Jangan Percaya Lelaki
Setelah terlelap karena pijatan Gema yang menidurkan, Mala kembali berpacu dengan diktat-diktat kuliah, dan hubungan dengan Aras baik-baik saja. Hubungan cinta yang datar tidak terlalu meletup-letup dan juga adem tidak ada masalah. Semua tampak berjalan baik-baik saja.
Frekuensi bertemu dengan Gema juga semakin sulit, semester empat Mala memutuskan memenuhi 24 SKS maksimal diambil. Mala mengejar kelulusan empat tahun dengan nilai IPK yang tentu saja maksimal.
Mala semakin dewasa dan matang memahami mamanya yang banting tulang demi dirinya. Sadar mamanya adalah satu-satunya sosok yang harus dibahagiakan dengan prestasi kuliah yang bagus, cukup membuat mamanya tenang bekerja dan tidak mau bersikap yang nggak-nggak juga dalam menjalin hubungan dengan Aras.
Mala menciptakan ritme hidupnya dalam koridor yang semestinya dan tenang. Aktivitas karate hanya sebagai olahraga menjaga kebugaran, waktu sisanya adalah dedikasi kuliah dan mengejar kesempatan menjadi asisten dosen agar bisa meringankan beban mamanya.
Semester enam adalah kesempatan untuk bisa menjadi asisten dosen makanya Mala mati-matian mengejar IPK mendekati 4.
***
“Apa, dikeroyok orang? Dimakamkan sore ini?” Mala merasa lemas, baru saja Mbak Anis, kakaknya Gema mengabarkan kalau bapak mereka tewas dalam pengeroyokan.
Kak Anis yang mengabari Mala karena Gema sibuk berurusan ke pihak kepolisian dan juga pemakaman. Mbak Anis tidak mau Mala menyesal tidak datang saat pemakaman bapak sahabat dekat dari kecil.
“Mbak Anis aku sekarang juga pulang ke Purbalingga, tunggu ya. Mbak Anis yang tabah ya. Salam buat Ibu Elok, aku ikut bela sungkawa.”
Ada satu mata kuliah tambahan seharusnya karena dosen terbang pukul 14.00 tapi Mala memilih untuk absen dan segera memacu mobil Jazz-nya pulang ke Purbalingga.
Ternyata benar rumah Gema sudah ramai banyak pelayat. Sekilas Mala melihat Gema yang baru selesai salat di dekat jenazah bapaknya.
“Ma...”
Mala langsung memeluk tubuh bidang Gema yang biasanya kekar sekarang tampak nyata kalau Gema agak kurus, ditambah dengan duka meninggalnya bapak yang kabarnya akibat pengeroyokan. Entah apa yang diperbuat bapak Gema sampai dikeroyok banyak preman dan meninggal mengenaskan.
“Mala...”
Mala langsung membawa Gema ke kamar yang dulu menjadi tempat biasa mereka ngobrol dan bercanda apa saja, tapi kesibukan menyita membuat jarak dan waktu tidak bisa terlewati sedekat waktu lalu.
Dan saat ini Mala hanya bisa memeluk Gema untuk melepas kepergian bapaknya. Mala tahu hubungan Gema dengan bapaknya adalah hubungan yang sangat buruk.
Analisa Mala bahkan kelakuan Gema yang seperti cewek karena tekanan psikologis bapaknya yang selalu mengejek dirinya seperti cewek, seorang bapak yang bukannya mengarahkan hal yang salah bila ada kelakuan yang ganjil pada anaknya malah sebaliknya.
Sikap almarhum bapaknya Gema selalu memojokkan Gema yang memang lemah lembut. Bapak Gema selalu marah-marah bila Gema selalu lamban diminta tolong, selalu menghardik, “Aduh kaya cewek! Aduh kamu tidak bisa bersikap seperti cowok!”
Selalu berulang dan berulang memaki, mengintimidasi dan memperlihatkan kekecewaan akan kondisi Gema yang terlahir laki-laki melankolis hingga cacian, hardikan terus saja dilakukan sampai Gema dewasa.
Ada benarnya setiap perkataan orang tua adalah doa, dan kenyataan Gema bukannya membaik menjadi pria yang semestinya tapi malah bersikap seperti wanita, kalau sekilas tidak kelihatan tapi semakin diamati maka akan kelihatan. Mala tahu persis.
Belum lagi almarhum yang semasa hidupnya selalu mengamuk dan menyiksa Ibu, Mbak Anis dan Gema semakin mewujudkan sosok laki-laki adalah sosok yang menyebalkan dan Gema memilih dirinya untuk menjadi wanita.
