Bab 17 - Latihan Dan Strategi Baru
Malam itu langit mendung, suasana markas hening. Tapi di ruang bawah tanah milik Pak Handoyo. Suara jeritan, letupan, dan gelegar kayak neraka diskon akhir tahun.
Aku, Maya, Wulan, Sefia, dan Evi... lagi latihan.
Ya, latihan buat pertandingan hidup dan mati lawan OSIRIS. Pertarungan 5 vs 5. Kalau menang, OSIRIS bubar. Kalau kalah, 5 serum jatuh ke tangan Bagas.
Gawat.
Latihan Sebelum Duel
Sesi 1 Sefia – Telekinesis Gila
Ruang latihan kami di rumah Pak Handoyo sudah seperti ajang gladiator, minus penonton, plus suara Fredy yang sibuk masak sarden di dapur sambil nyanyi lagu dangdut koplo.
Hari itu jadwalnya Sefia. Latihan Telekinetis. Brutal dan semrawut. Soalnya orangnya juga nggak jelas. kadang jutek kadang ngeselin.
“Aku mulai, ya,” kata Sefia sambil mengikat rambutnya ke belakang. Mata fokus. Wajah serius. Celana training warna ungu, hoodie Team Handoyo, dan... sandal swallow.
“Yo, siap?” tanya Maya di pojokan, sambil nyiapin stopwatch.
Aku berdiri di tengah ruangan, pegang pelindung kepala yang terlalu kecil. "Kenapa aku yang jadi boneka tes-nya?”
“Karena kamu superhero paling tahan banting sekaligus paling nggak bisa ngeluh tanpa drama,” jawab Sefia sambil tersenyum manis seperti anak pesantren sebelum buka jurus silat neraka. jurus yang bisa ngirim korbannya ke rumah sakit.
Dolce berdiri di samping Fredy sambil rekam video. “Latihan ini penting. Kita butuh kekuatan penuh dari telekinetismu, Sef.”
“Siap,” jawab Sefia.
3… 2… 1… MULAI.
Tiba-tiba...
Lemari besi diangkat ke udara.
Meja mutasi melayang.
Karung beras disusun jadi peluru.
Dan aku… jadi sasaran bergerak.
“Cahyo, lari ke kiri!” teriak Maya.
Aku lari.
WUSSSS!!
Lemari meluncur, nyaris nabrak.
Aku salto ke belakang.
BOOM!
Karung beras ngeburst kayak popcorn.
“Sekarang, coba bikin spiral!” teriak Dolce.
Sefia mengangkat 10 benda sekaligus: galon kosong, vas bunga, rak sendal, kipas angin, kursi plastik, panci, teko, helm, raket nyamuk, dan... patung ayam.
Semua berputar membentuk spiral. Lalu dilempar ke arah boneka latihan... yang ternyata boneka itu aku.
“SEFIAAA!!”
WUSH WUSH WUSH WUSH
Aku menghindar.
Kepeleset.
Kepala nyungsep ke kasur Fredy.
“SEKARANG FORMASI PELURU TERBANG!”
Sefia membuat 12 obeng melayang, mengarah ke papan target.
TZUT TZUT TZUT TZUT TZUT!
Obeng menancap rapi membentuk tulisan. "AKU CANTIK" Sefia senyum.
Aku berdiri terengah-engah.
“Kenapa kamu nggak latihannya pakai balon atau bantal?”
Sefia cengar-cengir. “Karena musuh kita bukan tukang dekorasi ultah, Cahyo.”
5 Menit Kemudian
Kami duduk di pojok ruang latihan.
Aku masih ngos-ngosan.
Fredy datang bawa teh dan pisang goreng.
“Jadi, gimana?” tanya Pak Handoyo yang baru muncul dari ruang lab.
Dolce menjawab sambil menunjukkan video.
“Telekinetisnya udah makin presisi. Tapi emosinya masih naik turun.”
Sefia melirik aku. “Mungkin karena test dummy-nya ngeselin.”
Aku senyum. “Tapi kan kamu tetap sayang aku?”
Sefia mendelik.
“Cuma sayang buat dijadiin target.”
Kami tertawa.
Suasana santai, walau kami tahu…
Latihan ini bukan main-main.
Karena bentar lagi,kami akan bertarung bukan untuk menang saja. Tapi untuk masa depan.
Sesi 2 Maya – Ninja Aroma
Setelah latihan brutal bersama Sefia dan semua perabot absurdnya, giliran Maya yang turun ke arena.
Kami semua duduk di pinggir lantai latihan. Fredy bawa camilan, Sefia masih menyeka keringat sambil pamer memar di lengan (yang dia sengaja tunjukkan ke aku), dan Evi duduk sambil ngunyah biskuit seperti penonton sinetron.
