Menyukai Sahabatmu
“Tentu Noval, besok setelah kamu dan Gema mengajar, Bunda akan mampir ke DeherFit dan salam ya buat Gema. Bunda sudah suka dari pertama ketemu Gema sebenarnya Val, dan memang Bunda tengah mencari pengganti kamu,” suara lembut bunda Sasa dari seberang telepon melegakan Noval, setidaknya dia menolong Gema yang tengah bingung memikirkan uang cepat untuk ibunya.
“Ma, salam dari Bunda Sasa, dia memang sudah mengincar kamu sejak ketemu kamu, mungkin ini memang jalan sementara yang bisa kamu lakukan demi Ibu kamu. Aku hanya memberi masukan padamu kalau Bunda Sasa itu sangat baik, dia tidak pernah memaksa aku melayani, tapi memang kemauan aku didorong rasa kasihan dan rasa berutang budi pada beliau, kamu akan seperti aku atau tidak itu terserah kamu Ma.”
“Iya Mas Noval, aku pasrah saja dan mengikuti petualangan ini. Harapanku semoga Ibu lekas sehat dan aku cepat mengakhiri semuanya kembali ke kehidupan normal.”
Noval menepuk bahu Gema dan setelah itu Gema berpamitan dengan sedikit kelegaan karena ada jalan lain terbuka walau jalan gelap yang harus dilewati sepertinya. Saat harus melewati semuanya yang sebenarnya dia juga tidak mau, tapi dalam bersamaan wajah ibunya juga hadir dalam kesakitan. Seketika jalan gelap itu bukan apa-apa demi ibu.
***
Tidak banyak basa-basi saat bertemu Bunda Sasa selepas menjadi asisten Noval melatih senam untuk kelas baru yang terdiri dari sepuluh gadis muda semua.
Bahkan Bunda Sasa menatapnya lekat selama Gema mengajar, agak kikuk juga Gema dipandang Bunda Sasa dan Noval bergantian di sudut yang sama.
Setelah selesai mandi dan menghampiri Noval, Bunda Sasa yang asyik bercanda sangat akrab.
“Ma... Bunda sudah tahu permasalahan kamu, tadi Noval sudah menceritakan semuanya. Ini cek kamu bisa cairkan besok untuk biaya operasi Ibumu, terimalah.”
Gema ragu, tapi tangannya menerima cek dengan agak gemetar saat disodorkan padanya.
Gema terbelalak melihat sebuah angka fantastis yang tertera, lima puluh juta. Hampir mau keluar saja matanya.
“Ini beneran Bunda Sasa?” Gema masih gemetar menerimanya. Bunda Sasa dan Noval tertawa bersamaan.
Gema sendiri bingung apakah ini transaksi gelap yang mulai mengikat dirinya? Tapi sudahlah Gema tidak mau berpikir lebih jauh. Cukup sudah kelelahan hari ini terbayar dengan cek di tangan untuk persiapan ibunya kemoterapi Senin depan.
“Bunda, saya masih kerja di sekolah, saya butuh waktu untuk mengundurkan diri kerja dengan Bunda. Besok saya siap bekerja Bunda, tapi setelah selesai di sekolah bagaimana?” Gema merasa tidak enak dia sudah dapat uang di depan sementara dia sendiri belum ada persiapan mengundurkan diri dan belum ada keberanian juga mengundurkan diri.
“Ga santai saja, kamu jalan apa adanya saja, Bunda paham dengan kerjaan tetap kamu. Bunda setuju kok, kamu kerja setelah urusan sekolah dan DeherFit selesai. Bunda akan menelepon kamu untuk urusan pribadi Bunda.”
Gema mengangguk-angguk.
“Oh Ma, kamu sebaiknya juga cepat belajar setir mobil dan buat SIM, karena sudah pasti kamu harus siap-siap antar Bunda Sasa. Terkadang malam jalan untuk mencari makan malam atau ketemuan dengan klien perusahaannya. Bahkan sepertinya memang Bunda Sasa akan banyak butuh kamu selepas magrib, Bunda Sasa banyak meeting malam hari karena siang beliau sibuk di kantornya yang gak mungkin ditinggalkan.”
