Bab 1: Dari Sungai Ke Langit
Kalau ada daftar hal-hal yang bikin hidup saya berubah drastis, nomor satunya bukan "ketemu cinta sejati" atau "menjadi juara kelas", yang terakhir mustahil buat saya. jujur karena kecerdasan saya setara kecebong. Tapi Nyemplung ke Sungai Limbah dan Disuntik Serum Katak oleh Kakek-Kakek Misterius.
Nama saya Cahyo. Umur saya tujuh belas, kelas dua SMA, dan sebelumnya satu-satunya kekuatan saya adalah nggak pernah bolos upacara bendera.
Saya tinggal bareng ibu saya di rumah petak kecil pinggir kota. Hidup kami sederhana, tapi bahagia. Minimal sampai hari Sabtu itu. Hari di mana saya memutuskan untuk mancing. dan berakhir jadi manusia super. Bukan karena digigit laba-laba radioaktif atau kecelakaan nuklir (itu terlalu keren buat saya. itu MARVEL, OK!!), tapi karena... cebur got? Ah, bukan got, sungai! Sungai yang airnya udah kayak sup kimia pabrik.
Saya tahu, kedengarannya biasa. Tapi hari itu, saya mancing di sungai yang katanya "masih ada ikannya." Padahal fakta di lapangan lebih mirip: "ada airnya aja udah syukur."
Saya duduk di pinggir sungai, nunggu kail sambil nulis puisi buat Evi, cewek paling cantik, paling cerdas, dan paling konsisten nolak saya sejak kelas satu. Saya masih optimis. Soalnya saya pernah baca, orang sabar itu disayang Tuhan. Jadi, saya sabar. Dan... ditolak lagi.
Tapi belum sempat saya move on dari penolakan ke-8 (iya, saya hitung), joranku bergerak.
saya narik joran
di sungai terlihat kepala lele, tapi segede semanggka.
aku tarik lagi...
kepala nonggol plus badannya yang punya tangan.
Tanggan???? SERIUS???
Aku tarik lagi.
Mulai muncul badan dan kaki.
Mahluk itu mulai tarik senar pancing ku. Kami tarik tarikan kayak main 'Tarik Tambang'
Dia menang dan .....
BLUNG!
Saya nyemplung. Tenggelam. Mulut saya keburu penuh air berwarna abu-abu metalik? Rasanya kayak Teh Tarik yang digabungkan sama oli bekas.
Saya mulai ngehalu. Kayak ada suara orang tua teriak,
“NAK! AKU DATANG!”
DZINGGH.....DZINGGG
Lalu... gelap.
Saya bangun di tempat aneh. Banyak tabung kaca, alat-alat kayak di film-film sci-fi. Di sebelah saya, berdiri kakek-kakek pakai jubah laboratorium, rambut putih mekar kayak popcorn meledak.
“Selamat bangun, anak muda,” katanya.
Saya menelan ludah. “Saya di mana?”
“Di laboratoriumku. Saya Handoyo. Peneliti. Ilmuwan. Dan mungkin penyelamat hidupmu.”
Lalu dia mengangkat jempol. Serius.
“Kenapa saya berasa abis ditabrak truk... dan dilindes ulang?”
“Karena kamu keracunan limbah industri berbahaya. setelah ditarik ikan Lele sampai nyemplung di sungai. Tapi tenang. Saya beri kamu serum penawar. Terbuat dari ekstrak katak.”
“Katak? ditarik lele? " aku masih bingung
“Iya. Katak pohon Amazon, jenis yang bisa melompat sejauh 20 meter dan hidup dengan satu ginjal. kalau tidak di suntik serum kamu sudah mati dari tadi" kata pak Handoyo, enteng.
“Kenapa ginjalnya ikut disebut, Kek?”
“Biar keren aja.”
sakit ini orang.
Untuk menghindari kekawatiran ibuku, saya diantar pulang oleh Fredy. setelah ngobrol sebentar dengan ibuku. Fredy berpesan besok akan di jemput lagi guna pemeriksaan kalau kalau ada yang salah pada badan ku.
Besoknya hidup saya berubah.
Setelah serangkaian uji coba. Saya jadi kuat. Banget. Pukul tiang listrik, tiangnya patah.
Anti peluru. Dicoba pas saya tidur—oleh Pak Handoyo sendiri (ini orang sedikit psikopat), saya sempat marah.
