Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 22. END. UJIAN KENAIKAN KELAS


Kenapa Saya Lebih Takut Fisika daripada Mutan Lele Berkumis Racun. Jangan pernah remehkan ujian kenaikan kelas. Nenek-nenek pelempar ember aja bisa saya hadapi.
Tapi sekarang?
Musuh saya Fisika Bab Momentum. Matematika Integral. Dan soal pilihan ganda model begini.
"Semua jawaban benar, KECUALI..."

Kami membangun markas. Bukan buat nyusun strategi melawan pasukan mutan. Tapi buat nyusun strategi belajar menghadapi guru killer. Lokasi di Kantin belakang, pojokan dekat dispenser rusak. Tujuan Bukan menyelamatkan dunia. Tapi menyelamatkan nilai rapor.

Formasi tempur kami.
Saya, Cahyo. Penuh semangat. Minus logika.
Rico. Nggak ngerti pelajaran, tapi ngerti negosiasi ke dosen pake makanan.
Aryo. Ahli mencari tempat duduk paling aman dari pantauan guru piket. murid nggak mau minggir di getok.
Dani. Baca soal sambil baca doa, kadang lebih keras doanya.
Evi. Duduk sebangku sama saya. Cerdas. Tapi punya hobi ngetawain jawaban saya.
Maya. Duduk di sebelah saya. Rajin. Tapi tiap saya tanya soal, dia malah nanya balik.
"Kalau aku suka kamu... jawabannya A, B, C, atau D?"
Saya pilih E "Emangnya ini waktu yang tepat?"

Sefia? Masih kelas satu. Jenius.
Saya minta tolong dia ngerayu Dolce bikin drone bantu contekan.
Jawaban Sefia. "Kamu tuh superhero! Tapi soal pilihan ganda aja bikin kamu megap-megap!"

Wulan?
Dia beda kelas.
Pasti naik kelas.
Fokus. Rapi. Punya aura kayak alumni Oxford.
Tapi... akhir-akhir ini mulai jaga jarak.
Mungkin karena dia tau, isi kepala saya bukan rumus integral... tapi daftar snack kantin yang bisa dibeli dengan 5 ribu.

Malam-malam menjelang ujian, saya bangun jam 3 pagi.
Buka buku.
Niatnya belajar.
Tapi yang kebuka justru... galeri HP, isinya selfie bareng Maya, Evi, Wulan, dan Sefia.
Lengkap dengan filter kuping kelinci.

Saya tutup HP.
Sambil mikir "Kenapa kayaknya saya lebih siap jadi korban FTV daripada siswa berprestasi?"

Malam sebelum ujian, kami para cowok bodoh berkumpul.
"Bro," kata Rico, "kita susun strategi nasional menyelamatkan masa depan."
"Strategi apaan?" tanya saya.
"Contekan."
"Kita bagi tugas. Dani duduk dekat jendela. Kamu, Cahyo, kasih kode:
Garuk leher = A.
Ngupil = B.
Garuk hidung = C.
Garuk kepala = D.
Kalau semua salah gigit kuku."

Saya nyeletuk,
"Tapi jawaban benernya dari siapa?"
Kami semua saling pandang. Sunyi. Menyadari, otak kami sama-sama low battery.

Hari H.
Sefia nganterin saya sampai pintu.
"Yo, kamu bisa ngalahin mutan lele. Masak ngalahin pilihan ganda nggak bisa?"

"Yang ini lebih licin dari lele..."
Saya masuk ruang ujian. Maya duduk di belakang. Evi di samping. Saya di tengah.
Sendirian.
Dan... otak saya kosong kayak halaman jawaban.

Soal Nomor dua "Sebuah benda diputar membentuk lintasan lingkaran..."
Saya belum selesai baca, mata saya sudah berkaca-kaca.

Saya pernah hampir meledak bareng bom. Tapi bom soal Fisika bikin saya meledak dari dalam.

Bel selesai berbunyi.
Saya keluar ruangan dengan wajah kayak abis dikalahkan bocil di Mobile Legends.
Tapi yang lain? Ngumpul dan ketawa bareng.
"Yo, apapun hasilnya... kita udah berjuang!" kata Aryo.
"Iya, walaupun kamu cuma jawab 60 persen... 40 persennya udah cukup buat jadi legenda," Dani menambahkan kata bijak.

"Kamu tuh hero sejati, Yo. Di dunia nyata maupun dunia lembar jawab," kata Maya sambil... entah kenapa, nyengir kayak habis nyiapin jebakan.

Saya tersenyum.
Musuh bisa mutan. Cinta bisa absurd.
Tapi sahabat?
Mereka penyelamat.
Kalau nilaiku nggak naik... setidaknya harga diriku naik.
Dikit.


