Diam-diam Mengintai
Malam sepi.
Beberapa ratus meter dari sebuah perempatan, terlihat dua perempuan bergerak beriringan. Keduanya memakai baju yang terlihat seperti daster putih panjang hingga menutupi kaki mereka dan menyapu jalan. Cara mereka bergerak juga nggak kelihatan seperti orang berjalan pada umumnya. Gerakan mereka terlalu halus, seolah keduanya bukan berjalan melainkan melayang beberapa sentimeter di atas permukaan jalan.
“Sebel nggak, sih, Del, setiap malam begini-begini saja.” Salah satu dari mereka memulai obrolan. Rambutnya panjang dan sehalus rambut bintang iklan sampo. Aroma melati menguar kuat dari dirinya. Seolah-olah dia menyiramkan sebotol biang melati dari atas kepalanya.
Temannya yang dipanggil Del hanya menggaruk kepalanya. “Mau gimana lagi, Kun,” katanya, “manusia sekarang ini jarang yang takut sama kita. Lha, gimana mau takut, wong di film-film saja bangsa kita cuma jadi pemain figuran. Lihat saja, mata mereka fokus memperhatikan paha mulus sama belahan dada yang tumpah-tumpah begitu.”
Si Del—mungkin namanya Dela, atau Adel, atau Sadel?—menggaruk kepalanya lagi. Rambutnya awut-awutan nggak pernah disisir. Sudah begitu, banyak remah-remah putih bertaburan di kepalanya, pula. Namanya ketombe. Akibat nggak pernah keramas. Nah, jangankan keramas, sisiran saja hampir nggak pernah, kok. Makanya si Del garuk-garuk kepala terus. Mungkin, dia beternak kutu di kepalanya itu.
Berbeda dengan Kun—yang nama lengkapnya juga masih misterius itu, Del jarang sekali mandi. Dia hanya mandi sekali dalam satu tahun, yaitu setiap malam satu Suro. Iya, seperti di film-film jadulnya Suzana itu, lho. Katanya, sih, biar aura mistisnya makin keluar. Tapi nyatanya, yang keluar justru aroma busuk saking lamanya dia nggak mandi. Bahkan saking baunya, lalat-lalat suka menclok ke punggungnya yang berkeringat. Lalat-lalat itu suka bertelur di sana. Telur lalat menetas dan jadi belatung. Belatung-belatung mengerikiti punggungnya. Del nggak merasakan sakit. Dia senang-senang saja punggungnya berlubang karena belatung-belatung itu. Katanya sekali lagi, biar aura mistisnya keluar.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol, kedua perempuan itu dikagetkan oleh suara kerosak di belakang mereka. Keduanya langsung menoleh waspada.
“Siapa itu?” teriak Kun.
Nggak ada jawaban. Keduanya pun melanjutkan langkah. Tapi baru beberapa langkah, suara kerosak kembali terdengar. Kun dan Del berhenti. Keduanya berpandangan. Lalu tanpa aba-aba, mereka pun kabur.
Keduanya berlari cepat sekali menuju perempatan.
“Stop, stop, stop!” seru si Del. Dia ngos-ngosan. “Aku nggak kuat lagi. Kita istirahat sebentar, ya. Lagian di sini terang ini lampunya.”
Kun mengikuti Del berhenti. Keduanya mengatur napas—eh, mungkin bukan napas. Apa, ya… mereka kan nggak bernapas!
Beberapa meter dari perempatan, Renita sedang duduk berdua dengan Nico si Pocong Kredibel di trotoar. Mereka menatap penasaran ke arah dua perempuan berdaster putih yang ngos-ngosan di perempatan.
“Mereka kenapa?” tanya Renita.
“Tanyain, yuk!” Nico berdiri dan mulai melompat. Sementara Renita mengesot seperti bekicot lagi lomba lari.
Nico berhenti dan menoleh saat mendapati Renita nggak ada di sampingnya. Hantu bungkus itu pun melompat kembali dan mengeluarkan tangannya dari bungkusan. Dia raih tubuh boneka Renita dan dia sampirkan di pundaknya.
