Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 8: Galau Di Atas Gedung, Julid Di Bawah Hati


Bab 8: Galau di Atas Gedung, Julid di Bawah Hati

Kalau hidup saya diibaratkan film, maka bagian ini adalah momen slow motion dengan backsound lagu mellow yang liriknya "Kenapa aku harus punya tenaga super, tapi gak punya tenaga buat jawab perasaan…”

Iya. kota lagi aman. Mutan lagi cuti. Tapi hidup saya? Masuk masa uji coba beta.

Siang hari saya makin sering jalan bareng Wulan. Dia ngajak saya duduk bareng di kantin, nonton ekstrakurikuler bareng, bahkan pernah bawa bekal buat saya. Isinya telur dadar, nasi hangat, dan sambal teri.

Saya nyaris pengen melamar saat itu juga.

“Cahyo, gak apa-apa ya aku masakin? Soalnya aku pengen kamu jaga stamina. Kamu tuh... sering keliatan capek.”

Saya senyum, walau dalam hati mau bilang "Karena tiap malam aku loncat-loncat di atap rumah orang, Wul…"

Tapi... saya belum bisa jawab perasaannya.
Kenapa? Karena saya masih merasa bersalah.

Saya belum pernah cerita soal kekuatan saya. Saya belum pernah cerita kalau saya tiap malam beraksi bareng Sefia, dan kadang... bareng Fredy si sniper berkostum ungu yang ternyata jago bikin wedang uwuh. Dan di tengah keruwetan itu, Sefia makin nempel ke saya.

Awalnya saya pikir dia cuma suka main bareng.
Tapi lama-lama...

“Kak Cahyo, kamu kalo punya kakak beneran kayak kakak, pasti hidup lebih rame ya.”
“Kak Cahyo, kamu jangan tinggalin aku ya, kayak semuanya dulu ninggalin.”
“Kak Cahyo... aku tuh... gak punya siapa-siapa selain Kakek. Kamu doang yang aku anggap keluarga sekarang.”

Saya diem. Gak bisa jawab. Karena… ya bener juga.
Saya gak pernah mikir dari sisi dia.

Sefia itu... anak kelas satu, yatim piatu, pindah dari sekolah elit yang gak pernah bikin dia ngerasa punya teman. Dan sekarang dia nemu “kakak”—ya saya ini.

Tapi... kalau saya terlalu deket sama dia, Wulan cemburu. Kalau saya cuek, dia sedih.

Di mana posisi saya seharusnya? Kakak? Teman? Partner hoodie pink?

Lalu...ada Evi.

Cewek yang dulu saya kejar bertahun-tahun, yang tiap saya kasih coklat, selalu jawab.
“Kamu pikir ini film Jepang?”
Tiba-tiba sekarang jadi sinis.
“Cieeee Wulan. Udah nyuapin Cahyo, belum? Atau masih tahap make nasi berbentuk hati?”
“Cahyo, lo jadi banyak gaya ya sekarang. Dulu mah polos. Sekarang... banyak yang nempel.”
“Gue sih cuma pengen bilang, jangan GR. Cewek suka cowok pahlawan, bukan cowok plin-plan.”

Saya cuma bisa garuk-garuk kepala, padahal gak gatel. Evi makin julid, kayak akun fake di Instagram selebgram.
Tapi... entah kenapa... saya ngerasa dia bukan benci.
Kayak... dia kesel karena dia peduli. Tapi kalau dia peduli, kenapa dulu saya ditolak mentah-mentah kayak nasi basi?

Malam hari. Saya nangkring di atas menara pemadam kebakaran. Sendirian. Angin dingin. Hoodie hijau saya nyala lembut, kayak lampu tidur anak-anak. Saya lihat langit. Gelap. Kayak masa depan saya, kalau terus bingung.

“Jadi superhero tuh susah ya,” saya gumam ke diri sendiri.
“Bukan karena mutannya... tapi karena cinta segitiganya.”

Saya merem. Denger suara kota. Motor lewat. Kucing kawin. Suara kentongan ronda. Dan… bunyi notifikasi dari HandoyoNet.
“Kamu belum latihan hari ini. Push-up 50x sebelum mutan datang.”

