Hafidz Cerdik

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
hafidz cerdik
Hafidz Cerdik
Penulis Enies Nabila F.t.s

Bebas

Di sisi lain, Bu Irma dan Pak Ibrahim sudah berada di tempat di mana Bang Jono dan Bang Zuki rencanakan.
“Yah, kenapa sepi sekali?” tanya Bu Irma.
“Ya, Bu. ke mana mereka?”
Sementara Kak Ziya dan beberapa polisi yang ikut dengannya berhasil menemukan rumah tempat persembunyian Adnan.
“Benar, Pak, di sini tempatnya, kita sudah dekat. Mungkin rumah yang di sana itu rumahnya.”
“Baik, segera kita ke sana.”
Saat terdengar ada orang-orang yang berlari, Adnan segera siap untuk rencana selanjutnya. Tapi, sepertinya bukan dari arah dalam rumah suaranya.
“Siapa lagi ini? Jangan, jangan!” tebak Adnan dalam hati.
Zuki akhirnya bisa terlepas dari ikatannya. Tangan dan Kakinya sudah terbebas, bergegas
Zuki segera menghampiri Bang Jono ke belakang. Bang Jono masih memegangi kepalanya kesakitan.
“Cepat! Cepat kejar! Pasti belum jauh dari sini,” kata Bang Jono, sambil memegangi kepalanya.
“Baik, Bang. Ke mana perginya?”
“Cepat lewat depan, karena pintu belakang sini tidak ada jalan lain selain memutar balik menuju gerbang depan, cepat! Cepat!”
“Iya, Bang,” kata Zuki langsung berlari membuka pintu depan. Bang Jono berusaha mengikuti Zuki.
“Bang, sepi Bang,” kata Zuki
“AYO! Cepat kita lari, cari tuh bocah sampai dapat!” perintah Bang Jono. Zuki dan Bang Jono pun berlari bergegas keluar, sampai akhirnya mereka tiba-tiba ...
“Aaaargh!”
“Oh tidak, Bang Jono kita sudah terjebak Bang, bagaimana kita bisa keluar?”
“Emang dasar tuh bocah, sejak kapan dia mengelabuhi kita.”
“Zuki kagak tahu, Bang. Gimana ini, Bang?”
“Alhamdulillahirabbil’alamin, gimana Bang? Sudah mau bertaubat?” tanya Adnan, tiba-tiba Adnan muncul di atasnya.
“Eh, bocah. Sini kamu!”
“Maaf, ini memang sengaja. Tenang saja, Adnan gak bakalan lari ke mana-mana kok, aku akan tetap di sini.”
“Keluarkan Zuki, Adnan!” teriak Zuki.
“Tenang saja Bang, nanti juga pasti Bang Jono dan Bang Zuki bakalan keluar dari sana, jika Allah sudah menghendaki. Adnan akan tunggu di sini sampai Allah akan memberikan pertolongan buat Adnan, kalau bisa. Bang Jono dan Bang Zuki keluar saja sendiri dari dalam sana.”
“Adnan!” Panggil seseorang, Adnan sangat mengenali panggilan ini.
“Kak Ziya!“ teriak Adnan, tak percaya saat menoleh ke belakang, Adnan melihat Kak Ziya dengan beberapa Polisi, tak menunggu lama, Adnan langsung berlari menghampiri Kak Ziya. Kak Ziya memeluk Adnan dengan erat.
“Alhamdulillahirabbil’alamin,” ucap Kak Ziya lirih. “Di mana para penjahatnya Adnan?” tanya Kak Ziya.
“Di dalam tanah berlubang itu, Kak,” jawab Adnan, sambil menunjuk tanah berlubang itu.
“Pak, cepat tangkap mereka!” seru Kak Ziya, Polisi pun langsung bergegas membawa Bang Jono dan Zuki keluar dari tanah berlubang itu dan memborgol mereka berdua.
“Akhirnya, Alhamdulillah Adnan benar-benar bebas sekarang.”
“Bagaimana bisa kamu menjebak mereka Adnan?” tanya Kak Ziya.
“Adnan dilawan.” Adnan dengan bangga sambil menepuk dadanya.
“Adik Kak Ziya memang pintar, ” kata Kak Ziya. Adnan hanya bisa tersenyum bahagia. “Oh iya Adnan menghubungi Ayah dan Ibu dulu.”
Tut ... tut ... tut ...
“Assalaamu’alaikum, Yah. Alhamdulillah, Adnan sudah ketemu, Yah, Bu, sekarang Adnan
bersama Ziya, para pelaku penjahatnya juga sudah ditangkap oleh polisi sekarang.“
“Alhamdulillah, baik sekarang Ayah dan Ibu akan menyusul kamu ke sana, di mana alamatnya?”
“Baik, sebentar Ziya kirim alamat lengkapnya melalui pesan.”
“Baik, Nak.”
۞۞۞
“Alhamdulillahirabbil’alamin, kita masih bisa berkumpul bersama sekarang,” kata Pak Ibrahim
.
“Iya Nan, Ibu sangat khawatir dengan kamu,” kata Bu Irma.
“Maafkan Adnan, Yah, Bu, seharusnya Adnan tidak keluar saat itu.”
“Maafkan Kak Ziya juga, Yah, Bu, seharusnya Ziya tidak mengizinkan Adnan keluar waktu itu.”
“Sudah, sudah, semua sudah terjadi dan biarkan berlalu, dengan kejadian ini semoga kita dapat mendapatkan hikmah dan manfaatnya.” Pak Ibrahim berkata bijak.
“Iya benar, yang terpenting sekarang Adnan sudah ketemu dan Adnan sudah bebas. Kita sudah berkumpul seperti ini lagi, Ibu sangat sudah sangat senang.” Bu Irma menimpali.
“Alhamdulillah, Adnan sekarang akan lebih berhati-hati untuk memercayai orang yang belum kenal.” Kata Adnan.
“Iya, Yah, Bu. Jadi beruntung sekali karena Adnan saat itu tetap membawa MP3 yang aku kasih, kalau bukan karena MP3 itu mungkin belum bisa ditemukan sekarang Adnan,” jelas Kak Ziya.
“Kok bisa, Ziya?” tanya Pak Ibrahim.
“Iya, Yah. MP3 yang Ziya kasihkan itu bisa dilacak dengan GPS.”
“Oh, begitu,” Sahut Pak Ibrahim, sambil manggut-manggut.
۞۞۞
Setiap apa yang terjadi, biarlah tejadi sesuai dengan kehendak-Nya. Hanya pembelajaran bermakna yang mampu kita petik dalam setiap kejadian.
Jangan pernah merasa bahwa yang Kuasa tidak akan melimpahkan rezeki-Nya kepada para hamba-Nya, karena setiap apa yang telah diberikan oleh Allah, itulah takaran untuk kita, percayalah Allah akan memperlancar rezeki asalkan kita mengupayakannya dengan cara yang Halallan Thoyyiban.
Media Sosial, media komunikasi jaman kekinian yang tak bisa terelakkan lagi. Namun, bagaimanapun juga sebijak-bijak orang yang mampu mempergunakannya dengan layak, baik dan benar adalah orang yang Bijak.
۞۞۞
TAMAT

Other Stories
Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Download Titik & Koma