"Tenang nak Cahyo! cuma ditembak di pantat kok."
Panca indra saya makin tajam. Saya bisa dengar suara nyamuk pipis di kamar sebelah.
Dan yang paling gila, saya bisa loncat. Tinggi. Jauh. Kayak... katak. Ya, katak bisa melompat 20x panjang tubuhnya, Kalau manusia sekitar 30 meter.
Masalahnya, setelah dapat kekuatan itu, Pak Handoyo mulai minta tolong.
“Cahyo, bantu saya. Banyak orang terpapar limbah dan jadi aneh. Ada yang bisa bikin listrik dari jari. Ada yang ngilangin benda. Mereka harus dihentikan. nggak hanya itu, banyak hewan dan tumbuhan sekitar situ yang bermutasi. Ikan lele yang nyeret kamu ke sungai."
Saya, Cahyo yang lugu dan gampang kasihan, nurut. Saya pikir saya jadi pahlawan.
Sampai suatu hari saya dengar percakapan Fredy, pelayan setia Pak Handoyo:
“Bos, limbah dari pabrik kita makin parah. Takutnya makin banyak manusia mutan.”
Dari situ saya sadar. Saya bukan bagian dari solusi. Saya bagian dari masalah.
Malam itu, langit mendung. Angin berembus pelan, membawa aroma amis yang bukan dari pasar ikan, tapi dari sungai kecil belakang komplek. Aku berdiri di tepi jembatan, menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Bukan karena cuaca. Tapi karena kostum spandek hijau yang terlalu... menyiksa.
"Pak, saya serius, ini spandek atau jebakan tikus sih?kemaluan saya terasa di gencet. jauh dari rasa nikmat!!." aku mulai protes dengan kostum konyol di tugas pertama.
Kostum spandek hijau gelap dengan topeng nempel di mata. dan yang pasti meyiksa. Kini aku mulai tahu penderitaan Peter Parker.
"Jangan lebay. Itu bahan impor. Elastis. Aerodinamis. buatan Dolce temanku. Didatangkan langsung dari Paris"
"Elastis apanya? Ini malah menekan masa depan saya, Pak."
"Fokus, Cahyo. Targetmu malam ini, ikan-ikan mutan yang bikin warga nggak bisa nyuci di sungai. Mereka ngisengin orang, colong sabun, lempar kerikil, dan kemarin ada ibu-ibu dijambak lele." Pak Handoyo menjelaskan detail yang tak perlu.
Saya menghela napas. Dia menatap ke arah air gelap yang beriak tak wajar. Sesekali terlihat sirip mencuat, dan... tangan? Serius, TANGAN?
Tiba-tiba, SPLASH!
Seekor gurame muncul, salto ke udara, lalu menyeringai ke arah ku. Giginya lengkap.
[Pak. Saya barusan lihat ikan gurame.] Obrolan saya dengan pak Handoyo melaui pemancar jarak jauh.
[Jangan terpukau. Mereka sudah berevolusi. Fokus ke misi.]
[Kalau bisa, saya juga mau berevolusi. Jadi makhluk yang nggak perlu pakai spandek hijau ketat.] kataku sambil mencubit pantat yang semakin menekan. terasa dinodai cowok kekar berkumis yang ternyata gay.
[Prioritasmu salah, Nak.]
Tidak beberapa lama, muncul ikan ikan kecil segede kucing. Lele, gurame, sepat, mujair, yang semua punya tangan dan kaki. mulai menyerang saya.
Pertarungan konyol tak terhindarkan. mereka mulai menggigit spandek, menjambak. aku menyerang dengan mengijak injak serta membanting mereka,
lalu aku dipeluk lele jumbo dari belakang.
[Pak! Saya dipeluk! Saya dipeluk LELE!. Apa perlu saya cium?]
[TOLOL!!? Manfaatkan! Kirimkan listrik! Pegang badannya, setrum pakai sarung tangan mu]
[Saya juga butuh dikirimkan saldo ovo dan celana ganti, Pak!!]
Tanganku memegang lengan lele dan.....
ZERZZZ ......
lele sukses terpanggang. aku mikir kalau di tambah sambel pecel enak nih. PECEL LELE!!
Gurame monster meluncur dari bawah air, mencoba mengangkat saya seperti adegan wrestling, setelah saya setrum tangannya saya dilepas. sementara Moster mujair memutar-mutar gayung seperti senjata nunchaku.