“Aku sih penasaran,” kata Evi. “Aroma Maya tuh beneran bisa nge-hipnotis semua orang atau tergantung mood?”
Maya berjalan ke tengah ruangan, wajah tenang, langkah anggun, Hoodie tim berwarna putih selempang merah berkibar pelan. Di tangannya—pedang plasma yang dia sebut “Ame-no-Tsurugi. Atau “pedang surga”
Nama yang berat. Tapi dia biasanya manggilnya “Si Tsur” doang.
“Aku siap,” katanya pelan.
Pak Handoyo mengangguk. “Oke. Simulasinya sederhana. Kita uji seberapa cepat kamu bisa lumpuhkan target pakai aroma—dan bertahan saat harus duel jarak dekat.”
“Aromanya dikontrol lewat emosi, kan?” tanya Evi.
“Betul,” kata Maya. “Aku bisa aktifkan tiga jenis aroma.”
Dia mengangkat tangan, dan perlahan melepaskan sarung tangannya. Wangi samar langsung menyebar.
1. Aroma tenang.
Fredy tiba-tiba duduk bersila, tutup mata, dan bilang, “Aku... damai.”
2. Aroma takut.
Wulan di pojok langsung gemetar dan berbisik, “Tikus... di mana tikus... jangan, jangan ke sini...”
3. Aroma romantis.
Aku mendadak berdiri dan... nyanyi.
Beneran.
Nyanyi.
“Lupakan saja diriku... bila itu bisa membuatmu... kembali padanya...”
SEMUA MENATAP AKU.
“Aku nggak sadar, sumpah,” kataku, panik.
Maya tertawa kecil.
Lalu—klik!
Pedang plasmanya terbuka.
BZZZZT.
Cahaya ungu menyala dari gagang pedang, membentuk bilah energi yang hangat tapi tajam.
Target kali ini boneka kayu milik Dolce yang bisa meniru gerakan acak manusia.
VRRRR!
boneka menyergap.
Maya melompat ringan ke samping, mengeluarkan aroma takut.
boneka berhenti, lalu disambar pedang plasma dari kanan.
ZZZZZAAAAPP!!
Bone kayu terbakar danjatuh.
Kami semua tepuk tangan.
Lalu tiba-tiba 15 drone aktif sekaligus.
Simulasi lanjutan dari Dolce.
“Sekarang, pertahanan!” teriaknya.
Maya melompat.
Mengaktifkan aroma tenang untuk mengalihkan.
Bergerak di antara drone dengan manuver akrobatik.
Pedangnya meluncur.
Sekali sabet, dua drone jatuh.
Langkah lincah.
Sabet cepat.
Tendangan ke samping.
Dan…
BOOM.
Simulasi selesai. 15 drone KO cuma dalam waktu 42 detik.
Semua terdiam.
Kecuali Fredy yang berkomentar:
“Wanginya kayak sabun bayi premium.”
Setelah Latihan Maya duduk di sampingku. Kami berdua diam. Sampai dia berkata, lirih.
“Aku kadang takut…”
“Takut apa?”
“Takut kekuatanku bukan untuk melindungi. Tapi untuk mengendalikan.”
Aku menoleh, menatap matanya yang penuh luka lama.
“Kamu tahu, Yo... ibuku, dulu... dia pakai kekuatan aromanya bukan buat kebaikan. Aku takut suatu hari aku jadi kayak dia.”
Aku menunduk sebentar. Lalu menjawab.
“Kalau kamu bisa pakai kekuatanmu buat bantu orang... meski pernah salah, kamu udah menang.”
Dia menatapku Lalu... tersenyum tipis.
“Terima kasih, Cahyo.”
Kami berjalan kembali ke dalam rumah.
Sambil dengar suara Evi dan Sefia ribut soal siapa yang bisa masak nasi goreng pakai teleportasi.
Dan aku sadar Di antara semuanya, Maya mungkin yang paling banyak menyimpan rasa.
Tapi hari itu, aku lihat dia gak lari. Dia berdiri. Menghadapi. Dan tersenyum.
Dan itu cukup. Untuk bikin aku percaya... kami punya harapan saat pertarungan nanti.
Sesi 3 Wulan – Lendir, dan Ledakan Kejut yang Elegan
Di antara kami semua, Wulan itu yang paling… nggak kelihatan sebagai petarung.Tenang. Kalem. Senyumnya kayak guru les privat yang selalu sabar meskipun kamu salah jawab 4+2 jadi 9.
Tapi hari ini, dia masuk arena latihan.
Pak Handoyo berdiri di sampingku.
