Kini Dengan Pasangan
“Kini percaya cinta itu tidak terbatas... cinta berseberangan... bahkan gender... kenyataan sahabat terbaikku hanya butuh mengakui kalau dia suka dengan sesamanya...”
“Sekali lagi selamat ulang tahun anak Mama terkasih, sekarang kamu sudah bukan anak kecil lagi, tapi kamu sudah dewasa. Besok urus KTP, SIM dan jaga diri selalu Sayang. Maafkan Mama yang kurang bisa sepenuhnya memperhatikan kamu, Mama selalu terbuka padamu Sayang. Mama harus bekerja keras dengan target-target kantor yang menjadi tanggung jawab Mama. Sesungguhnya Mama juga selalu ingin dekat denganmu, menemani kamu setiap saat. Maafkan Mama ya Sayang... berjanjilah selalu terbuka apapun! Apapun Sayang! Mama selalu berusaha meluangkan waktu walau tidak banyak, tapi selalu ada waktu terbaik untukmu bila kamu ada yang ingin share.”
Mama Citra memeluk Mala, bagaimanapun semua ibu, mama, mami, mother, mimih, umi, emak atau apapun sebutan seorang ibu pasti selalu ingin dekat dengan anak-anak mereka, hanya saja kadang keadaan tidak bisa berkompromi.
Jelas tanggung jawab Mma Citra sebagai orang tua tunggal bukan hal yang ringan, apalagi Mala juga setahun lagi dirinya akan masuk perguruan tinggi. Dia perlu uang banyak untuk menjadi seorang sarjana. Untuk putri semata wayangnya Mama Citra akan bekerja keras dan memberikan yang terbaik.
“Mala sayang Mama dan Mala tidak akan pernah menyalahkan Mama yang tidak selalu bisa di samping Mala. Mala tahu kondisi Mama sulit, Mama tetaplah yang terbaik buat Mala. Dan Mala janji tidak akan berbuat macam-macam yang mengecewakan Mama. Mala sayang Mama sekali.”
Mama Citra bersyukur gadisnya bisa memahami kondisinya, mama dan putrinya berpelukan dengan penuh kasih sayang, tak ada jarak apapun yang menjauhkan mereka.
“Ehh La, mana Gema ya? Kok gak kelihatan, padahal tadi sibuk beberes tapi ada telepon terus izin keluar sebentar katanya?” Mama tiba-tiba merasa kehilangan Gema.
“Hmmm tadi sih Mala lihat dia memang sedang menemui temannya Mah di taman seberang.”
Bayangan Gema tengah berciuman dengan sebuah sosok yang tinggi dan tegap berkelebat cepat dan Mala memilih terpejam sesaat.
Tadi sebenarnya sangat aneh dan membuat hati Mala berdebar saat melihat Gema tengah berciuman dengan pria yang tidak pernah Gema ceritakan.
“Sudahlah, aku mempunyai kekasih sekarang dan mungkin Gema juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang... sayang Gema tidak mau berbagi tentang cintamu sedikit saja padaku,” ada sedih dalam laras hati Mala, sesuatu yang Mala sendiri susah terjemahkan.
***
Cinta pertama memang indah, sejak jadian dengan Aras di ulang tahunnya, telepon, SMS, BB Message di telepon genggam Mala tak ada hentinya.
Aras yang tadinya playboy, setelah resmi jadian dengan Mala berubah untuk menghargai Mala seutuhnya. Mala juga mulai suka mencoba hal-hal yang berbau cewek. Jatuh cinta memang mengubah kebiasaan.
Gema sangat mendukungnya, sekarang kamarnya sedikit bervariasi dengan adanya bunga segar di vas dan dalam almari sudah ada beberapa potong baju rok, sepatu high heels dan ada meja rias yang merupakan hadiah mama saat ulang tahun sebulan yang lalu.
Meja rias dengan alat-alat make up untuk gadis remaja semua tertata rapi. Mama Citra membiasakan Mala untuk selalu merapikan rumah, ditambah Gema juga sangat rajin untuk hal-hal kerapian, memasak dan semua berbau cewek.
Sebelum ada Aras, Mala tidak terlalu peduli hal-hal yang berbau cewek, tapi cinta memang kadang merubah yang tadinya tidak terpikirkan, bahkan Mala meskipun tetap asyik dengan dunia karatenya tapi mulai belajar menyukai kegitatan memasak, memilih baju rok agar penampilannya lebih feminim.
Kenyataan perubahan disambut positif mama dan Gema yang tanpa sepengetahuan Mala memang mereka berkolaborasi untuk membuat Mala menjadi seperti cewek.
Sayangnya Gema sendiri tidak bisa berubah untuk seperti seorang cowok yang gentle. Mama Citra menyayangkan apa yang jadi takdir Gema.
“La besok ada waktu nggak?” tiba-tiba Gema yang tengah asyik melihat DVD Film Twilight mendekati Mala yang tengah mengerjakan PR Matematika, yang tampaknya membuat kepalanya pusing.
“Hmm ada abis karate jam 17.00 sore, kenapa Ma?”
“Yes! Pas banget jam kerja aku keluar jam 16.00, aku akan jemput kamu di tempat latihan ya,” mata Gema bersinar, sudah beberapa kali ini susah ngajak keluar Mala yang sibuk dengan Aras.
Sebelum jadian dengan Aras, Mala paling asyik dan paling gampang punya waktu bersamanya. Sejak ada Aras, Sabtu habis sekolah Mala ikutan ke kampus Aras sekalian malam Mingguan. Dan ditambah hari Minggu kalau nggak bersama mamanya yang pas di rumah Mala juga pasti bersama Aras.
