Chapter 6
Merasa dibutuhkan dan disadari kehadirannya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Bahkan itu merupakan sesuatu hal yang tidak terduga untuk Benny. Hari ini dia sudah rapi, memakai kemeja dengan rambut yang agak rapi. Mata Renata memicing melihat dandanan yang sangat Benny hindari kecuali untuk acara formal.
“Lo ada rapat?”
“Eh?” Benny baru menyadari Renata yang menatapnya dari atas sampai bawah, berulang-ulang. “Iya. Paling gue balik malem.”
“Terserah elo, nggak balik juga nggak masalah.”
Benny mengangguk. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh membuat Benny buru-buru mengambil ponsel dan kuncinya.
“Laptop keramat lo nggak dibawa?”
“Thanks.” Padahal sebenarnya hari ini Benny tidak membutuhkan laptop. Justru dia ingin berjauhan dengan benda persegi itu. Tapi demi menghindari kecurigaan Renata, dia membawanya.
Benny menjemput Arisa yang sudah siap dengan balutan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Rambutnya yang begelombang dibiarkan terurai. Kakinya yang kecil dibalut sandal berwarna hitam, secorak dengan tas selempangnya.
“Udah nunggu lama?”
“Enggak juga. Kalaupun aku harus menunggu lama aku rela.”
Benny tersipu dengan gombalan Arisa. Dia sadar kalau sekarang dia berubah layaknya anak ABG yang baru digodain sudah memerah. Arisa hanya tertawa melihat reaksi Benny yang malu-malu.
“Kamu masih saja malu-malu.”
Hubungan mereka sudah berjalan satu bulan lalu, dimulai dari Benny yang menemani Arisa berbelanja. Benny menemukan kecocokan yang tidak dia temukan dalam diri Arisa saat mereka masih memiliki hubungan di masa lalu. Bahkan Benny juga tidak menemukannya dalam diri Renata. Sekarang dia kembali bertanya, apa yang membuatnya berani mengambil langkah besar dengan menikahi Renata. Apa yang dia lihat dari dirinya? Kini dia mempertanyakan hal itu.
Perjalan ke Dufan tidak terlalu ramai mengingat ini bukanlah weekend ataupun waktu liburan. Dufan sendiri juga tidak seramai kalau musim liburan. Arisa berjalan dengan tangan menggenggam erat tangan Benny. Dia tidak berlarian seperti yang dilakukan Renata waktu mereka melakukan bulan madu ke Dubai. Mereka pribadi yang sangat bertolak belakang.
“Aku mau naik histeria.” Arisa mengacungi salah satu wahana yang termasuk extreme. Dengan langkah santai Benny mengikuti kemauan Arisa. Antrian lumayan panjang untuk hari biasa seperti ini. Meski sebenarnya malas, namun melihat bagaimana mata Arisa menatap wahana takjub membuat Benny bertahan.
“Emangnya lo nggak pernah ke sini, Ris?”
“Pernah. Dulu waktu wisata sekolah SMP.”
“Sekali itu doang?”
Arisa mengangguk. “Abis tiap kali mau ke sini enggak pernah ada temannya. Baru sekarang aja ada yang mau nemenin.”
Antrian sedikit demi sedikit mulai berkurang. Obrolan mereka terus berlanjut hingga tidak sadar kini sudah berada di antrian paling depan dan sudah memegang tiket. Wahana yang memiliki kapasitas 24 orang itu sangat memacu adrenalin. Arisa sudah tidak sabar untuk segera naik.
Setelah pengaman di pasang, Arisa melebarkan jari-jarinya, meminta Benny menggenggam tangannya tanpa kata. Mereka bergandengan yang dibarengi teriakan karena histeria membawa mereka ke ketinggian 60 meter dengan kecepatan yang fantastis. Hanya dengan empat detik mereka sampai di puncak. Pemandangan Dufan dan pantai Maria terlihat indah dari atas.
Arisa turun dengan rambut tak tertata. Tangan Benny refleks membenarkan tatanan rambut Arisa. Arisa sendiri hanya tersenyum senang mendapatkan perhatian.
“Sekarang mau main apa lagi?”
“Kita naik ombang-ambing, yuk!” ajak Arisa.
“Nggak bisa ya lo nyari wahana yang biasa aja?”