“Yo,” katanya. “Liatin baik-baik. Wulan itu ibarat teh. Nggak terlalu terasa waktu masih panas. Tapi makin lama, makin terasa manisnya.”
Aku langsung catat. Kalimat itu cocok buat caption IG.
Fredy duduk di sudut sambil pegang stopwatch.
Maya dan Sefia udah siap bawa cemilan.
Evi? Lagi teleport dari dapur bawa pisang goreng.
Wulan melangkah ke tengah ruangan latihan. Hoodie oranye-nya berkibar, jubah putih menyatu di belakang. Sarung tangan putihnya bersih, tapi di dalamnya... kekuatan menyembuhkan dan... ngejutin.
“Target mobil latihan dan tiga dummy mutan,” kata Dolce, lalu memencet tombol remote.
VRRRRRMMMM!
Satu mobil dummy sebesar anjing menyala, berputar seperti mainan rusak.
Wulan berdiri diam.
Mengeratkan sarung tangan.
Mengaktifkan gelombang kejut di sepatunya.
DUARRR!
Dia melesat ke depan, cepat. Seperti dibantu sepatu jet.
Tepat saat mobil dummy melaju ke arahnya...
BOOM!
Gelombang kejut dari sepatu menghentikan mobil, memantulkannya mundur lima meter dan jatuh terguling.
“Woohoooo!” teriak Evi.
Fredy angguk-angguk.
“Efeknya kayak digebuk mantan waktu ketahuan selingkuh.”
Next stage, tiga dummy mutan bergerak maju.
Satu berbentuk manusia besar. Satu berbentuk laba-laba. Satu berbentuk... nenek-nenek bawa panci. (Ide Sefia. Jangan tanya kenapa.)
Wulan bergerak gesit.
Lengan kiri ke depan — Gelombang kejut kanan aktif!
Dummy manusia terpental.
Lengan kanan menyilang — Gelombang kejut samping aktif!
Dummy laba-laba terpelanting.
Satu lagi — dummy nenek datang, nyaris menghantam.
Wulan...
MENYEMPROT LENDIR LICIN KE TELAPAK KAKI.
Nenek itu... (eh, maksudnya dummy nenek itu)...
KESELIOP.
Dan nabrak tembok.
Aku... terpana.
“Dia bisa ngeluarin lendir sambil salto. Itu nggak adil.”
Ujian terakhir simulasi tim.
Aku, Maya, dan Sefia pura-pura jadi rekan tim yang cedera.
“Wulan! Luka di lengan kanan!” teriak Sefia dramatis.
Wulan datang, berlutut.
Tangannya mengeluarkan lendir sembuh.
Sefia langsung bangun dan...
“Yuk, lanjut TikTok-an!”
Maya berpura-pura pingsan.
Wulan menempelkan telapak tangan dan sembuhkan.
Aku...
Berpura-pura lemas dan jatuh di sofa.
“Yo. Lukamu mana?” tanya Wulan.
“Di hati,” kataku. “Melihatmu setiap hari bikin deg-degan...”
Wulan menyemprotkan lendir ke mukaku.
“DINGIN!! INI KAYAK GETAH NANGKA BEKU!!!”
Semua tertawa.
Termasuk Wulan.
Selesai latihan.
Kami semua duduk di pinggir arena.
“Wulan,” kata Pak Handoyo. “Kamu bukan cuma petugas medis. Kamu pelindung. Penyeimbang. Dan... kunci banyak kemenangan kita.”
Wulan cuma tersenyum kecil.
“Terima kasih, Pak. Tapi... saya masih belajar.”
Aku menatapnya. Ada keteguhan di balik tenangnya.
Ada badai yang diam-diam di sembunyikan dan aku sadar.
Wulan itu bukan cuma ‘tenang’. Dia badai yang gak suka drama.dan kalau kau punya Wulan di timmu?
Kau selalu punya harapan untuk pulang hidup-hidup.
Sesi 4 Evi, Ketapel, dan Keajaiban yang Gak Masuk Logika
Hari latihan Evi.
Sumpah. Kalau latihan superhero biasanya tegang dan penuh aura badass, maka latihan Evi… kayak nonton anime komedi dicampur film sci-fi low budget tapi teknologi dewa.
Pak Handoyo berdiri di pojok lapangan markas.
“Evi, hari ini kita latih tiga hal teleportasi taktis, akurasi ketapel, dan kontrol pikiran dalam memilih objek,” katanya.
Evi mengangguk. “Siap, Pak.”
Aku berdiri di sebelah Sefia. “Kamu yakin dia bisa serius?” bisikku.
Sefia nyeruput es teh. “Ngak yakin. Tapi justru itu serunya.”
