Tantangan Iko
Suara pesan masuk mengalihkan perhatian Iko dari buku komik yang dibacanya. Cowok itu membenarkan kacamatanya yang melorot sampai hidung dan meraih ponselnya. Pesan dari Renita.
Begitu bunyi pesannya, diikuti emoticon menangis.
balas Iko.
Balasan dari Renita muncul dengan cepat. Singkatnya, cewek—eh, si boneka susan itu lagi gegana alias gelisah-galau-merana. Pasalnya, dia dikejar-kejar sama dedemit cowok yang kelakuannya absurd aneh nggak jelas amit-amit tujuh turunan. Bentuknya kayak lemper, dibungkus kain kafan dengan tali-tali di kaki, perut, dan atas kepalanya. Ngakunya pocong kredibel, pantang menyerah, dan pencinta Waljinah. Nah, mana cocok sama Renitaaa…???
Pokoknya Renita nggak ikhlas kalau ditaksir dedemit model begitu. Memang cakep, sih. Baik hati juga, suka menolong, dan kadang-kadang dia suka mungutin sampah yang menurutnya menarik buat dibawa pulang ke kuburannya. Buat koleksi, begitu kata si hantu bungkus.
Iko bertanya setelah Renita selesai dengan ceritanya—yang dipenuhi emoticon segala rupa.
balas Renita cepat.
Iko nggak percaya. Dibaca dari cara si Harley ‘Susan’ Queen KW10 yang menggebu-gebu itu, tercium bau-bau tsundere. Tahu, kan? Istilah ini sering muncul di animanga yang biasa dibaca atau ditonton Iko, yaitu ketika si tokoh utama sebenarnya naksir berat tapi sok jaim begitu. Kelihatannya saja galak di muka, tapi diam-diam perhatian. Bilang ogah-ogah tapi dalam hati mau banget. Ya, persis seperti itu. Gaya Renita bercerita persis seperti itu.
Tapi Iko nggak mau memaksa Renita. Lagi pula itu cuma dugaan. Jadi kita pakai saja asas praduga tak bersalah. Mungkin Renita benar-benar nggak suka sama si dedemit cowok. Mungkin dia benar-benar terganggu dengan kelakuan si dedemit cowok yang menurut Renita aneh-aneh itu. Ya, mungkin saja begitu.
Iko berusaha menjadi sahabat yang baik sekarang. Renita adalah sahabatnya sejak bertahun-tahun ini. Sekarang si cewek absurd sudah meninggal dan gentayangan. Apesnya, arwah cewek itu terperangkap dalam bentuk boneka susan yang selain kecil, jelas-jelas nggak bisa jalan juga. Sudah begitu, dia nggak bisa meninggalkan lokasi kecelakaan di luar radius 500 meter.
Iko merasa kasihan dengan Renita. Apalagi Abel sepertinya belum ingin mencabut sumpahnya yang membuat arwah Renita jadi terperangkap seperti itu. Jadi kalau bukan Iko yang membantunya, siapa lagi?
***
Iko bersedekap. Matanya beradu pandang dengan Nico si hantu bungkus. Tatapan keduanya sama-sama menyorot tajam. Renita bahkan mengira melihat percikan listrik di titik temu tatapan kedua cowok beda dimensi itu.
“Jadi lo yang namanya Nico si hantu bungkus?” Iko memulai pembicaraan.
Renita duduk di trotoar, diapit oleh Kunti dan Sundel di kanan kirinya. Mereka bertiga menonton sambil menyemil kembang melati. Ralat, yang ngemil adalah Kunti dan Sundel. Renita masih belum terbiasa makan kembang. Menurutnya itu aneh. Kembang, kok, dimakan?
“Iya,” jawab Nico. “Lo siapa? Pacarnya Susan?”
“Susan?” Iko gugup. Siapa itu? Jangan-jangan dia salah? Dia menoleh ke arah Renita yang balas melotot. Baru Iko paham kalau yang dimaksud Susan itu ya si Renita yang berwujud boneka susan.