Sebenarnya sih Mala asyik-asyik saja kalau pas ada Aras di rumahnya dan Gema bergabung, tapi perasaan Gema yang merasa keberadaan dirinya menjadi pengganggu, apalagi sepertinya Aras juga memasang wajah manyun karena bisa jadi Mala lebih bermanja-manja dengan dirinya dibandingkan dengan pacarnya sendiri.
Ternyata saat Gema menjemput Mala sudah ada Aras yang menunggu dengan Jeep-nya. Gema mengurungkan niatnya untuk menyapa Aras, sudah pasti Mala akan bingung memilih ikut dirinya atau Aras. Daripada membuat Mala bingung, Gema membelokkan motor matic Scoopy-nya dan membatalkan untuk mencari kado.
Sejujurnya sore ini Gema akan mengajak Mala mencari sebuah kado untuk Dirga yang sekarang menjadi kekasihnya. Gema ingin bercerita tentang Dirga pada Mala, tapi sepertinya waktunya belum tepat.
Sudah tiga bulan saat Mala jadian dengan Aras sebenarnya dirinya juga jadian dengan Dirga.
Dirga yang dikenal tidak sengaja bertemu saat Gema diminta bantuan untuk membantu mengawasi kegiatan ekstrakulikuler di SMU Merdeka karena guru olahraga sekaligus sahabatnya tidak ada partner untuk mengawasi, jadilah Gema diperbantukan seizin kepala sekolah tentunya.
Setelah acara berenang selesai, Gema yang tengah menikmati secangkir teh panas manis dan semangkok soto merasa ada yang memperhatikan, lelah juga beberapa kali bolak-balik berenang setelah acara anak-anak didiknya selesai. Apalagi lama dirinya memang sudah tidak sempat olahraga berenang. Badannya terasa agak gendut dan Gema berpikir untuk ikut senam dan fitness. Berniat untuk menyempurnakan badannya agar kembali sixs pack.
Walau dalam hatinya Gema merasa cewek, tapi penampilan sebagai seorang cowok yang ganteng dan tubuh yang terawat adalah hal yang penting. Hanya saja hal seperti ini tidak mau terlalu Gema ceritakan pada Mala yang pasti Mala akan menertawakan dan meminta dirinya untuk jadi laki-laki tulen lagi.
Bukan hal yang mudah sungguh menjadi sesuai yang seharusnya, bukan hatinya menentang kodrat tapi memang ini adanya, sejak melihat bapaknya yang suka mengamuk sementara dirinya tak berdaya apa-apa. Ejekan yang keluar dari mulut bapaknya sungguh bagai petir yang melukai hati nuraninya.
Berkali-kali bapak selalu berkata, “Dasar anak cowok kok lemah kaya cewek! Kamu tuh nggak pantes jadi cowok! Anak nggak berguna. Jangan sekali-kali menentang Bapak, Bapak mau ke mana bukan urusan kamu, bahkan Bapak mau kawin lagi juga kamu nggak akan bisa apa-apa!”
Kebencian terhadap bapak sungguh menggores di hati terdalamnya, bahkan tanpa sengaja pun Gema memutuskan untuk tidak menjadi seseorang seperti bapaknya, termasuk sebagai sosok laki-laki.
Kedekatan dengan ibu dan Mbak Anis membuat dirinya semakin bersikap kewanitaan dan kebencian semakin mengakar saat SMP, Bapak memutuskan menikah dengan wanita lain. Setelah menyiksa ibu, Mbak Anis dan dirinya yang berusaha menyadarkan bapak yang terus terang akan menikahi wanita penghibur yang setiap malam sepertinya menemaninya berjudi.
Detik itu juga Gema tidak mau mengenal bapak dan tidak akan peduli lagi apa yang terjadi dengan bapaknya.
Untuk urusan hancur lebur keluarganya Mala tahu dan selalu bersedia menjadi tumpahan air matanya. Ya, hanya pada Mala, Gema bisa berurai air mata bahkan semalaman menangis di pangkuannya hingga berdua tertidur sampai pagi.
Mala pun tidak pernah menceritakan kecengengannya pada siapapun, bagi Gema Mala adalah seseorang yang paling dekat dengan hatinya dan menerima dirinya apa adanya.
Sesekali memang Mala suka menggoda, tapi tidak sedikitpun ada amarah dalam hati Gema, karena Mala memang sesekali suka usil dan bila isengnya kambuh, siapa lagi yang jadi sasaran Mala kalau bukan Gema.
Kadang Mala suka meledek dia juga, masalah kelakuannya yang suka over banget melebihi cewek, tapi ya sudah hanya ejek-ejekan dan sebaliknya Gema juga suka mengkritik Mala yang terlalu tomboi dan cuek.
Beruntung kedekatan dengan Aras merubah Mala sedikit feminin, baguslah itu yang Gema harapkan agar Mala berubah lebih modis. Gema maklum Mala tumbuh tomboi karena tidak ada figur seorang ayah dan dia merasa kalau dia juga harus bersikap melindungi mamanya yang pernah juga diganggu pria yang menyukainya, tetapi Mama Citra tidak suka. Saat itu Mala masih SMP dan terang-terangan Mala menantang pria yang suka menggoda mamanya.
Gema sampai khawatir kalau Mala nekat menghajar beneran seorang bapak-bapak yang beristri tapi ingin menggoda mamanya yang memang cantik.