Saya buang napas.
Kadang... saya pengen jadi Cahyo biasa. Yang cuma mikirin PR Matematika dan jajan di tukang batagor langganan.

Tapi saya juga tau…
kalau bukan saya, siapa lagi?


Di kejauhan, lampu kota berkedip. Dan saya tahu... malam ini mungkin damai. Tapi bukan berarti besok tidak ada ancaman.

Dan sampai saat itu tiba…saya tetap akan duduk di atas atap dunia saya… Dengan hoodie menyala dan hati yang tetap bingung.


Mulut Lebar, Masalah Lebih Lebar

Kota ini emang aneh. Baru aja seminggu damai, tahu-tahu muncul mutan penyanyi dangdut dengan mulut segede sumur resapan.
Saya gak bohong. Saya tahu dia mutan saat dia nyanyi di panggung pasar malam dan suaranya bikin satu tenda sate roboh.

Pakai nama panggung "Melati Goyang Tremor", dia dulunya penyanyi keliling.Tapi karena sering manggung di dekat sungai penuh limbah, suatu malam... mulutnya membesar dan pita suaranya bermutasi.

Sekarang?
Kalau dia nyanyi nada tinggi, itu bukan bikin galau...
tapi bikin orang muntah darah dan genteng beterbangan.

Pak Handoyo langsung kirim pesan.
“Cahyo, target ini berbahaya. Suara ultrasoniknya bisa merusak struktur bangunan. Kamu harus siaga.”

Tapi... malam itu, saya gak bisa beraksi.
Kenapa?
Karena siangnya, Rico datang ke sekolah, mukanya kusut kayak sprei belum disetrika.
“Yo… Aku lagi dikejar-kejar cewek, bro. Yang waktu itu… yang di Bali… yang rambutnya warna ungu.”

Saya nelen ludah. “Yang… kamu tinggal pas dia bangun tidur trus kamu ninggalin uang Rp50 ribu di meja?”

“IYA!”
“DIA DATENG KE RUMAH, YO!”
“PAKE CELANA TRAINING, NANGIS-NANGIS, MINTA DINIKAHIN!”

Saya nyaris pengen teleport ke dimensi lain.

Sorenya, berita datang dari grup WA sekolah:
ARYO DITANGKEP!
[Forwarded many times]
“Woy Aryo tawuran ketangkep polisi beneran! Disuruh minta maaf di kantor kelurahan!!”

Saya langsung ke sana.
Ketemu Aryo duduk di kursi plastik, masih pakai seragam sobek, dan kumis tinggak setengah kayak habis kepotong golok.
“Yo… aku cuma bantuin temen. Dia dikeroyok anak STM. aku kan gak bisa diem aja, Yo.”
Saya tepuk bahunya.
“Tapi bro, bawa besi cor itu gak perlu banget…”

Dan Dani?
Masih aman. Masih hidup di dunia yang santai.
Masih duduk di bangku taman, makan tahu isi sambil ngobrol sama burung merpati.
Saya tanya, “Dan, kamu gak ada masalah?”

Dia mikir dulu.
“Hmm… kemarin sandalku ketuker di masjid.”

Yaudah.

Malamnya, saya ke atap menara, udah siap pakai kostum. Tapi saya inget… teman-teman saya lagi butuh Cahyo, bukan si pahlawan hoodie.

Saya lepas sarung tangan listrik. Lepas topeng. Turun dari menara. Naik motor butut saya.

Saya mulai dari Rico.
Batagor, Cinta, dan Superhero Tanpa Kostum
Hari itu aku nggak nyetrum siapa-siapa.
Nggak ada yang kesurupan mutasi.
Nggak ada Fredy yang ngendap-endap.
Nggak ada Sefia yang teriak-teriak sambil ngangkat truk.

Yang ada cuma satu masalah Rico.
Dan cewek bernama Rani.

