Teman Baru
Renita mengesot pelan ke pinggir trotoar. Sejak menjadi boneka susan—yang sudah berjalan sekitar dua minggu, kerjaan Renita hanya mengesot ke sana kemari. Di siang hari dia bersembunyi di bawah sesemakan di samping dalam trotoar. Pada malam hari, dia berkeliaran di sekitar perempatan tempatnya kecelakaan dulu. Renita paling apes kalau nggak sengaja berpapasan dengan manusia. Ya, sebagai boneka susan, manusia bisa melihat sosoknya. Tapi bukannya mereka yang takut ketemu si boneka, justru Renita yang kerap terbirit-birit mengesot menjauh. Pasalnya, tiap kali ketemu manusia, Renita selalu sial. Dia pernah dilemparkan ke tempat sampah, ditendang, bahkan diinjak.
Pada seminggu pertama, jiwa Renita benar-benar tersiksa. Kalau dulu semasa hidup dia kerap menjahili teman-temannya, kini ganti dirinya yang menjadi bulan-bulanan. Memikirkan itu membuat Renita nelangsa.
Tap… tap… tap…!
Terdengar suara melompat-lompat dengan teratur.
Renita memutar mata bonekanya. Ini keapesan yang lebih apes daripada bertemu manusia. Percuma saja Renita mengesot kabur, dia nggak akan sempat. Coba kalau dia berubah jadi suster ngesot begitu, setidaknya ukuran tubuhnya tetap normal, jadi dia bisa cepat kabur. Sayangnya dia mengkeret jadi boneka seukuran seperlima kali ukuran manusia. Artinya, paling banter ngesotnya pun hanya seperlima kali kecepatan ngesotnya si suster ngesot.
Tap… tap… tap…!
Suara melompat itu terdengar kian mendekat.
“Hai, Susan,” sapa si pemilik lompatan, dedemit cowok yang terbungkus kain kafan dekil dengan tali di bagian kaki, perut, dan atas kepalanya. Persis seperti permen jadul. Atau mungkin lemper, ya? Lemper, kan, juga dibungkus. Duh, Renita jadi kepingin makan lemper. Sudah lama dia nggak menikmati rasanya penganan yang terbuat dari ketan dan diisi daging itu.
“Halo, Nico.” Susan membalas sapa si hantu bungkus dengan senyum basa-basi. Iya, nama dedemit itu memang Nico. Kayak lebih keren namanya, ya, dibanding wujudnya. Hah!
Nico yang mendapat senyum dari Renita langsung girang. Dia melompat mendekat cepat-cepat. Saking ingin segera sampai, kakinya keserimpet kain kafannya dan… bruk! Si hantu bungkus sukses mencium trotoar.
Nico membalik tubuhnya dan berusaha bangun. Tapi karena kedua kakinya terikat dan tangannya juga tersembunyi di dalam bungkusan kain kafan, yang bisa dia lakukan hanyalah klogat-kloget alias menggeliat-geliat nggak jelas. Dia tekuk tubuhnya lalu renggangkan, berusaha bangkit. Begitu seterusnya sampai sepuluh menit berlalu.
Renita menguap. Sebagai hantu susan ngesot, dia juga bisa merasa bosan.
“Udah, deh, Nic, lepasin aja tuh tali.”
“Tapi gue ini pocong, San,” sahut Nico masih menggeliat-geliat. Persis seperti cacing lagi jejogedan dangdut.
“Gue harus konsisten, dong. Ini demi kredibilitas. Kalau gue lepas, nanti gue jadi nggak kredibel, dong!”
Renita memutar mata. “Tapi lo kelihatan kayak ulat bulu yang lagi kepanasan di jalan beraspal. Lagian mau sampai kapan lo meliuk-liuk begitu? Kalau masih lama, mending gue pergi, deh.”
“Eh jangan!” Cepat-cepat Nico mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam kain yang membungkus dirinya dan melepaskan ikatan di kakinya. “Nih, gue lepas, nih. Jangan pergi, dong. Lo, kan, temen baru gue setelah sekian lama gue gentayangan sepocong diri….”
Dengan cepat Nico bangkit dan merapikan kembali bungkusan kainnya.
Renita mendengus. Begitu, kek, dari tadi! Pakai ngomong soal kedibilitas segala. Mau jadi politikus, Pak? Nggak cocok! Lebih cocok jadi tikus beneran.
Nico ini dedemit yang cukup beruntung. Dia meninggal karena sakit dan arwahnya menjelma menjadi pocong gara-gara si tukang kubur lupa melepas tali pocongnya. Sebagai pocong, dia bisa berkelana ke mana saja. Dia juga mendapat kemampuan.
Dia bisa terbang ke mana pun dia suka. Hanya saja kelakuannya sering kali aneh-aneh. Dia ngotot melompat-lompat hanya karena menurutnya manusia percaya kalau pocong itu cara jalannya ya melompat. Buktinya di film-film begitu, katanya. Dia juga suka keukeuh untuk nggak melepas ikatan kainnya kalau sedang terjatuh seperti yang baru saja terjadi. Katanya, pocong itu ya pocong. Jalannya melompat. Nggak bisa bangun kalau sudah terjatuh.