Mala tidak tahu kalau Gema selalu membenci laki-laki tapi tidak dengan lelaki yang saat ini dekat dengannya.
Lelaki yang sekarang juga tengah menelepon Gema untuk menyatakan bela sungkawa. Dirga tidak mau menampakkan dirinya di tengah suasana duka keluarga Gema, Dirga yakin kehadirannya hanya akan memperkeruh suasana hati Gema yang tengah berduka.
Sesungguhnya Gema ingin sekali Dirga hadir, tapi baru saja Dirga mengatakan tengah di bandara mendadak dia harus berangkat ke Bali untuk mengikuti konferensi employee attitude yang dikirim perusahaannya.
Lagi pula kalaupun Dirga datang malah akan memperkeruh suasana hatinya karena Gema juga tidak akan bisa menunjukkan rasa rindu pada Dirga. Semua akan tahu, orang-orang terdekat dalam hal ini keluarga yang sedang melayat akan tahu penyimpangan dirinya dan ini akan menjadi omongan lebih mengerikan setelah mereka iba ikutan bela sungkawa atas kematian bapaknya yang dikeroyok.
Senja kelabu hujan turun deras setelah selesai pemakaman bapaknya Gema, Mala yang memakai kerudung hitam memilih tetap selalu dekat dengan Gema yang sesekali tampak sangat lemas, apalagi saat bapak yang dibencinya masuk ke liang lahat. Sebenci apapun tapi tetap pasti kematian menyisakan kepedihan, itulah yang Gema alami.
Semakin dewasa Gema semakin tidak menyukai bapaknya yang semakin tidak jelas dalam keseharian. Bahkan sampai kematian yang memalukan juga sebenarnya karena dikeroyok oleh preman.
Pastilah preman itu mengeroyok karena ada alasannya. Dan tadi Gema diberi tahu oleh pihak kepolisian kalo ini masalah utang-utang bapaknya yang sudah menumpuk sampai jutaan yang habis di meja judi dan menyulut amarah para preman karena sikapnya yang sombong.
Gema benar-benar lemas saat tadi sekilas rekonstruksi dan akan Gema hadapi lagi besok-besok setelah pemakaman dan berkabung dianggap cukup untuk menuntaskan kasus kejahatan preman.
***
“La... Bapak tewas dikeroyok preman, tadi menurut pihak kepolisian Bapakku terlibat banyak utang karena main judi dan parahnya Bapak malah mengejek para preman, membuat mereka marah sekalianlah Bapak dihajar sampai mati.”
Gema menarik napas panjang dan memilih duduk selonjoran di kamarnya. Mala mengelus punggung Gema.
“La aku... aku meskipun bermusuhan dengan Bapak tapi rasanya nyesek sekali, aku belum sempat membuat Bapak bangga akan diriku dan aku belum sempat membuktikan kalau aku juga bisa menjadi anak kebanggaan,” mendung di wajah Gema membuat Mala ikut sedih.
“Yah sabar Ma, kita tidak tahu memang nasib setiap manusia, kita hanya bisa mengikhlaskan kalau ini adalah takdir Allah. Lihat Ibu kamu lebih tegar Ma, makanya kamu juga harus setegar Ibu Elok dan kamu sekarang adalah kepala rumah tangga menggantikan almarhum Bapak, maka bersikaplah sebagai lelaki dewasa yang bertanggung jawab Ma.”
Kalimat nasihat Mala benar-benar mengena hatinya. Mala seakan mengingatkan akan dirinya yang harus menjadi lelaki tulen. Bagaimana Gema akan bercerita akan kisah cintanya tentang Dirga pada Mala kalau sekarang jelas Mala menekan dirinya untuk jadi laki-laki yang bertanggung jawab.
“Iya La aku akan berusaha untuk menjadi pengganti Bapak dengan kemampuan aku. Aku pasti akan berusaha,” Gema berjanji pada Mala. Sebuah janji yang merupakan beban tersendiri.
“Ma aku pulang dulu ya, maafkan Mama masih tugas di Jakarta, ada Sales Meeting sampai minggu depan jadi nggak bisa layat. Tadi Mama titip salam saja.” Mala ikut melonjorkan kaki dan tidur terlentang di samping tubuh Gema. Hari yang melelahkan sekali.
