Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 2: Gagal Move On, Sukses Menangkap Penjahat


Saya kembali ke sekolah setelah tiga hari bolos. Alasan resminya demam dan pencernaan terganggu.
Alasan sebenarnya, mutasi genetik karena nyemplung di sungai limbah dan disuntik serum katak oleh kakek-kakek eksentrik.

Gampangnya, saya sekarang manusia berkekuatan kodok setengah jadi. Kelebihannya bisa loncat dari lantai dua ke kantin tanpa cedera. Kekurangannya, selangkangan dan pantat saya teraniaya.


Saya masuk gerbang sekolah, masih rada grogi. Tiga hari absen dan kamu pulang-pulang dengan rahasia segede ini. rasanya kayak balik dari liburan sekolah terus kamu tahu kamu satu-satunya yang sekarang bisa nangkep maling pakai selimut tidur.

“WOI CAHYO!” teriak Rico dari motor sport-nya. Dia turun gaya slow motion, padahal yang jalan biasa aja tuh cuma 0.8x kecepatan orang waras.

Rico ini ganteng, anak orang kaya, playboy. Tapi dia sahabat baik saya sejak kelas satu. Kadang saya curiga dia naksir saya, karena dia terlalu sering bilang, “Yok nginep di rumah aku, nyokap masak steak.” Tapi mungkin dia cuma kesepian. Atau... lapar.

“KAMU, SEMBUHNYA LAMA AMAT,” Aryo menyambung. Suaranya kayak subwoofer rusak. Badannya kayak kulkas empat pintu. Temperamen? Jangan ditanya. Dia pernah ngebanting bangku karena sambal kantin keasinan. Tapi dia juga sahabat sejati. Kalau kita berantem sama kelas sebelah, Aryo adalah orang pertama yang lempar meja.

Dan terakhir, Dani.
Dia melambai pelan.
“Ca... lu... masih... hidup... ya?”

Saya angguk. “Iya, Dan.”
(Tiga detik kemudian)
“Syukurlah... gua... pikir... lu... udah... jadi... ikan asin.”

Kami bertiga peluk-pelukan kayak sinetron, minus soundtrack galau.



Hari itu biasa aja. Kecuali, saya mulai bisa dengar suara Evi dari jarak 50 meter. Dan parahnya, dia lagi ngomongin cowok lain.

“Eh... Pak Wahyu tuh ya... lucu banget pas ngajar kimia... kayak ngelucu tapi nggak lucu... gemes!”

Saya diem.
Kekuatan super ini kadang enak. Tapi juga bisa menyakiti.

Karena... yah... saya suka Evi.

Sudah dua tahun saya ngejar Evi. Dari mulai ngasih surat, CD kompilasi lagu sendiri, sampe pernah kirim 50 tusuk sate ke rumahnya lewat ojek online. (Waktu itu saya pikir dia suka sate. Ternyata vegetarian.)

Hari ini saya putuskan untuk nyoba lagi.

Pas pulang sekolah, saya pura-pura nggak sengaja ketemu dia di depan kelas.

“Evi...”

“Hmm?”

Saya nelen ludah. “Kalau misalnya ada orang... yang tiap malam nolongin kota ini dari kejahatan... nyelametin ibu-ibu dari rampok... nolong kucing dari pohon... dia keren nggak menurut kamu?”

Evi mengerutkan dahi. “Ya keren lah.”

Saya senyum. “Kalau misalnya... itu aku?”

Evi diam sebentar. Lalu ketawa.

“Cahyo... kamu tuh cocoknya nolong ibu kantin, bukan kota.”

Oke. Penolakan ke-9.
Dicatat.

Malam harinya, saya ke laboratorium Pak Handoyo.
Lokasinya ada di bawah rumahnya. Rumah yang kalau dilihat dari luar kayak rumah jaman kolonial, tapi begitu masuk... ada lift rahasia, lorong tersembunyi, dan pelayan bernama Fredy yang selalu menyambut saya dengan suara seperti GPS.

“Selamat datang, Cahyo. Pak Handoyo menunggu Anda di Lab 3.”

Di Lab 3, saya sudah ditunggu Pak Handoyo dan Sefia—cucunya yang cerewet dan mendadak pengen jadi sidekick saya.

“Cahyo, ada laporan. Ada pria misterius di kawasan Terminal Bambu Runcing yang bisa membengkokkan logam dengan tangan kosong. Kami curiga dia korban mutasi limbah juga,” kata Pak Handoyo sambil menyorot peta hologram di udara.

“Siap, Kek. Tapi… kostum saya masih robek sejak misi kemarin.”

“Tenang, itu sudah diperbaiki oleh Dolce.”

