Bab 18 Duel 5 VS 5
Duel Pertama Maya vs Topeng McDonald
Angin kencang menyapu puing-puing dan debu.
Langit sore kelabu. Kawasan industri tua di ujung kota terlihat seperti panggung teater neraka. Lokasi itu luas dengan tumpukan barang bekas di mana mana. Dan di tengah sudah ada lapangan tempat pertarungan kami nanti.
Kami berdelapan. Aku, Sefia, Maya, Evi, Wulan, Fredy, Pak Handoyo, dan Dolce, berdiri berjajar.
Angin menerpa jubah kami. Hoodie yang kini full upgrade berkibar dramatis.
Dari radio di topeng kami, aku tahu Fredy sedang pergi untuk naik ke menara bekas pengolahan, membawa senapannya. Pak Handoyo mengaktifkan interkom di topeng kami.
Dolce... sedang selfie.
Dari kejauhan, Bagas muncul, diikuti lima orang dengan topeng.
Badut, Gorila, Ghostface, Darth Vader, dan McDonald's.
Dan di belakang mereka, Barisan anak buah dengan seragam OSIRIS warna hitam abu-abu. sekitar seribu orang.
Diem. Tegap. Seperti siap maju perang.
Pertarungan Pertama Maya vs Topeng McDonald
Maya melangkah ke depan. Hoodie putihnya menyala lembut.
“Aku duluan. Biar aku Semprot dia pake farfum pilek sampe ingusnya mutasi,” katanya ringan.
Topeng McDonald's tertawa nyaring. Suara ransel di punggungnya mulai mendesis. Selang dari ranselnya tersambung ke pistol di tangan kanan. dia mulai atraksi. Semprotan cairan hijau mengguyur tanah. berasap. ini bahaya Besi aja langsung meleleh.
"Kita mulai pesta kecil ini, nona parfum!”
Maya menghindar dengan lincah. Dia melompat ke dinding, lalu berputar di udara. Tangannya terbuka. AROMA MAWAR & MINT menyebar.
“Cium ini dulu, Mas Kentang!”
Topeng McDonald's sempat limbung. Tangannya gemetar. “Apaan ini? Aku jadi mikir masa kecil…”
Tapi dia cepat sadar dan menyemprot cairan asam ke arah Maya.
SERRRR!!!!!!!
Pilar beton meleleh. Maya melompat ke atas mesin tua, mengaktifkan PEDANG PLASMA.
Pedangnya menyala ungu, bergetar lembut. Dengan sekali tebas, dia memotong selang semprotan. Cairan menyembur tak terkontrol!
“Kenaaa!” teriak Maya.
Bagi seorang ninja ini adalah hal mudah. Bahkan tanpa kekuatan mutan.
Topeng McDonald's panik, berlari zigzag.
Maya mengaktifkan sepatu canggihnya, melompat dari dinding ke dinding, menghindari jejak cairan yang membakar lantai.
Dia muncul di belakang musuhnya dan dengan satu tebasan mengoyak tabung utama di ransel itu.
Ledakan kecil terdengar.
Topeng McDonald's terpental,
Wajahnya penuh luka bakar ringan... tapi masih hidup.
Maya berdiri di atasnya, mengangkat pedang plasma.
“Kamu kalah. Sekarang... pilih, dibantu atau ditinggal?”
Topeng itu menatap Maya dan menyerah.
Pak Handoyo dari interkom.
“Satu menang. Pertarungan kedua... Evi, siap?”
Aku menoleh ke Evi.
Dia nyengir sambil merenggangkan kaki.
“Lawan aku pelari roket? Cocok. Liat siapa yang paling cepat.
Duel Kedua Evi vs Topeng Badut Kaki Roket
Setelah Maya menang dengan gaya anggun dan aroma wangi yang membuat lawan berpikir masa kecil, giliran Evi maju.
Dia melirikku dulu sebentar. Lalu melangkah ke tengah arena. Hoodie kuning cerah dengan tas slempang dan ketapel canggih di tangannya. Rambutnya diikat tinggi, gaya tomboy tapi manis. Yang pernah menolak cintaku 19 kali, tapi tetap aku tunggu jawabannya.
Topeng Badut dengan dua kaki roket berkekuatan rudal, tampangnya mirip badut ulang tahun tapi vibes-nya kayak debt collector.
Duel Dimulai
Badut itu mendesis seperti ketel nasi. Kakinya menyala merah, lalu… BOOM!
Dia melesat ke arah Evi dengan kecepatan roket 5G, sambil menendang ke udara seperti balet nyasar.
Tapi Evi…
"Too slow, Bro."
BLIP!
Dia menghilang. Teleportasi.
Badut meleset, lalu menghantam dinding kontainer sampai penyok.
Evi muncul lagi di atas atap bangunan tua, sudah membidik.
SPLAT!!