“Nanti kalau mau nyari wahana itu. Kita harus nyobain yang ekstrim dulu.”
“Mana ada, seharusnya untuk permulaan ya kita harus nyoba yang biasa aja dulu, abis itu baru ke wahana ekstrim, biar kerasa puncaknya.”
Arisa mendekati Benny lalu menatapnya dari bawah. “Kamu takut?”
“Kata siapa? Gue cuma nggak mau lo nanti pas turun malah muntah-muntah nggak jelas. Ntar gue malu, lagi.”
“Nggak usah banyak omong ah, ayo kita main.”
Ombang ambing yang mirip dengan piring terbang ini adalah wahana favorit yang dibuat di Amerika Serikat. Wahana yang memiliki kapasitas 40 orang ini memiliki durasi permainan selama 3,6 menit.
Arisa dan Benny sudah mencoba setiap wahana yang mereka temui. Ketika mereka beristirahat di bangku bawah pohon, mereka baru sadar kalau sama-sama lapar. Menertawakan keadaan mereka, Benny mengambil inisiatif untuk mengajak Arisa makan. Tempat makan yang disediakan di Dufan lumayan banyak, memudahkan pengunjung yang ingin mengisi perut.
“Mau makan bakso atau soto ayam?”
“Masih inget aja makanan kesukaan zaman kuliah dulu.”
Benny menyombongkan diri dengan tatapannya.
“Menurut kamu enakan yang mana.”
“Bakso?”
“Ya udah yuk, bakso.”
Benny membawa Arisa ke sebuah tempat makan yang menjual bakso. Planet Baso, begitulah yang tertulis di pintu masuk. Arisa memilih tempat duduk untuk berdua di gazebo. Meja berbentuk persegi yang diletakkan di ujung dekat pohon-pohon bambu berukuran kecil menyegarkan paru-paru.
“Abis ini lo mau naik apa lagi?”
“Bianglala, yuk!”
“Udah balik normal lagi, Non?”
“Ngeledek mulu ih, aku ngambek nih.”
Pipi Arisa dicubit Benny karena saking gemasnya melihat tingkah lucu perempuan itu. “Kalau mau ngambek, ngambek aja. Nggak perlu ngomong-ngomong, kan jadinya gue tahu kalau lo ngambek. Nggak bisa godain lagi, dong.”
“Dasar om-om genit.”
“Kalau gue om-om genit lo tante-tante tukang ngambekan.”
Arisa memukul pelan tangan Benny. “Enak aja dibilang tante-tante, aku kan baby face.”
Benny hanya menanggapinya dengan tawa karena pesanan mereka sudah datang. Mereka melahap Bakso dengan diselingi obrolan dan beberapa candaan. Waktu bergulir dengan cepat. Benny tidak menyangka sudah menghabiskan hampir setengah harinya bersama Arisa tanpa rasa jenuh sekalipun.
Mereka sudah berada di dalam bianglala ketika matahari sudah berada di batas cakrawala. Nuansa romantis tercipta dengan tersendirinya. Benny menatap Arisa yang memandang jauh ke pantai Marina yang penuh dengan warna orange keemasan. Tatapan kagumnya membuat Benny menarik bibir. Rasanya ada kupu-kupu melayang di perutnya. Perasaan yang sudah sangat lama tidak dia rasakan kini dapat dia rasakan kembali. Sayangnya object yang membuatnya merasakan hal itu sudah berubah, tidak lagi Renata yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.
Benny meraih wajah Arisa, membuat wanita itu melihat padanya sepenuhnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya seiring dengan mata Arisa yang mulai tertutup. Menunggu sampai bibir mereka bersatu.
***
“Kamu ijin apa sama Renata pas mau keluar?”
“Bilang kalau mau pulang telat.”
“Dia nggak nanya lagi?”
“Enggak.”
Benny memarkir mobilnya di depan rumah Arisa. Arisa belum berniat untuk keluar, dia masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Benny.
“Ben ....”
“Hmmm?” Kali ini fokus Benny ke Arisa.
“Apa aku masih belum pantas untuk menjadi istrimu?”
Mendapat pertanyaan tidak terdua membuat Benny gelagapan. “I ... itu ....”