Berdampingan Gema dan Mala saling menatap lama, hampir tiga bulan terakhir mereka tidak ngobrol dan sekarang ketemu karena bapak Gema meninggal.
Mala terkesima dalam jarak yang sangat dekat wajah Gema benar-benar tampan, entah dorongan dari mana membuat Mala menggerakkan jarinya menyusuri wajah Gema. Mengelus alis tebalnya turun ke hidung mancung dan berhenti saat sampai di bibir.
“Ma kamu tuh sempurna sekali, wajah kamu sangat tampan, pasti di luar sana sudah banyak cewek yang patah hati dengan kamu,” Mala menekan bibir Gema dengan jari telunjuknya dan menatap tajam.
Apa yang ada dalam ingatan Gema saat Mala mengagumi wajahnya adalah sama dengan yang Dirga lakukan. Sayangnya debaran karena sentuhan Mala hanya menghasilkan degup biasa, lain saat Dirga yang menyentuhnya.
Sesaat Gema terpejam dan apa yang barusan Mala katakan memang benar adanya. Ada banyak cewek di luaran sana yang suka pada fisiknya, sayang hati Gema tidak bisa berpaling dan saat ini satu-satunya lelaki yang dicintai tetaplah Dirga.
***
Dalam kehidupan selalu saja ada kehilangan, setelah tiga bulan bapak Gema meninggal dengan meninggalkan urusan-urusan kepolisian yang menyesakkan dada Gema.
Bersyukur setelah pemakaman, Dirga secara tersembunyi menemui Gema, sementara Tiara sedang sibuk dengan salonnya. Mereka bisa saling melepaskan rindu.
Gema bisa bernapas lega setelah mencurahkan kesedihan hatinya pada Dirga dan Dirga sepenuhnya sangat melindungi juga menenangkan.
Tiga bulan setelah kematian bapaknya, Ibu Elok tiba-tiba sakit dan ternyata divonis mengalami kanker rectum.
Baru saja bapaknya berlalu dan sekarang ibu yang paling Gema sayangi karena selama ini beliau tidak pernah memarahi bahkan memaki seperti almarhum bapaknya, sakit parah.
Ini sungguh menakutkan bagi Gema, bayang-bayang kehilangan orang tua untuk kedua kalinya mengagetkan dirinya yang tengah melamun memegang hasil laboratorium rumah sakit ibunya.
“Ma kamu dipanggil KepSek tuh,” Rani, sesama pengurus administrasi yang sebenarnya naksir berat Gema mengageti Gema yang tengah melamun.
“KepSek, aduh pasti teguran lagi, aku buat kesalahan apa lagi ya Ran?” Gema mendadak pucat, beberapa hari ini memang pikirannya kacau balau karena seminggu ibunya merintih kesakitan menahan sakit di bagian perut ke bawah.
Ternyata beliau divonis kanker rectum dan terapi yang harus dilakukan adalah kemoterapi. Biaya dari mana harus dicari? Gema benar-benar pusing kepala.
“Mas Gema, beberapa kali Bapak mendengar keluhan dari bu guru wali kelas karena kesalahan kamu dalam meng-input beberapa data. Dan ini kelihatannya sepele tapi akibatnya fatal. Kaya kesalahan input nilai, terus kemarin uang SPP, juga ini sangat berbahaya Mas. Jadi ini adalah Surat Peringatan yang Bapak berikan pada Mas Gema agar menjadi peringatan Mas untuk bekerja lebih konsentrasi lagi.”
Lemas badan Gema mendengar teguran dari Bapak Jarot selaku Kepala Sekolah SMU Merdeka tempat Gema empat tahun ini bekerja.
“Mas Dirga kita bisa ketemu nggak? Aku kacau banget nih...” Gema menelepon Dirga.
“Halo... haloo Gema, kamu di mana?” suara Dirga seperti mencarinya, tapi tak ada respons.
“Mas Dirga halo... halo...” Gema berusaha menelepon lagi. “Tut... tut... tut...”
“Hmmm...” Gema hanya bisa menghembus napas. Pasti mas Dirga lagi sibuk dengan urusan kantor.
Gema mencoba menghubungi Mala tapi dari tadi handphone Mala juga sibuk terus, sepertinya memang tidak diaktifkan, di-BBM juga pending terus.
Gema memilih ke rumah Dirga untuk merapikan seperti biasa, berharap tidak ada Tiara yang suka ikutan mengatur saat dirinya asyik menata rumah mungil Dirga yang semakin manis karena terurus kembali oleh dirinya. Dan Dirga tahu persis hanya Gema yang membuat rumahnya kembali nyaman dengan segala tatanannya.