Kelereng melesat. Di udara, kelereng itu berubah…Menjadi besi cor 10 kg dan menghantam topeng badut.
“AUUGH!”
Badut bangkit. Meroket lagi.
Evi teleport. Lalu dari balik drum minyak, dia nembak lagi.
Kelereng kali ini berubah jadi mobil Alphard warna hitam—
BRAAAK!!! Menimpa badan badut.
[Vi... Kira-kira! Itu mobil saya!] teriak Dolce dari interkom, histeris.
Hening.
Semua menatap Alphard yang diam di tengah arena.
BOOOOM!!!
Alphard meledak.
“Maaf,” kata Evi ringan. “Ngambil dari ingetan… yang paling mewah.”
Babak Dua. Balas Dendam Badut
Badut bangkit. Bagas melempar ransel. Ransel membuka. Kaki roket cadangan naik otomatis.
Dipasang dalam 5 detik.
"Lho itu curang, ya?" komentarku ke interkom.
Badut melompat lagi.
Kali ini bukan cuma nendang, dia menendang sambil mengeluarkan sinar melengkung.
Jurus sabit udara.
Cahaya melengkung itu menebas udara dan memotong tiang besi jadi dua.
Evi teleport.
Lolos.
Teleport lagi.
Tapi sabit udara makin banyak. Makin tajam.
Dan satu mengenai Hoodie Evi di bagian pundak.
BOOOM!
Evi terpental menabrak tembok.
“EVI!” aku teriak.
Dia berdiri pelan, napas ngos-ngosan.
“Aku masih bisa, yo… Aku masih bisa...”
Kulitnya lecet. Hoodie-nya sobek.
Dia siap teleport lagi. Tapi tubuhnya gemetar.
“Cukup,” kataku. Aku melangkah masuk ke arena. Dan sabit udara mengenai punggungku. Untung aku masih tahan.
“YO! Aku belum kalah!” protesnya.
Aku menatapnya.
“Evi... Aku mencintai caramu menolakku. Tapi aku juga mencintai caramu bertarung. Dan sekarang... cukup.”
Dia sempat membuka mulut, lalu tubuhnya limbung.
Pingsan.
Aku menangkapnya sebelum jatuh.
Menggendongnya ke arah Wulan yang sudah siap dengan serum penyembuhnya.
Wulan mengangguk dan mulai bekerja.
Setelah Pertarungan
Evi sadar beberapa menit kemudian. Mukanya pucat.
Dia memandangku dan yang lain.
“Maaf, ya… Aku terlalu keras kepala.” Dia nyengir tipis. “Tapi kan, kalian sayang aku, kan?”
Kami semua menatapnya.
Sefia mengelus dahinya, Wulan memeluknya. Maya mengangguk.
Aku menatapnya pelan.
“Masih, Vi. Selalu.”
Lalu Pak Handoyo bicara dari interkom.
“Pertarungan ketiga... Sefia, bersiap.”
Sefia berdiri. Hoodie pink-nya mengembang tertiup angin.
Rambutnya diikat dua, dan tas selempangnya berisi benda-benda tak masuk akal.
“Biar kubuat dia kapok.”
Sefia vs Topeng Gorila
Lapangan pertarungan berdebu. Dan Sefia berdiri di tengah arena, Hoodie pink-nya berkibar ringan seperti bendera perang rasa stroberi.
Topeng Gorila sudah menunggu. Armor logam menutupi kedua lengannya, dari ujung jari sampai ke pundak. Lengannya mengilap, ototnya segede bakpao lima susun. Setiap gerakan membuat tanah bergetar.
Aku menelan ludah.
“Sefia, kamu yakin?” bisikku dari pinggir arena.
“Yakin, dong. Aku Sefia. Telekinetis queen. Master of levitating rice cookers!” dia menjawab sambil menyipitkan mata ke arah Gorila.
Pertarungan Dimulai
Sefia melangkah maju. Topeng Gorila memukul tanah dan membuat tanah retak. Dia berlari seperti banteng kena flu.
Sefia berdiri tenang. Lalu—
WHUUSSSSHHH!!!
Dari tangannya muncul pusaran angin. Menjulang, bergelombang, berdesing. Pusaran itu menyelimuti tubuhnya dan menahan pukulan Gorila.
Pukulan keras mendarat.
BRAKKKK!!!
Tapi pusaran itu menahan.
“Oke,” gumam Sefia. “Mode absurd... AKTIF!”
Dari belakangnya, lima pusaran angin baru muncul.
Masing-masing membawa perabot rumah tangga acak:
* Kompor gas
* Meja setrika
* Helm proyek
* Kursi plastik bolong
* Galon isi separuh
“Go get him!” Sefia menunjuk.
WHUUSHHH!!
Lima pusaran terbang mengejar Gorila dari arah berbeda.
Gorila meninju meja setrika. Meledak.
Diseruduk galon. Dia lempar balik.