Iko berdeham. “Gue sahabatnya,” katanya sok berwibawa. “Gue dengar lo naksir berat sama Re—eh, Susan? Sebagai sahabatnya, gue mau kasih tahu lo. Jangan deket-deketin Re—eh, Susan lagi. Dia nggak suka sama lo.”
“Oh, ya? Selama ini dia baik-baik aja, tuh. Emangnya kenapa kalo gue naksir? Toh kita berdua juga sama-sama makhluk halus.”
“Pokoknya lo nggak boleh deketin Renita!” Suara Iko naik beberapa tingkat. Dia juga lupa kalau dedemit cowok di depannya memanggil Renita dengan Susan.
“Alasannya apa?” Nico ikut-ikutan menaikkan nada suaranya. Nah, sepertinya mereka berdua mau adu suara. Padahal percuma saja kan, ya. Mereka nggak akan jadi terkenal dengan gontok-gontokan begitu. Kalau benar-benar diniatkan mau adu suara, mendingan daftar ajang kompetisi dangdut itu saja. Bisa terkenal, banyak rezeki pula.
“Kan udah gue bilang, Renita nggak suka sama lo! Lo nggak denger tadi? Kuping lo ke mana?” Iko jadi makin ketus. Mana ada dedemit telmi begitu. Padahal Iko sudah bilang sejak awal.
Dikatain nggak dengar, Nico jadi ikut-ikutan marah. “Lo nggak lihat kuping gue terbungkus kain, nih?” balasnya. “Punya mata dipake, dong! Makanya, kalau ngomong itu yang jelas, jangan kayak orang lagi kumur-kumur!”
“Eh, lo nantangin gue?” Iko maju beberapa langkah. Dadanya membusung sok kuasa. Tapi karena tubuhnya kering kerontang begitu, dia malah kelihatan seperti tiang yang miring ke belakang gara-gara tertiup angin.
“Siapa takut?!” balas Nico.
“Malam purnama dua hari lagi, kita duel MMA! Kita lihat siapa yang lebih kuat. Kalau lo menang, lo boleh deketin Renita. Tapi kalau kalah, jauh-jauh lo dari sahabat gue!”
“Deal!”
Renita bengong. Kunti dan Sundel sama-sama bertepuk tangan. Dua dedemit perempuan yang serupa tapi tak sama itu tampak senang. Sementara Renita masih melongo. Kok, jadi duel taruhan? Bagaimana kalau Nico kalah? Nah!
***
“Kok jadi pakai duel taruhan, sih, Ko?” Renita langsung menyuarakan protes kepada Iko.
“Gue kelepasan tadi.” Iko nyengir seraya garuk-garuk kepala. “Habisnya gebetan lo itu nyolot banget, sih!” Iko jadi geram. Dia kesal karena si dedemit ngeyel banget dibilangin agar menjauhi Renita.
“Tapi, kan, lo belum tahu kemampuan dia, Cung.” Renita mengganti lagi panggilannya. Kadang Nyet, kadang Cung. Kalau sedang normal, dia panggil Iko.
“Iya juga, ya.” Iko manggut-mangut. “Gue kan belum lihat tubuhnya kalau nggak lagi dibungkus begitu.”
“Hah?” Renita langsung tersedak. “Kok lo jadi porno, sih, Nyet? Jangan bilang lo menjomblo selama ini karena—”
“Hush!” sergah Iko. “Nggak usah mikirin yang aneh-aneh, deh. Maksud gue, gue kan belum tahu gimana lawan gue. Nah, lo lihat sendiri gue kurus kering kerontang gini. Praktis gue bakal terbang kalau kena angin. Lha kalau ternyata si setan bungkus itu punya tubuh Ade Ray, gimana kabar gue…?”
“Iya juga, ya.” Renita manggut-manggut. Diam-diam dia mengulum senyum. Berarti ada harapan Nico bakal menang. Eh?
***
Other Stories
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...