Padahal Nico bisa terbang. Bisa melepas ikatan kainnya. Bahkan bisa berjalan biasa. Tapi dia sering menolak. Nggak kredibel, katanya.
Renata sendiri baru sekitar seminggu kenal dengan Nico. Saat itu si susan lagi apes banget. Dia ketemu nenek-nenek yang sudah uzur, galak pula. Nenek-nenek itu mengira Renita adalah cucunya yang kabur dari rumah dan main malam-malam. Dia menaboki pantat boneka Renita lalu menyeretnya hendak dibawa pulang. Dia juga ngomel-ngomel terus sepanjang jalan.
Saat itu, kebetulan Nico sedang lewat. Dia melompat-lompat sambil main smartphone. Si hantu bungkus nggak melihat nenek-nenek itu. Dia menabraknya begitu saja. Si nenek awalnya hendak mengomel. Tapi begitu melihat wujud Nico, dia langsung lari terbirit-birit.
Saat itu, saking senangnya sudah terbebas dari si nenek galak, Renita langsung nemplok ke kaki si hantu bungkus dan berterima kasih sebanyak-banyaknya.
Nico kaget sekaligus senang karena ternyata boneka yang diseret nenek-nenek galak itu adalah dedemit seperti dirinya. Dia langsung menobatkan diri menjadi sahabat semati Renita—yang dia panggil Susan lantaran wujudnya. Dan keapesan Renita terus berlanjut selama Nico berada di sekitarnya.
“Jadi,” Nico duduk di samping Renita, sengaja dekat-dekat. “Lo lagi ngapain, nih?”
“Nggak lihat gue lagi apa?” Susan—eh, Renita jadi galak sekarang. Sejak gentayangan dalam wujud boneka susan, dia sama sekali nggak tenang. Dia kangen hari-hari ketika dirinya bisa mengusili teman-temannya, terutama Abel dan Iko. Ah, andai dia bisa pergi dari lokasi kecelakaan ini, pasti Renita sudah mendatangi mereka satu per satu. Sayangnya dia hanya bisa pergi sejauh radius 500 meter saja dari perempatan tempat nyawanya melayang tempo hari.
Nico ngenyir. “Galak bener, sih,” candanya. Dia menatap langit kemudian. “Langit itu indah, ya, San. Waktu masih hidup, lo pernah nggak malam-malam ngelihatin langit begini?”
Renita mengedikkan bahu. “Biasanya gue molor sejak abis isya’, sih. Bangun-bangun udah pagi.”
“Hah? Apa enaknya lansung molor begitu?” Nico nggak percaya zaman sekarang ini masih ada cewek yang memilih molor selepas isya’.
“Hidup lo pasti ngebosenin, ya, San.” Nico manggut-manggut sok tahu.
“Nggak, lah,” sahut Renita. “Gue malah terkenal jadi si biang keladi, badut kelas, penyemarak pesta, dan lain-lain.”
Nico menatap Renita nggak percaya. “Masa sih begitu?” tanyanya nggak yakin. “Lo kan judes, San!”
Susan—eh, Renita meninju pelan lengan Nico. “Enak aja. Begini-begini gue termasuk cewek paling ramah seantero kampus, tau?!”
“Ramah dari mana? Galak begitu!”
Renita mendengus kesal. Dia jadi mengenang masa-masa dirinya masih cewek kece yang sebelas-dua belas sama Harley Queen, dengan ide-ide cemerlang yang selalu menyemarakkan hari-hari Trio Ketoprak—keren, ngetop, dan antinorak—bareng Iko dan Abel.
Nico masih geleng-geleng sambil tertawa. Dia benar-benar nggak bisa membayangkan si susan sewaktu jadi manusia. Oh, dia jadi kepingin lihat Susan versi manusia. Dipandanginya dedemit berwujud boneka susan yang kini rebahan di trotoar dan menatap langit.
“Gue rasa gue naksir lo, deh, San.” Nico berkata spontan. “Pacaran, yuk!”
Renita terbatuk. Dia nggak tersedak sebenarnya. Cewek itu cuma berlagak menirukan adegan di film-film ketika tokoh utama sedang kaget.
“Hati-hati, San.” Nico menepuk punggung boneka Renita. Maksudnya, sih, mau membantu melegakan biar si boneka susan nggak batuk-batuk lagi. Tapi hantu bungkus itu menepuknya kebangetan sampai-sampai Renita justru terlempar ke jalanan. Untung saja hari sudah larut dan jalanan sepi. Kalau sedang ramai, pasti si boneka susan sudah nggak berbentuk lagi karena terlindas-lindas kendaraan yang lewat.
“Ups!” Nico memekik pelan. Dia segera berdiri hendak melompat menolong Renita, tapi lagi-lagi kakinya keserimpet dan dimulai lagi-lah adegan hantu bungkus menggeliat-geliat bak cacing lagi joged dangdut.
Renita mendengus kesal. Dia mengesot menjauhi si dedemit absurd. Untuk sementara, Renita kepingin menghindari dedemit cowok itu.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...