“Yo, tolongin saya dong,” kata Rico dengan wajah kayak habis diceburin ke sumur sedalam mantan.
“Saya dikejar-kejar Rani. Dia pengen nikah.”
Aku mikir, “Lah, emang kamu udah tunangan?”
“NGGAK!”
“Terus kenapa dia kejar-kejar kamu?”

Rico garuk-garuk kepala.
“Dulu pas kelas 2 SD bilang, ‘Kalau Kamu masih single sampai umur 18, nikah sama Aku aja, ya’... Terus dia ingat.”
"lalu kita di bali ketemu dan mmmmm. lalu sekarang teror saya"
Aku melotot.
“ITU KENAPA NGGAK BILANG DARI AWAL?!”

Akhirnya, aku janjian ketemu Rani di taman kota.
Tanpa kostum. Tanpa listrik. Tanpa Hoodie.
Cuma aku, jaket biasa, dan dompet berisi dua lembar lima puluh ribuan.
(Terima kasih, warung pulsa sebelah rumah.)

Rani duduk dengan wajah ngambek.
“Dia bilang mau nikah. Terus sekarang dia ngilang. Dasar cowok!”

Aku duduk di sampingnya.
“Nih dulu dulu, makan batagor dulu.”
Aku sodorin batagor bungkus kertas.

Rani nyomot satu, masih manyun.
“Kamu siapa?”

“Aku temennya Rico. Bukan mak comblang. Cuma orang yang ngerti rasanya digantung.”

Dia diem.

Setelah tiga batagor dan dua cerita sedih (satu dari dia, satu dariku ), akhirnya dia ketawa.

“Aku pikir dia serius,” katanya.
“Aku pikir hidup ini sinetron. Tapi ya mungkin... nggak semua janji bercanda harus diseriusin.”

Aku ngangguk.
“Kadang cinta itu bukan buat dikejar. Tapi buat dikenang dan disimpan, kayak lagu nostalgia.”

Dia senyum.
“Aku lega.”

“Batagornya enak, ya?”

Dia angguk.
“Makasih, Cahyo.”

Aku senyum.
“Bukan superhero hari ini. Cuma teman Rico.”

Malamnya, Rico nelfon.
“Yo... Rani udah berhenti ngejar. Dia malah ngirimin gue foto batagor dan caption, Semua cowok bisa bohong, tapi batagor selalu jujur.”

Aku ngakak.
“Masalah kamu selesai. Bayar batagor aku ntar, ya.”
“Siap.”

Karena kadang, menyelamatkan dunia nggak butuh kekuatan super.
Cukup hati, empati, dan... gorengan hangat
Ternyata... dia gak gila. Dia cuma patah hati dan kesepian.

Lalu ke Aryo.
Saya temani dia minta maaf di kelurahan.
Temani dia pulang ke rumah, dimarahi ibunya, lalu disambut dengan pelukan ayahnya yang jarang pulang.

Aryo cuma bisik ke saya,
"Yo… kamu temen beneran. Aku gak tahu kamu siapa… tapi aku tahu kamu ada.”
Saya senyum.
Gak perlu jadi superhero untuk jadi penting.


Dari berita di YouTube
Melati Goyang Tremor beraksi.
Satu tenda cilok terbang.
Speaker pasar kebakar.

Saya pegang hoodie hijau saya, yang tergantung di tas.
Tapi malam ini… saya bukan Cahyo si pahlawan.

Saya cuma Cahyo yang…
sedang istirahat.

Karena kadang... yang kita perluin bukan pukulan super atau topeng neon. Tapi… teman, dan batagor hangat.


Nada Tinggi dan Hati yang Lelah

Saya belum pernah dengar suara yang bisa bikin jemuran tetangga copot.
Tapi itu terjadi malam ini.

Melati Goyang Tremor sedang manggung liar di alun-alun kota.
Mic-nya bukan sembarang mic, tapi alat pengeras suara mutan yang entah kenapa bisa bikin gelas pecah, balita nangis, dan burung gereja mabuk.

“CINTAAAAA ITUUUUUUUUUUU~~”

Dan BOOM — warung mie ayam terguling.