“Oh ya?” Gema mendadak ceria, berarti dia tidak perlu mengundurkan diri dari pekerjaan tetap juga sambilan di DeherFit. Benar kata Noval, Bunda Sasa sangat fleksibel dan pengertian.
****
Gema menimang-nimang cek yang ada di tangannya, ibunya sudah terlelap. Sembari mengelus lembut ibunya, tak terasa air matanya meleleh.
“Maafkan Gema harus menempuh jalan ini, ini Gema lakukan demi kesembuhan Ibu,” bisik hati Gema.
Ternyata ibunya membuka matanya sedikit, “Gema baru pulang? Kamu sekarang pulang malam terus. Memang kerjaan di sekolah banyak sekali ya?” tanya Ibu Elok lembut.
“Iya Bu, Gema harus lembur untuk mengejar uang lemburan. Lumayanlah Bu untuk tambah-tambah,” Gema berbohong dan selalu berbohong ke depannya.
“Ma tadi Mala kemari lagi, kamu nggak menghubungi Mala ya dari waktu lalu? Tadi dia juga jagain Ibu tuh, lagi-lagi kamu disisain sate ayam. Katanya ingat kamu yang suka sekali sate ayam Blater,”
“Oh...”
Rasa kangen jelas menyusup di hati Gema, tapi saat ini dia benar-benar ingin menjauh sesaat dari Mala karena jelas dia tidak akan bisa bercerita tentang pekerjaan barunya yang telah menghasilkan uang lima puluh juta di muka sebelum melakukan apapun.
Pasti Mala akan menentang dan kaget sahabat kecilnya telah banyak berubah. Tentu saja bukan karena perilakunya, tapi hal yang lebih jauh. Dan biarlah ini jadi rahasia hatinya dan teka-teki hatinya akan jalan hidup yang tengah ditempuhnya.
“Iya Ibu, kalau gitu Gema mampir ke rumah Mala bentar ya...”
“Iya, ke sanalah sejenak Ma, asal sudah sempat ketemu lalu pulanglah. Kamu dan Mala sudah seperti saudara dan Mala juga sangat sayang dengan kamu.”
Tanpa banyak cakap Gema melangkahkan kakinya ke rumah Mala yang hanya melewati beberapa rumah.
Kamar Mala masih nyala dan pertanda Mala masih terjaga. “Mala! Mala!” Gema mengetuk jendela kamar Mala karena sudah coba ketuk- ketuk pintu depan tidak terdengar.
“Bentar Ma aku bukain...”
Mala segera berlari ke depan dengan memakai baju tidur Hello Kitty-nya.
Dia langsung membuka pintu dan memeluk Gema, “Gemaaaa, ih kamu sombong sekali. Semua SMS, BBM aku jarang-jarang balesnya.”
Mala langsung memberondong dengan amarah, membuat Gema gemas, langsung saja mengacak-acak rambut Mala yang sekarang panjang.
“Ihh kamu La, tambah cantik ya. Aras beneran deh membuat kamu berubah. Kamu nggak kaya anak tomboi lagi,” Gema menatap wajah Mala yang terawat, tidak lagi berjerawat dan dekil karena terlalu cuek dengan wajah dan lebih ngurusin pertandingan-pertandingan karate seperti waktu lalu.
“Nggaklah Ma, aku tetap tomboi cuma memang aku dipaksa nyalon sama Mas Aras, nggak apalah dia yang bayarin kok. Aku asyik-asyik saja, karate tetap cuma buat olahraga dan aku lolos seleksi jadi Asisten Dosen lho. Semester enam nanti aku sambil kerja jadi AsDos.”
Jujur Gema kangen dengan celotehan ramai Mala yang selalu membuatnya tertawa bila cerita sampai monyong-monyong bibirnya.
