Susan Ngesot Reborn

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Mega Yohana

Dedemit Vs Manusia

Akhirnya malam duel yang mendebarkan pun tiba. Iko sudah datang sejak pukul 22.15. Cowok kurus kering kerontang yang hanya bermodal tubuh tinggi menjulang itu terlihat sudah siap dengan celana boxer kembang-kembang warna magenta yang sukses membuat Renita terjengkang. Dia memakai jaket gombrang dengan kupluk besar yang menenggelamkan kepalanya. Kotak P3K nangkring di atas motor bututnya.
Renita memijit pundak Iko, meski si cungkring justru kegelian karena… apalah yang bisa dilakukan sesosok boneka seukuran piyik itu. Maksudnya, ya tahu sendiri, lah, ya… si boneka susan itu ukurannya cuma seperlima kali ukuran Renita yang asli. Nah, apa yang bisa diharapkan dari pijitan makhluk sepiyik itu?
Renita memukul kepala Iko. “Nggak usah menghina, deh,” katanya.
Iko lupa.
Cowok itu tanpa sadar menyuarakan pendapatnya—yang seharusnya hanya ada di dalam kepalanya. Makhluk berkacamata—yang konon merupakan kacamata ajaib yang dapat melihat makhluk lain dimensi—itu nyengir.
Nico datang sekitar setengah jam kemudian. Dia memakai kostum satu-satunya yang dia miliki: kain kafan dengan tali-tali yang mengikat di kaki, perut, dan atas kepalanya. Dedemit cowok itu mendengus nggak suka saat melihat Renita nemplok di pundak Iko.
“Lo yakin mau ngelawan gue, Cungkring?” Nico sengaja membuat suaranya terdengar nyolot. Dia sedang kesal.
“Yakin,” sahut Iko sok keren. Dia bahkan mengangkat dagunya biar terlihat seperti cowok-cowok keren-tapi-songong yang ada di film-film. Tapi kalau melihat boxer kembang-kembang warna magenta yang dipakainya… kok nggak meyakinkan, ya?
“Oke,” kata Nico. “Kita mulai saja kalau begitu.”
Si hantu bungkus mengeluarkan tangannya dari bungkusannya, lalu melonggarkan ikatan pada perutnya. Dia kemudian memelorotkan kain kafan yang membungkus tubuhnya.
Renita tersedak. “STOP!!!” teriaknya seketika seraya menutup mata dengan kedua tangannya. Si boneka susan menggeleng kencang.
Pocong, kan, nggak pakai baju. Kalau Nico melepas kain kafan yang membungkusnya… masa dedemit cowok itu mau duel sambil bugil, sih?
Iko menjitak kepala Renita. “Jangan teriak deket telinga gue, Susan!”
“Tau,” sahut Nico. “Lo kenapa, San?”
Renita membuka matanya. Dia melongo. Lho, kok Nico pakai baju? Kok, bajunya keren begitu?
Renita mengerjap-ngerjap. Cowok—eh, dedemit cowok di depannya terlihat keren. Celana jins selutut dan kaus putih dengan gambar doodle warna hitam. Rambutnya cepak. Renita nggak pernah tahu itu karena selama ini si hantu bungkus selalu membungkus dirinya dengan kain kafan dengan jargon ‘Pocong Kredibel’ dan segala tingkah absurdnya.
“Kok lo pakai baju?” Ups! Renita membungkam mulutnya. Dia keceplosan. Dasar mulut nggak bisa diajak kompromi! Renita jadi kesal dengan mulutnya yang ember.
Iko menjitak lagi kepala Renita. Untung makhluk itu terbuat dari kain. Coba kalau dari plastisin, kali sudah nggak berbentuk.
“Ngaku!” kata Iko. “Lo mikir apaan? Dasar mesum!”
“Hah? Eh? Enggak, kok. Emang gue mikir apaan?” Renita gelagapan. Sementara Nico hanya bengong melihat kelakuan dua sahabat itu.
“Terus, ngapain lo nanya begitu?” selidik Iko lagi.
Renita menggaruk belakang kepalanya yang nggak gatal. Nah, bagaimana mau gatal kalau itu saja terbuat dari kain!
“Gue pikir waktu meninggal, kan, dikuburnya nggak pakai baju, cuma dibungkus kafan doang. Makanya….”
Sekarang Nico yang terpingkal-pingkal. Dedemit cowok yang ternyata tampangnya lumayan kece itu memegangi perutnya seraya tertawa. “San…, San,” kata Nico, “lo pikir kita hidup di zaman apa? Lo sendiri juga pernah lihat gue pakai smartphone, kan? Nah, masak gue malah nggak pakai baju, sih!”