Tiba-tiba Rani menabraknya dan tas ransel Rani jatuh.
“Aduh Rani hati-hati dong kalau jalan!” Gema melotot sambil mengusap lengannya yang tertabrak gembolan tas ransel Rani.
“Aduh maaf-maaf, iya nih aku ditunggu personal trainer fitness, eh kamu ikutan aku aja, ayo!” Rani tahu-tahu sudah menarik badan Gema dan Gema tidak bisa menolak ajakan Rani ke sebuah tempat kebugaran.
Dan sekarang Gema tengah melihat Rani yang asyik melakukan trade mill dan memakai beberapa alat dengan seorang pria yang tampan dan badannya luar biasa keren.
Pria tersebut sangat tenang dan sabar mengajari Rani yang centil dan sesekali memelototin cowok bernama Noval, yang ternyata personal trainer fitness.
Saat berisitirahat, Rani mengajak minum Gema di cafe dekat pusat kebugaran sambil melihat senam yang ternyata Noval juga yang memimpin.
“Ma, keren banget ya Noval, kamu tuh juga setampan dia lho. Makanya aku ajakin kamu ke sini siapa tahu kamu bisa kaya Noval, jadi pelatih senam dan juga personal trainer fitness. Siapa tahu kan kamu ada karier di sini,” Rani yang sedang diet ternyata setelah fitness tetap saja menyantap brownish cokelat dan es teler.
“Aku kaya siapa? Novan?” Gema pura-pura mengganti huruf L menjadi N, nggak enak saja sama Rani yang sempat mengejar dirinya kelihatan antusias dengan Noval.
“Ihh namanya Noval! Bukan Novan! Ngawur ganti nama orang, nanti disuruh buat bubur merah putih lho,” Rani menyantap brownish-nya lahap dan berlanjut es telernya.
“Kenapa kamu nggak ikut senam saja kaya Mbak-Mbak dan Ibu-Ibu itu?” kata Gema sembari mulai menyantap bakso uratnya.
“Hmmm… bulan depan aku mau ikutan senam saja, cape juga mengejar Mas Noval, orangnya dingin banget hihihi. Yah ketahuan deh kalau misi aku fitness selain menguruskan badan juga ingin dapat pacar kaya Mas Noval,” Rani dengan cuek terbuka pada Gema.
“Dasar kamu Ran, gagal menggaet aku sekarang personal trainer-mu ya haha ha... kamu pasti terobsesi aku ya, buktinya kamu cari yang tinggi besar juga dan manis.”
Gema pura-pura meledek Rani agar Rani tidak curiga kalau hatinya juga berdebar melihat ketampanan Noval yang tengah menjadi instruktur senam, dan sekarang tengah dikerubuti para cewek-cewek yang bermacam-macam lagak.
Gema tahu cewek-cewek itu cari perhatian Noval yang dingin tapi tetap melayani para kliennya dengan sabar dan tetap tersenyum, bahkan sesekali tertawa lebar ketika para cewek peserta senam colek-colek badan Noval yang padat dan keras.
Tampak tercetak tubuh Noval yang bidang dan six pack, jujur membuat desiran halus di dadanya yang sulit diterjemahkan. Rani tampak berdecak-decak kagum tanpa ada maksud menutupi kekagumannya pada personal trainer-nya.
“Duuh Mas Noval kereen banget deh! Dia lulusan hukum lho dan sekarang kerja di sebuah organisasi swasta yang berhubungan dengan hukum-hukum gitu Ma. Pokoknya kereen, masih sempat aktif di fitness dan senam. Kita pernah main ke rumahnya pas ngumpul aja, bagus dan rapi, banyak sekali berjejer piala dan piagam penghargaan.”
Rani cerita panjang lebar tentang Noval yang diam-diam memang Gema ingin tahu tentang pria tampan dengan tubuh six pack dan setiap tersenyum sederet gigi putih benar-benar menawan hati setiap kaum hawa.
“Tapiii sayaaang... hiks... dia sepertinya nggak mau dekat dengan cewek,” tiba-tiba Rani merasa putus asa.
“Maksud kamu apa?” Gema jadi penasaran dan berharap tidak jelas.
“Iya dia sepertinya nggak antusias ama cewek lho. Padahal banyak yang suka pada Mas Noval tapi ya gitu, dia cuma baik saja tapi tidak mau lebih. Seperti aku nih naksir dan aku udah keluarin sinyal-sinyal suka, tapi dianya dingin saja. Aku jadi malu sendiri deh!” Rani menyeruput es telernya dengan emosi.