“Eh kata Ibu kamu sibuk banget ya suka lembur, dan hmmm kamu nggak mau cerita-cerita ya punya kerjaan sambilan baru. Awas kalau nggak traktir aku digaji pertama kerjaan baru,” Mala sudah mengepalkan tinjunya.
“Ih La tega banget sih! Aku lagi butuh banyak uang buat membawa Ibu ke rumah sakit untuk jalani kemoterapi berturut-turut tiap bulan sebanyak empat kali, makanya aku harus ekstra kerja dan kamu tega ya masih minta ditraktir?”
“Gemaaa… traktir aku cukup satu mangkok bakso Pak Min aja masak dibilang tega sih!” kali ini Mala memelototkan matanya dan sudah siap mencubit Gema.
“Iya deh dua minggu lagi ya kita makan bakso Pak Min. Pas Ibuku selesai jalanin kemoterapi dan kita refreshing sejenak.”
Gema tersenyum dan tepuk jidat karena Mala memberi kode untuk dipijat punggungnya.
“Hadoh ini kalau Aras tahu udah malam masih saja minta dipijit, bakalan aku dicincang-cincang,” Gema menggoda Mala yang tampak cuek saja.
Untungnya setengah jam berlalu Mala sudah terlelap, Gema memperhatikan wajah Mala yang semakin manis. Mala banyak berubah empat bulan ke belakang ini, jujur sangat rindu dengan Mala dan sekarang mengapa menatap wajahnya menyisakan sebuah getaran.
“Pasti ada yang salah kenapa melihat Mala aku bergetar ya?” Gema menyelimuti Mala dan mengelus rambutnya perlahan.
Sekali lagi menatapnya tajam dan memang hatinya bergetar.
“Harusnya aku bahagia melihat Mala dan hatiku bergetar, berarti aku tidak sepenuhnya hanya bisa menyukai pria. Tapi ah sudahlah ini pasti ada yang salah, jelas aku tidak bisa menyukai seorang cewek meskipun Mala yang sudah begitu dekat dari kecil.”
Dan Gema memutuskan segera mematikan lampu kamar Mala lalu pulang ke rumah dengan hati yang lebih
ringan. Hatinya begitu riang hari ini, sepertinya beban biaya sudah tidak masalah dan barusan ada debar tidak jelas saat berdekatan dengan Mala yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Apakah ini pertanda dirinya bisa menjadi lelaki normal yang bisa juga mencintai seorang wanita? Dan walaupun itu bukan Mala nantinya karena Mala sudah milik Aras dan Mala murni menganggapnya sahabat yang tidak mungkin dicintai.
***
Hari Jumat waktu seakan pendek, Gema izin dari sekolahan untuk mencairkan cek, lalu menuju rumah sakit untuk memberikan DP guna proses kemoterapi sebanyak empat kali yang akan dimulai hari Senin.
Kemudian balik ke sekolah meneruskan pekerjaan dengan lebih konsentrasi. Lalu sore ke DeherFit, ada kelas yang harus diasistenin karena Noval juga ada urusan kantor.
Baru kelar mengajar senam, ada panggilan telepon dari Bunda Sasa yang meminta ditemani menemui seorang tamu. Dengan menyebutkan restoran dan jam yang harus segera Gema kejar.
Menemani Bunda Sasa hampir selesai pukul 23.00 dan terus terang Gema sudah tidak bisa menyimak diskusi Bunda Sasa dengan seorang klien bapak-bapak seumuran Bunda Sasa yang membicarakan proyek batu bara di Kalimantan. Hanya sesekali terdengar di telinganya adalah laba bisnis batu bara yang bernilai ratusan juta bahkan milyar, pantesan saja uang lima puluh juta sepertinya tidak ada apa-apanya buat Bunda Sasa. Ini baru satu proyek, entah dengan proyek lain. Bahkan proyek fitness dilepas dan diberikan pada Noval. Ternyata Bunda Sasa sangat kaya raya.