Saya lompat dari gedung sebelah, mendarat di depan panggung.
Topeng saya menyala hijau. Sarung tangan saya siap menyetrum.
Tapi... malam ini saya gak sendiri.

“Minggir, Kak! Biar aku duluan!”

Sefia. Hoodie pink-nya menyala terang, tangannya diangkat ke depan, lalu…
BRAKK!
Mic Melati mental jauh, mendarat di atas becak.

“ELAAAAAH! MIC AKUUU!”
“ITU MAHAL DARI CILEGON!!”

Melati marah. Dia tarik napas panjang, siap nembang tanpa alat bantu.

“OOOOO~~ CINTA ITU~~”
Saya buru-buru lari, lompat, dan...

PLAK!
Saya tutup mulutnya pakai banner bekas bazar buku.

Lalu Sefia pakai telekinesis buat ikat tangan dan kaki Melati dengan kabel lampu kelap-kelip.

Dalam waktu 3 menit, penyanyi dangdut mutan bersuara sonic boom itu berhasil dikalahkan…
Dengan kombinasi kekuatan hoodie, kabel lampu, dan sedikit strategi promosi spanduk.


Setelah itu kami duduk di pinggir trotoar.
Saya lagi minum teh botol, Sefia lagi ngecek HP.

"Kak,” katanya sambil menyeruput susu kotak.
“Aku udah nyelidikin Kakek.”

Saya nyengir. “Dia nyolong mi instan lagi di lab?”
“Enggak. Tapi... dia juga gak jujur. Semua mutan ini, Kak... asalnya dari pabrik milik Kakek.”
“Dia tahu itu. Tapi dia... tutupin dari semua orang. Bahkan dari aku.”
Saya diem.
Lama.
Teh botol saya mendadak hambar.

Beberapa jam kemudian, saya datang ke rumah Pak Handoyo.
Saya pikir dia bakal ngeles.
Tapi...
“Kamu bener, Cahyo,” katanya, duduk di sofa pakai baju tidur dan sandal bulu berbentuk Pikachu.
“Ini semua salah Kakek. Dulu Kakek kejar efisiensi. Limbah dibuang dengan sistem yang... tidak sempurna.”
“Kakek pikir itu bisa dikontrol. Tapi ternyata mutasi itu menyebar... dan jadi bencana.”

Dia menunduk.
“Kakek pikir... bisa menebusnya dengan menciptakan kamu.”

Saya diem. Badan saya berasa berat. Udara mendadak sesak.

Malamnya saya pulang. Masuk rumah pelan-pelan, tapi Ibu udah nunggu di dapur.
“Cahyo... kamu kelihatan capek.”

Saya duduk.
Diam sebentar. Lalu...
semuanya tumpah.

Saya cerita semuanya.
Tentang serum.
Tentang pabrik.
Tentang para mutan.
Tentang hoodie.
Tentang Sefia, Rico, Aryo, Dani.
Tentang saya yang harus jadi dua orang dalam satu tubuh.

Ibu cuma dengerin.
Ngangguk.
Tangan hangatnya ngelus punggung saya kayak waktu saya kelas 2 SD dan nangis karena kehilangan kelereng.

Lalu Ibu bilang:

“Nak... hidup itu emang gak selalu adil. Tapi Tuhan kasih kamu kelebihan bukan buat kamu sendiri.”
“Kadang kita capek, kadang kita pengen berhenti. Tapi kalau kamu berhenti sekarang... siapa yang akan nolong orang-orang itu?”
“Kamu boleh sedih, boleh galau, boleh capek. Tapi jangan lupa bangkit.”
“Kamu punya pilihan: lari, atau lanjut... walau berat.”

Saya diam.
Air mata netes.
Saya peluk Ibu.

Dan malam itu… saya tidur lebih nyenyak dari biasanya.
Bukan karena kota aman.
Tapi karena saya tahu… saya gak sendiri.

Besoknya, saya bangun.
Pasang topeng.
Pakai hoodie hijau.
Siap melawan apapun.
Dengan hati yang mulai belajar kuat.




Other Stories
Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Download Titik & Koma