[Pak! mujair ini barusan bilang, ‘Say hello to my little friend!’ trus mukul saya pake gayung!]
[Itu gayung warga, tolong selamatkan!]
[Kenapa saya malah jadi divisi properti, Pak!?]
DOR!!!!
DOR!!!!
Mereka tumbang
Tiba-tiba, terdengar suara “TEW! TEW! TEW!” dari kejauhan. Ikan-ikan kecil bermutan tangan dan kaki langsung terpental satu per satu, terkena tembakan. Seekor mujair mental , jatuh dengan dramatis,
Fredy masuk.
[Cahyo, aku di atap rumah Bu Yayah, pojok sungai. Target clear, tujuh mujair mutan, tiga lele lari, dua gurame kecil kabur masuk gorong-gorong.]
[Siapa Bu Yayah? nggak penting banget infonya]
[Tukang Seblak yang jual di sekitar sini..Seblaknya ENAK!!]
[Nggak penting banget!!!!!]
Sementara Fredy terus menembaki target dengan sniper peluru kejut racikan Pak Handoyo, aku menghadapi satu-satunya musuh besar malam ini: seekor ikan gabus mutasi seukuran manusia, dengan dada bidang, lengan kekar, dan... TATO NAGA di lengan..
[Pak, saya berhadapan dengan gabus mutan berotot dan tatonya keren.Saya takut jadi fans]
[Fokus, Cahyo. Itu eks-percobaan yang lolos dari akuarium lab] suara pak Handoyo dari markas.
[kenapa ada tato naga?]
[BODO AMAT!!!!]
Gabus monster menyerang. Aku berguling ke kiri, menghindar, lalu membalas dengan pukulan listrik ke arah kaki gabus. Tidak mempan.
[Fredy! Cover saya, bro!]
[Mencoba... Tapi makhluk ini kayaknya pernah ikut Muay Thai! oya sedikit info. tato itu hasil karya ku]
[PAK SAMPEYAN WARAS!!!!!]
Fredy menembak lutut gabus. Aku mulai pakai momen itu untuk melompat ke punggungnya, melilit dengan kabel medan kejut, dan...
ZAAAPP!
Gabus mutan menggeliat, lalu terdiam. dan mati..
aku terkapar di tepi sungai, basah kuyup, dengan spandek yang sekarang makin terasa menyiksa.
lelah
ingin baring sebentar
[Pak, misi selesai. Tapi saya udah nggak tahan.]
[Kenapa?]
[Saya mau ganti kostum! Ini pantat saya udah bukan bagian tubuh, tapi luka batin.]
Fredy tertawa di seberang radio.
[Tenang. Nanti aku omongin ke Dolce. Dia udah siapin desain baru. Lebih adem dan... nggak bikin nyeri masa depan.]
aku terdiam, berbaring menikmati angin malam. ada beberapa tukang mancing yang sempet lihat aksiku. dikira aku meninggal. dan menolongku. menggendongku.
Aku terbangun
"AWAS! JANGAN PEGANG DI SITU! ITU SPANDEKNYA KETAT BANGEEET!” teriakku bikin yang gendong aku kaget. lepasin aku ke tanah.
aku langsung lompat tinggi dan kabur.
[Misi selesai, Pak.]
[Luar biasa, Cahyo. Bangga aku padamu]
[Besok saya boleh pakai celana biasa aja nggak, Pak?]
"...Nggak ada jawaban.
Dan begitulah, tugas pertama saya. Dengan air amis, ikan nakal, dan kemaluan yang tertindas.
Tapi Cahyo tetap Cahyo.
Superhero dengan nyali besar... dan spandek ketat.
Dan itu belum termasuk masalah percintaan saya di sekolah.Evi makin sering nolak saya.
Sefia, cucu Pak Handoyo yang cerewet dan nekat, malah ikut-ikutan mau jadi sidekick saya. yang belum aku ceritakan. Dan saya masih harus pura-pura normal di depan tiga sahabat saya, Rico si kaya plaboy, Aryo si manusia barbel, dan Dani si pemikir lambat yang suka manggil saya “Pak Cahyo” tiap lagi panik. yang nanti juga saya ceritakan.
Satu hal yang pasti:
Saya, Cahyo, anak SMA biasa... sekarang bertanggung jawab atas kota ini.
Atau minimal, bertanggung jawab atas ikan-ikan sungai yang sekarang bisa jalan pakai dua kaki.
Other Stories
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...