The Fault

Reads
1.5K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Airis

Chapter 5

Benny berada di sebuah Club dengan sebuah margarita di tangan. Margarita merupakan minuman beralkohol jenis liqueur yang berupa campuran liqueur grand marnier atau cointreau.Ini sudah ketiga kalinya dia berada di klub sejak Dimas mengajaknya beberapa hari yang lalu.
Ini entah sudah gelas keberapa, Benny tidak menghitungnya. Pikirannya kacau balau dengan tidak adanya kabar dari Renata. Rose tiap kali ditanya menjelaskan kalau dia masih berusaha membujuk Renata.
Fitria, perempuan yang dikenalnya ketika memasuki klub untuk pertama kalinya duduk di sebelahnya. Daritadi duduknya tidak setenang biasa. Benny merasa terganggu dengan kehadirannya. Dengan sedikit terhuyung, Benny meninggalkan Fitria dan bergabung ke lantai dansa. Musik DJ membuat tubuhnya bergerak menyesuaikan musik. Berbagai macam perempuan dan laki-laki saling berdekapan, bahkan ada yang saling memakan bibir. Yang ada dipikiran Benny hanyalah Renata.
“Benny?” Panggilan di dekat telinganya tidaklah begitu asing. Benny membuka matanya lebar-lebar dan mengenali Arisa.
“Arisa?”
“Kamu ngapain di sini, Ben? Nggak nyangka banget aku bakal ketemu sama kamu di sini. Renata mana?”
“Jangan sebut nama dia!”
Arisa mengerutkan kening. “Kamu lagi ada masalah sama Renata?”
“Dia ninggalin gue, dia milih pergi daripada bertahan sama gue. Gue emang nggak pantes buat jadi suami.” Benny mulai meracau tidak jelas. Badannya terhuyung ke depan dan kebelakang. Sebisa mungkin Arisa memegang tangan Benny agar tidak jatuh ke lantai. Dengan menumpukan berat Benny ke tubuhnya yang kecil, Arisa membawa Benny ke sebuah tempat yang agak tersembunyi namun cukup lega untuk meletakkan tubuh Benny yang sudah seperti orang pingsan.
Sebenarnya lo ada masalah apaan, sih, sama Renata sampai bikin lo sekacau ini?
***
Mentari mengintip dari balik gorden. Benny menggeliat sembari memijit kepalanya yang terasa pusing. Sebuah tangan melingkari perutnya. Dia sudah tersenyum membayangkan Renata memberinya kejutan untuk meminta maaf. Tapi wajahnya langsung pias ketika menyadari siapa yang tidur di sebelahnya.
Benny mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Dia tidak mungkin tidak mengenali rumahnya sendiri, terutama kamar yang dia dekor dengan tangannya sendiri. Katakan ini mimpi dan ketika bangun Benny akan menemukan Renata dalam pelukannya, bukan wanita lain.
Benny tertegun melihat baju yang berserakan di lantai. Dia melirik tubuh atasnya yang tanpa baju, begitu juga dengan tubuh Arisa yang selimutnya tersingkap, memamerkan punggungnya yang polos. Tergesa dia memunguti baju dan memakainya.
“Apa yang udah elo lakuin, Ben?”
Benny duduk di kursi ruang makan dengan pandangan kosong. Dia tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya. Seingatnya dia hanya mabuk lalu turun ke lantai dansa dan bertemu dengan Arisa.
“Masalah sama Renata aja belum kelar, malah bikin masalah baru.” Tangannya memukuli kepalanya. Dia merasa bodoh mengikuti saran Dimas untuk melepaskan stres di klub.
Masih larut dalam pikirannya, Arisa berjalan dengan pakaian yang sudah lengkap.“Kamu menyesal, Ben?”
Benny menghindari kontak mata langsung dengan Arisa. Rasa malu bercampur amarah membuatnya ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup. “Ini salah, Ris.”
“Tapi kamu juga menikmatinya.”
“Gue enggak.”
“Benarkah?” Arisa duduk di kursi sebelah Benny. “Kamu mengaku tidak pernah bisa menyentuh Renata, tapi kamu begitu liar semalam. Apa semalam adalah akumulasi dari rasa frustasimu selama menikah dengannya?”