Gema tahu sekali kalau Mala belum mau menerima pengganti papanya. Walau ditinggal papanya tapi Mala mengingat semua kenangan bersama papanya.
Mala sendiri pernah juga menyinggung tentang papa baru, “Ma sebenarnya aku nggak keberatan suatu saat Mama menikah, hanya saja aku harus yakin kalau pria itu adalah pria baik-baik, tidak beristri dan menyayangi Mama tulus juga, pastinya menjamin secara material juga. Aku gak mau munafik Ma, zaman sekarang kalau lelaki tidak bisa memenuhi nafkah material apalah jadinya, mosok Mamaku suruh banting tulang! Percumalah kawin lagi, yang ada cinta sesaat sisanya bakalan susah masalah materi yang ada hanya neraka!”
“Ih kamu mah materialistis banget si La!” Gema sempat protes. “Ma bukan materialistis tapi... kasihan Mamaku dong! Ini bukan materialistis Gema tapi realistis! Cinta yang realistis! Cinta yang pakai otak bukan hanya perasaan sesaat yang hanya akan menghancurkan! Memang uang bukan segala-segalanya! Tapi uang dapat memberikan segalanya di zaman sekarang,” bela Mala.
“Huh dasar cewek matre!” Gema mencibir.
“Biarin!” Mala melempar Gema dengan bantal ikan nemo besar.
“Dug!”
Gema tidak mau kalah membalas melempar bantal yang ada di sebelahnya dan kacau sudah terjadi saling lempar bantal.
Pada akhirnya Gema yang kalah dan, “Sudah… sudaaaah Mala! Kelakuan kamu dasar! Tenaga kamu tuh kaya tenaga kuda!” Gema melotot.
“Hehehe ...”
Mala terkekeh, latihan karate yang diikutinya bertahun-tahun tentu saja membuat dirinya lebih power dibandingkan Gema yang cowok macho gagah tapi sehari-hari asyik dengan dunia masak memasak.
***
“La ayo kita nonton mumpung aku nggak lagi diajakin ngumpul nih ama teman-teman club mobil,” Aras menarik tangan Mala menuju mobil Kijang Innova-nya.
“Eee tadi liat Gema nggak? Soalnya dia janji jemput aku dan kita mau jalan. Kasihan aku jarang nemani dia sekarang,” Mala memasang wajah khawatir.
Aras terdiam, sebenarnya tadi dari spion mobil dia melihat Gema sesaat yang kebingungan lalu memilih kabur dengan motor Scoopy-nya.
“Nggak tuh, nggak liat sahabat banci kamu!” kata Aras ketus merasa sebal.
“Jangan gitu dong Kak, dia sahabat baikku... kasihan kalau kamu ngomongnya gitu. Dia juga pasti nggak bisa berbuat apa-apa akan hatinya yang lebih perasa dan sampai merasa kalau dirinya lebih nyaman bersikap sebagai seorang cewek,” bela Mala yang paham benar akan keadaan Gema.
“Hemm nggak ada yang seperti itu La, Tuhan itu menciptakan hanya laki-laki dan perempuan, nggak ada semi perempuan atau semi laki-laki, kitanya saja yang buat-buat atau melawan kodrat Tuhan,” Aras berteori.
Tiga bulan ini Mala dekat dengan Aras dan baru kali ini Aras memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Gema. Ada rasa bingung dalam hati Mala akan sikap Aras yang mulai memusuhi sahabatnya.
Sahabatnya yang Mala sayangi bahkan lindungi. Dulu waktu dirinya kecil dan belum berdaya apa-apa, Gema yang selalu melindungi, sekarang saat remaja sebaliknya Mala yang seorang karateka yang kerap melindungi Gema.
Apalagi melihat perjalanan Gema dengan bapaknya membuat Mala semakin kasihan akan keadaan Gema. Gema juga memilih bekerja setelah lulus SMU karena tidak ada biaya untuk meneruskan kuliah, padahal setahu Mala, Gema ingin meneruskan kuliah mengambil jurusan Pariwisata Perhotelan, tapi ketika lamaran dia untuk menjadi tenaga administrasi di SMU Merdeka diterima, Gema tidak ada pilihan dan memilih jadi karyawan di sekolah ini.
Sepanjang jalan dengan Aras, perasaan hati Mala tidak nyaman, setelah menonton film Jakarta Undercover yang diangkat dari sebuah buku karya Moeamar Emka dengan judul yang sama dengan filmnya, Aras mengajak Mala makan malam tapi Mala memilih mengajak pulang. Ada sebersit rasa kecewa pada wajah Aras, tapi tidak mau terlalu ditunjukkan pada Mala.
Bagaimanapun Aras telah menunggu lama untuk bisa menjadi pacar Mala. Buat Aras, Mala memiliki daya tarik sendiri yang tidak dimiliki cewek-cewek bodoh yang mengejar-ngejar dirinya, bahkan Mala tidak mau langsung menerima cintanya, syarat yang dianggap berat juga menunggu satu tahun sampai izin untuk punya pacar di acc oleh mamanya.
Aras teringat setahun lalu saat dirinya mulai tertarik dengan Mala. Mala sosok tomboi dan cuek, tanpa sengaja Aras melihat Mala yang tengah bertarung di arena karate, saat itu lawan Mala adalah Zizi. Sementara Zizi itu sepupu Mariska, cewek sekelas yang tengah dekat dengan Aras menonton di bangku pinggiran arena pertandingan.
