Susan Ngesot Reborn

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Mega Yohana

Rahasia Abel

Nico melompat-lompat. Sesekali dia berhenti untuk istirahat. Dedemit itu sudah melompat jauh sekali. Dia lelah.
Sebenarnya, sebagai hantu Nico bisa saja menghilang atau terbang. Tapi dia nggak mau merusak gelarnya sebagai Pocong Kredibel.
“Pocong itu ya melompat!” katanya kukuh. Pendapat yang muncul berdasarkan film-film hantu itu menunjukkan kalau si hantu bungkus merupakan korban film semasa dia hidup. Dedemit cowok itu sangat terobsesi menunjukkan kalau pocong itu melompat, bukan menghilang atau terbang. Benar-benar pemikiran nyeleneh si hantu yang jelas-jelas sudah tahu kebenarannya.
Nico melewati jalan-jalan perumahan. Beberapa kali dia bertemu manusia—yang langsung berteriak histeris dan melarikan diri.
Biasanya Nico iseng. Dia akan mengejar manusia yang ketakutan itu dan bermain-main dengannya. Tapi sekarang dia sedang nggak nafsu. Melompat-lompat saja dia lakukan tanpa semangat, kok!
Sampai di sebuah rumah, Nico berbelok. Dia terus melompat menuju halaman belakang.
“Lo datang, Bang?”
Sebuah suara menegur. Cewek. Bulat. Memakai piyama merah jambu.
“Hai, Bel,” sapa Nico. Dia duduk di sebuah kursi santai dan berselonjoran—meski tetap terbungkus.
“Jadi?”
“Kalah.”
“Hm….”
Abel berjongkok di samping abangnya.
“Lo sedih?”
Nico mengedikkan bahu. “Gue kecewa.”
“Karena?”
“Renita sendiri yang mengingikan gue kalah.”
Si hantu bungkus tersenyum miris. Dia lalu mulai menceritakan soal duelnya dengan Iko tempo hari. Waktu itu Nico yakin menang. Dia nggak nyangka Renita akan mengumpankan dirinya agar Nico kehilangan konsentrasi dan memberi kesempatan pada Iko untuk memukul.
Nico nggak masalah jika dia kalah dengan cara yang adil. Tapi Renita membuatnya berpikir. Perbuatan Renita jelas sekali menunjukkan kalau dia tidak ingin Nico memenangkan duel taruhan itu. Si boneka susan nggak ingin Nico mendekatinya. Ini yang membuat si hantu bungkus dilanda kecewa.
Padahal Nico yakin Renita juga menyukainya. Nico tahu bagaimana si boneka susan kerap kali mencuri-curi pandang ke arahnya. Bahkan ketika dia bertingkah konyol pun Renita nggak meninggalkannya. Renita itu tsundere. Jelas sekali di mata Nico. Makanya…, dia nggak nyangka kalau si boneka susan akan melakukan itu di pertandingan.
“Terus sekarang lo gimana?” tanya Abel.
“Ya, nggak gimana-gimana.”
“Renita?”
Nico lagi-lagi mengedikkan bahu.
“Lo nggak ketemu lagi sama dia sejak duel?”
“Perjanjiannya, kalau gue kalah gue harus jauhin Renita.”
“Tapi bukan berarti nggak menemui, kan?”
Nico menatap adiknya. Senyum mengembang di bibir si Pocong Kredibel. Dia lalu mengeluarkan tangannya dari bungkusan dan mengacak rambut Abel.
Abel merengut. Dia punya rambut keriting yang gampang kusut. Dan kalau sudah kusut, sulit sekali menyisirnya. Kadang kepalanya malah sakit karena rambut yang tertarik-tarik.
“Udah, balik sana!” usir Abel.
Nico nyengir. Dia lalu berdiri dan melompat pergi. Tinggal Abel sekarang seorang diri. Cewek bertubuh jumbo itu menyentuh kepalanya. Sudah lama sekali abangnya tidak melakukan itu.
Abel tersenyum. Setetes air terjatuh dari sudut matanya.
“Abel.”
Spontan Abel menoleh. Iko keluar dari balik bayang-bayang. Tatapannya lurus menancap ke arah si cewek bongsor.
“Lo… lihat?” tanya Abel ragu.
***
“Gue nggak nyangka,” kata Iko memulai, “hantu bungkus itu ternyata abang lo.”
“Yeah…, gue nggak perlu kacamata ajaib lo untuk bisa lihat abang gue. Lo tahu, kan, hantu terkadang bisa menampakkan wujud mereka kepada orang-orang tertentu.”
Abel nyengir. Dia lalu menghela napas. Mereka berdua duduk di teras belakang sekarang.
“Abang meninggal sewaktu gue masih kelas 1 SMP. Jarak umur kami memang agak jauh. Waktu itu dia udah kuliah, Semester 3.”
Iko mengangguk-angguk. “Meninggal kenapa?”
“Jantungnya bocor.” Abel tersenyum miris. “Kata Mama, itu karena dia sayang banget sama gue, sama Mama, dan Papa.”
“Kenapa nggak pernah cerita?”
“Buat?”
“Biar kami tahu.”
“Nggak akan ada yang berubah, Ko.”
Abel menyerahkan segelas jus jeruk kepada Iko.
“Waktu kita kenal, itu sudah dua tahun setelah abang gue meninggal. Mama sama Papa menyimpan semua hal yang berkaitan dengan Abang. Foto-foto, pakaian, bahkan sekadar pernak-pernik pun nggak ada yang mereka sisakan.”
Si cewek bongsor menyeruput jusnya dan melanjutkan, “Waktu bertemu dengan Renita, gue inget abang gue. Mereka berdua mirip. Sama-sama absurd, konyol, nggak jelas. Tukang rusuh. Biang onar….”
Iko menyentuh pundak Abel. Menenangkannya.
Abel tersenyum. “Gue menyayangi Renita seperti gue menyayangi abang gue.”
“Dan lo kecewa?” Iko bertanya hati-hati.
Abel mengangguk. Mengingat kembali pesta ulang tahunnya yang berantakan. Pertengkarannya dengan Renita. Semua hal sebelum itu. Sesudahnya. Semuanya.
Iko menarik napas panjang dan mengembuskannya. Dia menyisihkan gelas-gelas jus yang terletak di antara dirinya dan Abel lalu bergeser. Direngkuhnya bahu Abel. Meski tangannya agak nggak sampai, meski ada kemungkinan dia bakal ambruk kalau Abel menyandarkan badan besarnya, cowok cungkring itu tetap merengkuh Abel. Tanpa kata.

Other Stories
Desa Seribu Sesajen

"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...

Daisy’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Download Titik & Koma