Saking capenya, Gema berpamitan untuk menunggu di mobil dan tertidur, terbangun karena Bunda Sasa mengetuk-ngetuk jendelanya.
“Kamu sepertinya cape banget Ma, biar Bunda pulang nyetir sendiri. Kamu nggak apa-apa kan pakai Scoopy kamu selarut ini?”
“Bunda biar aku temani Bunda pulang ya sampai rumah. Maaf aku belum bisa setir mobil, setidaknya Bunda ada temen ngobrol sepanjang jalan. Soalnya sudah sangat malam.”
Bunda Sasa terdiam, memang sih bisa saja dia nyetir, tapi kalau ada orang jahat gimana juga?
“Scoopy kamu gimana?”
“Tadi aku udah titip ke bagian pengaman restoran, besok aku ambil pas jam istirahat sekolah. Lagian Sabtu agak santai nggak apa-apa. Ayo Bun aku temani.”
Dan sepanjang jalan menuju rumah Bunda Sasa rasa kantuk Gema hilang. Ternyata Bunda Sasa memang tahan melek, masih tampak segar dan ceria. Padahal seharian dia ada lima meeting yang sudah dilewati.
Butuh waktu dua puluh menit saja sudah sampai di rumah Bunda Sasa yang sangat besar dan dijaga oleh beberapa satpam.
“Nah Ma, kamu lebih baik naik taksi, ini uangnya. Tunggu sebentar Pak Ujang sudah pesenin taksi. Terima kasih ya, sampai besok,” Bunda Sasa langsung memasukkan mobil ke bagian dalam yang tampak luas parkirannya, dan ada tiga mobil lagi di dalamnya.
Gema menunggu taksi di ruangan satpam yang juga nyaman. Taksi cepat datang dan Gema memilih mengambil Scoopy-nya baru pulang ke rumah.
Besok-besok banyak yang harus Gema lewati dan kerjakan. Gema memperoleh izin dari sekolah untuk mengantar ibunya kemoterapi, tapi tetap cuma teori, kenyataannya tidak bisa. Gema harus meminta tolong tetangganya yang juga seorang janda, Bu Tarmi untuk menemani ibunya yang menjalani kemoterapi. Sungguh ini adalah fase yang berat, setelah dikemoterapi tampak ibunya sangat kecapean, beberapa kali muntah dan beberapa bagian kulitnya menggelap.
Sementara pekerjaan sekolah dan sambilan instruktur senam, belum lagi malam harinya melayanai keperluan Bunda Sasa untuk ketemu rekan kerja, klien atau sekedar teman terus saja jalan.
Noval juga sibuk dan Mala juga tidak kalah sibuk, semua sahabat dekatnya sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka hanya sempat berkabar hanya dengan BBM, dan sesekali Noval menelepon Gema menanyakan kondisi Gema sendiri dan ibunya. Mala juga tidak pernah putus memberi semangat saat ibunya tengah menjalani kemoterapi.
Memiliki sahabat yang perhatian membuat Gema memiliki kekuatan untuk bertahan dan bersemangat menjalani hidupnya. Bahkan ajaib dia tidak sempat memikirkan kembali Dirga yang seminggu lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Tiara.
Tadi undangan berwarna merah jambu sudah diterima,, sama persis seperti yang Tiara print di waktu lalu.
Entahlah Gema belum memikirkan akan datang atau tidak. Dia tengah konsentrasi, enam hari ke depan ibunya menjalani kemoterapi lagi.
Jujur tidak ada rasa takut juga untuk datang ke resepsi Dirga dan Tiara, bahkan kalau bisa dia akan berusaha datang dan berdiri tegar di depan mempelai. Menyelamati mereka lalu menutup semua kenangan tentang Dirga. Tapi nantilah lihat kondisi dulu.
