The Man
Waktu berjalan perlahan, rasanya susah untuk kembali menjalani hidup normal. Itulah yang Gema rasakan pasca putus dengan Dirga.
Mala benar-benar menyisakan perhatian dengan sesekali menelepon dan BBM di sela kesibukan ujian kenaikan kelas dua belas dan persiapan kejuaraan karate tingkat provinsi di Semarang.
“Gema gimana hari ini kamu sudah meminta maaf dengan kepala sekolah atas kesalahan kamu? Jujur aku sedih melihat kamu semalam begitu kalut. Aku tahu kamu pasti takut kehilangan pekerjaan. Pokoknya kamu harus kasih kabar apapun padaku. Janji ya! Aku sayang kamu Ma.”
Gema terenyuh, sepertinya Mala ingin memperbaiki hubungan mereka yang sempat menjauh tiga bulan ini. Gema tahu ini bukan kesalahan dia sepenuhnya, bahkan sebaliknya dirinya juga tengah dimabuk cinta. Cinta yang paling tulus dan berakhir menyisakan dendam, amarah saat ini yang tersisa masih kemarahan.
Menjalani hari demi hari mencoba tidak terlalu menggantungkan kepedihan hatinya pada Mala.
Gema tahu beban Mala juga sedang berat, dia sedang persiapan ujian kelas dan saat libur sebulan kenaikan kelas dua belas harus ke Semarang selama dua minggu untuk bertanding karate.
Mala dikirim dari sekolah juga klub karate SMU Seroja sebagai satu-satunya cewek pemegang sabuk hitam sekarang dan tahun lalu meraih juara di pertandingan sejenis, beban Mala lebih berat mempertahankan prestasinya.
Mala juga jarang bertemu dengan Aras karena Aras juga dari cerita Mala di BBM sibuk ujian semesteran dan sibuk dengan urusan klub mobilnya yang kerap melakukan touring.
***
Cara jitu melupakan mantan yang Gema baca dari internet yaitu mengembalikan semua barang pemberian. Gema segera mengumpulkan barang yang pernah Dirga beri dari sapu tangan, minyak wangi, gantungan kunci, jaket, buku, CD dan beberapa pernak-pernik hiasan yang mereka beli pas jalan-jalan di mal. Semuanya dijadikan satu di sebuah kardus berukuran sedang yang sudah Gema lakban.
Tinggal menulis nama lengkap, Dirgantara, alamat Kompleks Soedirman lalu ke TIKI dan mengembalikan semuanya.
Gema mantap besok dia akan memaketkan kardus berisi semua pemberian Dirga. Dirga entah sudah ada puluhan kali menghubunginya di telepon, BBM berkali-kali nge-ping dan SMS semuanya sungguh tidak ada artinya lagi.
Gema menguatkan hati dan meyakinkan semuanya memang sudah berakhir. Tidak ada kesempatan kedua lagi untuk memulai apapun dengan Dirga. Andai ada kesempatan memulai lagi hanyalah perbuatan sia-sia yang akan mendatangkan kehancuran lebih kejam di masa depannya.
Gema membaca ulang BBM Dirga.
BBM Dirga:
“Maafkan aku Gema, beri aku waktu jelaskan. Sekali saja
Ping! Ping! Ping!
Dan Gema cuma bergeming. Hatinya sudah bulat tidak akan bertemu dengan Dirga karena hanya akan menambah luka hatinya. Semua sudah selesai dan dirinya hanya butuh untuk menyembuhkan lukanya.
Gema tersenyum kembali karena Mala meneleponnya. “Malaaaaa aku baik-baik saja Sayang... bapak kepala sekolah sangat baik hati sudah memaafkan aku dan aku tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Case close La!” Gema berusaha riang sembari menatapi kardus yang tertutup rapi dan sudah lengkap dengan nama dan alamat pemiliknya. Tidak mau menunggu besok Gema ingin siang ini juga akan mampir ke pelayanan pengiriman dan semua sudah selesai. Tinggal menganggap tidak pernah ada apa-apa. Dirga hanyalah mimpi buruk.
