Tersesat

Reads
3K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Aksa Ahmad

Chapter 12

Qiran
Adhira benar. Kami berada di rumah musisi. Benda-benda seperti itu mustahil tidak ada.
Aku mencarinya. Dan, kudapatkan di sebuah lemari samping kiri meja komputer. Mungkin musisi itu memang sudah menyiapkannya. Ya, ia sangat matang menyiapkan hal-hal yang bisa membuatnya terselamatkan.
Sekarang, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan!
Sementara makhluk-makhluk gepeng itu semakin liar mengacaukan rumah ini, sebagian masih tetap berusaha masuk, menggedor-gedor pintu, dengan terburu-buru aku menghubungkan kabel-kabel yang berserahkan di kamar ini. Aku harap kabel-kabelnya masih bisa berfungsi. Tanganku cukup gemetaran melerai kabel-kabel itu.
\"Lihat!\" seru Adhira yang membuat perhatian teralihkan, menoleh cepat. \"Lihat ini. Aku rasa... ini versi terbaliknya.\"
Aku mengangguk sungguh-sungguh. Adhira sudah menemukan lagu versi terbaliknya di sebuah file di komputer itu. Tanpa terasa air mataku tumpah. Aku semakin terharu. Artinya, kami akan segera keluar dari masalah ini. Ya, kami pasti selamat!
Aku lalu kembali fokus mengatur kabel-kabel itu. Menghubungkannya satu demi satu. Kami seperti \'berlomba\' dengan makhluk-makhluk yang ngotot itu. Aku bersyukur, background-ku sebagai mahasiswi teknik elektronika dapat kuterapkan di sini, saat menghadapi situasi segawat ini.
BUGH!
Kami menoleh, kaget. Pintu berhasil terdobrak. Makhluk-makhluk itu meloncat masuk, menyeringai dengan fisik yang memprihatinkan sekaligus menyeramkan. Tapi aku juga sudah berhasil. Adhira juga berhasil. Lagu itu sudah bisa mengalun!
Sementara makhluk-makhluk itu menjerit-jerit kesakitan, gusar, bergerak brutal, aku dan Adhira saling merangkul, bergerak awas di tempat sebab kami dipantang meninggalkan posisi.
Aku lihat, mereka jauh lebih kesakitan dari sehabis konser waktu lalu. Betapa tidak? Di saat lagu itu tak lagi mereka dengarkan saja mereka sudah resah, bingung, linglung mencari arah seruan itu---makanya mereka kerap mencari \'pintu\' kepada orang-orang normal yang mereka temui atau incar---apa lagi sekarang lagu itu diperdengarkan dengan jelas dan lebih lantang?
Lalu, lagu menuju bagian tengah. Bagian yang kembali membuat mereka menangis bahkan lebih dalam lagi. Namun, kali ini aku melihat mereka menangiskan air mata berlendir. Lengket dan pekat. Terlihat menjijikkan. Namun, karena aku sudah telanjur di situasi ini aku seolah melihatnya sebagai hal yang wajar. Malah, aku merasa jauh lebih iba. Bersabarlah kalian. Semoga kita benar-benar akan keluar dari masalah ini.
Ya, lagu sudah menuju titik puncaknya. Titik yang kami nantikan. Titik yang kami harapkan benar-benar bisa menjadi penyembuh, yang mengembalikan keadaan mereka seperti sedia kala atau bahkan lebih baik lagi, sesuai sugesti liriknya. Benar saja, perlahan-lahan mereka kembali normal. Kaki dan tangan mereka yang panjang berubah pendek, sesuai keadaan sebelumnya. Tubuh mereka tidak lagi gepeng. Kepala mereka kukuh dan tidak lagi mengeluarkan lendir yang amis. Mereka sudah berdiri tegap. Mereka... sudah sempurna menjadi manusia!
Sekilas mereka terlihat kebingungan. Wajah mereka tampak pucat. Kelelahan. Barulah kemudian mereka menyadarinya.
\"Di mana Tarika? Di mana Vimala?\" tanyaku, hendak membelah kerumunan orang-orang itu.
\"Jangan bergegas! Kita tidak boleh beranjak dari sini. Ingat pesan musisi itu,\" cegat Adhira serius.
