The Ridle

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Gema

Gema memandang wajahnya di kaca, pagi ini dia memang tampak sangat mendung. Semalam meskipun mimpi buruk hampir setiap jam hadir tapi bersyukur sepertiga malam dia bisa terlelap.
“Aku harus tegar! Apapun yang tengah aku alami aku harus bertahan demi Ibu. Apapun demi Ibu.”
Gema membaca kembali surat dari dokter yang meminta Gema segera membawa ibunya untuk kemoterapi intensif.
“Tidak ada pilihan, aku harus berpikir cepat bagaimana cara mendapatkan uang banyak, Noval sore ini meminta aku ketemuan untuk membicarakan perihal kerjaan. Semoga dia benar-benar sudi memberikan jalan keluar,” Gema berkata lirih dengan dirinya.
Seperti mengulang saat hatinya terluka sewaktu memergoki Dirga menerima Tiara untuk kembali padanya. Jelas tampak Dirga bahagia Tiara kembali dalam pelukannya dan memang Gema yang bodoh melakukan kesalahan kedua kalinya.
Sudah berapa kali setiap ingat Dirga, Gema memilih sembunyi di toilet dan membentur-bentur kepalanya ke tembok. Lengkap sudah kepedihan yang tengah ditanggungnya. Memikirkan ibunya yang sekarat dan dirinya yang jelas hancur berkeping-keping dengan pengkhianatan kedua kalinya yang dilakukan Dirga.
***
Tadi Noval mengingatkan untuk ketemu di cafe Star untuk membicarakan perihal lamaran pekerjaan Gema pukul 17.00.
Ada tersisa setengah jam dan Gema ngebut mengendarai Scoopy-nya agar tidak mengecewakan Noval di pertemuan pertama dengan datang terlambat, apalagi mengingat dirinya yang tengah butuh kerjaan sampingan.
Lima menit lagi Gema segera berlari setelah memarkir asal Scoopy-nya. Tampak dari jarak beberapa meter Noval sedang menikmati pesanannya.
“Maaf-maaf aku nyaris terlambat,” Gema meminta maaf dan menarik kursi makan.
“Hehehe santai saja, lagipula nggak terlambat kok masih kurang sepuluh menit lagi,” Noval bicara santai sambil menikmati salad buah ada strawbery, mangga segar dipotong-potong dan anggur hijau ditambah daun selada dicampur saus yoghurt dengan simple syrup, air jeruk lemon dan sedikit susu kental manis. Sangat mengundang selera dan sehat.
“Duduk Ma, mau pesan apa?”
“Nggak terima kasih, tadi sebelum kemari sudah minum. Terima kasih Mas Noval,” Gema mengangguk hormat.
“Ya ampun, kamu sudah jalan ngebut setengah jam, aku pesenin es lemon tea dan french fries ya.”
Tanpa meminta banyak persetujuan, Noval memanggil waitress dengan jentikan jari tangannya.
Gema jadi memperhatikan Noval yang menikmati saladnya dan sesekali meneguk es lemon crush.
Tidak menunggu lama pesanan Gema juga datang dan Noval memang pembawaannya santai, membuat Gema lebih rileks dan cara Noval menerangkan job discription dirinya sebagai asisten juga tidak tegang.
“Gema kamu nanti aku ajari bagaimana menjadi instruktur senam, yah butuh cukup lama sih tiga bulan dan kalau kamu berlatih sungguh-sungguh ada ujian untuk izin melatih.”
“Mas Noval yakin aku bisa ya?” Gema tampak ragu, tapi sikap Mas Noval yang tenang membuat Gema timbul rasa ingin tahu dan semangat untuk menekuni bidang ini. Apalagi tiga bulan berlatih dengan sungguh-sungguh maka akan bisa jadi pelatih.
Sedang asyiknya mendengarkan penjelasan Mas Noval, sekilas tampak bayangan sepasang kekasih yang tidak asing lagi. Dan membuat wajah Gema memerah, jelas tampak Dirga yang merangkul Tiara, tapi tiba-tiba rangkulan itu direnggangkan saat mata Dirga dan Gema saling berserobok dan bertatapan sesaat.
Noval penasaran sampai membalikkan tubuhnya melihat siapa yang mencuri perhatian Gema dan tampak membuat Gema yang tadi bersemangat mendengarkan penjelasannya mendadak berubah wajahnya memerah, demikian juga matanya tampak berair.