“Hah syukurlah... Ma kalau kamu nggak sibuk mainlah ke rumah ya, maaf aku seminggu ini menghadapi ujian sekolah lalu siap-siap berangkat ke Semarang. Wish me luck! Aku akan bertarung mempertahankan medali emasku.”
Suara Mala tetap ceria tapi juga ada beban yang tengah di tanggungnya. Bagaimanapun mempertahankan kejuaraan karate dengan medali emas tahun lalu di tangan adalah bukan main-main. Sekolahnya berharap Mala bisa pertahankan kejuaraan ini dan membawa harum sekolahnya tingkat di provinsi.
Gema membayangkan wajah Mala yang pasti bersemangat mengabarkan dirinya akan bertarung.
“Kamu La nggak cape apa bertarung di arena pertandingan? Kapan kamu berhenti La, nggak cukup puluhan piala dan medali sudah berderet di rumah?” tanya Gema tenang.
Hatinya mulai lebih tenang setelah yakin semua barang kenangan dari Dirga tak tersisa lagi di pandangan matanya.
“Cape Ma! Aku putuskan ini terakhir aku bertanding demi sekolah dan aku akan pertahankan medali emas tahun ini, setelah ini bukan kewajiban aku lagi karena bulan depan aku sudah kelas dua belas dan fokusku adalah ujian kelulusan. Karate murni sekedar olahraga, tidak lagi aku jadi petarung.”
Ada beban berat dari nada Mala, Gema lega ternyata ada rasa lelah juga pada diri Mala untuk bertarung terus.
***
Dan waktu memang bergulir masing-masing dengan kesibukan, hanya dengan handphone Mala dan Gema sesekali terhubung.
Seminggu dari Gema mengembalikan semua barang-barang pemberian Dirga, tiba-tiba Dirga menghubunginya.
BBM Dirga:
“Tidak seharusnya kamu mengembalikan semua pemberianku! Kamu tetap pernah jadi bagian hidupku walau sejenak, demikian aku tetap pernah menjadi bagian hidupmu Gema. Maafkan aku ...”
Gema menggigil, memang benar adanya dia berusaha sekuat tenaga melupakan semuanya. Nyatanya bukan hal mudah melupakan orang yang menyentuh hatinya tanpa syarat waktu lalu.
Menjalani hari tanpa Dirga ditambah Mala juga sibuk setelah pertandingan di Semarang. Gema ikut bersyukur atas keberhasilan Mala bisa pertahankan kejuaraan dan medali emas tetap menjadi hiasan di almari sekolah.
Sekarang berharap bisa dekat dengan Mala, tapi persiapan lulus dari kelas dua belas membuat Mala sibuk dengan berbagai les untuk persiapan memasuki perguruan tinggi.
Rindu saat menghabiskan waktu bersama dengan si tomboi Mala, ingat waktu lalu kerap menghabiskan malam Minggu dan Minggunya pergi ke Baturaden dengan panorama pegunungan yang sejuk, juga bersama Mama Citra menyewa vila menghabiskan week end atau menikmati sea food di pinggiran pantai Teluk Penyu, Cilacap sembari berkejaran di sepanjang pesisir pasir putih.
Dan kini benar Gema merindukan Mala yang kabarnya bisa mempertahankan prestasinya, medali emas tetap kembali ke SMU Seroja. Gema membayangkan bagaimana Mala dengan gigih bertarung.
Gadis kecil yang dulu dilindungi sekarang tumbuh perkasa, bahkan sekarang dialah yang melindunginya.
Geng Aryo sudah tidak berani mengganggunya sama sekali, ngeri ingat dia mau ditelanjangi waktu lalu oleh geng Aryo.
Gema tersenyum bagaimana Mala membuat kenangan satu per satu luka seumur hidup pada Aryo dan gengnya.
Aryo terkena pisaunya sendiri tertoreh di wajahnya, Budi juga tangan kanannya tersabet pisau yang dipegang Aryo, Deni dan Farli gigi depannya dibuat ompong. Benar-benar Mala keterlaluan membelanya.
Heran juga Aras menyukai gadis macho ini karena sebelumnya mantannya adalah cewek yang modis-modis semua. Bahkan para peragawati, foto model atau vokalis.
