Bab 19 Penentuan
Aku mulai khawatir. Skor kami 1, mereka 2.
Kalau Wulan kalah, team kami kalah sebeum aku bertanding atau aku bertanding dua kali. Dan, yah… kamu tahu seberapa kacau dunia kalau nasib kota ini ditaruh di pundakku yang lulus matematika karena kasihan.
Masalahnya, Wulan bukan petarung. Dia petugas medis kami. Penolong. Penyembuh. Si lendir oranye yang baik hati. Sementara musuhnya? Atlet parkour sadis bersenjata cambuk listrik.
Wulan melangkah ke arena. Hoodie oranyenya mengembang pelan, jubah putihnya melambai ringan. Di tangan dan kakinya, sarung tangan dan sepatu gelombang kejut. Di wajahnya—gugup. Di hatiku—dag dig dug duerrr.
Lalu datanglah dia, Ghostface. Topeng putih menyeramkan. Kostum gelap. Cambuk di tangan kanan dan kiri.
Lalu—SHHHAAA—KLAKK!!
Empat lengan bionic muncul dari punggungnya, masing-masing menggenggam cambuk listrik berdesing seperti setrika yang kelamaan di colokan.
“Enam cambuk... Enam!” seruku."itu udah kayak versi listriknya Siwa!”
Fredy memegang pelipis.
Maya menelan ludah.
Sefia bisik, [Wulan, kamu kuat. Tapi kalau kamu mati, pelan-pelan ya, biar aku sempat ngambil video.]
Pertarungan Dimulai
Ghostface langsung menerjang.
CZZZARRTT!!
Satu cambuk menyambar ke arah Wulan.
Wulan menghindar dengan gelombang kejut dari sepatu. Dia melesat ke samping.
WUUUSHH!!
Dua cambuk kejar dari kiri dan kanan.
Wulan menangkis dengan jubah putihnya—clingg!—masih tahan!
Tapi satu cambuk menghantam bahunya.
ZZZZRRRTTT!!!
Wulan jatuh terguling.
“Wulan!” seru Maya.
Tapi Wulan bangkit. Telapak tangannya menyentuh lukanya—lalu menyala oranye, dan luka itu sembuh.
Ghostface kembali menyerbu, kini empat cambuk menyambar bersamaan.
Wulan menghindar. Tak bisa. Cambuk menyerempet kakinya.
Mundur dan mengobati kakinya. Lalu mundur lagi.
Dia menyemprotkan lendir oranye licin dari telapak tangan ke lantai.
CEEEEEK!!
Ghostface mengejar dan tergelincir.
Dan cambuknya sendiri menyambar ke arahnya.
ZAAAPP!!
Ghostface kesetrum cambuk sendiri.
“YES! Karma mode Aktif,” kata Sefia.
Finishing Move
Wulan melihat celah.
Tangannya menyemprot lendir lengket, bukan licin.
PLOOOTTT!!
Lendir itu menempel ke armor Ghostface.
Lalu dia semprotkan lagi ke lantai.
BLUGGHH! Ghostface jatuh, dan lengket ke lantai. Dia mencoba bergerak. Cambuk-cambuknya nyala, menyambar, tapi tak bisa gerak.
“Aku nggak bisa gerak! Ini apaan sih?!”
“Lendir aku,” jawab Wulan polos. "Oranye Madagaskar. Harum jeruk. Efeknya... nempel sampe Lebaran.”
Ghostface akhirnya menyerah.
Dan wasit, Pak Handoyo dari balik monitor, mengangkat tangan.
“Pemenangnya WULAN!”
Kami semua loncat kegirangan. Aku peluk Wulan.
"Wulan! Gila! Kamu ngelawan atlet sadis pake lendir!”
“Aku juga nggak nyangka...” katanya sambil tertawa dan menangis bareng.
Maya menepuk bahu Wulan.
“Keren kamu bisa ngeluarin lendir-lendir aneh.”
“Itu kata-kata pujian, kan?”
“Tergantung konteks.”
Skor sekarang 2 vs 2.
Pertarungan terakhir... tinggal aku.
Melawan Topeng Darth Vader.
Yang punya dua perisai segitiga plasma dan bisa terbang.
“Kalau aku kalah... kita kehilangan semua serum,” gumamku. “Kalau aku menang... kita bisa pulang, makan mie instan rame-rame.”
Cahyo vs Bagas. Duel Terakhir, Luka, Petir, dan Kalimat Terakhir
“Kau melawan aku, Cahyo.”
Itu suara Bagas. Bukan suara Topeng Darth Vader.
Dan bukan cuma suaranya yang berubah, penampilannya juga.