“Gema kamu nggak apa-apa? Siapa pria itu?” Noval bisa membaca gelagat tidak enak tengah melanda Gema.
“Mas aku nggak bisa lama-lama di sini, maaf aku pamit dulu ya Mas! Besok aku kabari Mas untuk mulai latihan.”
Gema segera berlalu dan pria yang bernama Dirga bersiap mengejarnya, tapi tangan Tiara menahannya. Sepertinya Tiara tahu kalau ternyata musuh dalam selimut hubungan dirinya dengan Dirga yang sebenarnya memang adalah Gema.
Tiara sudah bisa meraba ada yang salah dengan Gema dan Dirga, tapi dia sengaja tutup hati tutup mata. Tiara sudah curiga saat ulang tahun Dirga yang seharusnya membahagiakan karena dirinya dan Dirga bersatu lagi, tapi tiba-tiba sikap Dirga berubah dingin saat Gema berlari meninggalkan mereka. Sengaja dirinya bersikap lebay terhadap Gema agar Gema sadar dirinyalah yang seharusnya menjadi kekasih Dirga.
Tanpa sepengetahuan Dirga, beberapa minggu lalu Tiara juga membaca diary elektronik Dirga. Membuat Tiara kaget, terbukti selama ini alasan perhatian Gema terhadap Dirga dan juga segala milik Dirga dari rumah, taman dan seisinya Gema sangat merawatnya karena Gema mencintai Dirga. Tiara merasa cinta Gema lebih besar daripada cintanya untuk Dirga.
Rasa cemburu aneh merayapi Tiara, sangat aneh dia harus bersaing dengan seorang pria dan ini menakutkan karena cinta sejenis bisa lebih kuat dibandingkan dengan cinta yang normal.
Diam-diam Tiara membicarakan penemuannya pada mami dan papi Dirga yang langsung didukung untuk menyegerakan mereka dalam pernikahan agar Dirga terlepas dari hubungan sejenis.
Tentu saja akan sangat memalukan dan merupakan aib besar bila Dirga sampai benar-benar akhirnya memilih Gema bukan Tiara yang sangat diharapkan menjadi menantu.
Tiara juga berusaha keras untuk lebih care dan memang berhasil kolaborasi yang dilakukan Tiara dengan orang tua Dirga untuk segera meresmikan hubungan mereka dalam pernikahan. Dirga tidak diberi kesempatan untuk banyak berpikir, semua diatur dan memang itulah yang seharusnya terjadi. Normal adanya.
***
Tak diduga Noval ternyata mengejar Gema yang tengah menstarter Scoopy-nya dan menahannya.
“Jalan! Aku ikut kamu ke mana saja Ga. Karena kamu akan jadi partner aku maka aku berhak menjaga kamu!” Noval bicara tegas dan sekarang posisinya sudah di boncengan.
“Mas Noval, aku... aku...” Gema kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan kondisi dirinya yang terpuruk dan lelah hati.
Noval beringsut ke stang Scoopy dan menyuruh Gema yang membonceng.
“Ayo naik! Kamu perlu ketenangan, biar aku yang mengendarai motor kamu. Percayalah aku paham yang tengah terjadi dengan kamu,” Noval berkata tenang dan Gema merasa nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Dirinya yang menangis seperti seorang wanita tanpa ada usaha untuk menutupi keadaannya yang butuh seseorang untuk menjadi penenangnya.
Gema teringat Mala, biasanya waktu dulu kalau dirinya tengah merasa jatuh selalu berlari pada Mala. Tapi maaf untuk kisah cinta dengan Dirga tidak lagi bisa terbuka dengan Mala.
Bahkan rasa sakit hati kedua ini sepertinya masih juga tidak bisa lagi mengharapkan Mala untuk mendengarkannya. Sosok Noval yang baru dikenalnya malah memahami apa yang tengah dialaminya.
Entahlah hanya mencoba memahami atau sepenuhnya paham, yang jelas saat ini Gema terisak dan di balik punggung Noval yang bidang dengan wangi maskulin menghadirkan sebuah ketenangan tersendiri.
Sesaat Gema bagai terbius dalam situasi yang aneh, menenangkan dan membiarkan dirinya mengikuti Noval yang sekarang tengah memasuki sebuah perumahan yang hijau dan tertata rapi.
