Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 12 Ekonomi Naik, Cinta Kacau

Hidup itu seperti grafik ekonomi...
Kadang naik, kadang turun, dan kadang bikin kita pengin gigit kabel charger. Untungnya, kondisi saya dan Ibu sekarang sedang naik.

Sejak Pak Handoyo ngasih kami semacam "bonus penyelamat kota", ekonomi keluarga jadi stabil.
Kami pindah ke rumah kontrakan yang lantainya gak bolong.

Ibu bisa buka warung kecil di depan rumah. dan saya bisa beli sepatu yang kalau diinjak gak langsung sobek. Ibu kelihatan lebih bahagia. Setiap malam, dia suka masak lebih banyak dari biasanya.

"Buat Cahyo. Pahlawan kota dan pahlawan hati Ibu."

Saya senyum. Dan langsung makan. Karena walau punya kekuatan super, saya gak bisa lawan sambel buatan Ibu.

Tapi... kalau ekonomi saya naik, percintaan saya justru kayak WiFi sekolah sering putus sendiri. Wulan ngambek karena saya masih belum ngasih kejelasan.
Sefia makin manja, tapi sensitif kayak kabel headset lama. Evi makin sarkas, tapi selalu muncul tiap saya butuh. Maya masih nyatakan cinta, tapi ngotot mau jadi yang kedua.

"Lah, saya aja bingung siapa yang pertama..."

Rico bilang "Lo tuh kayak promo Shopee, semua rebutan tapi gak ada yang puas."

Tapi semua masalah cinta itu harus disimpen dulu.
Karen Pagi itu, aku dipanggil ke markas Pak Handoyo. Bukan cuma aku—Sefia dan Maya juga ikut.
Sampai sana, kami langsung disambut dengan ekspresi Pak Handoyo yang seperti habis nyontek soal ujian Saintek tapi ketahuan.

“Cahyo, Sefia, Maya… hasil investigasi Dolce menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Mandor proyek yang bikin anak buahnya jadi mutan itu…”
dia jeda sebentar, minum teh
“Ternyata juga mutan.”

Aku mendecak.
“Lho… jadi dia bukan cuma mandor ngeselin yang nggak bayar gaji?”

“Bukan. Dia itu mutan ubur-ubur,” lanjut Pak Handoyo sambil nyalain layar hologram.

“Tuh kan, belum disuntik serum sudah jadi mutan ubur ubur”

Di layar muncul foto pria botak dengan jari-jari kayak mi rebus yang bisa mlintir jadi tentakel.

“Mutasi dia bikin jari-jarinya bisa ngeluarin tentakel. Mirip kayak headphone yang ditaruh di tas, kusutnya nggak logis,” jelas Pak Handoyo bangga.

Aku udah mikir ini bakal runyam.

“Dan kalian bertiga yang bakal nerusin investigasi ke lokasi proyek dia,” lanjutnya.

Sefia angkat tangan, “Tapi… Dolce mana?”

Tiba-tiba pintu terbuka dramatis. Dolce muncul. Rambut dikonde, bibir pink, dan...
HOODIE PELANGI.

“TADAAAAAA!”

Dolce muter kayak finalis Miss Universe.
“Aku akan ke Paris jadi juri fashion show hoodie berkelas! Tapi sebelumnya... lihat ini!”
Dia menekan tombol di hoodie pelangi.

ZROOOT.

Sekejap wajahnya berubah jadi wajah Pak Handoyo.
“Halo saya Pak Handoyo, saya suka nonton drakor,” tirunya, persis.
“Ini fitur hologram wajah. Bisa nyamar total. Termasuk suara dan gerakan!”
“Dan…” dia menekan tombol lain,

ZZZZRRTT…

Dari pundaknya keluar 3 drone kecil berbentuk lipstik terbang.
“Spy-drone, buat ngintai. Aku tahu kalian butuh teknologi... karena otak kalian, yaa...”

Aku manyun.
Lalu dia beralih ke mode jahil.
“Aku juga punya rencana—hoodie kuning dan oranye khusus buat... Evi dan Wulan. Lucu ‘kan? Buat godain Cahyo biar makin bingung!”

“KEREN” komentar Sefia.

“Dan... aku udah siapkan desainnya. Si Evi motif matahari. Wulan motif jeruk sunkist!”

Aku langsung reflek tepuk jidat.
“Dolce… cukup! 2 cewek aja aku udah kayak kena azab sinetron. Ini mau dijadiin boyband cewek mutan?!”

Sefia ketawa ngakak.
Maya cuma senyum datar, “Makin rame... makin bahaya buat hatimu, Yo.”