Mala mengalahkan Zizi dengan gampang, kekalahan Zizi, sepupu paling dekat dengan Mariska membuat Mariska ikutan kesal dan mendendam dengan Mala anak kelas sepuluh tersebut.
Mariska sekelas dengan Aras. Semua juga tahu kalau Aras hanya mempermainkan Mariska yang menyukai dirinya, sampai rela mengeluarkan banyak uang untuk mentraktir Aras dan teman- teman Aras yang sengaja mengompori Mariska kalau Aras juga suka padanya.
Semua tiba-tiba terbalik, Aras tidak mau lagi menjadi alat teman-temannya yang hanya memeras Mariska agar bisa dapat traktiran. Mariska sedih sekali ketika Aras memutuskan dirinya dan tidak pernah Mariska tahu kalau itu penyebabnya adalah Mala yang Aras kagumi saat mengalahkan Zizi di pertandingan karate di Kejuaraan Nasional Tingkat Remaja. Tapi lambat laun Mariska akhirnya tahu kalau Aras ternyata menyukai Mala yang menjadi musuh sepupunya di pertandingan itu.
Mariska menyesal kalau ingat kejadian ini, andai waktu bisa diputar dia tidak akan mengajak Aras untuk menonton pertandingan karate, karena menjadi jalan bertemunya Aras dengan Mala.
***
“La maaf ya kalau aku tadi beropini miring tentang Gema, tapi itu memang adanya La. Kamu kan sahabat baiknya, kamu harus mengingatkan Gema untuk kembali pada kodratnya. Maafkan aku ya Sayang... sudahlah, jangan karena Gema membuat suasana hati kita jadi nggak nyaman. Maafkan aku Sayang... aku janji tidak akan memojokkan sahabatmu lagi.”
Aras meminta maaf atas sikapnya tadi, tapi tetap pada kenyataan membuat Mala malah jadi memikirkan Gema dan merasa sangat kasihan akan keadaan Gema yang jadi tersisih sejak dirinya mempunyai pacar.
Walau Mala juga tahu kalau Gema juga sekarang tengah sibuk dengan pacarnya, seorang pria tampan yang tidak sengaja dilihatnya tiga bulan lalu di taman depan rumah. Mereka tengah berciuman dan Mala memilih untuk berlalu.
Mala kecewa kenapa sampai sekarang Gema tidak mau menceritakan tentang kekasihnya itu. Sepertinya waktu juga tidak bisa berpihak seperti waktu lalu, saat belum ada Aras dan Gema juga belum ada pria tampan menawan itu yang sampai detik ini Mala tidak tahu siapa namanya. Berdua selalu bercerita apa saja, tapi sejak masing-masing dekat dengan seseorang ternyata hati mereka menjadi jauh.
“Kak Aras janji ya tidak memojokkan Gema lagi, dia bisa dibilang mungkin ‘sakit’ tapi sudahlah itu urusan dia dengan Tuhan. Karena sakit dia mungkin rahasia hatinya dan hanya hati dialah yang benar-benar paham dan memaklumi,” Mala mencoba berkata bijak, sesuatu yang ingin dia utarakan sesuai kata hatinya.
“Baiklah Mala Sayang, Kak Aras tidak akan mengungkit-ungkit lagi. Case close ya... janji, Kak Aras tidak mau membahas lagi kepribadian Gema tetapi Kakak harap kamu juga pahami perasaan Kakak sebagai pacar!”
Aras menatap tajam Mala saat menghentikan jalannya mobil sejenak. Mala terhenyak dengan kalimat barusan.
“Perasaan Kak Aras? Maksudnya?” Mala memasang wajah bingung.
“Cemburu Sayang, bagaimanapun Gema secara fisik adalah sosok cowok ganteng, sangat sempurna dan dia dengan leluasa memegang badan kamu, memelukmu, mencium dan masih banyak lagi kedekatan kalian yang sekilas Kakak lihat kamu lebih pas jadi pacar dia daripada aku. Itulah Sayang aku cemburu, sementara aku sendiri tidak bisa berlaku sebebas itu terhadapmu.”
“Oh...” Mala tersadar.
Kak Aras baru saja menyatakan rasa keberatannya, dan Mala akui protes keberatan Kak Aras memang benar. Tapi jujur Mala tidak merasakan hal istimewa apapun saat Gema melakukan apa saja yang baru saja Aras katakan.
“Sayang wajar kan kalau aku cemburu karena kamu adalah seseorang yang sangat istimewa dalam hatiku sekarang... selamanya?” Aras menggenggam tangan Mala.
Mala hanya bisa mengangguk dan tidak bisa berkata apapun, genggaman tangan Aras cukup membuat dirinya panas dingin, jelas hal ini tidak Mala rasakan saat Gema berkali-kali menggenggamnya, bahkan sesekali memijat badannya bila pegal-pegal setelah latihan atau pertandingan karate.
***
Dan waktu semakin larut, Gema berdiri di depan sebuah rumah yang tampak remang. Sepertinya lampu sengaja dibuat redup karena tidak seperti biasanya rumah yang sudah beberapa kali menjadi singgahan Gema setelah rumah Mala yang sekarang semakin sepi karena Mala lebih banyak jalan dengan Aras.
Di tangannya kotak berisi kue tart brownish yang Gema beli, hari ini pekerjaan kantor sangat banyak, Gema tidak sempat membuatkan kue tart spesial untuk Dirga. Untungnya toko roti Asean masih menyisakan sekotak brownish dengan hiasan cerry dan cokelat batangan di atasnya.