Bukan lagi pria kurus kacamataan yang kayak alumni seminar teknologi. Kini dia muncul di arena dalam bentuk mutasi cheetah-manusia. Tubuhnya berbalut armor fleksibel, kakinya ramping penuh otot, kukunya panjang dan tajam. Wajahnya setengah manusia, setengah predator.
Kecurangan Dimulai
“Kami protes!” teriak Maya dari belakang.
“Seharusnya lawannya si topeng Darth Vader!” tambah Sefia, setengah ngamuk.
Wulan dan Evi udah siap teleport aku keluar arena, saking paniknya.
Tapi Pak Handoyo justru mengangkat tangan.
“Biar... biar Cahyo hadapi dia. Sudah waktunya semua ini diakhiri.”
“APAAN?!” aku sempat protes.
Pak Handoyo menatapku.
“Ingat, Cahyo. Kau bukan yang terkuat. Tapi kau satu-satunya yang nggak pernah menyerah.”
“Dan... yang kostumnya paling murah,” bisik Dolce.
Pertarungan Dimulai
Bagas langsung menghilang.
SWOOSHHH!!
ZZAAARRR!!!
Satu cakaran menebas punggungku.
Aku melompat ke samping.
ZZAAAAPP!! aku kirim petir—tapi zonk, cuma kena tembok.
ZRAKK!!
Dia muncul dari belakang. Cakarannya merobek Hoodie-ku.
“Woy, itu Dolce bikin lho! Anti peluru, anti air, anti korupsi!”
“Tapi gak anti gua,” kata Bagas sambil cengar-cengir.
Dia berlari mengitariku.
SWOOOSHH—SWOOOSHH
Lingkaran debu muncul.
Aku mulai pusing. Petirku bisa nyasar.
Satu, dua, tiga cakaran mendarat di tubuhku.
Dada, bahu, lengan. DARAH MUNCRAT.
Tapi aku tetap berdiri. Healing factor-ku bekerja. Luka tertutup. Tapi makin lama makin lambat.
“Cahyo!” teriak Sefia.
“Bangun, nanti kita makan mie!” jerit Maya.
“Kalau kamu mati... aku... aku sedih,” kata Wulan pelan.
“Awas kalau kalah. Aku yang ngurus pemakamanmu, tapi bajumu tak aku cuci!” ancam Evi.
Ledakan Terakhir
Bagas melompat ke arahku—cakar diangkat.
Aku membuka tangan.
Tubuhku sudah gemetar. Satu mata mulai kabur.
“Tahu gak, Bagas... Aku ini bego, tapi aku tahu satu hal…”
“Apa?” dia mengejek.
“Kalau semua orang bisa kuat kalau mereka punya orang-orang yang percaya sama mereka.”
Aku menyerap seluruh energi listrik dari tanganku ke jantungku.
DUAAARRRRR!!
Ledakan petir menyambar ke segala arah.
BZZZZZZZTTTT!!!
Bagas terpental jauh. Armor-nya terbakar. Dia terguling, dan roboh.
Aku?
Aku juga jatuh telentang, napas megap-megap.
Bagas berdiri. Terhuyung.
“Hahaha! Aku yang menang... Aku masih berdiri... AKU—”
“Tunggu...” suaraku pelan dari tanah.
“Pertarungan belum selesai.
Kemenangan yang sempat bagas rayakan ternyata belum berakhir.
Bagas berdiri.Sisa-sisa armor hangus dilepas. Wajahnya luka, tapi matanya masih menyala benci.
“Kalian pikir ini selesai? Belum. Kekuatan serum cheetah belum sepenuhnya aktif!”
Tubuhnya mulai membesar.
“Wah, ini orang doyan banget adegan bonus-bonusan ya,” aku ngedumel pelan.
Tapi aku juga ngerasa aneh.
Tubuhku… gatal.
Kulitku ngilu.
Tulang-tulangku... ngeretak pelan-pelan.
Dan tiba-tiba…
Perubahan
Aku menunduk. leherku menghilang. Kepala, mulut, mata membesar.
Tanganku... berubah hijau.
Kulitku lembap dan licin. Jari-jariku melebar seperti kaki katak.
“Dolce… kenapa... aku berubah... jadi kodok?”
“Itu efek benturan petir dan healing factor kamu... kamu memicu mutasi tahap lanjut!”
“Sumpah ini bukan saatnya cosplay Taman Safari!”
Aku udah nggak bisa berdiri tegak. Tapi membungkuk.
Aku loncat. tiga meter ke depan. Tubuhku penuh energi.
Refleksku meningkat.
Pendengaranku tajam.
Dan penciumanku… aku bisa nyium parfum bekas pacarnya Fredy di jaket dia.