Lalu yang lebih parah…
Pak Handoyo ikut-ikutan.
“Kalau Evi dan Wulan cocok, bisa aja saya kasih serum. Mereka jadi mutan juga. Kekuatan mereka? Kita riset dulu... mungkin suara cempreng bisa bikin gendang telinga musuh meledak. Kayak Melati Goyang Tremor”

“PAK!” aku refleks berdiri.“APA NGGAK ADA YANG SAYANGI HIDUP SAYA?!”

Mereka semua... ketawa.
Aku? Meringis.
Dan dalam hati aku teriak.
“Tuhan... kalau boleh minta kekuatan baru, saya pengen bisa ngilang setiap mereka godain saya.”

Sayangnya, kekuatan itu belum ada. Tapi tugas udah di depan mata.

Investigasi Mandor Tentakel dimulai. Dan semoga. Evi dan Wulan nggak beneran dapet Hoodie
.


Hari itu, hidupku masih normal.
Aku baru selesai mandi, pakai sarung, rambut masih acak-acakan kayak helikopter mogok, ketika…
DUG DUG DUG DUG!!
Suara ketukan pintu depan—keras banget, kayak Satpol PP ngerebek warung Indomie. Dan saat kubuka…

Empat cewek berdiri dengan wajah penuh tekad.
SEFIA. MAYA. EVI. WULAN.
Bawa cemilan, bawa kado, dan satu lagi bawa senyum setajam lidah netizen.

“Halo, Tantee~!”
“Assalamualaikum Ibu Cahyo~”
“Apa kabar Ibu yang paling kece sedunia?”
“Eh Bu, ini ada serabi  favorit Ibu...”

Ibuku berdiri di depan pintu, pakai daster bunga, senyum lebar kayak mau nikahin aku keempatnya sekaligus.

“Wah... senangnyaaa rumah jadi rame! Masuk, masuk semua! Ibu udah siapin es sirup dan pastel mini~”

Aku kayak habis melihat Medusa, jadi patung.

SITUASI RUANG TAMU. Aku duduk di pojok sofa kayak sandera.

Empat cewek gantian duduk di sebelah ibuku.
SEFIA pegang tangan ibuku sambil cerita prestasi akademiknya.
MAYA nyuapin ibuku donat mini buatan sendiri.
WULAN bantuin ibuku mijit bahu.
EVI nyalain kipas sambil cerita betapa "Cahyo itu anak baik, meski... rada kurang peka"

Ibuku senyum.
Aku migren.

Setelah mereka puas merusak saraf sosialku, kita semua pindah ke markas Pak Handoyo. Rapat investigasi dimulai.

MISI MANDOR TENTAKEL – FASE II
Dolce udah pergi ke Paris (dan entah kenapa sempat update story di Instagram pakai filter kupu-kupu).

Tinggal kita berenam.
Pak Handoyo menjelaskan lewat layar.
“Mandor itu punya kekuatan lanjutan. Bukan cuma tentakel...”
“Siapa pun yang pernah kena sengatan dari jari-jarinya... bisa dia kontrol jarak jauh.”
“Jadi kalau kalian ingat, para kuli yang dulu melawan kita... mereka sekarang jadi pasukan. Tanpa sadar. Tanpa kehendak.”

Aku ngelus kepala.
“Kayak zombie... tapi tukang bangunan.”

Maya “Kalau dia bisa kontrol dari jauh... kita nyerang sekarang bahaya. Bisa-bisa mereka nyerang warga sipil juga.”

Pak Handoyo “Makanya... kita tunda penyerangan.”
“Aku lagi cari frekuensi bius elektrik buat menyadarkan orang yang kena sengat.”

“Tapi sampai kapan? Semakin lama, dia bisa bikin lebih banyak pasukan!” kata Sefia.

“Kita bisa kok bikin strategi... asal jangan terlalu impulsif. Kaya Cahyo waktu nabrak tiang bendera pas latihan lari.” Kata Maya.

Semua nengok ke aku.

Aku ngeles “Itu... refleks. Tiangnya yang gak tahu diri.”

Maya komentar “Kita semua harus kerja sama. Tanpa emosi. Tanpa jatuh cinta... terlalu dalam.” (noleh ke arahku sekilas)

Aku semakin tenggelam dalam penderitaan batin yang disebut "cinta bertingkat."

Aku pulang ke rumah.
Ibuku masih senyum-senyum.
Di meja makan ada empat tempat makan bertuliskan nama-nama mereka.

“Cahyo, Ibu suka sama mereka semua. Kalau bisa sih, kamu pilih satu. Tapi kalau nggak bisa... ya semua juga nggak apa-apa.”

“BUUUU!!!!!”


Reuni, Racun, dan Rumah yang Terlalu Ramai

Setelah seminggu.
DOLCE PULANG.