Gema mengendap-endap ingin memberikan kejutan akan kehadirannya, hari ini adalaha hari istimewa Dirga. Tapi ketika akan mengetuk pintu, Gema melihat keremangan yang bersumber dari lilin yang menyala. Gema terpana di sana ada sosok wanita yang sangat anggun tengah digenggam mesra Dirga.
“Berjanjilah di usiamu yang kedua puluh dua ini adalah umur kepulangan kamu untukku yang terakhir... setelah ini tidak ada lagi yang membuat kamu meninggalkan aku Dirga... berjanjilah!”
Wanita anggun berambut jatuh sangat lurus, dengan kulit yang putih pualam walau hanya remang lilin tapi terpancar indah, apalagi memakai gaun putih sederhana jatuh tanpa lengan, matanya cemerlang memancar.
Wanita yang sangat sempurna tengah menggengam Dirga dan demikian Dirga juga membalasnya dengan genggaman erat, tampak siluet ototnya.
“Tiara aku janji mengakhiri semua petualanganku dan kamu adalah malaikat penyelamatku, aku sekarang hanya untukmu,” Dirga berkata serius tanpa tahu ada sosok Gema yang kini benar-benar terluka hatinya.
Semua yang telah terjadi tiga bulan kedekatan dan keintiman dengan Dirga kini sudah jelas terbayar dengan sebuah kenyataan.
Dirga telah kembali pada kodratnya, dia sudah kembali pada jalan semestinya mencintai seorang wanita dan bukan pada dirinya, lelaki tapi berhati wanita.
Sial saat akan kabur kaki Gema terantuk meja dan kue tartnya jatuh rusak, brownish ceri yang tadinya tertata cantik menjadi satu dengan lantai.
Dan pintu terbuka, Dirga menyalakan lampu, tampak jelas Gema dengan wajah merah padam dan matanya memerah.
“Gema...” Dirga maju untuk menyambutnya.
Sementara Tiara tengah kaget menutup mulutnya dengan tangan kanan sembari melotot pada arah kue tart yang berantakan.
“Dirga lupakan aku! Kamu sudah seharusnya memang kembali pada Tiara! Jangan ganggu aku lagi!”
“Gemaaa!” Dirga berteriak.
Tapi Gema sudah berlari dengan menangis, hatinya hancur berkeping-keping sepanjang jalan tak berhenti air matanya meleleh.
Gema tidak hiraukan jaketnya yang melambai tertiup angin tanpa ditutup resletingnya, air matanya mengalir. Malam terasa begitu pekat dan dingin menusuk-nusuk hatinya yang hancur lebur.
Dirga tiga bulan ini membuat hatinya ceria setelah tahu Mala memutuskan untuk berpacaran dengan Aras. Hatinya merasakan sunyi, tetapi Dirga datang dan menawarkan sebentuk cinta yang indah.
Dirga yang sempat sakit hati dan sangat kecewa dengan gadis bernama Tiara di waktu lalu karena Tiara selingkuh dengan mantan pacarnya, melewati fase sangat membenci cewek dan mencoba memulai petualangan dengan beberapa pria hingga jatuh pada Gema yang menyambut Dirga sebagai cinta pertama, apalagi Dirga paham akan keadaannya.
Tapi tadi Gema serasa ditampar oleh sebuah kenyataan yang realistis dan logis. Gema tidak mau terlalu menyalahkan Dirga karena memang cinta tidak seharusnya memiliki. Sangat susah buat Gema melupakan Dirga dan bukankah benar kalau first love never die.
Dirga yang memulai menyambut cintanya, perkenalan di kolam renang lima bulan lalu berawal ketika Dirga mendekati dirinya yang tengah menikmati segelas teh panas dan semangkok soto yang terasa nikmat setelah Gema merasa kelelahan berenang memanjang sepanjang kolam lima puluh kali gaya bebas.
Tiba-tiba Dirga datang, sepertinya paham dirinya adalah sosok yang berbeda. Berlanjut ngobrol, bertukar nomor telepon dan pertemuan selanjutnya begitu hangat. Dirga beberapa kali menghubungi dirinya untuk bertemu sekedar ngobrol sembari menikmati malam di cafe.
Teringat lima bulan lalu saat Dirga curhat tentang Tiara yang meninggalkan dirinya kembali pada mantannya.
Dirga yang berdada bidang dengan rambut agak gondrong berwarna merah tampak rapuh dengan jambang yang dibiarkan tumbuh.
Tapi itu tampak seksi di mata Gema, sungguh Gema diam-diam bergetar dengan fisik Dirga keseluruhan. Senyum sederet gigi putihnya dan kelembutan Dirga terhadapnya.
“Aku sangat hancur saat melihat Tiara yang sudah lima tahun menjadi kekasihku sedang dalam pelukan mantannya... aku merasa sangat sakit hati Gema. Maaf kamu jadi ikutan memikirkan aku,” Dirga merasa menyesal.
“Nggak apa-apa Dirga...”
Bagaimana waktu berjalan, yang jelas saat itu Dirga bersandar dan memeluknya. Debar jantung Gema berpacu, pertama kali ada lelaki yang diam-diam dikagumi memeluknya dan Dirga bahkan seperti paham dirinya tidak keberatan sama sekali dengan apa yang dia lakukan.
“Gemaaa...”
Dan pelukan itu semakin erat dan semakin membawa dalam sensasi yang semuanya untuk pertama kali Gema rasakan. Berkali-kali Gema memeluk Mala tidak ada aliran seperti yang dirasakan saat ini.
