Panik
Hari semakin larut, Kak Ziya merasa bingung. Apa yang dilakukan Adnan, sampai jam segini? Adnan belum juga pulang. Apa yang harus dia lakukan? Sebentar lagi orang tua mereka akan segera tiba. Apa yang harus dia katakan kepada mereka?
Sepulang sekolah tadi siang, Adnan hanya berpamitan untuk keluar sebentar mecari Arif dan Udin, tapi sampai sekarang ia belum juga pulang. Sejak sore, Kak Ziya sudah merasa ada yang tidak beres, tidak biasanya Adnan keluar dalam waktu yang lama, tapi Kak Ziya masih memakluminya karena Kak Ziya pikir Adnan memang masih keasyikan bermain dengan teman-temannya.
Tapi, lihat saja sampai jam setengah sembilam malam sekarang Adnan masih belum juga pulang. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Duh, Adnan! Cepat pulang! Ke mana saja sih, dari tadi?” gumam Kak Ziya, sambil mondar-mandir di ruang tamu. Keadaan rumah masih sepi, hanya ada Kak Ziya sendirian. Pak Ibrahim dan Bu Irma sejak pagi pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, namun malam ini katanya Ayah dan Ibunya itu akan langsung kembali pulang ke rumah.
Waktu tetap berlalu, setengah jam Kak Ziya hanya mondar-mandir di depan pintu rumah, sampai akhirnya Pak Ibrahim dan Bu Irma datang.
“Assalaamualaikum,” ucap salam Pak Ibrahim dan Bu Irma bersamaan.
“Waalaikumussalam Yah, Bu,” ucap balas salam Kak Ziya dengan suara gemetar kepada Ayah dan Ibunya sambil menyalami mereka bergantian.
“Ziya, kamu kenapa?” tanya Pak Ibrahim, Ayahnya.
“Emmm ... emmm ...”
“Kenapa Ziya? Ada apa? Di mana Adnan?” tanya Bu Irma bertubi-tubi.
“Emmm, Ad ... Adnan ... Adnan ...”
“Ada apa dengan Adnan?” tanya Pak Ibrahim dengan tatapan serius.
“Adnan belum pulang dari tadi, Yah.” Kak Ziya menjawab pelan serta kepalanya menunduk.
“Belum pulang? Memangnya Adnan pergi ke mana? Kenapa wajahmu merasa cemas begini?
Apa yang terjadi dengan Adnan?” tanya Bu Irma, nada suaranya mulai terlihat panik.
“Zi ... Ziya juga tidak tahu, Bu, Yah. Tadi siang sepulang sekolah, Adnan hanya berpamitan pergi sebentar untuk mencari Arif dan Udin, tapi sampai sekarang Adnan belum juga pulang. Ziya selepas shalat Maghrib tadi sudah berusaha mencari Adnan di sekitar gang-gang tapi gak ketemu,” jelas Kak Ziya.
“Astaghfirullahal’adzim,Innalillahiwainnailaihiraaji’un,” Gumam Pak Ibrahim.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Bu Irma.
“Iya, Ayah, tidak biasanya Adnan keluar bermain selama ini. Sore tadi, Ziya juga sudah merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres, tapi... tapi Ziya pikir tadi Adnan masih keasyikan bermain, mangkanya Ziya tidak langsung mencarinya,” kata Kak Ziya, “sekarang sudah malam Yah, apa yang harus kita lakukan?”
“Baiklah Ibu akan mencari Adnan sekarang,” kata Bu Irma, tergesa-gesa.
“Tapi, Bu,“ cegah Kak Ziya. “Sekarang sudah hampir jam sepuluh. Mau mencari ke mana, Bu?” tanya Kak Ziya, “Ziya sudah berkeliling di sekitar sini, dan Ziya juga sudah bertanya kepada teman-teman Adnan yang lain, tapi mereka semua gak ada yang tahu ke mana Adnan pergi,” lanjut Kak Ziya.
“Kalau begitu kita harus lapor polisi!” sahut Bu Irma. Pak Ibrahim masih terdiam, Ia masih berpikir apa yang terjadi dengan Adnan? Apa yang harus ia lakukan?
“Tidak bisa, Bu,” sahut Kak Ziya.
“Kenapa?” tanya Bu Irma, “kenapa tidak bisa?”
“Karena hilangnya Adnan belum 2x24 jam,” kata Pak Ibrahim, mulai angkat bicara.
“Terus gimana dong? Ibu khawatir, Yah, Ibu takut terjadi apa-apa dengan Adnan.” Bu Irma, banyak perntanyaan yang dikeluarkan, air mata itu juga mulai membasahi pipi Bu Irma. Bu Irma menangis tersedu-sedu sambil menyebut nama Adnan.