Dan waktu rasanya terus berjalan, melihat ibunya yang kesakitan setiap selesai kemoterapi hari per hari membuat Gema merasa tertekan. Untunglah semua kerjaan berjalan baik dan Bunda Sasa juga tidak meminta hal-hal yang aneh pada dirinya. Meskipun Gema juga harus siap seperti cerita Noval yang memutuskan untuk menyerahkan keperjakaannya pada Bunda Sasa.
Dua belas hari dari waktu kemoterapi ibunya dan hasilnya memang belum tampak sekali, tapi setidaknya Gema sudah mengikuti saran medis dari Dokter Toni.
Menurut Dokter Toni, pelan sekali kerjanya, nanti akan dicek lagi di laboratorium untuk waktu yang tepat mengangkat kanker ganas itu setelah kondisi bunda lebih fit dan kuat.
Gema harus menghemat uang dari Bunda Sasa karena akan ada operasi pengangkatan yang akan dilakukan bila kondisinya sudah stabil, masih butuh satu bulanan memastikan kanker itu mengecil dan diangkat dalam keadaan fit agar tidak membahayakan bagian usus juga yang langsung berhubungan dengan rectum.
Dan Gema bisa sedikit bernapas lega, tiga hari pasca kemoterapi, bunda tampak lebih tenang dan membaik.
Gema jadi ingat Mala untuk mentraktir bakso Pak Min yang memang kesukaan Mala dari sekolah SMU.
“La, sore ya ke DeherFit lalu kita ngebakso, aku free habis ngajar senam,” Gema menelepon Mala.
“Asyik, iya aku udah penasaran dengan tempat kerja kamu yang baru, eh maksudnya yang kedua setelah sekolah.”
Dalam hati Gema menjawab, “Kamu tidak tahu aku masih ada kerjaan ketiga melayani Bunda Sasa, tapi sudahlah ini rahasia hidupku, hanya aku yang cukup tahu.”
Mala datang dengan baju kaos bergambar grup lagu favoritnya, five for fighting dan kaos jeans cut-bray. Gema geleng-geleng kepala, ternyata masih saja terkadang Mala tampil tomboi apa adanya, hanya ada sedikit polesan lipstik di bibirnya mempermanis wajahnya yang tampak tirus.
Mala tampak tirus, sepertinya kecapean. Saat mau jalan, tiba-tiba Noval datang dan langsung menghampiri Gema dan Mala.
“Hai Ma, mau ke mana?” Noval langsung menyapa dan memandang Mala yang tampak manis dan cuek.
“Oh ya La… ini Mas Noval, atasan aku. Kenalan dulu gih! Baik banget deh orangnya, kamu nggak bakalan rugi deh,” Gema berpromosi kaya biro jodoh.
“Oh okay… saya Mala, teman berkelahi Gema Mas,” Mala dengan kocak memperkenalkan dirinya.
“Sa... saya Noval.”
Gema bingung kenapa Mas Noval jadi kaya orang grogi gitu berhadapan dengan Mala. Memang sih Mala karateka tangguh, tapi kan Noval nggak tahu, kok bisa grogi gitu. Aneh.
“Mas Noval kok pucat gitu sih dikenalin sahabat terbaik aku. Ini Mala yang selalu membela aku bila ada anak nakal, pokoknya dia karateka tangguh deh,” Gema menceritakan Mala tanpa berusaha menutupi apapun.
“Oh pantesan tadi salaman genggamannya kuat banget, sampai sakit,” Noval pura-pura menetralisir hatinya. Jujur ada pesona yang membuat dia merasa grogi dengan cewek yang berdiri tegak di hadapannya.
Tinggi semampai, berambut panjang, kulit putih, alis tebal, tatapan mata tajam berdandan natural apa adanya dan baju sportif sepertinya tampak sangat menarik. Apalagi Gema lanjut berceloteh keistimewaan Mala yang sudah mandiri menjadi asisten dosen, baik hati dan tidak pernah sombong juga penolong.