Kemudian membuka pintu gerbang memasuki sebuah jalanan yang kanan kirinya bertebaran bunga.
Taman yang indah dan sebuah rumah minimalis berwarna abu-abu merah tampak cantik sekaligus hunian nyaman sepertinya.
“Ini rumah Mas Noval?” Gema bertanya bodoh.
Seharusnya tidak perlu banyak tanya karena memasuki ruang tamunya langsung foto close up ala model profesional Noval dalam ukuran besar terpajang sangat tampan. Kemudian sedikit maju ruang keluarga yang terbuka dengan tebaran karpet dan sebuah televisi Lcd berukuran 50 inch menjadi alat hiburan utama.
Dan sisi kanannya piala-piala dan piagam penghargaan ditata sangat rapi. Gema benar-benar merasa kagum dengan tatanan yang begitu rapi dan bersih.
“Nah Ma, kamu santai saja. Kalau mau mandi silakan saja kamu bisa pinjam baju aku, santai saja. Kalau kamu sudah mandi kamu akan lebih segar dan mungkin aku bisa bantu masalah kamu.”
Gema menurut saja, apalagi Noval sudah menyodorkan sebuah handuk lembut dan sebuah baju kaos. Memang badan dirinya tidak kalah besar dengan Noval, hanya saja tidak terbentuk karena tidak melakukan olahraga yang Noval lakukan.
***
Sekarang secangkir cokelat panas dan roti bakar hangat Noval sajikan di meja tamu.
“Ma, aku tahu kamu pasti tengah banyak masalah. Tidak hanya karena kamu sedang memikirkan biaya pengobatan Ibu kamu, tapi aku yakin sekali cowok yang tadi datang dengan seorang cewek cantik dan mereka berpelukan adalah masalah kamu yang berat juga.”
Noval bisa menebak apa yang tengah terjadi dengan Gema. Gema langsung menyeruput cangkir cokelatnya dan merasakan enaknya cokelat buatan Noval.
Gema terdiam dan Noval juga memberi jeda agar Gema menikmati cokelat panasnya. Noval yakin efek dopamin dari cokelat adalah bisa membuat hati lebih nyaman dan bahagia.
“Tadi namanya Dirga, dan cewek yang di pelukannya bernama Tiara, calonnya. Mereka akan menikah bulan depan dengan tiba-tiba. Aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka dan ini adalah kebodohan yang terulang sebenarnya. Karena satu setengah tahun lalu aku tidak mau mengenal Dirga yang jelas-jelas memilih Tiara kembali pada pelukannya. Padahal Tiara juga yang telah mengkhianati hubungan mereka untuk pertama kali. Saat pertama kali Dirga hancur dia datang padaku, dan tahukah Mas Noval… Dirga adalah cinta pertamaku. Aku dan Dirga sempat dekat selama tiga bulan. Sampai setahun dari putus, tiba-tiba kita dipertemukan kembali di tempat kita pertama kali berkenalan... hmmm bodohnya aku kembali menjadi orang ketiga. Hampir setengah tahun aku jadi orang ketiga sungguh tidak ada daya menolak atau marah pada dirinya. Tapi kenyataan beberapa hari lalu aku menemukan surat undangan pernikahan mereka yang akan naik cetak. Ini benar-benar membuat aku sakit! Ternyata tetaplah Mas Dirga membutuhkan kelamin! Bukan hanya cinta dan kasih sayang tulus aku!”
“Gema! Gema… sabar!” Noval menenangkan Gema yang sepertinya benar-benar mengeluarkan rasa amarahnya. Cokelat panasnya bekerja cukup baik sebenarnya karena sekarang Gema lebih tenang dan terkontrol setelah sempat sangat emosi bercerita tentang Dirga.
“Ma itulah kehidupan, aku tidak salah tebak ternyata kamu lebih suka dengan sejenis. Maaf tapi memang aku paham apa yang kamu alami,” Noval tersenyum bijak.