Kami menyambutnya kayak pahlawan pulang perang. Atau kayak mamang kurir datang bawa diskon tanggal kembar.

Dia turun dari taksi bandara pakai hoodie pelangi. Langkahnya penuh gaya. Bibirnya nyungging senyum.
“Bonjour, darlings~! Paris boring. Kalian lebih spicy!”

Aku, Fredy, Sefia, Maya, Pak Handoyo "DOLCEEEE!!!”
(berhamburan kayak sinetron Lebaran)

Setelah pelukan dramatis dan komentar tentang bau kaki Fredy yang sempat nyebar ke satu ruangan, kami kembali ke misi.

Kami sudah di markas, Dolce duduk di depan layar besar, memamerkan hasil kerja gilanya.
“Aku bikin seribu drone! Kecil-kecil, bentuknya kayak lalat. Tapi canggih!”
“Mereka bisa mendeteksi siapa saja yang pernah kena sengat tentakel si Mandor Ubur-ubur. Termasuk posisi mereka dan denyut otaknya!”
“Dan ini, Darlings, adalah Jarum Netralisasi Tentakel. Sekali tembak, racun mentalnya hilang. Pasukannya kembali normal!”

Pak Handoyo mengangguk bangga, “Pekerjaan bagus, muridku yang setengah waras.”


MISI PENYADARAN DIMULAI
Kami beraksi dalam tim. Fredy dari kejauhan—sniper legendaris kita.
Aku, Maya, Sefia menyelinap ke titik titik strategis.
Drone-drone Dolce berputar-putar kayak nyamuk konser EDM.
Pak Handoyo mengatur segalanya dari ruang kontrol, sambil makan rengginang.

Satu per satu, korban-korban mandor disengat ulang oleh kebaikan.
DOR!—satu jarum menancap, satu tukang bangunan berhenti mengayun linggis.
DOR!—yang lain langsung terduduk, bingung.
“Eh, aku kenapa di sini?”
“Tadi aku ngelempar troli ke orang?”
Fredy melapor “Target netral. Selanjutnya, jam 10 arah barat.”
Maya (dengan tenang menyebar aroma relaksasi)
“Santuy, bang. Kita di pihak yang baik.”

Sefia komentar “Jangan gerak! Kalau gerak, kutimpuk ember beton!”
(telekinetis langsung lempar baskom)

Akhirnya, dari 72 korban sengat,
72 berhasil disadarkan.


Dari kamera pengawas drone, kami lihat. MANDOR UBUR-UBUR TERDIAM
Mandor itu—yang selama ini duduk di kantor proyek sambil menyusun rencana jahat, tiba-tiba panik. Pasukan kuli-nya hilang kesadarannya. Mental kontrolnya mulai kacau. Kekuatannya melemah. Tapi dia belum menyerang. Belum bergerak.

Dan kami tahu...
Pertempuran sebenarnya belum berakhir.

KISAH RUMAHKU SEMAKIN GILA
Aku pulang dari misi seperti pahlawan—lelah tapi bangga. Dan langsung disambut pemandangan aneh para cewek.

Sefia duduk di ruang tamu baca komik sambil ngupil.
Maya bikin puding di dapur.
Wulan bantu cuci piring.
Evi menyapu halaman sambil nyanyi lagu TikTok.
Ibuku di tengah mereka semua, duduk dengan ekspresi penuh kemenangan.

“Cahyo, Ibu senang rumah ini ramai lagi”
Belum selesai shock. Datang tiga orang dari gerbang depan. Rico, Aryo, Dani. Bawa keranjang belanjaan.
Bantuin warung.
Ngasih senyum kompak sambil bilang.
“Bu, hari ini kami bantu nyetok Indomie ya!”
“Dan sekalian bersih-bersih gudang!”

AKU SEBAGAI MANUSIA. SEBAGAI ANAK. SEBAGAI LELAKI.
Merasa... penuh tekanan.
Aku duduk di pojok rumah, melamun sambil megang remote TV.
TV mati. Hati pun nyaris meledak.

“Aku pengen ngekos...
Tapi… ibu bahagia...
Tapi… saya GILA NIH!!”

Ibuku datang duduk di sampingku.
“Cahyo… rumah ini dulu sepi. Kamu sibuk, Ibu sendiri.
Sekarang... tiap hari ramai. Kamu dikelilingi orang-orang baik. Walaupun... ya, kadang berisik dan kayak reality show. tapi ibu senang.”