“Sabar, itu berarti kamu harus sabar Ran,” Gema menghibur Rani yang sedang memandang Noval yang menerangkan beberapa gerakan senam pada cewek-cewek ber baju senam yang seksi dan mengitari dirinya.
“Iya sih, eh Ma kamu ikutan fitness saja. Tubuh kamu tuh udah bagus banget lho! Tinggal dibentuk jadi six pack dan dijaga kebugarannya. Kamu bisa kok belajar banyak di sini, yah... siapa tahu kamu bisa kaya Mas Noval, meskipun kerja kantoran masih bisa punya kerja sambilan jadi pelatih senam dan personal trainer. Asyik lho, sehat dan menyenangkan!” Rani semangat mengajak Gema untuk gabung dengan kegiatan olahraga yang tengah digemarinya.
“Memang bisa ya?” Gema jadi tertarik.
Memang dia penasaran juga untuk bisa jaga kebugaran tubuhnya. Sesaat beban hati karena ibunya tengah sakit terlupakan sesaat, barusan omongan Rani mengingatkan dirinya yang butuh ekstra uang pemasukan pastinya untuk menyokong pengobatan ibunya tercinta yang tidak sedikit biaya berobatnya.
Kembali terngiang-ngiang untuk ibunya segera dikemoterapi secara bertahap sebulan sekali sebanyak empat kali. Dan biayanya sangat besar, untuk mendapatkan uang puluhan juta bekerja dengan hanya sebagai staf biasa lulusan SMU di sebuah instansi sekolah SMU mana cukup.
“Iya sih aku butuh pemasukan tambahan Ran, Ibuku harus dikemoterapi karena kanker rectum-nya sudah parah,” Gema menarik napas panjang.
“Ya ampun Ma, beban kamu begitu berat ya. Belum lama Bapak kamu meninggal sekarang Ibu kamu juga sakit parah,” Rani ikutan prihatin.
“Eh Mas Noval kemari, pasti dia ada perlu dengan aku.”
Wajah Rani sangat cepat berubah, baru saja mengatakan prihatin akan keadaan Gema tiba-tiba melihat sosok Noval mendekat langsung berubah sumringah.
Dan jantung Gema berdegup kencang ketika sosok rupawan tersenyum juga pada dirinya.
“Mas Noval ini temen kantor aku namanya Mas Gema. Mas Noval kemarin-kemarin sempat ngobrol cari teman untuk tandeman mengajar senam kan?” Rani bertanya akan orang yang sedang dibutuhkan untuk asisten Mas Noval di beberapa hari lalu.
“Hmm iya aku belum dapat Ran, kenapa, ada calon?” Mas Noval balik bertanya sambil mengusap keringat yang bercucuran dengan handuk kecil di pundaknya.
“Gini lho, Mas Gema ini teman kerjaku juga di sekolah lagi butuh kerjaan tambahan Mas, soalnya Ibunya divonis kena kanker rectum dan harus mulai kemoterapi. Dia butuh banyak uang jadi coba deh Mas Noval ikutan bantu sahabatku ini dengan memberi kesempatan dia belajar untuk jadi instruktur seperti Mas Noval.”
“Kanker? Wah itu butuh biaya gede banget pastinya Ran. Dan kurasa meskipun dobel kerjaan juga belum tentu bisa buat meng-cover biaya operasi, kemoterapi dan obat-obatnya,” Mas Noval memandang wajah Gema dengan prihatin.
Gema tidak menyangka tatapan Mas Noval begitu prihatin terhadap kondisi dirinya yang baru saja dikenalnya. Bahkan tiba-tiba menatap Gema dengan bibir dan dahi yang dikerutkan memikirkan sesuatu.
“Baiklah aku akan memikirkan terlebih dahulu. Gema kalau boleh kita bertukar nomor telepon, nanti aku pikir matang-matang untuk merekrut kamu menjadi asisten aku. Soalnya memang aku butuh seorang asisten yang bisa menggantikan aku bila kerjaan kantor pas lagi padat sekali,” Noval memandang Gema serius.
Gema seakan mendapat angin segar, walau dia juga tahu pendapatannya tidak akan cukup untuk menutupi biaya pengobatan ibunya yang besar. Tapi setidaknya ada satu peluang yang harus diambil dan yakin akan ada peluang-peluang lain untuk mengatasi masalahnya.