“Bukan. Gue cuma salah mengenali, gue kira elo Renata.”
“Tidak usah mencari-cari alasan. Kamu berkali-kali menyebut namaku, bahkan seingatku kamu sama sekali tidak menyebut Renata.”
Benny tersentak, dia mengingat secara gamblang kejadian semalam. Dia seperti dijatuhi berton-ton rasa bersalah ketika mengingatnya.
“Apa kamu sama sekali sudah tidak mencintaiku?”
“Gue cuma cinta sama Renata.”
“Tapi dia pengen kamu nyari perempuan lain dan menceraikannya. Apa aku bukan kandidat yang tepat untuk itu?”
“Lo gila?”
“Aku masih mencintaimu, Ben. Bahkan Mama kamu juga setuju kalau kamu menikah denganku. Aku juga nggak masalah kalau harus jadi istri kedua kamu.”
“Nggak semudah itu. Gue nggak mungkin menduakan Renata.”
“Aku tahu kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab yang aku kenal. Kamu tidak akan melakukan sesuatu sebelum memikirkannya untuk jangka panjang. Kamu tidak akan memintaku bersamamu kalau kamu tidak menginginkannya.”
“Gue ... gue cuma kesepian.”
“Dan kamu butuh aku untuk menemanimu selama Renata tidak ada. Orang yang dulu kamu anggap sebagai seseorang yang berbeda dan mengerti kamu, apakah sekarang ada di dekatmu? Dia yang ada malah membuatmu semakin mengkhawatirkannya. Kenapa kamu tidak mengikuti keinginan Mamamu untuk menikah denganku dan meninggalkannya? Kamu sudah membuatku malu dengan menolakku penuh keyakinan, tapi aku tetap tersenyum seolah aku tidak apa-apa. Aku sakit ketika harus melihatmu mengucapkan kalimat sakral ketika menikahi Renata kalau kamu mau tahu. Sekeras apapun aku mencoba untuk membencimu, lagi-lagi aku akan terjatuh pada lubang cinta yang pernah kamu buat di hatiku.”
“Gue pun sama, gue nggak bisa jatuh cinta sama lo. Cinta yang ada udah gue kasih ke Renata semua, nggak ada sisa buat lo ataupun buat diri gue sendiri.”
“Terus kamu mau melupakan semua yang sudah terjadi?”
Benny tidak tahu harus menjawab apa. Semuanya terasa tidak benar. Otaknya berpikir keras tentang langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Arisa juga diam, menunggu keputusan yang sangat sulit untuk Benny. Dia yakin seratus persen Benny tidak akan membuangnya,
“Gue nggak bisa menduakan Renata.” Benny sampai pada keputusan final-nya.
“Oh, jadi semua yang kita lakukan tidak ada artinya.” Arisa mengangguk setuju. “Aku tidak akan memaksamu, tapi tentu kamu tahu persis apa yang akan terjadi padamu.”
“Jangan menyerang kelemahan gue.”
“Aku tidak menyerangnya, jangan buat aku seperti seorang penjahat di sini. Aku hanya mengatakan berdasarkan fakta. Kamu tidak akan tenang jika melakukan sebuah kesalahan sampai kamu memperbaikinya lagi.”
“Lo nyeremin. Tahu kelemahan gue kaya gitu seharusnya lo menghentikan gue yang udah mulai kehilangan akal.”
“Dan membiarkanku kehilanganmu sekali lagi?”
Benny kaget dengan jawaban jujur dan gamblang Arisa. Perempuan itu seperti tidak takut apapun lagi, bahkan dengan entengnya dia memasakkan nasi beserta lauknya untuk Benny. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan posisi Renata sebagai istri sahnya Benny. Yang dilakukan Arisa saat ini hanyalah membuat Benny kembali jatuh cinta padanya dan melupakan Renata. Hanya itu yang diinginkannya.
***
Langit senja menjadi saksi kembalinya Renata. Ya, sore ini Renata pulang dengan diantar ayahnya. Benny menatap Renata dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kesayangannya sudah pulang.