Biodata Karakter: Dolce
Nama lengkap: RAHASIA
Nama kode: Dolce (alias, selalu dipanggil begitu karena katanya "lebih glam dan futuristik")
Jenis kelamin: Waria
Usia: RAHASIA
Hubungan: Murid, teman sekaligus keluarga angkat Pak Handoyo. Teman dekat sekaligus “fashion advisor paksa” bagi Saya  dan tim superhero lainnya.
Karakteristik dan Kepribadian, Dolce adalah perpaduan unik antara Einstein, Lady Gaga, dan tukang las pinggir jalan. Ia jenius dalam bidang teknologi, persenjataan, dan desain mode futuristik, tetapi suka ngomong ceplas-ceplos, slebor, dan sering mendramatisasi apapun yang bisa didramatisir.

Di balik suaranya yang kadang cempreng dan gayanya yang berlebihan, Dolce menyimpan hati yang tulus dan penuh semangat. Ia percaya bahwa superhero bukan cuma soal kekuatan, tapi juga soal gaya. Maka dari itu, tiap kostum pahlawan pasti punya unsur mode yang absurd tapi ikonik.
Kemampuan:
Ahli teknologi tingkat tinggi.
Bisa merakit drone dari kipas angin dan sendok plastik.

Ahli komunikasi dan taktik lapangan.
Meski lebih sering pakai headset sambil ngemil makaroni pedas
Ciri khas:
kedepannya Punya Hoodie pelangi buatan sendiri yang dilengkapi 20 gadget rahasia.
Suka pakai lip balm rasa stroberi dan bilang itu “biar anti radiasi.”
Hobinya ikut lomba desain dan pameran teknologi global. (Sempat dikira cosplay Dora the Explorer di Paris.)
Motivasi dan Latar Belakang:

Dolce berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya tukang servis kulkas, ibunya penjahit kebaya. Dari kecil, dia sudah merakit blender jadi kipas angin. Keunikan Dolce membuatnya sempat dijauhi teman-teman, sampai akhirnya Pak Handoyo melihat potensinya dan mengangkatnya jadi murid pribadi.

Dolce bukan cuma jenius teknologi, tapi juga punya jiwa sosial tinggi. Ia bikin semua alat superhero tanpa dibayar, asal bisa ikut nimbrung di aksi dan... nambah followers.
Kata-kata favorit:
"Kalau bisa elegan, kenapa harus brutal?"
"Spandek itu seni. Kalo nggak nyaman, berarti kamu belum ngerti."
"Aku nggak waras. Aku waria. Beda!"
“Kalau orang lain pake GPS, aku pake gaya. Itu arah hidupku.”

Kostum, Kodok, dan Harga Diri Lelaki
Dolce masuk. Pakai heels. Lipstik merah. Dan jubah penjahit. Dolce sedang sibuk dengan desain baru yang katanya “akan merevolusi dunia superhero.” Tangannya sibuk mencoret-coret tablet digital, sementara di sebelahnya ada manekin yang sedang memakai... kostum ungu metalik dengan motif bunga teratai.
Tapi aku datang dengan satu misi penting.
“Dolce.”
“Hmmm?”
“Kita harus bicara soal ini.” Saya melemparkan kostum spandek hijau—yang basah, berlumpur, dan aromanya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata manusia biasa—ke atas meja kerja Dolce.

Dolce mendelik.
“Astaga! Tolong! Itu masterpiece-ku! Jangan lempar kayak handuk habis futsal!”

“Itu bukan masterpiece,” balasku, “itu alat penyiksa organ vital! Selangkangan saya tercekik tiap saya narik napas. Dan pantat saya sudah nggak merasa jadi bagian tubuh sendiri.”

“Cahyo, kamu nggak ngerti seni.”
“Saya ngerti rasa sakit.”

Dolce berdiri, menunjuk kostum hijau spandek itu seperti sedang pidato perpisahan anak OSIS:
“Kostum itu aerodinamis! Elastis! Antipeluru skala rendah! Dan yang paling penting—warna hijaunya bikin kamu kelihatan seperti kodok harapan bangsa!”

Aku menyipitkan mata.
“Kodok?!”
“Kodok simbol kelincahan, kekuatan meloncat, dan... ya, kehijauan.”

“Simbol ‘masalah kemaluan’, maksudnya.”

Dolce menghela napas panjang.
“Oke. Oke. Tapi itu kostum generasi satu. Aku udah desain kostum generasi dua. Ada ruang khusus buat napas... selangkangan.”

“NAPAS??? maksutnya 'terekpos dengan liar tanpa penghalang?.' Terima kasih! Kamu tahu nggak, kemarin waktu aku lompat dari jembatan ke sungai, aku nggak mikir ‘apa aku bakal selamat’. Yang aku pikirkan cuma: ‘selangkangan ku  bakal nyangkut di spandek!’”

“Noted.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Next time, jangan tambahin padding di bokong. Orang-orang kira aku pakai diaper.”

Dolce terdiam.
Menatap manekin.
“Oke... paddingnya aku ganti. Tapi warna hijau tetap. Deal?”

Aku menghela napas.
“Deal. Asal bagian bawahnya bisa diajak kompromi.”

aku berjabat tangan seperti dua ilmuwan gila yang akhirnya menyepakati ukuran celana.

