Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 4: Pink Telekinesis Dan Ember Terbang

Bab 4: Pink Telekinesis dan Ember Terbang

Pasar malam.
Harusnya jadi tempat anak-anak main komidi putar, pasangan muda pacaran diam-diam, dan tukang cilok mengatur napas karena sosis bakarnya kebanyakan arang.

Tapi malam itu?
Panik. Teriak. Ember mental.

Saya lompat dari atap ke atas gerobak popcorn. Posisinya pas banget buat melihat sumber kekacauan Nenek-nenek berambut ungu.  pakai daster bunga-bunga, dan... melempar ember air dengan kecepatan 178 km/jam. Bahkan Ronaldo nggak bisa nendang bola secepat itu.
"Berhenti, Nek!” teriak saya.

Nenek itu menatap saya sambil nyeringai. “Kamu pikir cuma anak muda yang bisa mutasi? Nih, nenekmu juga bisa!”

Lalu dia lempar baskom berisi ikan cupang.
Saya lompat, hindar. Baskom nyangkut di kepala tukang martabak.

Keadaan makin gila. Saya harus bertindak. Tapi baru juga mau loncat buat nendang ember dari Tangannya...

DARRR!!!
Sesuatu, lebih tepatnya, warna pink menyala—melayang dari langit.

Hoodie pink. Topeng pink. Garis neon di sisi mata warna Fanta Strawberry.
Dan suara nyolot yang saya kenal banget

“Move, Kodok! Sekarang giliran Barbie masuk!”

Sefia.



Dia mendarat (kurang mulus, agak kepleset) lalu berdiri gaya dramatis. Tangan kanan melayang ke udara.

Nenek mutan lempar ember lagi. Tapi sebelum kena tukang odong-odong...

BRAK!!!

Ember itu berhenti di udara.
Bergetar.
Lalu MELUNCUR balik ke arah si nenek.

Kena.
Nenek terpental.
Jatuh ke gerobak roti bakar dan terbungkus selimut Nutella.

Sefia nyengir. “Telekinetis, baby.”

Saya melongo. “Lo ikut turun lapangan sekarang?”

Sefia ngedip. “Gak bisa terus-terusan nonton kamu doang yang viral. Ini era kesetaraan. Dan hoodie pink ini limited edition, loh.”

Saya garuk kepala pakai sarung tangan super. “Lo punya izin dari Pak Handoyo?”

“Enggak. Tapi Fredy ngasih aku jempol dua. Artinya boleh.”

Kami nyusun strategi (dalam waktu sekitar tujuh detik).
Nenek mutan bangkit. Kali ini dia lempar dua ember sekaligus.
Sefia angkat kedua tangan. Ember itu langsung melayang di udara, berputar-putar, dan... berubah arah.

Duar!
Dua ember nyasar ke arah wahana lempar bola, yang main bolanya jadi panik.

Saya lompat, pukul ember terakhir, dan akhirnya—bersama Sefia—kami berhasil membungkus si nenek pakai karung pasar.

Nenek Ember dan Luka yang Terlupakan
Pertarungan dengan nenek itu…
Gimana ya cara bilangnya?

Dia kecil. Kurus. Jalannya agak bongkok. Tapi kalau lempar ember? Itu bukan lempar, bro. Itu menyambit dengan dendam tiga generasi.
Ember plastik jadi senjata perang. Ember seng kayak granat asap. Ember galon jadi palu Thor versi emak-emak.
Dan sialnya, aku kena semua.

Aku sempat mikir, "Astaga, ini nenek Hulk?"
Tapi setelah aku loncat dan berhasil menjatuhkan dia dengan gaya salto ala Power Rangers episode terakhir... dan Sefia menerbangkan karung untuk mengikat dia. Dia justru diam. Menangis.

“Kamu nggak ngerti… semuanya salah… mereka semua salah…” suara nenek itu gemetar.
Aku berdiri sambil meringis, karena ada bekas tonjokan ember di keningku.
“Bu... ibu... kenapa marah banget sama orang-orang di pasar malam?”