“Jangan marahan lagi, enggak baik kalau dikit-dikit marahan. Kalau masih bisa dibicarakan, dibicarakan dulu. Renata, ingat pesan Mama untuk selalu mendengarkan Benny. Mengerti?” Wintarto berpetuah sebelum pergi.
Renata tidak berani menatap Benny. Dirinya sudah cukup kenyang dengan segala ceramah yang dilakukan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin mendapatkan ceramah lagi. Bersyukurlah, karena Benny tidak mengomentari aksinya yang tiba-tiba pulang.
“Masuklah ....”
Renata mendadak menjadi penurut. Meski tetap membantah pun Benny tidak peduli lagi. Dirinya terlalu malu untuk sekadar basa-basi. Tanpa kata laki-laki itu mengangkat tas ransel milik Renata. Sampai di dalam rumah, Renata duduk dengan tangan saling bertaut di atas lutut.
“Mama apa kabar?” Benny mencoba memecahkan es yang membuat mereka berada dalam suasana kaku.
“Baik. Dia titip salam buat lo.”
Benny mengangguk. “Gue ada acara sama Dimas dan Rendra. Lo nggak apa-apa gue tinggal?” Dia berbicara hati-hati, seolah kalau kata-kata yang keluar salah sedikit saja semuanya akan menghilang darinya.
“Em.” Renata menjawabnya singkat.
Dengan kecepatan kilat, Benny sudah siap dengan tentengan laptopnya. Berpamitan dan langsung menghilang bak ditelan bumi. Renata menghela napas lega setelah Benny pergi. Mungkin Benny juga menyadari ketidaknyamanan ini, sehingga dia memberikan ruang untuk Renata menata hati. Begitulah pikir Renata.
Benny menyeruak di pintu kantor. Rendra sudah duduk di tempat kerjanya dan menyambut sekadarnya. Benny seperti mendapatkan sesuatu yang berharga langsung berlari dan memeluk Rendra.
“Lo kenapa kaya bocah lari-larian gini, sih?”
“Gue udah nggak tahu lagi mesti gimana kalau lo nggak datang hari ini. Gue pusing banget dan lo satu-satunya orang yang akan ngasih solusi ke gue dengan benar.”
“Soal masalah Renata? Dimas udah cerita ke gue.”
Benny mengambil kursi, duduk di dekat Rendra. “Bukan soal Renata, tapi Arisa.”
“Kenapa sama Risa?”
“Gue ... gue sama dia ... emm ....”
“Lo nggak mendadak gagu, kan?”
Sebuah pukulan kembali melayang. Benny sudah kembali menjadi Benny yang ringan tangan pada teman. Rendra mengeluh dengan kelakuan Benny yang satu ini, tapi orang yang menjadi objek kekesalannya tidak mau tahu.
“Gue serius ini.”
“Lo cinta lagi sama Arisa?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Biarin gue cerita dulu, jangan asal motong aja.”
“Ups, sorry.”
Mengalirlah cerita dimulai dari Masalahnya dengan Renata hingga masalah Clubbing yang berujung dengan perselingkuhan. Rendra mengumpat ketika cerita Benny berakhir.
“Wah Dimas, kadang emang tu orang perlu dibersihin otaknya. Orang lagi ada masalah diajak nge-club.” Benny setuju dengan ucapan Rendra. “Terus gimana elo sekarang sama Arisa?”
“Dia masih suka hubungin gue, sampai bikin hidup gue nggak tenang. Gue takut kalau Renata sampai tahu dan benar-benar melayangkan gugatan cerainya.”
“Udah coba ngomong sama Arisa buat nyari jalan keluarnya belum?”
“Gimana mau nyari jalan keluar kalau Arisa tetep teguh banget sama pendirian dia buat bikin gue jatuh cinta lagi sama dia. Bahas ini sama dia hanya akan menemukan jalan buntu. Makannya gue bingung banget sekarang.”
“Lagian lo dulu bilangnya nggak akan pernah nyentuh minuman beralkohol, terus kenapa lo bisa sampai mabuk gitu, ha?”
“Namanya juga orang stres, ya mana tahu kalau gue bakal mabuk dan kebablasan. Lo beda sekarang, bukannya ngasih solusi baiknya kayak gimana malah nyalahin gue.”
“Kan emang salah lo, Ben, ngikutin saran si otak mesum itu.”
