Mencicipi Luka
"Ma, kenapa hidup kita harus semenderita ini? Padahal orang lain hidupnya kelihatan menyenangkan. Kirana, pernah lihat Sonia diantar ke sekolah sama papanya. Dia kelihatan dekat banget sama papanya. Tapi, kenapa Kirana engga punya papa kayak gitu ya, Ma?" curhat Kirana suatu ketika.
Kirana telah tumbuh menjadi gadis remaja yang pendiam. Ia hanya memiliki beberapa teman dekat. Walau begitu prestasi Kirana tetap baik. Ia juga tergabung dalam anggota Osis dan Paskibra di sekolahnya.
Hari-hari Kirana juga dipenuhi dengan banyak kegiatan di luar sekolah, seperti mengikuti kursus bahasa inggris. Kirana sangat suka belajar sehingga ia selalu meminta kepada orang tuanya untuk diberikan kesempatan mengikuti kursus yang ia inginkan. Satu yang Kirana syukuri dalam kehidupannya yang kelam adalah bahwa sang ayah masih memberi kesempatan kepada dirinya dan saudara-saudaranya untuk mengenyam pendidikan yang baik.
Bagi Kirana, sang ayah adalah momok yang menakutkan yang tak pernah memberikan cinta kepada mereka. Ayahnya hanya memberikan kepenuhan secara finansial, tidak secara mental. Sang ayah adalah sosok diktator yang merasa bahwa ia adalah hukum, di luar dirinya tidak ada yang benar. Walau kenyataannya apa yang diajarkannya berbanding terbalik dengan kelakuannya.
Kirana yang sudah memahami perilaku sang ayah, semakin membenci sosok lelaki yang seharusnya memberikan panutan yang baik bagi mereka. Ia terkadang merasa jijik saat memandang wajah lelaki itu. Ia menjadi teringat perilaku sang ayah yang mengkhianati sang ibu dan tidak jarang menyiksa wanita yang berstatus istrinya itu.
Tak jarang luka lebam memenuhi wajah dan tubuh sang ibu, yang membuat batin Kirana teriris saat melihatnya. Ia tidak habis pikir bagaimana seseorang yang seharusnya menjadi pelindung untuk istri dan anak-anaknya, ternyata menjadi sosok yang paling dihindari dan dibenci oleh keluarganya.
"Ma, Kira engga akan mau menikah! Kirana bisa berdiri di kaki Kirana sendiri, engga perlu laki-laki!" ujar Kirana dengan emosi saat ia sedang duduk berdua dengan sang ibu.
"Sayang, engga semua laki-laki sama! Masih banyak laki-laki baik. Papa kalian juga dulu baik, tapi manusia bisa berubah karena situasi. Tapi kita engga boleh menghakimi orang lain hanya karena satu orang, kan? Mama yakin Kira pasti akan nemuin laki-laki yang sayang sama Kira. Itu doa mama buat anak-anak mama!" balas sang ibu yang membuat Kirana menghela nafas panjang.
Ia tak bisa menerima perkataan sang ibu kala itu. Ia sudah menetapkan prinsip dalam hatinya, bahwa tak akan ada satu laki-laki pun yang akan berhasil mengambil hatinya. Selama masa pubertas Kirana berusaha memegang prinsipnya, walau rasa suka terhadap lawan jenis sebenarnya sudah muncul dalam dirinya. Namun, acapkali ia hanya menikmati perasaan itu dalam hatinya saja.
Ia lebih memilih mengagumi dalam diam, memperhatikan dari jauh, tak perlu mendekati bahkan terkesan terkadang Kirana terkesan sangat acuh. Beberapa lelaki berusaha mendekati dirinya, tetapi ia memilih untuk menolak dengan tegas.
Hingga banyak teman lawan jenisnya yang mundur teratur karena melihat respon dari Kirana yang sangat dingin. Kirana tetap mempertahankan citranya sebagai gadis yang dingin hingga ia lulus kuliah. Ia lebih memilih untuk bersahabat dengan dua atau tiga orang teman perempuannya saja. Ia juga suka memilih-milih teman dalam pergaulannya karena ia tidak ingin tergerus arus yang salah hingga mendukakan hati sang ibu.
Bagi kedua orang tuanya, Kirana adalah anak yang baik dan berprestas walau terkadang watak Kirana bisa menjadi sangat keras bila tak sesuai dengan prinsip yang ia anut. Kirana sangat disayangi oleh guru-gurunya karena sikapnya yang sopan dan segudang prestasi yang ditorehkannya. Tanpa Kirana sadari, ia menjadi gadis yang harus validasi. Di satu sisi ia melakukan semua hal baik itu dengan sang ibu, di sisi lain ia senang diakui dan diperhatikan. Kekurangan kasih sayang yang ia rasakan, terbayarkan saat ia mendapatkan sanjung puji yang membuat harga dirinya melambung.