Rasa ingin tahu tentang Mala mendorong Noval yang tadinya hanya ingin menyapa Gema menjadi keinginan untuk gabung makan bakso Pak Min yang ada di pinggir alun-alun.
“Eh daripada jajan gimana kalau kita masak bakso sendiri di rumah aku. Aku ada semua bahan-bahannya, pasti dijamin lebih sedap deh!” tiba-tiba Noval memberikan sebuah saran yang brilliant.
“Terus siapa yang mau masak?” Gema bertanya tolol.
Dan dengan gemas Noval menjewer Gema, “Ya kamuulah!”
“La gimana dong? Bos aku menyuruh aku masakin bakso nih?” Gema tidak ada pilihan. Baru kali ini Noval berani menjewer kupingnya, di hadapan Mala lagi.
Mala tersenyum jenaka sambil mengangkat ke dua tangannya. “Aku sih ikut-ikut aja, lagipula aku ingin santai-santai saja kok, mau di warung Pak Min atau di rumah Mas Noval juga nggak apa-apa,” kata Mala asyik-asyik saja.
“Yah nasib nih jadi koki,” Gema memasang wajah cemberut. Tapi entah kenapa hatinya tiba-tiba diliputi rasa penasaran, kenapa Mas Noval mendadak grogi? Sepertinya dia menyukai Mala. Sangat berbeda sikapnya saat Rani mencoba mendekati Mas Noval dengan antusias, malah Mas Noval semakin menjauhi Rani dan bersikap dingin. Demikian juga yang dialami cewek-cewek lain yang sama nasibnya dengan Rani, hanya dicuekin. Sekarang terhadap Mala malah sangat antusias dan bahkan mengajak Mala berkunjung ke rumahnya. Tapi sudahlah Gema hanya bisa mengikuti kemauan bosnya yang baik hati dan telah banyak menolongnya.
Mala tampak kagum dengan kerapian rumah Noval dan berdecak kagum melihat banyaknya prestasi Noval yang terpajang di ruang keluarga.
Setelah puas berputar, Mala membantu Gema yang asyik membuat bakso instan, dan harumnya mengundang selera. Baru sebentar Mala menemani Gema, Noval yang baru saja mandi dan memakai kaos putih bergambar Superman ikut bergabung, kelihatan tampak sangat segar dan tampan juga wangi.
Hati Gema sampai bergetar dan cuek dia berkata, “Ya ampun kamu tampan banget Mas Noval, kayanya baru liat deh kaos Supermannya dan wangi sekali, kaya mau ngapel saja.”
“Ngapelin siapa? Aku nggak punya pacar,” tampak dingin jawaban Noval dan Gema terhenyak kalau Noval memang belum punya pacar.
“La, kita nonton TV aja yuk atau DVD, aku banyak film lho.”
Noval mengajak Mala ke depan dan mencuekin Gema yang asyik di dapur.
“Sialan aku benar-benar jadi koki buat kalian nih?” Gema pura- pura kesal.
Kalau mau jujur sih memang beneran kesal karena hatinya mulai menyukai Noval, sayangnya Mas Noval sudah bilang dirinya lelaki normal. Sementara teringat dua minggu lalu saat dirinya memijat Mala hingga terlelap ada perasaan bergetar memandangnya. Semua tampak bersamaan dan membingungkan. Sungguh ini adalah teka-teki hati dan juga rahasia hati yang tidak bisa dibagi dengan siapapun.
Sekarang pun Gema jadi bingung sendiri, apakah dia cemburu dengan Mala yang sepertinya langsung memikat Noval yang sangat dingin dengan kaum perempuan ataukah merasa marah dengan Noval yang tidak peduli akan perasaannya yang ternyata perasaan yang sama dirasakan saat menyukai Dirga. Semua serba membingungkan hati Gema.
Noval memandang wajah Mala yang tengah menonton film Eat Pray Love dengan tokoh utama si cantik Julia Roberts.