“Ya… gue pikir….”
“Lo pikir apa?” Nico tersenyum miring. “Lo mau lihat tubuh seksi gue?”
“Najis!” seru Renita spontan, yang membuat Nico makin keras tertawa.
“Ngaku, deh. Lo sebenarnya suka, kan, sama gue?”
“Nggak! Udah buruan sana mulai duelnya!” Renita melorot turun dari pundak Iko dan mengesot ke tepi.
Iko yang sebenarnya agak ogah-ogahan, terpaksa melepas jaketnya. Dia cuma sok saja tadi. Lagi pula dia juga nggak yakin. Nah, olahraga saja dia hampir nggak pernah, kok, apalagi duel! Di sekolah saja, dulu setiap kali pelajaran olahraga, Iko hampir selalu menghindar. Dia lebih memilih tidur daripada olahraga.
Kemarin Iko spontan saja menantang duel. Soalnya dia kadung termakan emosi, sih. Mau menarik ucapannya, gengsi, dong!
“Ko,” panggil Renita, “lo kurang makan, ya? Badan lo kering begitu. Yakin lo bisa menangin duel?”
Iko terpeleset. Bisa-bisanya si susan mengatainya begitu. Seharusnya sebagai sahabat, Renita mendukung Iko. Seenggaknya, bilang kalau badan Iko bagus dan kasih semangat, gitu. Meski cuma pura-pura, kan lumayan buat mengganjal rasa percaya diri Iko yang tersungkur di aspal. Iya, Iko rela, kok, punya sahabat yang pura-pura memujinya, daripada yang nggak pernah memuji! Oh, Iko nggak haus pujian, kok. Iko cuma butuh dihibur dalam situasi seperti ini.
“Jadi lo mau punya temen yang hobinya pura-pura?”
Iko menampar mulutnya. Bisa-bisanya dia keceplosan lagi.
“Seenggaknya dalam situasi seperti ini…, itu penting, Re.” Iko membela diri. Dia nggak bohong, kok. Dia memang butuh suntikan semangat yang berlimpah.
Renita mengikuti arah tatapan Iko dan terbelalak. Karena di sana Nico melepas kausnya.
Dedemit itu punya badan yang bagus sekali. Otot lengannya juga terbentuk. Mungkin karena dia senang melompat. Dia juga sering menggeliat-geliat. Sekarang Renita curiga Nico sengaja berlagak jadi ‘Pocong Kredibel’ hanya agar tubuhnya terbentuk begitu.
Nico mengerling Renita. Dia memergoki boneka susan itu memperhatikannya. Dedemit cowok itu tersenyum simpul. Dia yakin akan memenangkan duel ini. Lagi pula, lihat saja tubuh cowok yang mengaku sahabat Renita. Kurus kering begitu, kok! Sekali tonjok juga lewat tuh cowok. Oke, Nico sedikit jemawa sekarang.
Iko maju selangkah. “Dilarang curang,” ujarnya.
Nico mengangguk. Dia pasang kuda-kuda. Di belakangnya, Kunti dan Sundel muncul. Mereka mau menyaksikan duel langka antara manusia dengan dedemit.
Awalnya Renita pikir mereka cuma berdua. Namun dia salah.
Dedemit berwujud boneka susan itu melongo.
Hantu-hantu mulai bermunculan. Dedemit segala rupa nongol dan berdesakan ingin menonton duel Iko melawan Nico. Renita jadi merinding. Selama ini dia cuma tahu Nico, Kunti, dan Sundel doang. Tapi sekarang… perempatan yang menjadi lokasi kecelakaan maut yang menimpa si Harley Queen KW10 itu jadi sangat ramai. Bukan oleh manusia, tentu saja. Nggak ada manusia yang lewat di jalan ini di atas tengah malam.
Duel Iko melawan si hantu bungkus berlangsung mendebarkan. Mereka saling piting. Meski kurus begitu, ternyata tenaga Iko lumayan besar. Tubuhnya juga cukup lentur. Dia bisa memanfaatkan ini untuk berkelit atau menyelamatkan dirinya dari risiko tulang patah.
Nico juga nggak main-main. Sebenarnya dia bisa saja memakai kemampuan hantu yang dimilikinya. Tapi dia, kan, Pocong Kredibel. Nico mau menang dengan tangannya sendiri.