“Iya Mas, dari kecil aku lebih suka menjadi cewek. Aku juga mempunyai sahabat cewek dari kecil yang tidak mempermasalahkan fisik aku cowok, tapi hatiku melow gini. Dan Mas Noval sendiri?” entah keberanian dari mana Gema tiba-tiba merasa curiga dengan kondisi Noval sendiri. Apalagi dengar dari cerita Rani kalau Mas Noval orangnya terhadap kaum hawa sangat dingin. Banyak cewek-cewek di pusat kebugaran DeherFit yang menyukainya. Tapi Mas Noval cuma bergeming, termasuk terhadap Rani yang sudah berusaha keras untuk tampil memesona di hadapan Mas Noval, dari cerita Rani yang kesal usahanya untuk bisa memikat personal trainer-nya tidak menghasilkan apa-apa.
“Aku lelaki normal Gema. Aku memang dingin dengan cewek-cewek, pasti kamu sudah tahu ceritanya dari Rani. Aku tahu Rani suka padaku, tapi bukan hanya Rani, Ma, masih banyak cewek-cewek normal yang suka dengan aku. Tapi memang belum ada yang cocok saja. Tapi aku akan memilih seorang wanita, itu sudah pasti! Aku tidak menyukai cowok dalam kisah cinta tapi bersahabat sudah pasti aku banyak. Apalagi aktivitas aku di kantor pengacara dan olahraga cowok-cewek banyak dan aku bersahabat dengan mereka.”
“Oh...” ada sebersit malu menyelinap karena baru saja Noval berkata kalau dirinya adalah cowok normal, walau Gema sempat berharap Noval seperti Dirga yang suka pada dirinya.
“Tenanglah, kamu aman bersamaku dan aku juga tidak akan mengutak-atik… maaf, perasaan kamu yang lebih peka dan menyukai lelaki. Karena banyak teman-temanku yang sama dengan kamu. Aku menghargai kepribadian semua teman-temanku Ma, jadi tetaplah menjadi diri kamu sendiri.”
Gema merasa lebih tenang, kejujuran Noval menyadarkan kalau Noval adalah seorang yang sekarang menjadi bosnya karena besok-besok dia akan bekerja menjadi asistennya. Dan Noval tidak mempermasalahkan ketidaknormalan yang ada pada dirinya. Ini sungguh membuatnya tenang.
“Terima kasih Mas Noval, aku merasa lebih tenang. Walau mungkin sampai rumah masih banyak beban yang ada di otak dan hati. Tapi sekali lagi terima kasih. Aku pamit dulu ya Mas,” Gema berniat pulang, tak terasa sudah pukul 21.00
“Baiklah, besok kebetulan aku melatih Rani, jadi Rabu besok mulai berlatih ya,” Noval menginformasikan untuk mulai berlatih.
“Baik Mas Noval, terima kasih atas bantuannya,” Gema berpamitan dan ada sedikit kelegaan setelah ada teman bercurhat, walau dia lelaki normal tapi bisa memahami keadaan dirinya yang beda.
***
Melihat ibunya yang terlelap mungkin seharian ini menahan sakit yang tak terkira, apalagi hanya ditemani tetangga yang berbaik hati menungguinya.
“Ma kamu baru pulang? Seharian Mala di sini lho. Mala yang nungguin Ibu hari ini, kayanya coba menghubungi kamu tapi telepon kamu mati ya.”
“Iya Bu, tadi Gema ada interview kerjaan sambilan. Kita butuh dana untuk berobat Ibu dan untung ada teman yang percaya kalau Gema bisa jadi instruktur senam dan pengajar fitness. Besok Gema mulai latihan, waduh sudah larut nggak enak kalau ke rumah Mala. Nanti Gema telepon aja Malanya. Ibu istirahat ya... eh Ibu sudah makan?”
“Kalau ada Mala, Ibu kamu terjamin Ma. Mala sudah bisa masak lho, tuh kamu disisain sayur lodeh, ikan asin dan sambal ama Mala. Katanya ‘bilang ya sama Gema kalau si tomboi sudah pintar memasak dan sesekali pakai rok’. Tapi memang lho Ma, Mala tampak feminim, kali pacarnya minta dia berubah ya?” Bu Elok geleng-geleng kepala lalu menarik selimut dan melanjutkan tidur.
Setelah menemani ibu terlelap, Gema melangkah ke kamarnya. Jujur hatinya kangen sekali dengan Mala. Sudah hampir empat bulan tidak ketemu Mala setelah kematian bapaknya.