Dia menatapku. Matanya bukan mata monster. Tapi mata... manusia yang kehilangan.

“Dia cuma mau beli balon. Cuma itu. Tapi motor ngebut itu... cucu saya...”
Air matanya jatuh. “Cucu saya... tertabrak di depan mata saya. Di depan saya. Di sini... di tempat itu...”
Dia menunjuk gerobak kembang gula yang sekarang tinggal arang.

“Semenjak itu... saya... saya... saya nggak bisa berhenti marah.”
“Dan tiba-tiba tubuh saya panas. Mata saya kabur. Lalu semua orang kelihatan kayak iblis.”


Fredy yang sedari tadi mengamati dari atas tower, akhirnya turun.
Dia pelan-pelan jalan ke arah kami, pasang headset.
“Pak Handoyo bilang, ini efek sisa mutasi limbah. Tapi nggak kuat. Lebih ke arah ledakan emosi yang dikatalis air tercemar.”

“Jadi... nenek ini bukan penjahat?”
“Bukan. Cuma... luka yang nggak sembuh-sembuh.”

Aku lihat ke arah nenek itu. Dia gemetar, bukan karena takut. Tapi karena lelah.
Lelahnya bukan karena pertarungan barusan. Tapi karena bertahun-tahun dipendam.


Kami akhirnya bawa dia ke posko rahasia. Disambut sama Dolce yang langsung teriak

“YA AMPUN CAHYO, BAJU LO ADA CIPRATAN AIR KACANG, GUE BUNUH LO NIH!”
Terus lihat ke arah nenek.
“Oh. Halo nenek. Mau teh manis?”


Catatan laporan:

Nenek bernama Bu Sarmini. Usia 68 tahun.

Dulu cleaning service kantor pasar.

Emosi akibat kehilangan cucu menyatu dengan limbah tercemar, memicu mutasi yang sifatnya temporer.

Saat emosinya reda, mutasi menghilang.

Tapi luka di hatinya... tetap ada.

Setelah aksi selesai, aku dan Sefia kembali ke pasar malam. duduk di atas gerobak sosis. kami sudah memakai pakaian normal.

“Lumayan ya debut gue?” katanya sambil nyender ke termos es.

“Lumayan. Gaya  kamu kayak Sailor Moon habis makan rendang.”

Kami ketawa.

Tapi jauh di dalam hati saya...
ada yang berubah.

Bukan karena Sefia jadi partner lapangan. Tapi karena untuk pertama kalinya... saya ngerasa gak sendirian.
Ada orang yang tahu.
Dan mau bantuin.
Meski... cerewet dan rada liar.


Malam itu aku pulang naik sepeda motor butut. Helmku agak miring, celanaku basah karena ember, dan aku bau saus jagung bakar.
Tapi entah kenapa, di dada rasanya sesak.

Bukan karena kostum. Tapi karena...
kadang yang perlu diselamatkan itu bukan kota. Tapi hati manusia.

Besoknya, sekolah geger.

Video dari pasar malam sudah viral:
“Dua Sosok Berhoodie Hadang Nenek Ember di Pasar. Pink & Hijau Duet Maut?”

Komentar netizen lebih baik dari kemarin.

“WAHH ADA PASANGAN SUPERHERO, GEMESH!”

“Pink hoodie-nya lucu, beli di mana ya?”

“Itu yang cewek punya IG gak?”

Di kantin, Rico dan Aryo bahas heboh.
“Bro, tuh pahlawan baru jadi dua!” kata Rico sambil buka TikTok.

Aryo nyuap tahu bulat. “Yang pink itu keren sih. Gaya banget.”

Dani baru datang lima detik kemudian. “Siapa pink?”

Saya senyum, pura-pura gak ngerti. Tapi dalam hati... deg-degan.

Karena...
di koridor sekolah...
Wulan mulai sering ngelirik.
Dan senyumnya beda.

Bukan senyum ramah biasa.

Tapi senyum kayak orang yang...
mulai curiga.



Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Download Titik & Koma