Keputusan Abel
Mimpi Iko dibuyarkan oleh dering ponselnya. Dengan malas cowok itu meraba-raba kacamatanya di nakas lalu meraih ponselnya. Terpampang nama ‘Susan Absurd’ di layar ponselnya. Iko melihat jam di sudut atas layar, pukul 11.25. Ngapain si cempreng meneleponnya?
“Halo, Re,” sapa Iko. Dia mengernyit saat mendengar suara Renita di seberang. Terdengar semakin cempreng dan mencicit, seolah Renita menjadi sangat kecil.
“Lo ngomong apa? Nggak jelas, nih?”
Kedua alis Iko tertaut. “Hah?” tanyanya. “Lo kecelakaan? Mati? Boneka? Lo ngomong apa, sih?”
Iko berusaha memahami apa yang dikatakan sahabatnya. Tapi dia hanya menangkap sekilas-sekilas saja. Renita kecelakaan? Lalu siapa yang mati? Orang yang ditabrak? Yang pasti nggak mungkin Renita, dong, orang dia lagi nelepon ini. Terus apa hubungannya sama boneka? Atau si Renita nabrak boneka, begitu? Ah, ini makin nggak jelas saja.
“Lo di mana sekarang? Oke, tunggu gue di sana. Jangan ke mana-mana!”
Iko mematikan sambungan telepon dan bangkit. Dia sambar jaket yang tergantung di tembok dan kunci motornya di meja. Cowok itu cepat-cepat menuju lokasi yang disebut Renita.
Sampai di lokasi yang dimaksud, di sana sudah mulai sepi. Tinggal beberapa orang saja yang sudah bersiap-siap akan pergi.
Iko memarkir motor dan mendekati salah satunya.
“Maaf, Pak,” Iko memulai. “Di sini tadi ada kecelakaan, ya?”
Si bapak yang ditanyai menoleh. “Iya, Mas,” jawabnya. “Motor ditabrak truk gandengan. Korbannya cewek, tewas di tempat. Belum lama tadi jasadnya dibawa ke rumah sakit. Motornya diamankan polisi.”
Iko nggak memperhatikan penjelasan bapak itu. Pendengarannya berhenti di bagian ‘cewek, tewas di tempat’. Nggak mungkin itu Renita, kan? Cewek itu baru saja meneleponnya!
“Makasih, Pak.” Iko cepat-cepat menyudahi obrolan. Dia membuka ponselnya dan mencari nama Renita. Ditekannya tombol panggil. Suara Isyana Sarasvati menyanyikan reffrain lagu Cinta Pertama terdengar sayup-sayup. Perasaan Iko semakin nggak enak. Dia ikuti arah suara lagu itu hingga dilihatnya ponsel hitam milik Renita di tepi trotoar. Di samping ponsel itu, terdapat sebuah boneka. Tepatnya boneka susan. Menatap ke arah Iko. Mengerjap.
***
“Jadi lo bener-bener berubah jadi boneka, Re.”
Iko bersedekap. Seonggok boneka susan dengan pakaian dekil dan kaki kainnya penuh debu duduk di tepi trotoar.
Renita si susan sesenggukan meski nggak ada air keluar dari matanya.
“Gimana, dong, Ko? Gue nggak mau ah, jadi susan. Mana jalannya mesti ngesot pula. Pokoknya gue nggak mau, nggak mau, nggak mauuu…!”
Iko menghela napas dan duduk di dekat si boneka. “Kayaknya lo mesti minta maaf sama Abel, deh, Re,” kata cowok itu menyarankan. “Mungkin dengan begitu kutukan lo ini bisa terangkat.”
“Hah, kenapa gue yang minta maaf?” protes Renita. “Jelas-jelas dia yang ambekan!”
Iko lagi-lagi menghela napas. “Re…, Re,” katanya, “lo ngerti kenapa sumpah itu bisa jadi kenyataan? Karena yang disumpahin berada di pihak yang salah. Artinya, lo itu bersalah. Udah nggak usah diungkit-ungkit lagi bagian mana yang salah. Intinya lo harus minta maaf.”