Pesta, Perenungan yang Penuh Makna

Kota damai.
Sumpah, ini bukan jebakan plot twist. Beneran damai.
Gak ada mutan muncul dari selokan. Gak ada nenek sakti melempar ember. Gak ada suara ultrasonik bikin mimisan. Yang ada cuma pengumuman kenaikan kelas.

Datangnya resmi. Hari Senin, jam tujuh pagi, dari pengeras suara sekolah yang biasanya cempreng dan kadang nyetrum kalau disentuh.
"Selamat kepada seluruh siswa yang dinyatakan... naik kelas."

Saya, Cahyo, berdiri kaku di depan papan pengumuman. Muka datar. Tapi jantung deg-degan kayak suara sirene ambulans di film zombie.

Nilai saya?
Naik. Tipis. Seujung lidi.
Kalau angka itu manusia, pasti lagi jalan jinjit supaya nggak jatuh.
Rico: naik.
Aryo: naik.
Dani naik juga, padahal dia yakin dia ngisi lembar jawab pake pensil warna dan doa keras-keras.

Evi, Maya, Wulan?
Naik kelas dengan nilai cakep.
Wulan dapet ranking tiga besar.
Evi nyaris dapet penghargaan.
Maya dapet selebaran lomba sains nasional. Tapi dia nolak. Katanya,
"Aku lagi mikirin masa depan seseorang."
Sambil mandang saya. Tapi bisa juga dia lagi mikirin kucing tetangga. Entah.

Sefia?
Siswa terbaik sekelas satu. Dapet piagam.
Pamer ke semua orang, termasuk tukang parkir dan... kucing yang sama.
"Otak Aku tuh encer, bukan cuma cerewet," katanya.
Ya, dan kamu juga nggak ada tombol mute-nya, Sef.

Pesta Kenaikan Kelas
Pak Handoyo langsung ngerayain kayak abis dapet warisan 7 triliun. Rumahnya yang segede istana disulap jadi venue pesta. Ada balon, lampu kelap-kelip, makanan segunung, dan... panggung karaoke. (Sumpah, yang nyanyi pertama Pak Handoyo. Lagunya "Separuh Nafas." Separuh nada-nya ilang.)
Kami semua datang.

Komplit.
Rico duet sama cewek dari kelas sebelah.
Aryo joget sama bu guru.
Dani nyobain mic karaoke, hasilnya suara chipmunk disetel 2x speed.
Evi dan Maya sindir-sindiran lewat lagu.
Wulan... tenang. Manis. Tapi entah kenapa terasa makin jauh.
Sefia nempel ke saya sambil bawa cupcake.
"Yo, kamu nilainya pas-pasan tapi dapet pesta. Luar biasa."
Saya nggak tau itu pujian... atau sindiran.

Menyendiri di Tengah Meriah

Di tengah pesta, saya nyelinap keluar.
Ke teras belakang.
Langit malam bersih. Bintang-bintang bersinar kayak lampu tidur langit yang lupa dimatiin.
Saya duduk diam. Menatap ke atas. Menarik napas pelan. Dan saya senyum.
Bukan karena bahagia. Tapi karena... bersyukur.
Saya pernah nyaris meledak bareng bom asap. Pernah jatuh ke sungai dan jadi setengah kodok. Pernah dikejar mutan. Pernah hampir mati gara-gara serum mutan dan cinta segitiga absurd.
Pernah suka cewek... dan ditolak, di suka cewek lain... dan disuka cewek lain...Di julitin cewek lain...yang ternyata... yah, kamu pasti ngerti.
Saya pernah jadi idola TikTok cuma gara-gara topeng menyala.
Dan sekarang?
Saya duduk di sini.
Masih hidup.
Naik kelas.
Dikelilingi orang-orang gila-dalam arti baik.
Dan hati saya? Masih...
Berantakan. Tapi hangat.

"Cahyo!"
Suara itu dari dalam rumah.

Sefia.

"Iya, bentar!" jawab saya.

Saya berdiri.
Membetulkan Hoodie yang udah bukan cuma kostum superhero... tapi bagian dari diri saya.
Lalu melangkah masuk ke rumah yang penuh cahaya, tawa, dan suara sumbang dari Fredy yang sekarang nyanyi lagu dangdut.

Hidup ini...
Indah.
Membingungkan.
Gila.
Dan saya?
Gak mau tukar dengan hidup yang lain.
TAMAT

berlanjut di "DIARY SUPERHERO". POV/ sudut pandang Sefia.
atau Prequel di " DARAH NAGA ". POV / sudut pandang Pak Handoyo.





Other Stories
Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Download Titik & Koma