“Beneran ya Mas Noval bantu sahabatku,” Rani mengedipkan mata genit pada Noval yang hanya disambut dengan senyum dan geleng-geleng kepala.
“Iya Rani aku akan pikirkan, besok sorelah paling telat aku putuskan. Oh ya Ma, berapa nomornya?”
Noval meminta nomor telepon Gema dan sebaliknya Nova ljuga memberikan sebuah kartu nama.
“Ceileee baru kenal udah dapat kartu nama, aku yang sudah berbulan-bulan kenal juga nggak dikasih sampai sekarang,” Rani protes.
“Ampun Rani, inikan urusannya kerjaan bukan main-main, ya pofesional sedikitlah,” Mas Noval menerangkan serius.
“Ih serius amat Mas Noval! Aku bercanda!” Rani tersenyum sumringah.
“Oh ya Ran, Sabtu nanti latihannya dimajuin satu jam ya, jadi jam empat! Soalnya aku ada keperluan dengan klienku di kantor, biasalah masalah-masalah hukum pidana,” Noval menerangkan santai.
“Okay, aku akan ajakin Gema lagi ya! Diterima atau tidak jadi asisten Mas Noval aku tetap ajakin dia untuk olahraga!” Rani tersenyum lebar dengan matanya yang indah memancing Noval dengan kecantikannya. Tapi Noval hanya tersenyum tipis dan santai berlalu dari Rani dan Gema. Tas ransel Noval memunggungi Rani dan Gema lalu hilang di balik pintu ganti.
“Ayo kita pulang! Semoga besok sore ada kabar baik untukmu Ma!” Rani menarik tangan Gema dan berdua memakai motor Scoopy milik Gema meninggalkan pusat kebugaran “DeherFit”.
***
Setelah mengantar Rani, sepanjang jalan diakui Gema tidak bisa melupakan wajah Noval begitu saja. Jujur dia juga jadi merasa bersalah dengan Dirga karena hari ini dia tidak jadi mampir ke rumahnya dan merapikan rumah Dirga seperti biasa.
Mau mampir tapi badannya juga sudah cape, rasanya butuh istirahat. Apalagi kalau dipaksakan mampir kalau ada Tiara, yang ada sudah cape fisik juga akan cape hati. Mendengar perintah-perintah Tiara yang banyak kemauan dan cerita-cerita romantis lebay hubungan dirinya dengan Dirga. Menambah siksaan batin saja.
Tapi memang rasa lelah begitu terasa membuat Gema juga memutuskan untuk tidak mampir ke rumah Mala yang mengirimkan pesan lewat BBM-nya untuk main ke rumah, karena dia lagi pulang dan tidur di rumah.
Gema juga berpikir tidak mau menambah beban Mala bertambah bila dia bercerita akan kesulitan barunya. Apalagi Gema tahu Mala tengah konsentrasi agar semester enam bisa menjadi asisten dosen.
Kalau dirinya bercerita tentang biaya yang besar untuk ibunya akan menambah beban Mala saja dan membuat Mala berpikir untuk bisa membantunya akan kesulitan uang yang tengah membuat dirinya takut. Gema berharap besok ada kabar dari Noval untuk menerima dirinya menjadi asisten pelatih senam.
Gema membalas BBM Mala:
“La maaf ya aku habis lembur cape banget, besok-besok ya aku main. Nice sleep.”
BBM Mala :
“Yah aku kangen cerita-cerita, tapi ok next time ya ada waktu buat aku.”
BBM Gema :
“Pasti Darling.”
Dan saat Gema pulang, ibu sedang terlelap di kamarnya. Sekarang di rumah ini tinggal dirinya dan ibu karena Mbak Anis sudah ikut suaminya ke Kalimantan.
Gema memandang wajah ibu yang sangat dicintai, “Gema akan berusaha sekuat tenaga membuat Ibu sembuh dan apapun akan Gema lakukan. Sudah bertahun-tahun Ibu hanya menderita karena Bapak yang selalu menyiksa kita dengan kekasarannya. Gema janji akan lakukan apapun untuk kesembuhan Ibu.”
Gema membelai kepala ibu dan membuat ibunya terbangun. “Kamu sudah pulang Ma?”
“Sudah Bu, doakan Gema dapat kerjaan tambahan ya Bu.”
Gema tersenyum lembut pada sosok yang amat dikasihinya ini. Selama ini ibunya selalu membela saat bapak mengatakan menyesal punya anak laki-laki tapi banci. Ibunya selalu menguatkan kalau itu tidak benar. Kalau Gema adalah lelaki sejati dan akan dibuktikan suatu saat.