Sejak itu Dirga semakin sering mengajaknya jalan, tentu saja ini membuat Gema merasa bahagia dan tersanjung.
Layaknya pasangan pria dan wanita, Dirga tidak malu-malu mengagumi dirinya. Dirga juga tidak meributkan persahabatannya dengan Mala.
Gema sesekali menceritakan sahabatnya, Mala dan itu membuat senyum Dirga terukir bila ada hal yang lucu. Memang Mala membuat Gema selalu punya cerita tentangnya.
Gema menceritakan kedekatan dirinya dengan Mala, dirinya kerap selalu bersedia menjadi tumpahan gadis tomboi keras kepala itu saat menangis, telinganya mendengarkan kesedihannya sampai memerah bahkan sampai tertidur bersama lalu paginya harus segera bangun karena mama Citra kerap marah bila ketahuan mereka tertidur bersama. Tapi sungguh tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya dan Mala, tidak ada chemistry untuk percintaan sama sekali.
Lagi-lagi Dirga hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala kemudian mengacak-acak rambut Gema. Gema bahagia bila Dirga tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak bila dirinya bercerita tentang dirinya dan Mala. Dirga bersedia menjadi pendengar setianya.
***
Rumah Dirga disulap menjadi rumah yang sangat rapi. Saat pertama Gema datang sungguh berantakan, sekacau hati Dirga yang baru saja mengalami patah hati.
Bahkan botol-botol minuman keras berharga ratusan ribu, puntung rokok berceceran, tembok yang dicoret-coret penuh sumpah serapah, tanaman di halaman mati kekeringan dan kolam ikan yang kosong entah ke mana air dan penghuninya.
Tiga bulan Dirga putus dengan Tiara membuat hidupnya kacau. Pekerjaan juga terbengkalai hingga mendapat Surat Peringatan karena beberapa kali terlambat dan bolos.
Gema ingin mengembalikan semuanya. Dirga yang Gema inginkan adalah lelaki yang tertib. Dirga dengan pekerjaan yang bagus sebagai seorang Manajer Produksi di Perusahaan Over The Counter sebuah produk vitamin kesehatan dengan gaji yang besar.
Dalam usia muda sudah menjadi manajer. Rumah dan mobil sudah melengkapi hidupnya.
Gema perlahan memasuki kehidupan Dirga dengan perlahan. Diam-diam jam istirahat kantor dengan motor Scoopy-nya Gema ke rumah Dirga untuk beberes, tentu saja seizin Dirga yang tidak keberatan sama sekali.
Dia juga menyempatkan memasak agar Dirga pulang dari kantor sudah ada masakan untuk makan malam. Semua ruangan dirapikan secara detail. Dirinya merasa lebih hidup. Di waktu yang sama, di tempat berbeda Mala juga tengah mengalami perubahan karena Aras. Kehadiran Aras membuat Mala tidak terlalu memerlukan kehadiran dirinya.
Perlahan tapi pasti Gema banyak memasuki ruang dan waktu milik Dirga yang tampak bahagia dengan setiap kejutan-kejutan kecil yang Gema lakukan. Hal sederhana yang bisa dilakukan seorang wanita. Bebenah, menjahitkan beberapa baju yang robek atau kancing baju yang lepas dan memasak. Semua Gema lakukan dengan riang dan bahagia. Untuk Dirga, Gema melakukan apapun dengan sempurna.
Bahkan Gema menyuruh office boy kantornya yang sudah tidak ada kerjaan di sekolah untuk mengecat ulang rumah Dirga, merubah cat warna putih menjadi hijau, demikian tembok kamar-kamar lain dengan variasi warna yang berbeda.
Membeli beberapa lukisan di daerah Sokaraja yang dulunya adalah kota kecil sebagai pusat lukisan di pinggir-pinggir jalan untuk mempercantik rumah Dirga.
Lalu merambah pada halaman rumah yang tidak kalah kacau balau tak terurus. Rumput-tumput tinggi dan beberapa bunga mati kekeringan saking tak terurusnya. Ada kolam ikan yang mengering dan lumut pun mengering.
Tapi setelah disentuh Gema, kolam sudah berkucur kembali dengan binatang sepasang kura-kura dan teratai di atasnya.
Taman kecil mulai banyak bunga-bunga instan yang ditanam menunggu bermekaran.
Dirga juga mulai menata diri. Kadang-kadang Gema berlaku cerewet bila Dirga mulai merokok sembarangan, ada abu rokok bertebaran di mana-mana dan semakin kemari semakin asyik berlaku cerewet pada Dirga yang tersenyum-senyum menawan bila kena omelan Gema.
Senyum Dirga selalu membuat Gema merasa panas dingin nggak karuan, wajah juga berubah menjadi merah padam, setelahnya Dirga tanpa canggung meraih tangan dan memeluknya.
Ya, kehangatan dan aura kebahagiaan tiba-tiba merayapi sekujur raga Dirga saat memeluk Gema, menebus apa yang seminggu telah Gema lakukan untuk dirinya.
Rumah yang kembali nyaman, taman kecil yang segar untuk duduk-duduk berdua sembari menikmati kopi racikan Gema yang tidak kalah dengan barista.
Kopi hitam espresso pas dalam takaran kopi hitam dan gulanya disajikan, sesekali usil meneguk latte kopi hitam yang dikombinasi dengan susu cair perbandingan 1 : 2 jadi hanya 1/3 kopi sedangkan 2/3-nya adalah susu. Itu teori latte dan pas selalu buatan Gema, tidak kalah dengan espresso atau latte di cafe yang waktu lalu kerap disinggahi bila ingin menikmatinya.