Simulasi 1. Teleportasi Lokasi dan Ambil Barang
Fredy berdiri di tengah lapangan, megang panci.
“Evi, ambil payung yang tadi kamu lihat di kamar mandi lantai atas.”
ZZZZT!
Evi menghilang. Muncul lagi sambil bawa… galon air.
“Evi… itu bukan payung,” kata Fredy.
“Mirip kok. Sama-sama buat hujan,” jawab Evi, enteng.
Pak Handoyo mulai stres garuk-garuk janggut.
Simulasi 2. Kirim Barang ke Lokasi
Aku diminta berdiri di ujung lapangan, bawa helm.
“Evi, kirim kelereng ini ke tempat Cahyo.”
Evi menerima kelereng, fokus... lalu POP... kelereng hilang.
DUAK!!
Kelereng berubah jadi... ikan lele hidup di atas kepalaku.
Aku jerit, “KENAPA LELE?!!”
Evi ketawa. “Kepikiran makan pecel lele tadi siang.”
Sefia di sampingku udah mulai guling-guling ngakak.
Simulasi 3: Ketapel dan Objek Imajinatif
Dolce mendesain target dummy di lapangan dummy berbentuk robot mutan.
“Evi, bidik ketapelnya. Kelereng bebas bentuk,” kata Dolce.
Evi mengincar...
PLAK!
Kelereng terbang.
BOOOM!
Target dummy tertimpa... mesin cuci dua tabung.
“Ev... itu luar biasa...” gumam Fredy kagum.
“Thanks. Aku liat itu di iklan tadi pagi,” jawabnya.
Simulasi 4. Pertarungan cepat
Tiba-tiba target dummy aktif dan menyerang balik.
“Evi, respons cepat!” teriak Pak Handoyo.
ZZZTT! Evi teleport ke belakang dummy,
meluncurkan kelereng dan berubah jadi rantai sepeda yang melilit kaki dummy.
Teleport lagi.
Ketapel lagi.
Kelereng berubah jadi paku payung yang jatuh ke kepala dummy.
Dummy goyah.
Evi teleport lagi. Sekarang muncul di atas.
Kelereng terakhir…
Berubah jadi ember penuh air laut.
CLOSHHH!
Dummy korslet. Terbakar.
“Latihan selesai…” kata Pak Handoyo pelan. “Aku butuh teh manis.”
Sesi Evaluasi
Kami semua duduk di bawah pohon di halaman markas.
“Evi,” kata Dolce, “kemampuanmu terlalu imajinatif. Tapi luar biasa mematikan kalau dilatih lebih fokus.”
“Jadi aku lulus?” tanya Evi.
“Lulus. Dengan nilai... absurd maksimal.”
Evi tersenyum.
“Thanks. Tapi inget, jangan bikin aku marah. Soalnya aku bisa kirim kamu ke kamar mandi cowok lantai dua… tanpa pintu.”
Aku langsung nutup Hoodie rapat-rapat.
Sefia nyeletuk, “Jadi... sekarang kita punya pejuang teleport yang bisa kirim kelereng berubah jadi kapal selam kalau dia habis nonton Discovery Channel.”
Kami tertawa.
Evi tertawa.
Dan aku makin sadar...
Kami memang tim paling gila di dunia.
Tapi juga paling siap menghadapi apa pun.
Sesi 5. Aku – Petir & Pusing
Aku mencoba jurus baru Bola Petir Spiral.
Lempar ke arah samsak.
BOOM!
Samsaknya hilang. Listriknya kena kabel Wi-Fi markas.
“INTERNET MATI!!”
“SIAPA YANG MATIIN JARINGAN??”
Fredy keluar dari ruangannya bawa kabel LAN kayak mau jambak orang.
Aku ngacir.
Akhir Latihan Duduk di Atap. kiita semua kelelahan.
Duduk di atap rumah Pak Handoyo.
Makan mie rebus buatan Fredy (dengan topping random: sosis, kacang atom, dan keju kraft).
“Besok kita tanding ya...”
“Kamu takut, Cahyo?” tanya Maya.
Aku diem sebentar.
“Takut... iya. Tapi kalau bareng kalian... takutku berubah jadi semangat.”
“Dan semangatku berubah jadi keinginan... buat tidur aja dulu.”
Mereka ketawa.
Wulan bersandar ke bahuku.
Sefia ngunyah mie sambil ngetik strategi di ponselnya.
Evi teleport ke dapur cuma buat ambil sambal sachet.
Maya mantengin langit.
“Kita ini aneh ya...” kataku.
“Iya,” jawab mereka serempak.
“Tapi anehnya cocok.”
Other Stories
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...