Dihajar helm proyek. Dihancurkan.
Pusaran terakhir nyaris kena wajahnya, tapi dia memutar badan dan—
BRAK!! meninju kursi plastik hingga hancur jadi confetti.
Sefia gigit bibir.
“Oke... Gaya 2.0!”
Dia membuat pusaran raksasa.
Di dalamnya?
Kulkas dua pintu.
Kita semua di sisi arena menahan napas.
“Sefia... serius?” bisik Wulan.
“Kulkasnya mirip punya Dolce itu...” tambah Maya.
“hehe nggak sengaja terteleport ke sini” kata Evi setelah menguras isi kulkas.
“Kulkas limited edition dengan bunga Sakura,” kata Fredy pelan.“...Sefia, JANGAN—”
Terlambat.
WUUUSSSHHH!!
Kulkas dua pintu melesat ke arah Gorila.
Tapi—
Gorila menahan kulkas itu dengan satu tangan.
Dan—
BOOOOMMM!!! Kulkas dilempar balik.
Sefia terlempar karena ledakan angin balik. Tubuhnya menghantam tumpukan ban bekas. Hoodie pink-nya robek sedikit. Dia menggigit bibir. Napas berat. Matanya mulai berkaca-kaca.
Gorila berlari lagi.
Sefia mencoba bangun. Membuat perisai angin. Tapi.
BRAK!!!
Satu pukulan menghantam perisai dan merontokannya.
DUAK!
Pukulan kedua menghantam tanah dekat kaki Sefia. Tubuhnya terpental.
Aku ingin masuk ke arena. Tapi tangan Fredy menahanku.
“Tunggu,” katanya. “Beri dia kesempatan.”
Sefia mengeluarkan benda kecil dari kantong tas slempangnya.
“Waktunya main ninja-ninjaan,” katanya.
Kotak itu... isinya shuriken ungu metalik.
Buatan Maya. Plasma tipis di setiap sisinya.
Sefia melayang, mengangkat lima shuriken dengan telekinetis.
WUUUSSSHHHH!
Shuriken beterbangan.
Topeng Gorila menangkis dengan tangannya. Tapi...
CRAKKK!!
Satu shuriken menembus armor bagian pundak.
Gorila mengaum. Kesal. Marah.
Dia menubruk Sefia—keras.
Sefia terpental, terguling di lantai. Hoodie-nya robek sedikit di bahu.
Kami panik. Tapi dia berdiri lagi.
Tatapannya tajam. Tapi... matanya berkaca-kaca.
“Sefia…” bisikku.
Dia tersenyum getir. “Aku... gak mau kalah. Tapi dia terlalu kuat…”
Momen Puncak
Topeng Gorila kembali menghampiri.
Sefia menarik napas.
“Terserah. Kalau memang aku harus kalah… ya udah.”
Dia memejamkan mata, mengangkat tangannya.
Tiba-tiba...
semua benda di arena terangkat!
Bangku penonton, lampu gantung, sepeda rusak, bahkan Dolce yang lagi duduk ngemil hampir ikut keangkat.
“WOY! Jangan aku juga!!” teriak Dolce.
Sefia membuka mata.
“INI UNTUK TIMKU!”
DUAR!!!
Benda-benda meluncur seperti roket ke arah Topeng Gorila.
BRAK! PRAKK!! BRAKK!!
Satu demi satu mengenai tubuhnya. Armor pecah. Topeng koyak.
Gorila roboh.
Sefia roboh.
Gorila bangun kembali.
Momen Menyentuh
Setelah sadar. Sefia tertatih. Berdiri dengan lutut goyah. Rambutnya berantakan. Hoodie-nya penuh debu. Dia menatap kami semua.
Matanya merah.
“Maaf...”
“Aku gagal...”
“Aku pikir... aku cukup kuat. Tapi ternyata cuma cerewet doang.”
Dia menangis.
Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia—Sefia, si cewek jenius, nyebelin, cerewet, pintar debat, penguasa benda melayang dan penemuan aneh,
Menangis.
Dan bukan karena kesal... tapi karena merasa mengecewakan kami.
Kami semua menatapnya.
Aku melangkah maju, pelan. Lalu memeluknya.
Sefia kaku. Tapi lalu membalas pelukanku erat.
“Nggak apa-apa,” bisikku.
“Kamu udah luar biasa. Kamu tetep pahlawan kami.”
Wulan dan Maya mendekat. Wulan menyeka air matanya.
Maya hanya mengangguk, lalu berdiri di sisi Sefia.
Fredy mengangguk dari jauh.
Dolce dari interkom, pelan berkata,
“Kulkasku mungkin hancur... tapi aku bangga padamu.”
Kami semua tersenyum.
Dan dari interkom, suara Pak Handoyo terdengar.
“Istirahat lima menit. Lalu Wulan bersiap.”
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...