“Hmm Mala sudah bisa memasak dan berdandan? Ah sepertinya Aras memang berhasil merubah kelakuan tomboinya. Semua berubah menuju baik, sementara aku sepertinya semakin kacau saja. Apakah aku juga harus sadar kalau aku ini laki-laki dan harus kembali menjadi lelaki sejati? Tapi susah sekali, hati ini tidak bisa!”
Dan malam semakin menyapa pagi, Gema tertidur kelelahan dengan dialog hatinya yang menyudutkan dirinya sendiri.
Hanya terakhir Gema ingat sebelum terlelap bekerja keras mencari uang untuk membiayai pengobatan ibu.
Pagi yang cerah Rani menyapa Gema ketika menampakkan batang hidungnya.
“Hai handsome, nanti kamu sudah mulai berlatih ya, asyiik dua lelaki ganteng menemani aku setiap fitness. Yah meski kalian hanya bisa dipandang saja dan nggak pernah tertarik sama kita-kita, tapi lumayanlah buat hiburan,” Rani tampak kacau candaan paginya.
Saat Pak Broto, kepala sekolah lewat, Gema langsung menutup mulut Rani agar nggak bocor ke mana-mana.
“Sttt… jangan keras-keras dong, nggak enak sama orang kantor kalo aku punya kerja sambilan. Takutnya mereka menuduh yang nggak-nggak,” Gema memberi kode sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.
“Uupps iya aku lupa, maaf...” Rani memasang wajah polos.
Dan beruntung Rani tidak lagi cuap-cuap masalah fitness atau senam, mereka langsung menuju pusat kebugaran DeherFit.
Mas Noval mengizinkan Gema untuk menemani saat melatih Rani dan lanjut kemudian memimpin sebuah senam yang terdiri dari mayoritas wanita yang gadis maupun ibu-ibu. Suara musik yang menghentak keras membuat Gema bersemangat untuk mengikuti pelatihannya.
Dan memang mengasyikkan mengikuti kebugaran. Badan sehat, pikiran menjadi segar dan ketemu dengan berbagai teman aneka ragam.
Saat menunggu Rani yang masih mandi, Noval dan Gema berbincang apa yang baru diajarkan. Tiba-tiba seorang ibu-ibu kurang lebih berumur 50 tahun mendekati.
“Noval...” Ibu yang masih tampak cantik memanggil nama Noval lembut.
“Hai Bunda Sasa, apa kabar?” Noval mencium pipi perempuan yang sudah cukup umur tapi masih tampil muda. Baju ketat dan sepatu tinggi dan sapuan make up yang sempurna. Jelas seorang ibu-ibu kalangan atas dengan tentengan tas bermerek puluhan juta. Demikian juga dengan baju dan tasnya.
“Kamu baik-baik saja Noval? Bunda kangen sekali dengan kamu. Kamu benar-benar tidak punya waktu lagi ya sekarang untuk mengawal Bunda. Susah sekali cari pengganti kamu Noval.”
Bunda Sasa sudah menggenggam tangan Noval dan tampaknya Noval berusaha tetap tenang dan tetap menebar senyum mautnya.
“Bunda bisa saja, kapan-kapan pastilah Bun kalau Noval senggang dengan pekerjaan kantor juga acara pertandingan-pertandingan senam dan fitness Noval akan main ke istana Bunda.”
“Janjiiii ya Sayang... eh ini siapa?”
Gema agak risih karena Bunda Sasa sekarang menatapnya seolah akan menerkam, tatapan yang penuh dengan pandangan-pandangan aneh.
“Oh ya Bun, ini asisten aku nantinya, namanya Gema, lagi belajar,” Noval memperkenalkan Gema yang mau tidak mau mengulurkan tangan menyalami Bunda Sasa yang terlebih dahulu sudah semangat sekali menyalaminya.
“Wow Gema... kamu harus belajar cepat dari Noval. Noval ini luar biasa lho, baik, kebapakan, penolong, lembut dan nggak materialistis. Pokoknya Bunda sayang sekali deh dengan Noval. Tapi sebel deh, habis diterima kerja kantoran jadi pensiun jadi karyawan Bunda.”
Gema yang tidak tahu ada apa cerita mereka hanya tersenyum-senyum dan menganguk-angguk.
***
Setelah puas berkangen Bunda Sasa dengan Noval, Gema juga merasa cape dan Rani sudah selesai dandan, masing-masing pulang dan janjian untuk latihan selanjutnya secara reguler.