\"Oke, terus di mana mereka? Dan, di mana musisi itu?\"
\"Aku di sini!\"
Kami terperanjak. Aku bahkan menjerit begitu menengadah kepadanya. Ya, musisi itu digantung di langit-langit kamar. Digantung terbalik dan tubuhnya berputar kencang seperti kipas angin. Ada sosok yang dikatakan Mammon di sampingnya. Dan ialah yang memutar-mutarkan tubuh si musisi itu.
\"Lepaskan dia!\" seruku menantang.
Sosok itu menatapku nyalang. Ia menggeram. Namun, aku sudah tidak gentar lagi. Aku tidak terpengaruh dengan tampangnya yang sebetulnya sangat menyeramkan; tinggi besar, bertanduk, telinganya lancip, tatapannya serupa bola api dengan mulut yang menyeringai lebar.
\"Pengecut! Bisanya cuma menyiksa yang lemah! Kalau kamu merasa perkasa, bertindaklah lebih sesuai!\"
\"Tahu apa kamu, Manusia tukang onar! Apa maumu?!\"
\"Bebaskan dia. Hentikan siksaanmu!\"
\"Cukup. Biarkan aku sendiri yang menghadapinya.\" Musisi yang tak memiliki nama itu turut ambil suara. Suaranya tidak begitu jelas karena tubuhnya terus berputar. Tapi, kalimatnya masih cukup bisa ditangkap telinga. \"Biarkan aku menyelesaikan masalahku.\"
Mammon tertawa. Mammon tampak puas mendengar ucapan musisi itu. Ia lalu menyiksanya lagi. Mammon mencekiknya erat.
\"Pengecut! Lepaskan dia!\" amukku, tak mau tinggal diam. Iblis itu benar-benar durjana!
\"Biarkan saja. Tidak apa-apa. Kalian jangan melakukan apa-apa lagi. Tugas kalian sudah selesai.\"
\"Apa maksudmu? Kamu belum selamat. Makhluk itu masih menjarahmu. Dia masih menyiksamu!\"
\"Aku sudah selamat. Aku hampir selamat. Percayalah.\"
Aku tidak paham. Keselamatan seperti apa yang ia maksud?
\"Biarlah Mammon terus menyiksaku. Ini cara supaya aku bisa benar-benar bebas darinya. Supaya dia pergi selama-lamanya dari hidupku, keluar dari sukmaku.\"
Aku pun mencoba menurut. Pada akhirnya kami harus melihat sesuatu yang lebih mencengangkan, lebih membingungkan lagi. Kepala musisi itu terpenggal, jatuh, menggelinding ke lantai hingga terdengar ber-tak-tik-tuk dari tangga menuju lantai bawah (orang-orang yang berdiri menonton begitu kompak memberi jalan). Sedangkan darah di badannya yang tertinggal itu merembes, muncrat ke wajahku, di wajah kami!
Dalam keadaan yang sebetulnya masih membingungkan, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara gemuruh. Orang-orang pun menjerit. Rumah ini bergetar hebat. Langit-langit kamar ini beretak dan memuih, berjatuhan. Dalam keadaan goyah dan sempoyongan kami berusaha menyelamatkan diri.
\"Semuanya tenang, semuanya tenang!\" seru Adhira menuntun yang lainnya.
Keadaan sangat kacau. Kami berdesak-desakan. Guncangannya makin keras. Tidak sedikit yang jatuh lalu terinjak-injak yang lain.
Aku baru merasakan desak-desakan dengan tubuhku yang masih manusia. Bagaimana kalau aku mengalami hal begini kemarin? Misal aku pun turut berubah menjadi makhluk kayang yang aneh itu; bakal berimpit-impitan, bertumpuk saling menindih dan rawan sekali kepala terlepas. Tidak!
\"Cepat, Qir? Cari jalan keluar, jangan diam saja. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berpikir.\" Adhira lekas menarikku, mencari jalan. Kami masih terkepung. Dikepung yang lain, terkepung runtuhan. Seperti hujan, bangunan ini terus menjatuhkan puing, merobohkan pilar, meratakannya dengan tanah.

Other Stories
Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Download Titik & Koma