Kehadiran Gema yang suka di rumah membuat Dirga mengurangi keluar malam lagi untuk menghabiskan rupiahnya demi minuman keras dan rokok.
Gema tiada bosan mengingatkan hidup sehat. Dia lebih dari Tiara sejujurnya. Dan jujur Dirga menikmati kebersamaan dengan Gema.
Kalau sudah begini nyaman, apalah arti sebuah gender. Begitukah? Haruskah kebahagian hanya diraih antara cewek dan cowok tapi bila ada cerita lain kalau ternyata harus pasangan sejenis lebih membahagiakan. Meskipun akan membuat banyak pertentangan.
***
Gema memutuskan untuk segera pulang sampai rumah, baru kali ini Scoopy-nya diajak ngebut di atas 150 km/jam. Rasanya ingin segera Tuhan mencabut nyawanya sekarang juga.
Kenapa saat dirinya yakin kalau Dirga adalah satu-satunya belahan hati yang akan selamanya membuat dirinya merasa normal dan merasa hidup lebih membahagiakan, harus dirampas kembali oleh pacar masa lalunya.
Sepanjang jalan pemandangan kemesraan Dirga dan Tiara benar-benar tidak bisa hilang, selalu menusuk-nusuk hatinya dan susahnya air mata ini untuk tidak mengalir deras.
Gema merasa hancur lebur untuk pertama kalinya, apa yang telah dia lakukan tiga bulan ke belakang sepertinya sia-sia.
Rumah mungil manis yang telah ditatanya dengan segenap hati, pakaian milik Dirga yang begitu rapi dengan setrikaan yang licin dan wangi, taman yang tengah bermekaran dan sepasang kura-kura yang sepertinya asyik bercinta setiap malam dan berdua hanya bisa memperhatikan penuh makna tanpa bisa berbuat apa-apa, mendadak hanya menyisakan kepedihan.
“Inikah rasanya patah hati, Tuhan? Sakiiiiiit! Ambil nyawaku saja Tuhan daripada aku terus tersiksa mengingat Dirga. Dirga yang jelas-jelas menerima kembali Tiara yang telah mengkhianati hatinya! Kejaaaaaam! Tidak adil! Setelah semuanya tampak baik dan indah kenapa Tuhan? Kenapa Dirga tega meninggalkan aku?” dalam kamar ukuran 4 x 5 meter, Gema menangis sambil meratapi hatinya yang terluka pilu.
Sudah pukul 23.00 dan tiba-tiba. “Clek!” lampu kamarnya yang gelap menyala.
Mala menatap Gema yang wajahnya tertelungkup, tiba-tiba menengadah. Mata Gema benar-benar sembap dan bengkak.
“Gema kamu kenapa?”
Entahlah untuk kali ini begitu sulit untuk bercerita akan seorang pria yang baru saja dekat tapi juga melukainya.
“Nggak apa-apa La, aku… aku...” Gema berpikir menciptakan kebohongan.
Mala sudah duduk di dekatnya dan mengelus punggungnya seperti biasa kalau dirinya tengah terpuruk dengan kelakuan bapaknya, ejekan hinaan akan perilakunya yang feminim. Atau waktu lalu saat hampir saja dirinya ditelanjangi ramai-ramai oleh gengnya Aryo yang penasaran dengan badannya yang cewek atau laki-laki! Untung Mala benar-benar menyelamatkan kehormatannya.
“Kenapa Ma, kamu dijahati lagi oleh Aryo?” Mala mengepalkan tangannya, tampak wajahnya geram mengingat waktu lalu Gema sudah setengah telanjang, kalau dirinya tidak datang dan menghajar satu per satu dari Aryo, Budi, Deni dan Farli yang sudah kesekian kali mengganggu Gema sangat keterlaluan. Mala menghajar semua pengganggu bahkan Farli sampai kehilangan gigi depannya kena pukulan karatekanya.
“Nggak kok La, ini... ini masalah kantor saja. Aku melakukan kesalahan tadi, aku ceroboh meng-input data nilai rapor anak jadi yah agak fatal. Anak yang seharusnya nilainya bagus jadi jelek dan yang seharusnya jelek jadi bagus, mereka bisa baca on line aku... aku kena omelan semua orang jadinya.”
Tiba-tiba melintas ada pikiran kebohongan begitu saja, Gema tidak mau membuat Mala kecewa bila tiba-tiba dia cerita tentang Dirga yang sama sekali tidak diperkenalkan waktu jadian dan jalannya cinta dia yang indah dan sekarang terpuruk. Nggak adil banget tiba- tiba cerita semuanya sudah berakhir.
Gema yakin Mala akan marah besar karena selama ini Mala selalu bercerita apapun tentang Aras, termasuk ciuman pertamanya. Dan segala sesuatu tentang Aras yang kadang ada saja membuat Mala kesal.
Gema hanya bisa tersenyum-tersenyum saat Mala bercerita sangat melayang akan ciuman pertama. Karena dia sudah merasakan apa yang Dirga lakukan padanya. Hanya tersimpan dalam hati.
Parahnya kalau dia bercerita apa yang sebenarnya terjadi sekarang akan dirinya dengan Dirga, Gema takut Mala akan mengamuk dan melabrak pada Dirga yang dianggap mempermainkan hatinya.