“Cahyo 2.0,” kata Dolce.
“Lebih tangguh... lebih nyaman.”
aku  menatap desain itu dan tersenyum.
“Yang penting: nggak bikin saya jalan kayak abis naik delman 4 jam.”



Malam itu saya melompat dari atap ke atap. Menyusuri kota yang sunyi.
Melacak jejak si pria pembengkok logam.

Dan akhirnya, ketemu. Dia lagi ngerusakin truk logistik di sebuah proyek gedung bertingkat, Dengan tangan kosong.

Saya turun. Berdiri gagah. “Berhenti, kamu!”

Dia menatap saya. “Siapa kamu?”

Saya berdiri lebih tegak. “saya . . KodokMan!”

Diam.

“Hah?” katanya.

“Eh... maksudnya... K-MAN! Pahlawan lompat yang datang dari kegelapan!” saya merasa tolol banget.

Dia masih bingung, tapi mulai nyerang.
Kami berkelahi. Saya hindar pukulannya, lompat, jatuh, gelinding, dan
TKAAAAANGG!!

Sebuah pelat besi pembatas bangunan bengkok seperti sendok plastik habis dijepit pintu. aku terpental lima meter, menabrak pagar seng dan jatuh dengan bunyi "klothakkk" yang tidak heroik sama sekali.

“INI ORANG APA PALU GODAM DIJUAL ECERAN?!” teriak ku dari tanah, mengelus tulang punggung yang getarannya merambat sampai ke tulang kemaluan.

Di depanku sudah berdiri sosok besar berbaju rompi proyek, celana jeans belel, dan sandal jepit satu putus. Lengannya sebesar galon air, matanya tajam, dan jidatnya mengilap karena keringat dan dendam masa lalu.

“Aku SUPARMAN! Mutasi kepiting sawah!!” teriak pria itu sambil meninju tembok, lalu temboknya menyesal dan roboh.

Dari monitor di topengku, Suara Pak Handoyo masuk, [Cahyo, analisa sementara: Subyek Suparman terinfeksi DNA Parathelphusa convexa—spesies kepiting sawah lokal. Diduga tubuhnya memproduksi kalsium dalam jumlah abnormal.]

[BAHASA INDONESIA NYA APA?!”]  aku ngamuk sambil salto menghindari lemparan batu. [Saya bukan ilmuan pak. sederhanakan]

[Dia kuat karena mutasi kepiting. Dan marah.]

[Oke sip, kenapa dia marah?]

Suparman, mendengar pertanyaan itu, mengangkat tong sampah lalu melemparnya ke arah ku.

“MANDORKU NGGAK BAYAR GAJIKU, JANCUK!” teriak Suparman, lalu menangis pelan, “Udah tiga proyek. Gaji janji-janji mulu. Terus pas lagi makan siang di pinggir sawah, aku minum air dari selokan. Ternyata... ada kepiting. Aku kesurupan.”

aku berkelit, lalu menendang batu ke arah mata Suparman. “Kok bisa mutasi cuma karena minum air sawah?”

“Karena ini Indonesia! Logika hanya berlaku di film Marvel!!” bentaknya lagi, sambil mengangkat molen semen dan melempar ke arah ku.

BRUAAAAK!!

Fredy dari atap gedung samping menembakkan peluru tidur ke arah bahu Suparman. [Cahyo, arahkan dia ke barat laut. Aku butuh tembakan bersih.]

[Arahnya mana? Aku nggak bawa kompas, Fredy!] teriak Cahyo.

[Pokoknya arah warteg yang tadi kita sarapan!]

[OHH, YANG ADA NASI PECEL PAKAI PEYEK KACANG MENTE ITU?! SIAP!]

Aku melompat, memancing Suparman dengan gerakan ninja level 1. Setelah saling pukul selama dua menit, Fredy akhirnya mendapat celah dan DOERR!!—Suparman tumbang, mendengkur pelan sambil masih bergumam soal gaji dan “si Mandor Brengsek.”



Aku  duduk di samping tubuh besar Suparman, sambil membuka helmnya sedikit biar bisa minum teh botol. dan lanjut mengikat Suparman dengan kabel. lalu menyuntikkan serum penetralisir mutasi.

“Pekerjaan ini… bener-bener absurd,” gumamku

Pak Handoyo menjawab tenang lewat monitor, [Selamat datang di tim, Cahyo. Kalau besok ada yang dimutasi kecoak kantoran, kita telepon kamu lagi, ya.]

aku mendesah, [Tapi besok jadwal ulangan matematika...]

[Tenang,]sahut Fredy dari radio, [Aku udah nyiapin contekan]

Setelah misi selesai, saya pulang ke rumah. Ibu saya tidur. Saya masuk lewat jendela dapur.

Saya buka baju lapuk, ngaca.
Badanku mulai berotot.
Mataku bersinar.

Tapi satu hal belum berubah:
Perasaan ini ke Evi.

Dan satu lagi:
Nilai Matematika saya. Masih lima koma dua.




Other Stories
Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Download Titik & Koma