“Keren filmnya La, aku sudah sempat dua kali nonton, kamu bakalan suka lanjut deh perjalanan terakhir dia empat bulan di Bali. Sangat eksotik dan manis,” Noval mendekatkan wajahnya di samping Mala.
Mala mencium wangi minyak wangi entah merek apa yang lembut dan nyaman. Sementara Mas Aras sendiri jarang memakai minyak wangi tapi banyak ingin merubah dirinya untuk menjadi wanita sekali.
“Rumah kamu bikin betah, nyaman Mas Noval.” Mala bicara apa adanya.
“Kamu suka?” malah Noval kini menatapnya lekat, membuat Mala jengah tapi juga ada perasaan suka. Mas Noval secara fisik luar biasa dan kalau mau jujur mengalahkan Mas Aras. Tatapan matanya tajam tapi juga lembut. Mala suka dan rasa nyaman entah kenapa menyelimuti dirinya.
Diam-diam Gema memperhatikan Noval dan Mala yang sudah akrab seperti teman lama. Bahkan Mas Noval memberikan sebuah bantal besar agar Mala bersandar dan nyaman menonton film romantis.
Gema belum bisa berpikir panjang apa yang tengah dirasakan dua sahabatnya sekarang. Tapi yang jelas sikap Mas Noval terhadap Mala sikap yang tidak pernah diberikan pada cewek sebelumnya.
“Kenapa aku jadi merasa terasing dengan diriku sendiri?” Gema jadi serba salah dan bingung tapi mencoba bersikap biasa, bersikap apa adanya dirinya yang tetap cenderung bersikap kewanitaan.
“Mi bakso sudah datang, ayo kita nikmati bersama,” Gema datang dengan tiga mi bakso yang mengepulkan asap.
“Hmmm wanginya,” Mala langsung semangat menyantap. Dan memang bakso ala Gema membuat Mala dan Noval nambah, dan Gema tampak puas jerih payah memasaknya dihargai Mala dan Noval yang tidak malu-malu berebut menghabiskan di panci.
Setelah kenyang, Mala bersandar pada bantal besar yang sebenarnya kesayangan Noval setiap menonton tv.
“Ma nanti aku dipijitin ya di rumah?” Mala berkata manja seperti biasa terhadap Gema.
Tiba-tiba mata Noval melotot dan mengisyaratkan geleng kepala yang artinya Noval melarang dirinya memijat Mala. Sementara Gema sadar mana mungkin menolak permintaan Mala.
“La, kayanya aku abis anter kamu nggak sempat mijitin deh, kasihan Ibu sudah seharian aku tinggal.” Gema memberikan alasan.
“Oh iya... ya udah deh besok-besok saja,” kata Mala dengan nada kecewa.
“Biar aku pijitin sekarang aja La... pijitan aku nggak kalah kok ama Gema,” Noval menawarkan diri,
Jujur Mala agak bingung juga, tapi memandang wajah Gema yang mengisyaratkan oke Mala menjawab, “Baiklah aku coba pijatan Mas Noval deh.”
Ternyata pijatan Noval juga tidak kalah enak dengan pijatan Gema. Mala sangat menikmati dan rasa lelah banyak berkurang. Dari kemarin dia banyak di depan komputer dengan tugas-tugas kuliah. Refreshing malam ini benar-benar mengendorkan urat syaraf.
Tak terasa Noval lama juga memijatnya, sampai film Eat Pray Love selesai. Keringat Noval bercucuran.
Gema mengejek Noval, “Emang enak jadi tukang pijitnya tuan putri Mala.”
“Mending jadi tukang pijitnya Mala daripada aku musti mijitin kamu!” Noval terang-terangan memilih Mala.
Otomatis Gema menjulurkan lidah dan mencibirnya, “Sialan, lagipula kapan aku minta dipijit...”
Noval kaget juga karena Gema melempar bantal kecil ke pangkuannya tanda gemas dan kesal terhadap dirinya. Jelas sudah Noval ada hati dengan Mala.
***
Other Stories
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...