Renita juga sedang berjuang. Dia menyusup di antara hantu-hantu yang berdesakan, menerobos setiap celah kecil agar bisa menonton pertarungan manusia melawan dedemit itu dengan jelas. Dan meski dia nggak punya jantung, Renita bisa merasakan bagian dadanya yang sesak. Dia semacam berdebar, gitu. Kalau saja dia gentayangan dalam wujud aslinya, mungkin lebih mudah menjelaskan perasaannya saat ini.
Ah, Renita jadi sedih. Dia jarang sedih sewaktu masih hidup. Dia adalah badut kelas. Biang onar.
Tukang rusuh.
Renita si cewek absurd yang kerap melakukan hal-hal konyol yang nggak terpikirkan oleh orang lain. Cewek itu terkenal sekampus. Cewek yang nggak bisa diam. Ngaku-ngaku masih saudara dengan Harley Queen gegara punya tanda lahir a.k.a tompel berbentuk hati di pipinya.
Si suara cempreng yang kerap dijuluki Susan.
Punya dua orang sahabat yang nempel banget kayak prangko. Iko si kurus kerempeng tinggi menjulang berkacamata minus sekian, dan Abel si gendut tembem bongsor pemarah. Iya, dua sahabat itu yang paling setia. Mereka kerap bertengkar, tapi nggak lama ketiganya sudah melakukan hal-hal gila bersama-sama lagi. Abel dan Iko juga nggak pernah mengeluh soal kelakuan Renita. Kalau protes, sih, sering. Eh, itu sama saja, ya?
Pokoknya begitulah. Mereka bertiga menjuluki diri mereka sebagai Trio Ketoprak—keren, ngetop, dan antinorak.
Renita mendesah. Dia nggak fokus dengan duel hidup-mati di depannya. Si boneka susan sedang baper sekarang. Dia menyesal suka menjahili Abel hingga membuat sahabatnya yang memang pemarah itu sebal. Abel sebenarnya baik, kok. Dia hanya emosian. Tapi Abel bukan pendendam. Saat kesal dia akan ngamuk-ngamuk. Kemudian sudah. Mereka akan kembali bercanda dan tertawa bersama. Tapi di akhir hidupnya, Renita justru membuat Abel begitu marah sampai-sampai mengucapkan sumpah yang kini menjadi kutukan buat Renita.
Renita nggak menyesal kok sudah meninggal. Dia juga nggak apa-apa kalau arwahnya gentayangan setelah meninggal. Renita sedih karena di akhir hidupnya dia mengatakan hal yang jahat kepada sahabatnya, Abel. Renita nggak sungguh-sungguh waktu itu. Dia menyesal karena nggak sempat meminta maaf. Dan sekarang dia terjebak dalam wujud boneka susan yang kalau berjalan harus ngesot. Oh, tidak. Renita nggak apa kalau harus ngesot. Banyak orang di dunia ini yang harus mengesot karena memiliki kekurangan pada kaki mereka. Tapi sekali lagi, Renita sedih karena dia meninggal sebagai orang jahat, setidaknya di mata sahabatnya.
Brukkk!
Seonggok tubuh kerempeng membuyarkan lamunan Renita. Iko baru saja terbanting mengenaskan. Renita melotot. Sejak kapan muka Iko berubah bentuk begitu?
Cowok kerempeng itu nggak jera. Sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot, dia bangkit dan kembali menghadapi Nico. Renita jadi ketar-ketir. Dengan tubuh begitu, rasanya mustahil Iko bisa memenangkan pertarungan. Sebersit ide nista tiba-tiba nongol di benak Renita. Bagaimanapun, Iko adalah sahabatnya. Renita nggak akan membiarkan cowok kurus kering kerontang itu kalah.
Renita berdeham. Dia mulai mengesot. Kebetulan saat ini posisinya agak lebih dekat ke arah Iko. Dan kalau perhitungan Renita tepat….
Nico memiting lengan Iko dan memutarnya ke belakang. Dedemit cowok itu mendorong tubuh Iko hingga terjatuh.
Gotcha!
Sesuai prediksi Renita, Iko terjatuh tepat menimpa dirinya. Dedemit cewek itu merasakan tubuhnya gepeng, tapi dia nggak merasa sakit. Lagi pula, tubuhnya itu terbuat dari kain. Gepeng sebentar juga bakal balik lagi ke bentuk semula. Tapi efek dari insiden ini membuat konsentrasi Nico sedikit terganggu. Dedemit cowok itu langsung melepas pitingannya ketika melihat Renita tertindih.
Iko memanfaatkan kesempatan ini untuk berguling, bangkit, dan memukul Nico dengan telak. Setelahnya dia melongo. Nggak nyangka si dedemit bakal ambruk hanya karena satu pukulan darinya.
***

Other Stories
Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Download Titik & Koma