Kirana remaja mulai menemukan pengganti untuk kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari sang ayah. Ia menjadikan pujian yang ia terima dari orang lain, untuk memuaskan dahaganya akan kasih sayang yang hilang dari figur lelaki yang harusnya menjadi sosok yang paling menyayangi dirinya.
Kirana sangat pandai menyimpan lukanya, segudang kelebihan dan sikap positifnya membuat teman-temannya tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia alami dalam hidupnya selama ini. Saat teman-temannya berkunjung, sang ayah selalu berubah menjadi sosok yang sangat baik dan mencintai keluarganya. Padahal kenyataannya, keluarganya sangat membenci keberadaan lelaki itu.
Bagi Kirana, sang ayah adalah orang yang sangat manipulatif dan berwajah ganda. Di depan keluarga mereka terutama keluarga sang ibu, ia seakan menjadi sosok yang sangat murah hati dan baik. Namun, di mata keluarga inti Kirana, lelaki itu adalah iblis yang menyerupai manusia.
Duka Kirana terus menumpuk hari demi hari. Mereka hanya bisa bernafas lega saat sang ayah kembali ke kota dimana ia ditugaskan selama ini. Namun, bila sang ayah mengambil cuti dan pulang, maka mereka akan kembali merasakan neraka. Karena tak pernah ada kata damai, saat sang ayah tinggal bersama mereka.
Terkadang, banyak kejadian dimana kita dituntut untuk hidup bersama orang-orang yang seharusnya kita hindari, tetapi karena situasi dan kondisi kita terpaksa harus melakukannya selama bertahun-tahun. Trauma yang membekas acapkali menjadi momok yang menakutkan yang terus menghantui hingga kita dewasa bahkan menua.
Seperti halnya Kirana, ia mengalami trauma yang membekas hingga ia dewasa yang membuat ia dihadapkan dengan banyak penyesalan dalam hidupnya. Ia menyalahkan sang ayah untuk kehidupan keluarga mereka yang tidak bahagia. Bahkan, ia juga menyalahkan sang ayah karena banyaknya keputusan yang harus ia ambil dan merugikan masa depannya karena perilaku lelaki itu.
Kirana telah tumbuh menjadi gadis remaja yang pendiam. Ia hanya memiliki beberapa teman dekat. Walau begitu prestasi Kirana tetap baik. Ia juga tergabung dalam anggota Osis dan Paskibra di sekolahnya.
Hari-hari Kirana juga dipenuhi dengan banyak kegiatan di luar sekolah, seperti mengikuti kursus bahasa inggris. Kirana sangat suka belajar sehingga ia selalu meminta kepada orang tuanya untuk diberikan kesempatan mengikuti kursus yang ia inginkan. Satu yang Kirana syukuri dalam kehidupannya yang kelam adalah bahwa sang ayah masih memberi kesempatan kepada dirinya dan saudara-saudaranya untuk mengenyam pendidikan yang baik.
Bagi Kirana, sang ayah adalah momok yang menakutkan yang tak pernah memberikan cinta kepada mereka. Ayahnya hanya memberikan kepenuhan secara finansial, tidak secara mental. Sang ayah adalah sosok diktator yang merasa bahwa ia adalah hukum, di luar dirinya tidak ada yang benar. Walau kenyataannya apa yang diajarkannya berbanding terbalik dengan kelakuannya.
Kirana yang sudah memahami perilaku sang ayah, semakin membenci sosok lelaki yang seharusnya memberikan panutan yang baik bagi mereka. Ia terkadang merasa jijik saat memandang wajah lelaki itu. Ia menjadi teringat perilaku sang ayah yang mengkhianati sang ibu dan tidak jarang menyiksa wanita yang berstatus istrinya itu.
Tak jarang luka lebam memenuhi wajah dan tubuh sang ibu, yang membuat batin Kirana teriris saat melihatnya. Ia tidak habis pikir bagaimana seseorang yang seharusnya menjadi pelindung untuk istri dan anak-anaknya, ternyata menjadi sosok yang paling dihindari dan dibenci oleh keluarganya.
"Ma, Kira engga akan mau menikah! Kirana bisa berdiri di kaki Kirana sendiri, engga perlu laki-laki!" ujar Kirana dengan emosi saat ia sedang duduk berdua dengan sang ibu.