Jujur keyakinan ibunya akan sebuah pembuktian juga menjadi beban tersendiri buat Gema karena dirinya tidak yakin akan bisa berubah, sudah terlalu lama dia merasa menjadi seorang yang berseberangan gender.
Sebuah kenyamanan yang tercipta semenjak kecil, semenjak doktrin dan amarah bapak membuat hatinya tersiksa bila harus menjadi sosok lelaki seperti almarhum bapaknya yang menakutkan. Menjadi sosok lelaki bukan hal yang membanggakan menurut Gema, tapi membuat dirinya tersiksa. Sebaliknya dia ingin menjadi wanita yang lemah lembut saja seperti ibunya.
“Kamu sudah makan Ma?” kembali Ibu Elok bertanya pada Gema yang tengah melamun.
“Sudah Bu, tadi sama Rani di kantin.”
“Oh Rani teman kantormu yang cantik, Ibu suka dengan anak itu. Baik sekali ya seperti juga Mala.”
“Iya Bu,” Gema tersenyum mengangguk-angguk mengingat dua sahabatnya, tapi jelas Mala tetap lebih spesial di hati Gema. Dan gema merindukan Mala yang terakhir bertemu saat pemakaman bapaknya.
Besoknya Gema hampir setiap ada kesempatan memandangi handphone-nya, berharap ada kabar dari Noval untuk keputusan dirinya diterima sebagai asisten. Kemarin Noval menjanjikan akan memberi kabar paling telat adalah sore hari.
Tapi sudah jelang pukul 16.00 belum juga ada kabar dari Noval akan keputusan diterima tidaknya.
Gema memutuskan untuk ke rumah Dirga. Dan benar, baru dua hari dia tidak ke rumah Dirga sudah tampak berantakan.
Ada beberapa kertas yang berserakan di dekat printer. Entah kenapa hati Gama berdebar lebih cepat
melihat sekilas kertas-kertas cetakan yang kusut.
Dan ternyata sepertinya waktunya tiba, setengah tahun kembali membaik hubungannya dengan Dirga sekarang jelas apa yang ada di tangan kanannya adalah hasil kertas cetak dari printer sebuah undangan pernikahan.
Belum bisa mengatasi hatinya yang tengah berdegup kencang, dari arah belakang Tiara menyapa dengan centilnya dan mengguncang bahunya dengan keras.
“Gemaaa… lihat bagus nggak desain undangan pernikahan aku dan Mas Dirga?”
Gema benar-benar mati kutu, rasanya kali ini dia tidak lagi sanggup menutupi rasa hatinya yang sangat sakit.
Memang Gema tahu akan datang waktunya untuk dirinya benar-benar melupakan Dirga selamanya. Kemarin-kemarin adalah harapan bodoh yang berulang setelah di waktu lalu jelas Dirga kembali pada Tiara.
Dan bukannya belajar dari pengalaman pertama tapi malah dirinya larut mau saja diduakan dengan Tiara. Sekarang kenyataan Tiara sudah menunjukkan cetakan undangan yang lengkap dengan waktu dan tempat pernikahan mereka.
“Hai Ma, gimana kereeeen sekali kan undangan aku dan Mas Dirga?” kembali Tiara membuat hatinya terasa disayat-sayat.
Tanpa memedulikan Tiara yang berteriak memanggilnya karena Gema begitu saja berlari meninggalkannya, memacu Scoopy-nya kencang-kencang dan membiarkan air matanya meleleh adalah hal yang paling pas memuaskan rasa sakit hatinya.
Sementara handphone Gema berbunyi tak terdengar karena hatinya kacau balau. Gema memutuskan untuk sejenak menenangkan hatinya di taman kota. Scoopy-nya menepi dan Gema memasuki sebuah warung pinggir jalan yang menyediakan wedang jahe hangat, teh manis, jeruk hangat dan es jeruk dengan hidangan berbagai gorengan.
Warung tenda ini hanya memakai lampu teplok remang-remang jadi tidak ada orang yang peduli dengan matanya yang sembap. Dan tidak akan ada yang tahu dirinya menyepi di sini.
Gema mengecek telepon genggamnya dan ada tiga panggilan tak terjawab, semua dari Noval.
Gema bergegas menelepon balik, tapi gantian tidak diangkat. Gema mengirim SMS kalau dirinya sedang berkendara motor jadi tidak mengangkat panggilannya.