Aku diam. Lalu senyum kecil.
Karena... meski ribet..meski penuh drama..hidup ini rasanya... lengkap

.
Ubur-Ubur Terakhir dan Ulang Tahun yang Diam-diam

Lokasi: Proyek Terbengkalai – Malam Hari

Sunyi. Gelap. Hanya cahaya rembulan dan nyala-nyala api unggun pekerja yang sudah... pulang.

Maya ankat bicara. “Aku udah sebar aroma penghipnotis, semua pekerja bakal pulang dengan damai. Kita tinggal hadapi dia... sendirian.”

Di tengah proyek yang terbengkalai itu, berdiri sosok besar...Mandor Mutan Ubur-Ubur.
Tubuhnya manusia. Tapi jari-jarinya?
Sepuluh tentakel. Panjang. Bergoyang-goyang kayak mie nyari perhatian.

"Kalian pikir kalian bisa hentikan aku?!"

SIUUUT!

Dari jari-jarinya, tentakel mencambuk ke arah kami. Sefia langsung melompat ke depan.

“PERISAI TELEKINETIS, ON!”

Udara di depan kami seolah padat. Cambukan  itu terpental.
Sefia komentar “Oke, tentakel nggak sopan ini kudu dikasih pelajaran!”

Dengan topeng menyala merah, ia mengangkat puluhan material proyek:
Batako.
Ember semen.
Kabel baja.
Dan melemparkannya dengan gaya telekinetis marah-marah.
DUARR! BLAK! DUG-DUG-DUG!
Mandor itu tersentak. Tapi belum tumbang. Justru... makin ngamuk. memgambil yang ada dan melempar ke arah kami.

Kamipun menangkis benda benda sekitar proyek yang bakal melukai kami.
aku menangkis semua perabot kuli Sefia menangkis bahan bangunan dan Maya. Maya melangkah maju.
Tangannya menekan tombol di pinggangnya.

CETAK!
Cahaya keluar dari sarung tangannya.
Pedang plasma sepanjang lengan muncul. di sarung tangan kanan. Langsung dia memotong mesin molen.

mesin itu terbelah dua.

“Pedang plasma pemberian Dolce. LUMAYAN NIH!!”
lalu Ia menghindar lemparan kedua sambil memotong beberapa tentakel yang melayang.

SYUUUT!

Mandor berteriak “ARGHHHH!!!”
“KALIAN ANAK SEKOLAH APA KOMANDO?!”

Aku terengah-engah di belakang.
“Eh... kok mereka pada punya alat keren semua?”
Tiba-tiba…
Tas kecil di punggungku menyala.
Tiiing!
Dolce (dari jam tangan video call):
“Aku tahu kamu bakal ngiri. Nih, hadiahku: BOLA PETIR INSTAN.

Lempar ke sasaran. Meledak listrik. Tapi jangan pegang lama-lama, nanti kebakar!”

Aku nggak nunggu teori lagi.
Langsung lari zigzag, lempar bola petir ke dada si Mandor.
TUNG!
BZZZZZZZT—KRAK!
“AAAAARRGGHHHHHH!!”
Mandor itu kejang.
Tubuhnya roboh.

Tentakel-tentakelnya kaku, seperti mie keriting direbus kelamaan.
Kami berdiri, diam.
Sefia menoleh. “Udah…?”
Maya melihatku “Udah.”
Aku "…Menang?”
Fredy (dari jarak jauh lewat headset).
“Target netral. Selamat. Kalian pahlawan.”

KEMBALIKU KE RUMAH… YANG ANEHNYA RAMAI.

Aku buka pintu rumah dengan badan nyaris patah.
Dan…
JEGERRRRRR!!
“SURPRIIIIIIIISEEEEEE!!!!”
Di ruang tamu, ada:
Rico, Dani, Aryo.
Sefia, Maya, Evi, Wulan.
Ibu.
Dolce lagi goyang pelan di atas meja makan.
Mereka tertawa.
Pakai topi ulang tahun.
Bawa kue.
Ada banner besar: “SELAMAT ULANG TAHUN, CAHYO!”
Aku:
“Hah??? Kok tahu???”
Sefia “Kamu pikir kenapa kita sering ke rumahmu seminggu ini?”
Wulan berbisik “Biar bikin kamu stres dulu.”
Dani menyahut "Kita pengen lihat kamu meledak!”
Fredy (dari jendela) “Tapi gagal, kamu tahan juga.”
Aku duduk.
Lutut lemas.
Tapi hati...
Hangat banget.

Aku menatap mereka semua satu-satu.
Kawan, keluarga, pahlawan, dan... para wanita yang katanya “nggak suka, tapi rebutan perhatian”.
Aku tersenyum.
“Thanks... buat semuanya. Mungkin hidupku kacau. Tapi kalau bersama kalian… aku rela tetap jadi superhero bego






Other Stories
Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Download Titik & Koma