Baru saja dibicarakan, Dimas masuk dengan gayanya yang flawless. Namun, timpukan membuat kesempurnaan itu cacat secacat-cacatnya.
“Anj*ng lo, Ren. Balik-balik main lepar-lempar aja.”
“Lo tu yang anj*ng. Temen lagi kesusahan malah lo ajak ke neraka.”
“Siapa?” Dengan perasaan penuh keingintahuan, Dimas mendekati tempat duduk Rendra dan Benny.
“Gue, bego!” Benny memukul kepala Dimas yang berada di depannya. “Gara-gara ngikutin saran lo malah bikin gue terjebak masalah baru lagi.”
“Kenapa emangnya? Soal yang elo sama Arisa enak-enakan?”
“Lo tahu, Dim?” tanya Rendra.
“Tahu-lah. Orang si Arisa cerita ke gue.” Dimas menghentakkan pantatya ke kursi terdekat.
“Tapi lo nikmatin semua itu, kan? Selama ini lo kan nggak pernah dapat jatah dari Renata, nggak ada salahnya make yang siap melayani.”
“Omongan lo kadang emang harus disaring. Apa perlu gue pasang alat buat nyaring omongan lo?”
“Santai, Bro. Kita sama-sama udah gedhe, jadi nggak masalah lah ngomongin hal ginian, lagian kita sama-sama cowok. Tentu aja kita tahu kebutuhan ini harus tersalurkan.”
Sebuah bolpoint melayang. Kali ini Dimas bisa mengelak, namun dia tidak tahu kalau Benny sudah melemparkan buku setebal kamus.
***
Benny duduk di Cafe ditemani secangkir kopi lampung. Matanya menerawang menembus kaca yang sedari tadi tidak luput dari pandangannya. Mengikuti saran Rendra untuk menemui Arisa, kini dia berada di sini untuk menemuinya.
“Benny ....” Sapaan dengan suara bening menyentak lamunan Benny.
“Lo udah datang?”
“Ada apa tiba-tiba pengen kita ketemu? Udah buat keputusan yang tepat?”
“Lo ... sebegitu terobsesinya sama gue sampai mau jadi orang ketiga?”
“Enggak juga. Bukan terobsesi sih, tapi lebih ke cinta mati.” Arisa menarik bibir. “Eh, kamu tau nggak, Mama kamu mau ngundang aku ke acara makan malam keluarga kamu.”
“Lo cerita ke Mama?”
Gelengan Arisa membuat Benny menarik napas lega.
“Pokoknya lo jangan ngomong yang aneh-aneh ke keluarga gue. Gue nggak mau menghancurkan rumah tangga gue karena masalah ini.”
Rumah tangga kamu sudah hancur dari sejak pertama kamu mengucapkan ijab qabul, Ben. Kamu hanya terlalu takut dengan kenyataan itu.
“Lo dengerin gue, kan?”
“Iya. Aku denger kok. Lagipula buat apa aku ngomong aneh-aneh kalau tanpa mengatakan hal tidak penting itu mereka sudah merentangkan tangan untuk menyambutku.”
“Jangan terlalu percaya diri, Ris.”
Arisa menyunggingkan senyum. “Mau taruhan?”
“Enggak.”
Tawa renyah itu sedikit memecah kecanggungan mereka. “Ah iya, mumpung kamu ada di sini, anterin aku belanja ya hari ini. Aku mau nyari baju buat datang ke rumah kamu.”
“Gue nggak bisa.”
“Yakin?” Arisa terlihat sanksi. “Kalau aku akan memberitahu kejadian itu ke Renata kamu masih tetep nggak mau juga?”
“Lo ngancem?”
“Demi hidup, Ben.”
Dengan berat hati Benny menuruti keinginan Arisa. Bahkan dia membiarkan Arisa yang terus bergelayut manja di lengannya. Perasaan asing mulai menelusup. Renata tidak pernah melakukan hal ini, perempuan itu selalu menjadi wanita tangguh yang seolah-olah tidak membutuhkan orang lain. Dan ketika ada orang lain yang melakukan hal ini, Benny merasa bahagia. Beginilah rasanya memiliki istri yang sesungguhnya.
***

Other Stories
Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma