Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 13 Ultah Maya Dan Tembakan Di Perut


Sebenarnya semuanya bermula manis.
Ada kue tart rasa stroberi tiga tingkat, ada lilin angka 17 yang miring karena dibakar terlalu lama, dan ada Maya... yang berdiri malu-malu sambil digoda Wulan dan Evi soal "siapa yang paling cocok jadi pacar di antara kami semua".
Saya, Rico, Aryo, dan Dani duduk ngumpet di dapur, debat kecil soal apakah layak ngasih Maya hadiah berupa video mashup momen-momen absurdnya. Jawaban Evi waktu nonton bocoran videonya cukup tegas:
“Cahyo... itu lebih kayak blackmail daripada hadiah ulang tahun.”
Tapi kebahagiaan malam itu hancur tepat lima menit setelah Maya meniup lilin.
BRAK!
Pintu depan didobrak pakai tendangan lutut gaya UFC.
Lima sosok bertopeng menyerbu masuk seperti ninja. Tapi ninja-nya agak absurd.
Ada yang pakai topeng Badut, Gorila, Ghostface, Darth Vader, dan satu lagi... sumpah demi Tuhan... kantung McDonald’s.
Mereka semua bersenjata Glock dan jago parkour. Serius. Mereka mantul dari sofa ke dinding, dari dinding ke lemari, dari lemari ke atas lampu gantung. Bener-bener kayak mau audisi jadi figuran film John Wick.
“Ini Perampokan, Brooo!”
Salah satu dari mereka—si badut—berteriak dengan suara cempreng.
“Kumpulin semua HP! Mana brankas Pak Handoyo?! Cepat!”
Sialnya, Pak Handoyo dan Dolce sedang ke luar kota, katanya ada urusan "evaluasi alat pemindai DNA juri ajang model Paris".
Jadi, cuma ada kami.
Saya langsung tukeran pandang dengan Sefia dan Maya.
Dan saya tahu—ini bukan waktunya untuk jadi pahlawan. Ini waktunya jadi pahlawan diam-diam
Pertarungan Diam-Diam di Ulang Tahun
Sefia mulai gerak dari belakang, menggoyangkan kursi pakai telekinesis pelan-pelan hingga si topeng Darth Vader kepleset dan jatuh nabrak kue ulang tahun.
Saya menghampiri si topeng gorila dan pura-pura tersandung, menendang tangannya sampai Glock-nya jatuh. Saya nyakar pistol itu, pura-pura panik tapi langsung ngelempar ke Sefia yang menangkapnya tanpa lihat.
Maya diam-diam bergerak ke dapur, lalu menghirup dalam-dalam dan mulai menyebar aroma.
Evi, Aryo, Rico, dan Dani nggak tahu kalau Maya lagi bikin wangi relaksasi massal yang bikin para perampok mulai lemas kayak habis ikut yoga satu semester.
Tapi Tembakan Itu Terjadi
Salah satu perampok—si topeng McD—panik. Dia nekat nembak.
Dan pelurunya kena Wulan.
Tepat di perut.
Semuanya langsung freeze.
Saya teriak, “WULAN!!”
Maya langsung gerak. Dia tiupkan aroma penahan rasa sakit.
Sefia pakai kekuatannya buat menghentikan pendarahan, setengah merem-merem kayak lagi meditasi. Fredy yang ternyata baru datang dari belakang rumah langsung lompat dan ikutan bantu.

Aku menyuruh Rico, Aryo, Dani, dan Evi segera mengangkut para perampok ke kantor polisi, biar Wulan bisa ditangani tanpa curiga.
Operasi Darurat (di Gudang, bukan di UGD)
Setelah rumah tenang, kami bawa Wulan ke ruang laboratorium bawah tanah yang tersembunyi. Fredy ngontak Pak Handoyo lewat HandoyoNet.
“Pak... Wulan ketembak. Gawat.”
“Tenang. Tarik napas. Dengarkan aku: ambil serum oranye. Suntikkan ke perut kiri. Dan... teteskan darah Cahyo ke lukanya.”
Saya penasaran “PAK, NGAPAIN DARA—”
“Trust me. Gen mutanmu bisa bantu. Dan Wulan... mungkin akan berubah.”
Saya menggigit jari. Serius. Sampai berdarah.
Lalu meneteskan ke luka Wulan.
Sefia menatapku sambil geleng-geleng. “Cahyo... kamu tuh superhero atau dukun?”

Rumah Sakit Chintya
Kami bawa Wulan ke rumah sakit Chintya—yang ternyata milik Pak Handoyo.
Dan di sana, Pak Handoyo dan Dolce sudah menunggu.
Wulan tertidur tenang. Pak Handoyo tersenyum dan bilang,
“Dia akan baik-baik saja. Bahkan... mungkin lebih dari sekadar baik.”
Dolce langsung heboh, “YES! Calon model hoodie-ku berikutnya!”
Saya langsung mundur dan jalan keluar, duduk di bangku taman rumah sakit.
Sefia dan Maya duduk di sebelahku. Kami saling pandang.
“Jangan-jangan... bakalan ada superhero baru.”
Mereka berdua senyum miring.
Sefia “Dan kayaknya kita tahu siapa yang bakal repot ngelatih dia.”
Maya “Siapa lagi kalau bukan si bego kesayangan kami.”

Bekicot Madagaskar dan Gelombang Kejut Cinta
setelah peristiwa perampokan, rumah sakit Chintya penuh tawa dan kelegaan.
Wulan sudah sadar total. Orang tuanya datang terburu-buru  dan langsung memeluk anaknya erat, tak peduli baju rumah sakitnya kebalik. Ayahnya nangis. Ibunya bawa tumpeng. Entah kenapa.
Di luar kamar, kami semua—aku, Rico, Aryo, Dani, Evi, Sefia, Maya, Fredy—berkumpul sambil cerita kronologi kejadian dengan versi masing-masing. Rico sempat nambahin sound effect sendiri. Dani bersumpah melihat peluru melambat karena kekuatan cinta.
Tiga Hari Kemudian...
Wulan kembali ke sekolah. Penampilannya nggak banyak berubah. Tapi langkahnya lebih tenang. Lebih dewasa. Lebih... mutan.
Setelah sekolah, aku disuruh Pak Handoyo menjemput Wulan ke rumahnya dan membawanya ke markas utama alias rumah Pak Handoyo.
Sesampainya di sana, kami masuk ke ruang kerja yang penuh layar, tabung serum, dan aroma teh manis.
Pak Handoyo membuka pembicaraan.
“Wulan... hasil scan menunjukkan... kamu sekarang mutan. Tipe langka.
Kamu punya DNA bekicot oranye Madagaskar.”
Aku melirik ke Wulan. Dia menoleh ke aku. Kami berdua refleks berkata:
“Bekicot?”
Pak Handoyo angguk bangga.
“Ya. Tapi bukan sembarang bekicot. Yang lendirnya bisa menyembuhkan luka apapun, bahkan yang tidak bisa disembuhkan oleh serum biasa. Kamu... penyembuh alami sekarang.”
Superhero Baru di Tim Kami
Pintu geser terbuka. Dolce masuk seperti pembawa acara fashion show.
Dia pakai hoodie pelangi lagi.
“Aku tahu ini saat yang spesial!”
Di tangannya, ia membawa hoodie oranye dengan jubah putih yang panjangnya pas sampai betis.
“Wulan... ini hoodie-mu. Warna oranye untuk harapan. Jubah putih untuk kebaikan.
Dan ini—”
Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan putih futuristik
“Bisa mengeluarkan gelombang kejut. Fungsinya buat pertahanan dan mobilias. Bonus kecil dari aku.”
Wulan melihatku. “Jadi... aku sekarang bagian dari tim kalian?”
Aku senyum. “Selamat datang... di dunia kedua kami.”
Di Atap Rumah Pak Handoyo
Aku bawa Wulan naik ke atap. Angin sore bertiup lembut.
Kami duduk berdampingan, melihat langit yang mulai oranye. Aku memulai.
“Wulan... aku tahu kamu punya perasaan.
Tapi aku... belum bisa. Karena aku udah hidup di dua dunia. Dunia normal... dan dunia aneh ini.”
Dia menatapku. “Dan sekarang aku juga di dunia itu.”
Aku angguk.
“Tapi jangan kasih tahu yang lain dulu. Biar semua berjalan normal. Biar kamu bisa tenang.”
Wulan tersenyum, tapi sebelum sempat menjawab...
Tiba-Tiba
Maya dan Sefia muncul dari pintu atap.
Sefia: “KALIAN PACARAN?!”
Kami kaget, berdiri refleks.
Aku dan Wulan serempak: “NGGAK!”
Maya nyengir.
“Yeeeh... kompak banget nih jawabnya.”
Sefia melipat tangan.
“Cocok sih. Kalian berdua sama-sama makhluk penyabar. Sama-sama mutan.
Tapi kamu tetap bego, Cahyo.”
Aku nyengir. “Thanks?”
Akhirnya
Kami bertiga berdiri di atap. Angin sore makin kencang.
Aku melihat ke langit. Dan untuk pertama kalinya... aku merasa lengkap.
Ada tim. Ada tawa. Ada rahasia. Ada kekuatan. Ada tanggung jawab. Dan ada bekicot Madagaskar.
Gelombang Kejut dan Tikus-Tikus Kota
Latihan hari ini… agak deg-degan.
Soalnya, untuk pertama kalinya, aku disuruh jadi pelatih.
Aku, Cahyo. Yang lari  maraton  aja sering nyasar ke warkop.  Yang dulu pernah ngira barbel adalah alat pemijat kepala. Yang sekarang... berdiri dengan clipboard di tangan dan topi pelatih terbalik di kepala.
Dan muridku adalah Wulan.
Kami ada di ruang latihan bawah tanah rumah Pak Handoyo. Ruangan ini luas, temboknya dari baja, penuh alat aneh yang sebagian buatan Dolce, sebagian kayak sisa laboratorium Jurassic Park. Tapi yang paling penting—di sinilah Wulan bakal belajar jadi petugas medis... sekaligus pejuang garis depan.
Sesi 1: Gelombang Kejut
Wulan berdiri siap. Hoodie oranye dan jubah putihnya berkibar.
“Aku mulai ya,” katanya.
Aku angguk. “Aktifkan gelombang kejut di sepatu. Lompatan jarak jauh!”
Wulan loncat. “HIYAA!”
BOOM. Dia terpental tiga meter ke depan, mendarat terguling dan hampir nabrak rak dumbbell.
Aku cepat-cepat kasih instruksi:
"Dua tangan ke depan! Gelombang kejut arah depan buat pengereman!”
Wulan mengangkat tangan. DOOOM — dia berhenti mendadak, kayak mobil pakai rem cakram ABS.
Aku senyum puas. “Sekarang... tangan kiri ke samping! Arahkan gelombang kejut buat manuver kanan!”
Wulan coba—BWUP—dia berbelok mulus ke kanan kayak sepatu punya mesin jet.
Keren juga nih Wulan.
Sesi 2: Diserang Sefia
Tiba-tiba, pintu terbuka. SEFIA TERBANG MASUK.
Tanpa aba-aba, dia melontarkan tong sampah baja ke arah Wulan.
“REFLEK!” teriakku.
Wulan kaget, tapi jubah putihnya aktif otomatis menghalau benda asing yang mengancam .
BRAAAK!
Tong itu mental balik, hampir nabrak Fredy yang lagi ngintip dari balik pintu.
Fredy “WOY AKU NGGAK IKUT APA-APA NIH!!”
Wulan panik, “Aku ngga sengaja!”
Aku angguk, “Jubah kamu ternyata bisa mantulin serangan balik. Tambahan bagus.”
Sefia mendarat dan nyengir.
“Ayo, lanjut. Pake samsak.”
Wulan mendekat ke samsak tinju.
"Tempel, aktifkan sarung tangan, dan...”
DUARR!!
Samsak hancur kayak disundul Hulk.
Aku langsung nunjuk, “WULAN! KONTROL KEKUATAN!
Kalau mutan lele kemarin bisa amburadul badannya, kamu bisa bikin tembok bolong!”
Sesi 3: Beladiri dengan Maya
Giliran Maya yang ngajar. Dia pakai ikat kepala ninja dan tangan disilang di belakang punggung.
“Oke, basic beladiri ninja Serang titik lemah. Jangan banyak gaya. Dan... kalau bisa diselesaikan dengan satu tendangan, kenapa harus pakai lima dialog.”
Latihan berlangsung seru. Maya ngajarin teknik kuda-kuda, pukulan arah leher, dan gaya menghindar sambil bilang “whoosh” biar dramatis.
“Itu gaya siapa sih?” Sefia nimpalin,
“Gaya aku.” Maya cuek
Kami semua naik ke atap rumah. Fredy sudah masak mie goreng dengan telur dadar setebal novel trilogi. Kami makan bareng. Saling tertawa. Saling ledek. Maya bilang Wulan lompatnya kayak roket mainan. Sefia bilang aku cocok jadi pelatih gym gagal.
Dan untuk pertama kalinya... Wulan terlihat sangat nyaman di tim ini.

Patroli Pertama
Malam harinya, aku dan Wulan patroli. Hanya berdua.
Kami menyusuri gang kota yang gelap. Lampu jalan mati. Bau comberan. Tapi semuanya biasa saja… sampai terdengar suara suling.
“Tiiiiiit... tiiiit... tiiiiiiiit...”
Dari balik lorong, muncul sosok kurus pakai jubah, main suling... dan di belakangnya muncul gerombolan tikus.
“Ayo, Tikus-tikusku! Ambil emas! Ambil perhiasan!” Kata peniup seruling
“Tikus zaman sekarang ambisius banget.”
“Itu... tukang suling, kan? Yang dulu di dongeng?” kata wulan.
“Tapi yang ini... ngga bakal sempat bikin cerita.”
Wulan mengaktifkan sarung tangannya.
“GELOMBANG. KEJUT.”

BWOOOOOMMM!!
Tukang suling dan tikus-tikusnya terpental semua. Sulingnya patah jadi dua.
Kami menang... bahkan sebelum aku sempat narik hoodie-ku.
Aku senyum. “Selamat, Wulan. Kamu resmi jadi superhero.”






Other Stories
Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

O

o ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Download Titik & Koma