dan makan. Eh, enggak ding. Dia mau mandi. Selesai mandi, Abel mengecek ponselnya. Nggak ada jejak missed call baik dari Renita maupun Iko. Mereka juga nggak kirim pesan. Sekarang hampir pukul 5 sore dan keduanya masih nggak ketahuan rimbanya.
Abel menengok ke halaman belakang melalui jendela. Dia menepuk jidatnya kemudian. Kalau rumput di halaman belakang dipotong, lalu bagaimana dengan peralatan pestanya? Cepat-cepat cewek itu mengecek ke belakang. Dan benar saja, Pak Bono sudah mengangkuti kembali barang-barang yang sebelumnya disiapkan Abel ke dalam rumah. Pria itu sekarang sedang menyapu dan memasukkan potongan-potongan rumput ke tong sampah.
Saat Abel hendak meneriaki Pak Bono, ponsel di genggamannya bergetar diikuti suara Isyana Saravati menyanyikan reffrain lagu Cinta Pertama. Abel menengok nama yang terpampang di layar ponselnya. Egi.
Si pipi chubby mengernyit. “Ya?” ujarnya menempelkan ponsel di telinganya.
“Halo, Bel?” Suara Egi di seberang terdengar. “Ini, tadi si Re abis bantuin gue bikin tugas. Terus dia dapet telepon dan buru-buru pergi. Eh, ponselnya malah ketinggalan sama gue. Barusan gue ke rumahnya tapi katanya dia belum pulang. Makanya gue nelepon lo. Renita ada, Bel? Gue mau nganterin ponselnya, nih.”
Perasaan Abel nggak enak tiba-tiba. “Renita sama lo? Sejak kapan?”
“Ya sejak pulang dari kampus tadi, lah. Baru setengah jam tadi dia pamitan sama gue, katanya ada urusan penting begitu.”
Oh, bagus. Si Susan mulai pinter ngibul sekarang. Demi apa coba dia bilang mau datang kalau ternyata malah kencan?
“Sori, Gi. Renita nggak sama gue.” Tut. Abel memutus sambungan telepon. Dia tersenyum miris sekarang. Ternyata begitu, toh, kelakuan Renita di belakangnya. Abel benar-benar nggak menyangka.
Egi itu teman sekelas Renita di kampus. Dan Abel naksir sama dia. Renita seharusnya tahu itu. Apa itu alasan Renita berbohong padanya? Abel benar-benar nggak percaya ini. Dia masuk kembali ke rumah, sudah nggak ada minat untuk acara barbekyu nanti malam.
“Halo, Ko?” Abel menelepon Iko. Di seberang sana suara Iko terdengar panik. “Enggak, kok, nggak apa-apa,” kata Abel lagi. “Acara nanti malem, batal aja. Iya, nggak apa-apa, kok. Oke, bai.”
***
Other Stories
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...