“Bu, sudah, sudah, Bu, jangan menangis, Ibu istirahat dulu saja, ya?”
“Tidak bisa, ibu tidak bisa diam saja,” kata Bu Irma,
“Ibu, tenang saja. Adnan pasti bisa menjaga dirinya dengan baik.” Kata Pak Ibrahim, optimis. “Juga Ibu tidak usah khawatir, kita serahkan saja sama Allah. Allah pasti akan membukakan jalan keluar untuk kita dan Adnan. Adnan pasti ketemu, Bu. Ibu tenang saja, ya? Ayah tahu bagaimana perasaan Ibu, Ayah juga sama Bu. Ayah juga sangat khwatir dengan keadaan Adnan sekarang, tapi hari sudah sangat larut, para tetangga juga pasti sudah banyak yang beristirahat, sebaiknya kita melakukan pencarian mulai besok pagi,” kata Pak Ibrahim panjang lebar. “Ziya, tolong bawa Ibu ke kamar dulu sekarang,” lanjut Pak Ibrahim.
“Iya, Ayah,” jawab Kak Ziya. “Ayo, Bu,” ucap Kak Ziya, sambil membantu Bu Irma dengan menuntunnya ke kamar.
“Sudah, Bu. Ibu jangan menangis lagi, Adnan pasti kembali ke rumah, Adnan pasti ditemukan Bu,” kata Kak Ziya menenangkan Bu Irma.
“Ziya, seharusnya kamu tadi tidak membiarkan Adnan untuk pergi,” kata Bu Irma sambil kembali terisak dan meneteskan air mata.
“Iya, Bu. Ini salah Ziya, Ziya tidak bisa menjaga Adik Ziya dengan baik,” Kata Kak Ziya, sambil menunduk dan ikut terisak, Kak Ziya menangis.
“Maafkan Ziya, Bu. Ziya, salah,”kata Kak Ziya, sedih. “Tapi, Bu, ini semua telah terjadi, Ziya mohon, maafkan Ziya, Bu. Ziya berjanji, Bu, Ziya akan membawa Adnan pulang kembali ke rumah ini, Ziya pasti akan menemukan Adnan, Bu. Ibu, tenang saja besok Ziya akan berusaha untuk ikut mencari Adnan.”
Melihat Kak Ziya menangis, Ibu jadi merasa bersalah karena telah menyalahkannya. “Ibu tidak bermaksud menyalahkan kamu, Nak. Kamu tidak salah, ini memang sudah takdir kita. Bagaimanapun juga, ini semua telah terjadi, Allah telah menghendakinya, kita tidak bisa menyangkalnya. Kita hanya bisa berusaha untuk menyelamatkan Adnan.”
“Iya, Bu. Sebaiknya Ibu sekarang tidur, ya? Ibu istirahat dulu, besok kita mencari Adnan, dan pasti kita akan menemukannya.” Kata Kak Ziya. “Ibu tenang saja, Adnan pasti baik-baik saja,” lanjut Kak Ziya, langsung beranjak meninggalkan Ibunya dan pergi keluar dari kamar.
۞۞۞
“Emmm! Emmm!” teriak Adnan, namun sia-sia. Mulut Adnan sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata-kata, lakban hitam yang menempel di mulutnya membuat kesulitan untuk berbicara. Entah di mana sekarang, saat ini iadi bawa Zuki dan Bang Jono ke sesuatu tempat yang di mana asalnya ia tidak bisa mengenalinya.
Tangannya masih terikat tali, ia hanya bisa berjalan mengikuti Zuki dan dengan dorongan keras Bang Jono dari belakang. Ya, Zuki si Cugkring berjalan lebih awal sedangkan Bang Jono tetap menjaganya dari belakang, karena takut Adnan akan melarikan diri.
Tempat yang dilihatnya saat ini sangat sepi, di sekelilingnya hanya terlihat tumbuhan, pohon-pohon besar yang sangat lebat daunnya, pohon-pohon ini sangat tinggi kalau tidak salah ini adalah pohon siwalan. Adnan masih ingat di sekitar rumah pamannya yang ada di desa Kandang Semangkon sangat banyak dan mudah ditemukan pohon ini. Pohon Siwalan atau pohon Aren yang orang desa bilang adalah pohon Ental, buah dari pohon siwalan. Selain pohon Siwalan, terdapat pula pohon Jati yang lebat-lebat daunnya.
Tapi, di mana dia sekarang? Ia hanya bisa menyeruakkan pertanyaannya itu di dalam hati. Ia hanya bisa mengingat jalan mana saja yang telah di lalui, akan tetapi sama sekali tidak mengetahui di desa mana sekarang.
۞۞۞
Other Stories
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...