Tabungan Gema selama bekerja hampir lima tahun semakin menipis karena sudah dipakai untuk membayar cek ke laboratorium, obat-obat penghambat kanker dan tersisa seminggu untuk memutuskan kemoterapi bertahap sebanyak empat kali dilakukan per bulan untuk mematikan jaringan kanker di rectum dan selanjutnya akan dilihat kembali apakah bisa dilakukan pengangkatan, karena ini adalah bagian yang rumit dan berdekatan antara usus dan rectum. Begitu kira-kira yang bisa Gema ingat dari kejelasan dokter seminggu lalu.
Gema pontang-panting menghadapi semuanya sendiri, Mala memang memperhatikan tapi tetap dia jarang pulang ke rumah karena tengah mengejar ujian-ujian untuk menjadi asisten dosen di semester lima ini.
Gema tidak mau membuat Mala malah terbebani jadi memilih untuk menjalani hari-hari bekerja sebagai karyawan sekolah, sorenya mengajar senam. Di sela-sela memenuhi panggilan dokter menemani ibunya.
Sudah seminggu Gema berlatih semangat untuk jadi asisten Noval. Noval banyak memberikan ibu jari karena dia cepat belajar dan jujur Gema juga menunggu gaji pertama dari Noval untuk segera memutar hidupnya dan ibu sehari-hari. Karena gaji dari sekolah juga sudah habis untuk urusan rumah sakit.
“Ma, kok bengong sih? Hari ini banyak bengong deh!” Noval kali ini menegurnya, tapi memang Gema kepikiran akan tawaran Dokter Toni yang merawat ibundanya, untuk seminggu ini memikirkan kemoterapi atau mendiamkan kanker menggerogoti tubuh ibu yang sangat dicintai.
“Gemaaaa! Ayo rubah gerak!” kembali Noval menyentaknya di musik yang memacu semangat untuk gerak senam malah Gema banyak diam.
“Maaf Mas, aku mundur dulu,” Gema memutuskan untuk istirahat dan meminum air mineral yang dibawa dari kantor.
Tersisa setengah jam dari melatih dan Noval langsung menghampiri Gema. Kebetulan Rani sedang kesakitan datang bulan pertama, jadi absen sore ini.
“Kamu pasti ada yang sedang dipikirin lagi, masih tentang siapa tuh… Dirga?” Noval mencoba memancing Gema yang tampak muram.
“Ah Dirga ke laut sudah! Dia sudah tidak peduli aku apapun yang terjadi. Mau aku hidup atau mati sekalian tidak akan peduli! Yang ada di otaknya cuma buah dada dan...”
“Stop Gema, rugi kamu mencaci maki dia, nggak ada orangnya! Kalau ada sekali kamu bertemu dengannya… nah waktunya kamu lampiaskan segala amarah kamu padanya. Tapi Ma apa yang buat kamu sekarang sangat muram? Kamu sudah dua minggu ini sangat semangat berlatih, bahkan kamu mulai mengalahkan pamor aku. Lihat semua suka kamu ajarin para gadis, ibu-ibu, mas-mas dan bapak-bapak. Kau lebih supel dan sabar melayani mereka, sementara aku mungkin terlalu cuek dan dingin terkadang, walau yah aku sudah mencoba tetap ramah tapi namanya pembawaan pasti beda.”
“Hmmm ya aku suka dengan kerjaan yang kamu percayakan padaku Mas Noval, terima kasih. Aku sedang kepikiran Ibuku yang harus kemoterapi seminggu lagi. Aku dari mana biayanya? Semua tabungan aku hasil bekerja bertahun-tahun sudah habis, tapi tidak membantu banyak untuk kesembuhan Ibuku. Dan sekarang aku benar-benar harus bisa mengambil keputusan apakah Ibuku dikemoterapi atau aku menyerah membiarkan beliau meninggal perlahan-lahan dengan kesakitan. Bagaimana aku harus mengatasi ini semua sendiri?”
Noval terdiam memikirkan hal yang mungkin saja akan Gema setujui walau salah. Hanya saja tetap itu sebuah pekerjaan. Apalagi ini demi orang yang sangat dicintai.
“Ma, aku mau terbuka banyak hal dengan kamu. Dan aku yakin kamu orang yang bisa aku percaya. Nanti di rumah aku ceritakan.”