Iko menceramahi Renita panjang sekali. Si boneka susan makin murung. Dengan tubuh mungilnya, dia mengesot dan memanjat naik ke motor Iko, melihat pantulan dirinya di spion motor butut cowok itu.
Hhh …, Renita mendesah. Setidaknya tanda lahir berbentuk hati di pipinya nggak hilang. Meski sudah jadi boneka susan, Renita tetaplah Harley Queen KW10 yang cakep—andai tampang bonekanya nggak dekil begitu.
“Ko,” panggil Renita, “bantuin gue, ya. Bujukin si Abel biar menarik sumpahnya.”
“Gue coba, deh, Re. Tapi nggak janji, ya.”
Renita menatap Iko. Kalau dia punya mata manusia, pasti matanya sudah berbinar-binar dengan cahaya seperti kaca terkena lampu. Sayangnya Renita cuma punya mata boneka yang jangankan berbinar-binar, warna matanya saja berupa lukisan.
“Terus sekarang lo mau tinggal di mana, Re?” tanya Iko.
“Kayaknya di sini aja, deh, Ko,” kata Renita pasrah. “Tadi gue coba pulang, tapi baru sekitar 500-an meter, kayak ada dinding gaib begitu menghalangi gue buat keluar dari area ini.”
“Lo nggak apa-apa di sini?”
Renita mengangguk. “Mau gimana lagi, gue nggak bisa pergi jauh.”
Iko ikut manggut-manggut sok paham. Dilihatnya jam di ponselnya lalu berdiri. “Kayaknya gue mesti balik sekarang, Re. Lo nggak apa-apa, kan, gue tinggal?”
“Iya,” jawab Renita. “Pastiin aja lo ngomong sama Abel, ya, Ko.”
Iko mengacungkan jempol. “Pasti, Re.”
***
Berita kematian Renita menyebar dengan cepat di kampus. Bahkan ada yang melebih-lebihkan ceritanya, padahal mereka juga nggak tahu kejadian sebenarnya bagaimana.
Iko berjalan menyusuri koridor menuju kelas Abel.
“Bel,” panggil cowok itu setelah menemukan Abel. “Ikut gue, yuk!”
Iko menarik tangan Abel tanpa cewek itu sempat menghindar. Cowok cungkring itu membawa si bongsor ke belakang kampus.
“Apaan sih, Ko?” Abel melepaskan tangannya dari cengkeraman Iko begitu cowok itu berhenti.
“Lo udah denger kabar Renita?” tanya Iko memulai.
Abel menatap ke samping. “Itu bukan urusan gue.”
“Lo nggak kepengen tahu keadaan Renita, Bel?”
Abel menatap Iko. “Maksud lo apa?”
“Lo ingat malam sebelum Renita kecelakaan? Di rumah lo, kalian ribut.”
“Tentu saja gue ingat.” Abel tersenyum kecut. “Terus maksud lo apa? Lo mau bikin seolah-olah gue yang salah, gitu?”
Iko menggeleng. “Gue ngomongin soal sumpah lo ke Renita, Bel.”
“Memangnya kenapa dengan sumpah gue? Lo mau bilang si susan beneran kena kutuk jadi arwah gentayangan terus jadi susan ngesot, begitu? Basi, tahu nggak?!”
“Nyatanya memang begitu, Bel.”
Iko bersedekap dan menatap Abel penuh arti.
Abel hanya mendengus dan tertawa nggak percaya. Tapi dia melihat tatapan Iko dan cewek itu tahu sesuatu telah terjadi.
“Nggak usah ngarang, deh,” kata Abel. “Lo pikir gue bego percaya begituan?”
“Sayangnya lo harus percaya, Bel. Gue sudah lihat sendiri arwah Renita terperangkap karena sumpah lo itu. Makanya gue minta lo kasih maaf ke Renita dan tarik sumpah lo.”
Abel menatap mata Iko lekat-lekat. “Denger, ya, Ko,” katanya, “urusan Renita itu bukan urusan gue. Dia mati, terus apa? Iya, gue turut berbelasungkawa. Terus apa? Urusan dia setelah mati itu ya antara dia sama malaikat, sama Tuhan, bukan sama gue.”
Setelah berkata demikian, Abel berbalik dan meninggalkan Iko.
***
Other Stories
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...