"Sayang, engga semua laki-laki sama! Masih banyak laki-laki baik. Papa kalian juga dulu baik, tapi manusia bisa berubah karena situasi. Tapi kita engga boleh menghakimi orang lain hanya karena satu orang, kan? Mama yakin Kira pasti akan nemuin laki-laki yang sayang sama Kira. Itu doa mama buat anak-anak mama!" balas sang ibu yang membuat Kirana menghela nafas panjang.
Ia tak bisa menerima perkataan sang ibu kala itu. Ia sudah menetapkan prinsip dalam hatinya, bahwa tak akan ada satu laki-laki pun yang akan berhasil mengambil hatinya. Selama masa pubertas Kirana berusaha memegang prinsipnya, walau rasa suka terhadap lawan jenis sebenarnya sudah muncul dalam dirinya. Namun, acapkali ia hanya menikmati perasaan itu dalam hatinya saja.
Ia lebih memilih mengagumi dalam diam, memperhatikan dari jauh, tak perlu mendekati bahkan terkesan terkadang Kirana terkesan sangat acuh. Beberapa lelaki berusaha mendekati dirinya, tetapi ia memilih untuk menolak dengan tegas.
Hingga banyak teman lawan jenisnya yang mundur teratur karena melihat respon dari Kirana yang sangat dingin. Kirana tetap mempertahankan citranya sebagai gadis yang dingin hingga ia lulus kuliah. Ia lebih memilih untuk bersahabat dengan dua atau tiga orang teman perempuannya saja. Ia juga suka memilih-milih teman dalam pergaulannya karena ia tidak ingin tergerus arus yang salah hingga mendukakan hati sang ibu.
Bagi kedua orang tuanya, Kirana adalah anak yang baik dan berprestas walau terkadang watak Kirana bisa menjadi sangat keras bila tak sesuai dengan prinsip yang ia anut. Kirana sangat disayangi oleh guru-gurunya karena sikapnya yang sopan dan segudang prestasi yang ditorehkannya. Tanpa Kirana sadari, ia menjadi gadis yang harus validasi. Di satu sisi ia melakukan semua hal baik itu dengan sang ibu, di sisi lain ia senang diakui dan diperhatikan. Kekurangan kasih sayang yang ia rasakan, terbayarkan saat ia mendapatkan sanjung puji yang membuat harga dirinya melambung.
Kirana remaja mulai menemukan pengganti untuk kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari sang ayah. Ia menjadikan pujian yang ia terima dari orang lain, untuk memuaskan dahaganya akan kasih sayang yang hilang dari figur lelaki yang harusnya menjadi sosok yang paling menyayangi dirinya.
Kirana sangat pandai menyimpan lukanya, segudang kelebihan dan sikap positifnya membuat teman-temannya tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia alami dalam hidupnya selama ini. Saat teman-temannya berkunjung, sang ayah selalu berubah menjadi sosok yang sangat baik dan mencintai keluarganya. Padahal kenyataannya, keluarganya sangat membenci keberadaan lelaki itu.
Bagi Kirana, sang ayah adalah orang yang sangat manipulatif dan berwajah ganda. Di depan keluarga mereka terutama keluarga sang ibu, ia seakan menjadi sosok yang sangat murah hati dan baik. Namun, di mata keluarga inti Kirana, lelaki itu adalah iblis yang menyerupai manusia.
Duka Kirana terus menumpuk hari demi hari. Mereka hanya bisa bernafas lega saat sang ayah kembali ke kota dimana ia ditugaskan selama ini. Namun, bila sang ayah mengambil cuti dan pulang, maka mereka akan kembali merasakan neraka. Karena tak pernah ada kata damai, saat sang ayah tinggal bersama mereka.
Terkadang, banyak kejadian dimana kita dituntut untuk hidup bersama orang-orang yang seharusnya kita hindari, tetapi karena situasi dan kondisi kita terpaksa harus melakukannya selama bertahun-tahun. Trauma yang membekas acapkali menjadi momok yang menakutkan yang terus menghantui hingga kita dewasa bahkan menua.
Seperti halnya Kirana, ia mengalami trauma yang membekas hingga ia dewasa yang membuat ia dihadapkan dengan banyak penyesalan dalam hidupnya. Ia menyalahkan sang ayah untuk kehidupan keluarga mereka yang tidak bahagia. Bahkan, ia juga menyalahkan sang ayah karena banyaknya keputusan yang harus ia ambil dan merugikan masa depannya karena perilaku lelaki itu.
Other Stories
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...