Gema memilih diam dan mengekor mobil Freed putih milik Noval dengan Scoopy-nya di belakang.
Kali ini Gema yang membuatkan cokelat panas buat berdua dan kue kering kestengel dan kacang madu menemani cokelat panas yang pas takarannya.
“Ma aku juga bukan orang bersih, beberapa tahun lalu aku sebelum dapat pekerjaan dan punya sambilan sebagai pemilik sekaligus traineer di pusat kebugaran DeherFit aku orang yang sangat susah. Aku dilahirkan dari dua orang tua yang nggak jelas, entahlah aku juga sudah tidak mau berpikir mereka di mana. Aku besar oleh orang tua yang menerima aku dari bayi di depan rumah mereka. Dan sampai sekarang tidak tahu siapa yang membuat aku berada di dunia. Nggak pentinglah! Yang jelas aku berjuang keras dalam hidup, aku terbiasa kerja agar bisa jadi sarjana. Suatu saat semester empat aku butuh banyak dana dan aku ketemu Bunda Sasa. Hmmm Bunda Sasa itu istri seorang konglomerat dan dia juga punya perusahaan sendiri, pokoknya orang yang sangat kaya. Sayang dia sangat kesepian karena tidak punya anak dan suaminya juga sibuk bisnis dan wanita- wanita yang bisa membuatnya bahagia. Kasihan sekali Bunda Sasa sebenarnya, aku ketemu di pusat kebugaran DeherFit yang ternyata milik beliau dulu tapi sekarang sepenuhnya milik aku karena kebaikan beliau. Aku bekerja dari jadi sopir, bodyguard-nya, tempat curhat dan jujur pernah juga saat dia putus asa meminta dicarikan pria-pria yang melayani secara seksual, maaf… tapi entah kenapa aku nggak tega.”
Sesaat Noval terdiam, sepertinya inilah hal terberat yang pernah menorehkan jalan hitam dalam hidupnya. Gema sempat merinding juga tapi sangat menghargai keterbukaan yang dilakukan Noval padanya.
“Aku bisa menebak, Mas Noval yang menyerahkan diri kan buat Bunda Sasa?” Gema menembak.
Dan benar! Noval mengangguk sambil merapatkan bibirnya. “Dan aku mendapatkan banyak materi, banyak sekali sampai aku membuat kedua orang tua angkatku bahagia dengan rumah baru dan kendaran layak. Sementara aku diberi DeherFit yang kini aku kelola. Dan Bunda Sasa paham kalau aku melakukan itu bukan karena sekedar materi, yang terdalam di hatiku adalah rasa kasihan. Aku sadar tidak selamanya aku begitu dan Bunda Sasa juga paham.”
Gema mengangguk-angguk mencoba meraba ke arah mana perbincangan ini.
“Ingat beberapa waktu lalu saat Bunda Sasa menegur aku kalau susah mencari pengganti seperti aku, aku melihat di mata beliau ada ketertarikan dengan kamu Ma. Jujur mungkin ini jalan salah tapi kamu tidak ada pilihan, Ibu yang kamu cintai butuh banyak biaya, aku yakin Bunda Sasa dengan senang hati akan menolong kamu,” Noval menatap Gema.
Dan Gema paham, jadi inilah solusi yang Noval tawarkan. Gema bingung tapi memang tidak ada pilihan terbaik, teringat wajah ibu yang paling dicintai kesakitan. Apakah dia tega membiarkan ibunya mati pelan-pelan dengan rasa sakit yang teramat sangat.
“Mas Noval tolong bantu aku, aku mau melakukan apapun demi Ibu. Setelah Ibu sembuh aku akan berhenti seperti dirimu yang bisa mandiri maka harus lepas dari sebuah petualangan, bukan begitu?” Gema meminta jawaban jujur dari mulut Noval.
“Ya betul Ma, tapi kamu harus jujur dengan Bunda Sasa, ini kamu lakukan demi Ibu kamu. Maaf aku tidak bisa kasih solusi lain. Kalau mau sekarang aku teleponin Bunda Sasa dan kita tunggu dia punya waktu kapan. Bagaimana, kamu siap?”
“Aku siap, apapun demi Ibu. Terima kasih Mas Noval,” Gema menarik napas panjang.
Sudah terpikir vonis kejam kanker ibu dan petualangan yang akan dilewati.
***

Other Stories
Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Download Titik & Koma