Jujur ada rasa penasaran sampai Aras mau menunggui Mala setahun demi cinta yang sepertinya cinta untuk sosok Aras tidak hal yang istimewa. Gema tahu persis bagaimana Aras bergonta-ganti cewek di SMU kelas dua belas dan beberapa cewek yang menangis karena diputus sepihak setelah mengeluarkan banyak uang tidak hanya mentraktir Aras tapi juga teman-temannya.
Tapi ternyata tidak dengan rasa cinta kepada Mala, karena demi Mala, Aras berubah dan menunggu setahun untuk diterima. Cukup membuat Gema berkesan juga dan untuk urusan cinta tidak terlalu mau ikut campur.
***
“Going back to the corner where I first saw you... gonna camp in mysleeping bag I’m not gonna move... cause if one day you wake up and find that you’re missing me and your heart starts to wonder where on this earth I could be...”(The Man Who Can’t Be Moved_The Script)
Pas setahun dari pertemuan pertama dengan Dirga. Jujur setahun yang masih saja terasa menyakitkan menyadari Dirga memilih kembali pada Tiara, dan walau berkali Gema mendoktrin dirinya itu adalah yang terbaik buat Dirga kembali pada pacarnya dan sudah senormalnya.
Doktrin seperti halnya teori mencoba untuk menjalankan kehidupan normal, tapi setiap teringat Dirga yang telah sempat bersama tiga bulan menyentuh hatinya sungguh membuatnya terpuruk dan terasa hidup seperti padam.
Mala tampaknya baik-baik saja dengan Aras dan masih meluangkan waktu walau kadang hanya sebulan sekali mereka bisa ngobrol atau keluar jalan dan kedekatan ini tetap tidak bisa membuat Gema membagi kisah putus cintanya akan Dirga.
Gema menebak Mala akan merasa kasihan bila dia bercerita akan kisah cintanya dengan Dirga, tapi Gema yakin dalam lubuk hati terdalam Mala juga mengamini ini adalah hal yang terbaik. Karena Mala juga sesekali waktu lalu meskipun dalam kelakar berharap dirinya menjadi pria yang normal.
Dan sekarang Mala sudah keterima kuliah di Purwokerto, semakin jarang dia pulang ke Purbalingga. Dan semakin lengket dengan Aras yang juga bekerja di Purwokerto.
Sungguh sebagai manusia biasa ada rasa iri yang tetap terselip ketika melihat Mala dan Aras saling menyayangi, mendukung dalam sekolah dan pekerjaan. Selalu terlintas sosok Dirga setiap melihat Mala dan Aras sangat mesra.
Selalu terucap dalam hati, “Ah aku dan Dirga kalau masih bersama juga pasti seperti Mala dan Aras, bahkan hubungan kita sudah lebih spesial...”
Setahun ini Gema menjauhkan diri dari pemandangan yang bisa mengingatkan akan Dirga, untuk menjaga hatinya dan ini perlahan agak membuat jauh dengan Mala.
Sampai detik ini Mala tidak tahu kalau hatinya masih terluka karena cinta pertama yang kandas.
Setahun pas waktu Gema dan Dirga berpisah, setahun lalu di café yang dekat dengan kolam renang saat mereka berkenalan dan setelahnya kerap menghabiskan ngobrol di cafe menikmati berbagai hidangan soto, steak, sate atau yang lebih ringan roti bakar, pisang bakar sampai malam dan tak terasa larut menjemput... yang ada waktu itu berat sekali harus berpisah.
Tiba-tiba rasa kaget menyergap, sebuah pijatan lembut di bahunya dari tangan seseorang yang ada di belakang Gema.
Gema memejamkan mata, ini adalah kebiasaan Dirga memijat bahunya setelah dirinya merasa lelah karena seharian membenahi rumah dan memasak, menungguinya pulang dari kantor lalu menemani dirinya yang tengah menikmati masakannya dengan lahap adalah kebahagiaan sederhana yang ingin rasanya dilewati dalam sisa akhir hidupnya dengan orang yang paling dicintai.
Sekarang Gema tidak bisa berkutik, sudah bisa ditebak Dirga tahu kalau dirinya tengah di sini pasti mengingat waktu mereka pertama kali bertemu. Gema merasa sangat bodoh dan terpuruk kembali sesakit-sakitnya karena kepergok tengah mengingat masa pertama kali bertemu dengan lelaki yang dicintai sekaligus dibencinya.