Ternyata Noval membalas SMS Gema kalau besok mengajak ketemuan di cafe Purple Orchid untuk membicarakan kerjaan.
Gema melonjak sesaat, baru saja hatinya terpuruk tapi juga ada kabar baik untuk mendapat kerjaan sampingan.
Tapi kembali hatinya menangis karena dia harus benar-benar merelakan Dirga untuk Tiara. Tadi jelas tercetak nama lengkap Dirgantara dan Aneke Tiara di undangan yang sengaja di-scan dan di-print oleh Tiara.
“Kenapa kamu tidak menceritakan kalau bulan depan kamu menikahi Tiara? Kenapa Dirga?”
Kini Gema sudah di kamarnya dan menatap langit-langit kamar dengan hati yang sakit dan gundah gulana.
Sementara sama sekali Dirga tidak menghubunginya, mungkin saja Dirga sudah tahu dari Tiara kalau dirinya kabur begitu saja setelah tahu undangan yang sudah ada di tangan Tiara. Dan sekarang mungkin tengah bingung harus ngomong apa lagi kepada dirinya, semua memang akan ada akhirnya.
Gema tahu kalau harapan yang menguatkan kemarin hanya fatamorgana, berharap andai Dirga berani mengambil keputusan berseberangan dengan kemauan orang tuanya yang ingin menikahkan dirinya dengan Tiara karena menginginkan cucu untuk mewarisi kekayaan mereka.
Gema tertawa sendiri seperti orang gila, mengutuki dirinya yang mau saja kembali pada Dirga setelah jelas Dirga memilih kembali pada Tiara di waktu lalu. Tiara yang sempat Dirga maki-maki dengan sumpah serapah karena meninggalkannya dan kembali pada pacar pertamanya.
Bodohnya dirinya mau kembali menjalani hubungan hati dengan Dirga, bahkan menerima menjadi orang ketiga karena nyatanya Tiara masih saja ada di antara mereka.
Tentu saja Dirga tidak ada pilihan karena Tiara adalah menantu yang diharapkan mami dan papinya.
Gema berusaha memejamkan matanya yang terasa sangat sakit karena mengeluarkan air mata yang tak bisa dibendungnya. Dan berusaha memejamkan mata untuk tidur berharap ini hanyalah mimpi.
Semakin berusaha memejamkan matanya tapi semakin bayang-bayang Dirga yang selama ini terasa membuat dirinya hidup kembali normal menusuk-nusuk dan sudah seharusnya Gema belajar untuk tidak memercayai makhluk lelaki.
Sadar yang namanya makhluk lelaki hanya membuat hatinya terluka dari almarhum bapaknya yang tidak menyukai dirinya yang dianggap pembawa sial, dan kelakuannya yang membuat dirinya dipanggil ‘Banci’ oleh bapaknya.
Geng Aryo, Budi, dan Deni makhluk laki-laki yang sudah menyiksa dan mengerjai dirinya sejak kecil. Bahkan sampai remaja, kelompok laki-laki ini tega akan menelanjangi dirinya karena mereka curiga dengan jenis kelaminnya.
Mengingat kejadian ini yang merupakan pemerkosaan bila benar-benar mereka berhasil membuka bajunya Gema keseluruhan. Kalau tak ada Mala waktu itu entah apa yang akan terjadi.
Gema jadi teringat Mala yang saat ini sebenarnya sangat Gema butuhkan. Tapi kembali Mala tidak pernah tahu-menahu tentang Dirga dan hanya akan membingungkan Mala saja kalau dia harus bercerita dari awal. Ini tidak adil buat Mala yang hanya akan bingung dan merasa kalau Gema telah jauh meninggalkan dirinya, sementara Mala apapun masih sempat bercerita walau hanya lewat BBM.
Sekarang sempurna sudah makhluk lelaki yang benar-benar membuat hatinya sakit adalah Dirga. Untuk kedua kali melukainya. Lelaki yang sangat dicintai sekaligus sekarang menjadi makhluk yang paling dibencinya.
Memang seharusnya dalam hidup Gema untuk tidak memercayai makhluk yang bernama lelaki. Di manapun makhluk lelaki adalah pecundang. Dan untuk itu Gema tidak pernah mau menjadi sosok lelaki. Dirinya merasa nyaman menjadi sosok perempuan yang penuh ketenangan, belas kasih, kelembutan dan jauh dari kekejaman memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
***
Other Stories
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...