Dikejar Hantu
Sepanjang jalan ke bandara, Mario banyak melamun. Hujan begitu deras, menimbulkan suara berisik saat menimpa atap rumah dan mobil. Pesawatnya ditunda karena cuaca buruk.
Mario sudah sampai di Bandara Syamsuddin Nor. Pemuda kurus itu menarik koper dan menggendong ransel. Puluhan hantu berjalan ke arahnya. Bau amis menyeruak di hidung. Mario merasa menjadi tokoh utama di film Resident Evil yang dikejar zombie. Bedanya, sekarang dia dikejar hantu.
“Alamak. Banyak kali hantu ke sini. Macam mau kondangan mereka tu.”
Seorang kakek tua berwajah pucat meraba ranselnya, Mario berbalik dan meninjunya dengan tangan kiri. Kakek itu langsung hancur. Pemuda kerempeng itu menyadari ada yang tidak beres. Para hantu makin dekat. Dia lari dan para hantu mengejarnya. Lalu ia membaca mantra dan mengecup mesra batu Tongghost.
“Daripada nyium batu, mending nyium akika, Bang,” Waria berambut panjang dengan dandanan menor menatap Mario genit. Kepalanya mengeluarkan darah berbau amis dengan mulut berlipstik merah darah yang nyaris robek.
Mario mengarahkan cincin Tonggost. Hantu waria itu tersedot ke dalam batu cincin. Para hantu menghilang dan muncul di dekatnya. Mereka mengeroyok pemuda keriting itu untuk merebut cincin Merin. Belasan hantu tersedot sekaligus.
Mario lari. Dia semakin terdesak, lalu dia mengeluarkan panah surya. Cahaya panah seukuran jarum jahit itu membuat beberapa hantu kabur. Sebagian yang lain masih berusaha mendekatinya. Mario menusuk kaki genderuwo yang hampir menginjaknya. Genderuwo berbadan besar dan berbulu lebat terduduk di lantai bandara. Menangis kencang seperti bayi kelaparan sebelum hangus jadi abu.
Orang-orang yang melihat Mario memberi uang. Mereka mengira pemuda keriting itu sedang atraksi untuk menyambung hidup di kota ini. Mario menerimanya dengan senang hati. Kemuadian kembali lari dari kejaran para hantu.
“Mereka macam tak ada habisnya,” Mario sudah ngos-ngosan karena setiap ada hantu yang hancur atau tersedot ke dalam cincinnya, pasti jumlah hantu yang mengejarnya bertambah.
Mario langsung masuk ke taksi. Sopir berbaju biru dengan wajah rusak menyeringai. Pemuda keriting itu berusaha keluar. Gagal. Semua pintu taksi terkunci.
“Apa yang kalian inginkan? Kenapa mengejarku?” Mario mencekik leher sopir hantu. Mengarahkan panah surya ke lehernya.
“Ampun, Bang. Aku cuma ikut sayembara untuk menangkap putri Profesor Hendri Protu dan merebut cincin Merin. Hadiahnya lumayan buat modal kawin. Jangan bunuh aku, Bang. Kasihan calon istriku, nanti dia sedih.”
“Iya, Bang. Maafkan calon suamiku. Aku sudah jadi perawan tua saat jadi manusia, masa harus batal kawin lagi setelah jadi hantu?” kuntilanak berkulit gelap memakai baju putih selutut muncul di samping Mario.
“Siapa yang mengadakan sayembara aneh itu? Jawab atau kalian akan kudeportasi ke Kampung Hantu!”
“Jangan, Bang,” koor kedua hantu itu.
“Nama akun-nya Si Merah. Dia menyebarkan sayembara di medsos alam gaib.”
“Kami kabur dari rumah karena hubungan kami tidak disetujui. Jangan pulangkan kami,” pinta Kunti sambil menangis.
“Oke. Tapi, sekarang kau antar aku ke museum Bamboe Kuning. Nanti kubayar.”
“Siap, Bang.”
Kuntilanak menghilang dan muncul di samping sopir. Pamit pulang dan mengecup punggung tangan sopir taksi itu. Membuat Mario yang jomblo iri. Kutilanak menghilang. Taksi biru itu melaju ke Museum Bamboe Kuning.
“Tenang, Bang. Mobil ini sudah kupasangi anti hantu. Selain hantu yang kuizinkan, nggak boleh masuk!” sopir hantu tersenyum ramah.
Puluhan hantu mengikuti taksi. Ada yang tiba-tiba mucul di depan mobil dengan motor vespa. Sopir taksi hantu langsung menabraknya. Vespa itu terpental. Ada juga yang berusaha menyusul dengan sepeda. Dia mengetuk pintu kaca yang tertutup rapat. Taksi itu menyenggol pengendara sepeda hantu hingga jatuh. Dia ngebut. Genderuwo botak melompat ke mobil dari pohon.
“Aduh... burungku!” jerit Genderuwo botak sambil memegangi selangkangan di atas taksi.
Taksi melambat, belasan hantu berhasil mengejar mereka.
“Hentikan mobilnya. Buka Jendela kiri. Aku akan hadapi mereka.”
Sopir menuruti keinginan Mario. Pemuda keriting itu langsung mengarahkan batu Tongghost pada belasan hantu yang berjejal di pintu jendela. Semua langsung tersedot ke cincin. Taksi kembali melaju dan berhenti di depan museum. Mario menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Dua kali lipat yang tercatat di argo.
“Uangnya kelebihan, Bang,” sopir itu menatap Mario yang keluar dari taksi.
“Anggap saja bonus karena melindungiku dari para hantu,” Mario menatap sopir hantu.
Bang. Hati-hati ya. Pasti banyak hantu yang akan mengincarmu.”
“Ya, aku akan hati-hati. Makasih ya,” Mario tersenyum.
“Sama-sama, Bang,” taksi kembali melaju. Menghilang setelah jarak seratus meter.
***
Other Stories
Desviar : Libur Dari Kata-kata
Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...