Sadar belum bisa menggeser sosok Dirga sampai detik ini. Bahkan pijatan yang tengah dirindukan sekarang hanya mampu membuatnya terpejam tanpa bisa bereaksi untuk menolak karena sakit yang telah Dirga torehkan.
“Gema... sudah kutebak kamu akan kemari dan aku... aku... jujur hanya mengikuti hatiku kembali ke sini memastikan apakah aku benar-benar bisa melupakan semua kenangan tentang kita. Dan kamu lihat aku tidak bisa melupakan tentang kita. Gema kamu tetap yang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku,” Dirga berkata lembut terbata.
Ingin Gema merasakan mati rasa saja agar tidak bisa sadar untuk merasakan cinta Dirga. Dirga benar-benar mantan kekasih yang tidak bisa beranjak dari kenangan yang setahun ini telah segenap hati ingin dilupakan dan membuka cerita baru. Nyatanya dia masih saja tetap bertahan di sudut hatinya, Gema tidak bisa move on sama sekali.
Dirga masih memijit lembut dan Gema bertahan membiarkan tidak menengok segera untuk menghindar pijatan semu yang hanya kembali membuatnya terluka.
“Gema...”
Dan sekarang Dirga sudah di hadapannya, meraih tangannya tidak peduli beberapa pasang mata memandang mereka dan tersenyum aneh.
Pandangan yang sempat membuat Gema ragu di waktu lalu untuk memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum, tapi menjadi sebuah kepercayaan diri karena Dirga berkata, ”Jangan pedulikan pandangan mereka akan hubungan kita dan kemesraan kita. Kamu tahu mereka iri kok!”
Dan kata-kata Dirga meyakinkan Gema untuk memilih Dirga sebagai kekasih terbaik yang singgah dan dinanti selama ini. Cinta pertama mengalir dengan indahnya.
Hatinya bergetar kembali, amarah waktu lalu menghilang seketika bahkan sekarang Dirga menggenggam kedua tangannya erat dan wajahnya tertunduk, matanya terpejam, menyiratkan dia juga sedih dan berat melewati setahun ini tanpa dirinya.
“Ternyata aku tidak bisa melupakan kamu Gema, sungguh suatu hari aku terjaga dan berharap kamu ada di sisiku, bukan Tiara. Sungguh aku bingung, sejujurnya aku ingin Tiara hanya menjadi masa laluku dengan sakit yang telah kamu sembuhkan dengan kehadiran kamu yang bisa menggantikan rasa sepiku.”
Gema terhenyak, ada rasa amarah yang tak berdaya dimuntahkan bila ada kesempatan kembali bertemu.
Sekarang dirinya benar-benar merasa tak berdaya, manusia bodoh yang masih mengharapkan cinta Dirga kembali dan mengharapkan Dirga tersadar suatu saat akan sangat kehilangan dirinya.
“Dirga...” Gema berkata lembut.
Sejenak Dirga menengadahkan mukanya dan ada bening air mata.
Tanpa banyak kata ini seperti perdamaian yang tidak perlu dijelaskan dengan banyak kata lagi.
“How can I move on when I’m still in love with you?”
Dan sekarang pria yang dicintai Gema tengah menyesali kalau dia telah meninggalkan dirinya dan tersadar kehilangan dirinya.
Seperti mengulang saja setahun lalu kembali dengan hati yang berbunga, rasa sakit hati kemarin menguap begitu saja. Dirga menggenggam tangannya erat dan membuat Gema luluh.
Dan malam itu Gema luluh dalam pelukan panjang bersama Dirga, kembali ke rumah Dirga yang sudah berantakan kembali. Sangat berbeda saat Gema tinggalkan karena Dirga menerima Tiara lagi. Gema tak perlu kaget lagi, tatanan manis rumah entah ke mana? Terbukti Tiara tidak bisa merapikan seperti yang dilakukan Gema untuk Dirga.
Dan Gema memilih diam. Sesempurna apapun dia tak akan pernah bisa lebih sempurna dari Tiara, itu yang ada dalam hati Gema.
***
Other Stories
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...