Gema tahu persis tabiat Mala yang tidak terima kalau dirinya disakiti fisik atau hati. Sebaliknya, demikian Gema juga mengkhawatirkan Mala karena Aras menurut perasaannya juga bukan lelaki yang seratus persen jujur. Walau untuk mendapatkan Mala dia berusaha keras memperbaiki reputasinya seorang playboy menjadi bersih dan saatnya menembak Mala semua berjalan sudah dengan baik dan lembaran baru.
“Sepertinya ada beberapa hal hanya bisa kita bicarakan dengan hati kita, sampai akhir hanya kita yang tahu. Bahkan selamanya hanya menjadi rahasia hati.”
Sebuah rahasia hati yang selamanya tersimpan sampai akhir hayat. Saat percaya sepenuhnya hanya pada diri sendiri dan tidak bisa berbagi dengan orang lain.
“Oh, aku kira Aryo dan gengnya belum kapok setelah aku hajar habis! Hmmm… parah sekalikah kesalahan ini Ma? Sampai kamu menangis mengurung diri sedemikian. Sampai kamu tidak jadi menjemput aku dan tidak memberi kabar apapun. Ma aku tidak berubah meskipun ada Kak Aras, aku tetap ingin dekat dengan kamu. Kamu jangan jauhi aku dong! Aku tahu kamu sibuk... tapi dulu sesibuk apapun kamu masih sempat ke rumah, memijat aku dan membuatkan aku beraneka makanan. Aku kangen Gema yang dulu.”
Sebenarnya juga Mala ingin menyindir akan teman dekat Gema yang mungkin menyita waktu Gema sampai dia tidak sempat selama tiga bulan ini untuk bercanda dengannya. Tapi Mala hanya ingin kejujuran Gema untuk berbagi karena dirinya juga tidak bisa membagi waktu sepenuhnya untuk Gema, kehadiran Aras juga menyita perhatian dan waktunya.
Mala yakin Gema tidak hanya sibuk dengan kerjaan tapi juga seseorang yang sama juga hadir dalam hidupnya, seperti kehadiran Aras dalam dirinya. Mala yakin itu, tapi biarlah kalau memang ini hanya akan Gema simpan dalam hati.
Mala juga tahu kalau tidak semuanya harus dibagi dengan dirinya. Meski apapun yang Mala alami dengan Aras selalu Mala ceritakan terhadap Gema. Mala merasa nyaman berkeluh kesah dengan Gema dan berharap Gema juga mau membagi kisah cinta yang masih tersimpan rapat di hatinya.
“Besok kamu coba bicarakan baik-baik saja dengan kepala sekolah dan meminta maaf atas kelalain kamu salah input, semoga mereka akan memaafkan. Sekarang istirahatlah, aku balik dulu ya Ma. Besok-besok kalau batalin janjian SMS ya, jangan buat aku menunggu dan senewen. Hampir saja aku ribut dengan Kak Aras gara-gara aku bersikeras menunggu kamu tapi dia ingin segera menonton, jadi deh agak uring-uringan.” Mala nyerocos bak kereta api.
Gaya cerita Mala membuat Gema tidak bisa menahan tawa, selalu tingkah Mala yang apa adanya membuat hatinya terhibur. Sesaat ingatan yang terekam tentang kemesraan Dirga dan Tiara terlupakan. “Hmmm sejujurnya aku tadi sempat menghampiri kamu, tapi melihat Aras sudah lebih dulu menunggu, aku putuskan pulang karena hatiku tengah kacau.”
Gema kembali berbohong, tadinya dia ingin meminta pendapat Mala untuk memilih sebuah baju hem untuk kado buat Dirga, tapi akhirnya hanya sempat membelikan kue tart yang sudah pasti nasibnya itu hancur porak poranda seperti hatinya.
“Gema aku pulang ya... jangan pernah menjauh dariku! Jangan pernah menutupi apapun perasaan kamu padaku! Apapun Gema!”
Mala melotot cantik dan sebuah kecupan pipi mengagetkan Gema, meskipun sudah berulang kali Mala mengecup pipinya tapi kecupan barusan mengagetkan, menyadarkan sebuah sakit karena dia juga telah berlaku tidak jujur terhadap sahabat terbaiknya.
Kesadaran banyak sudah yang terlewati tanpa berbagi dengan sahabatnya yang ternyata tidak ingin mereka berubah karena masing-masing mempunyai seseorang teman dekat yang menjadi pelengkap kebahagiaan.
Nyatanya Mala berkata jujur kalau Gema tetap menjadi sahabat kapanpun, di manapun, saat ada teman dekat atau tidak, diri Mala selalu mengharapkan kehadiran Gema. Seperti ada sebuah ikatan yang terjalin tercipta tanpa sadar kalau masing-masing merasa kehilangan bila tidak berbagi untuk hal-hal tertentu.
Nyatanya susah untuk Gema membagi tentang Dirga pada Mala. Sampai detik ini dan Gema memutuskan biarkan waktu berjalan membawa ke mana semuanya.
“Maafkan aku ya Mala, aku ternyata tidak bisa terbuka tentang masalah kekasih hatiku... ah walau aku tahu kamu pasti akan memaklumi kalau pacarku juga laki-laki. Tapi sudahlah memang tidak semuanya ternyata mudah untuk dibagi. Ada kalanya aku ingin menyimpan dalam hatiku sampai akhirnya hanya aku saja yang tahu...” Gema menatap Mala yang berlalu memunggunginya.
***
Other Stories
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Dentistry Melody
Stella ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...