(Agak serem sih.)
Duel Kedua Kodok vs Cheetah
Arena hening. Skor imbang.
Semua mata tertuju padaku dan Bagas.
Aku berdiri dengan Hoodie koyak, napas berat, tubuh penuh luka.
Bagas berdiri di seberang. Nafasnya cepat. Matanya liar. Tubuhnya... mulai berubah.
Otot-ototnya membesar. Tangan dan kaki memanjang. Bulu tumbuh cepat di seluruh tubuhnya.
Telinganya runcing. Matanya bersinar kuning. Kuku-kukunya jadi tajam.
Dia bukan manusia lagi.
Dia... Monster Cheetah.
"Aku... tidak akan kalah...!" geram Bagas.
Aku sendiri... sudah berubah.
Kulitku mengeras. Warna hijau kusam. Jari-jariku melebar. Lidah terasa lebih panjang. Mataku lebih tajam.
Lalu... tubuhku benar-benar berubah.
Aku... Monster Kodok.
Tapi masih Cahyo.
Walau sekarang kayak... versi cosplay gagal.
Pertarungan Dimulai
Bagas melesat lebih cepat dari peluru.
Aku bahkan belum sempat mikir, tiba-tiba udah ditendang ke tumpukan genteng di pinggir arena.
BRAK!
"Aku harus lebih cepat," desisku.
Bagas datang lagi. Cakar siap mencabik.
Tapi aku... menghindar.
Sekali. Dua kali. Lalu aku menendang balik dengan kaki kodokku yang... jujur aja, kekar banget.
BUK!
Bagas terpental.
Aku ngeluarin petir dari tanganku Tapi dia udah lari lagi.
Dia muncul dari samping, mencakar pundakku.
“AAARRGHH!!”
Aku terpental. Kulitku berdarah. Tapi cepat menutup.
"Aku juga punya healing, Bas!" teriakku.
Bagas cengengesan. "Tapi kamu gak punya kecepatan kayak aku!"
Dia mulai bergerak cepat. Sangat cepat.
Mengelilingiku. Aku nyaris pingsan cuma ngikutin arah geraknya.
Lalu…
TAP!
Dia mencakar punggungku.
Aku roboh.
Momen Titik Balik
Aku lihat ke arah bangku penonton.
Maya, Sefia, Evi, Wulan, semua berdiri.
Wajah mereka... khawatir. Tapi percaya.
Aku mengingat momen-momen dulu.
Nembak Evi ditolak. Di deketi banyak cewek. Ketawa bareng Rico, Aryo, Dani. Dikejar nenek lempar ember. Dan lainya.
"Yo, kamu bukan monster," bisik hatiku."Kamu Cahyo."
Aku berdiri.
Bagas menerjang lagi.
Tapi kali ini... aku melihatnya.
Aku menyambutnya.
Cakar bertemu tinju. Kami terpental.
Aku melompat tinggi. Lalu... menyerap energi listrik dari tubuhku.
Mulutku terasa panas.
Dan...
“PLASMAAAAA KODOKKK!!!
Aku menyemburkan ledakan plasma dari mulutku.
Langsung menghantam Bagas.
DUAAAAARRRR!!!
Bagas terpental. Tubuhnya gosong. Roboh.
Dan tak bergerak.
Setelah Pertarungan
Aku masih dalam wujud kodok.
Tapi Wulan datang. Menyentuh punggungku.
Tubuhku berubah lagi.
Menjadi manusia.
Masih deg-degan. Tapi... menang.
Penutup Pertarungan
Penonton terdiam.
Lalu... tepuk tangan.
Semua. Termasuk pak Handoyo.
Dolce teriak dari atas bangku. “ITULAH MURIDKU YANG PALING SERING GAGAL UJIAN FISIKA!”
Aku melambaikan tangan ke arah teman-temanku.
Bagas masih sadar. Tapi lemah.
Dia menatapku.
“Aku kalah. Tapi... untuk pertama kalinya... aku merasa tenang.”
Aku mengulurkan tangan.
Dia menyambutnya.
Pertarungan selesai.
“Pertarungan ini tak hanya tentang kekuatan. Tapi tentang hati... dan kontrol diri.”
“Dan tim kalian menang.”
Aku terduduk. Nafasku berat.
Kepala masih pening.
Tiba-tiba...
“Tapi jujur ya, Cahyo…”
“Hah?”
“Kamu versi kodok malah lebih pinter dikit,” sindir Evi sambil kasih es krim.
Skor Akhir.
team Cahyo, mutan kodok plasma – 3
team Bagas, cheetah bermasalah – 2
Other Stories
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...