“Duduk sini aja, deh. Biar cepat,” kata Nico. Dia kembali melompat menuju perempatan.
Di tengah perempatan, dua perempuan yang dikenalnya kini selonjoran sambil mengurut kaki mereka.
“Kunti, Sundel, kalian kenapa?” tanya Nico begitu sampai.
“Barusan ada hantu,” bisik Kun alias Kunti. Dia menoleh ke belakang dan menunjuk. “Di sana, tuh! Kedengaran suara kerosak-kerosak, tapi nggak ada wujudnya.”
“Hah?” Renita menatap Kunti dan Sundel bergantian. “Bukannya kalian juga hantu, ya?” tanyanya polos.
“Bener, tuh!” sahut Nico. “Lagian kalian bisa ngilang, ngapain capek-capek lari segala.”
Kunti dan Sundel berpandangan. Keduanya lalu terbahak-bahak. “Kami lupa!”
Jawaban kompak mereka sukses membuat Renita menepuk jidatnya. Astaga, Tuhan…, kenapa Kau menghukum hambamu di tengah-tengah dedemit yang kelakuannya aneh-aneh ini? Kenapa, Tuhan, kenapaaa???
Renita kepingin kayang sekarang. Biar dia nggak stress menghadapi demit-demit di sekelilingnya yang rata-rata absurd ini. Padahal seingatnya, semasa hidup dia nggak seabsurd ini, lho. Mungkin.
***
Di balik sebuah pohon besar yang berdiri kokoh nggak jauh dari perempatan, sosok besar muncul dari kegelapan. Cewek, sekitar dua puluhan tahun. Badannya gendut. Dia memakai kacamata yang kesempitan.
“Lo udah lihat sendiri, kan, Bel?” Terdengar suara cowok diikuti sosok cungkring yang muncul dari kegelapan di belakang si cewek bongsor.
Mereka adalah Iko dan Abel. Iko berhasil membujuk Abel untuk menengok Renita. Abel setuju tapi dengan syarat, mereka harus melakukannya diam-diam. Suara kerosak yang didengar oleh dua dedemit perempuan barusan sebenarnya adalah suara mereka saat menyelinap di balik semak-semak yang ada di tepi luar trotoar. Mereka bersembunyi karena takut ketahuan oleh dua dedemit itu. Tapi ternyata malah kedua dedemit itu yang kabur ketakutan. Abel dan Iko hanya bisa melongo menyaksikan dua dedemit lari tunggang langgang.
Iko meminjami Abel kacamata ajaib miliknya. Kacamata itu dapat melihat makhluk astral alias hehantuan. Dengan bantuan kacamata itu, Abel dapat melihat dedemit di sekitar boneka susan yang merupakan jelmaan arwah Renita. Dia juga dapat melihat batas seperti dinding transparan yang mengelilingi perempatan sejauh radius 500 meter.
Iko memberitahu Abel bahwa dinding transparan itu adalah batas untuk Renita. Si boneka susan nggak bisa pergi melewati batas itu. Iko sudah membuktikannya sendiri. Dia melihat Renita berusaha keluar dari batas itu tapi justru terpental.
“Lo masih nggak mau narik sumpah lo itu?” tanya Iko lagi.
Abel mengembalikan kacamata Iko. “Gue nggak lihat dia menderita,” katanya. “Dia sudah bahagia di sana, bareng sama dedemit yang tingkahnya sama seperti dirinya. Mungkin itu yang terbaik untuknya.”
“Bel….” Iko menahan lengan Abel saat cewek berbadan jumbo itu hendak melangkah. “Gue tahu lo bukan orang seperti itu. Lo nggak akan tega menghukum sahabat lo sekejam itu. Kita udah sahabatan sejak lama. Gue tahu lo nggak seperti itu.”
Abel melepas genggaman Iko. “Mungkin beberapa tahun sahabatan belum cukup buat lo sama Renita mengenal gue.”
***
Other Stories
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...