“Lupakan, Ben. Aku hanya bercanda.” Senyum terpaksa itu menghantam dada Benny. Lagi-lagi dia menyakiti hati Arisa. Sejak dulu dia hanya bisa melukainya saja.
“Gue masih mikirin solusinya. Gue nggak mungkin nikahin dan menomorduakan lo.”
“Lalu, kamu akan menceraikan Renata dan menikahiku?” Ada harapan yang terpancar kuat di matanya. Tapi pancaran itu meredup setelah mendengar jawaban Benny.
“Nggak semudah itu nyeraiin dia gitu aja. Gue masih mikirin caranya, jadi tolong lebih bersabar lagi.”
Arisa membuka pintu mobil. “Hati-hati di jalan,” ucapnya sebelum menutup pintu dan sedikit berlari masuk ke dalam rumah.
Benny merasa bersalah. Seharusnya dia memilih kata yang sedikit halus, meski pada akhirnya kata-katanya tetap saja akan melukai Arisa. Dirinya tidak dalam posisi yang baik. Dia tidak bisa menceraikan Renata begitu saja tanpa alasan yang jelas, dia juga tidak bisa tiba-tiba menikahi Arisa dan melakukan poligami.
Benny pulang dengan wajah ditekuk. Renata yang tengah menyiapkan makan malam menghampirinya.
“Kenapa lo balik-balik lemes kaya gitu?”
“Gue pengen tidur, jangan bangunin gue, ya.” Benny sudah membuka pintu ketika Renata menghentikannya lalu menyeretnya ke meja makan.
“Lo nggak mau nyicipin masakan istri lo yang cantik jelita ini?”
“Gue nggak nafsu makan. Lo makan sendiri aja, ya.”
“Eits, nggak bisa gitu dong. Gue udah belajar mati-matian buat masakin lo, jadi lo jangan berani-berani nolak masakan gue.” Benny akan membuka mulutnya tapi langsung dibungkam dengan tempe goreng yang rasanya lumayan enak. “Gimana? Nggak keasinan atau terlalu kering, kan?”
“Enak.” Benny menjawabnya malas-malasan.
Merasa makanannya tidak dihargai lagi padahal dia sudah bekerja keras, Renata menendang kaki Benny sampai laki-laki itu tersungkur. Bangun dari lantai, Benny sudah mau mengeluarkan amarahnya tapi ingat pesan Rose kalau dirinya diminta untuk jangan sampai menaikkan nada suaranya, terlebih membentak atau memarahinya.
“Gue masih kenyang, Ren.”
“Aaahhh... Ayolah, Ben. Emang elo nggak kasihan lihat gue udah capek-capek masak kayak gini?”
Renata sudah berubah menjadi anak anjing yang tengah merajuk ke majikannya. Dengan terpaksa Benny duduk dan melahap apa saja yang sudah ditaruh Renata ke dalam piringnya. Dia bahkan seolah tidak peduli meski renata menaruh racun tikus dalam piringnya. Dia makan seperti robot, tidak dirasakan asal piringnya berubah menjadi kosong.
“Nah, jadi gimana masakan gue kali ini? Enggak keasinan, kan?”
“Enggak. Udah pas. Sekarang gue boleh tidur?”
“Ya udah sana tidur, jangan bangun kalau perlu!”
Benny tidak menanggapi ucapan Renata. Yang dipikirkannya sekarang adalah tidur dan tidak perlu memikirkan permasalahan yang ada.
***
Arisa menelungkupkan tubuhnya ke kasur. Kepalanya dia tekan ke bantal untuk meredam suara tangisnya. Lagi-lagi dia merasa kalah dengan Renata. Setelah dia merebut perhatian Benny dan menikahinya, sekarang dia menyabotase Benny dan membuat laki-laki itu tidak dapat bernapas sesuai keinginannya. Arisa tidak menyangka akan kembali mendapatkan penolakan setelah apa yang mereka lalui bersama satu bulan terakhir ini.
Kenapa rasanya sakit sekali, Ben? Bahkan ini seperti mencekikku dan perlahan-lahan membunuhku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi agar kamu kembali jatuh ke dalam pelukanku. Aku lelah, hingga rasanya aku ingin menyerah.
Apa arti ciuman itu kalau nyatanya kamu masih belum bisa melepaskan Renata untukku. Apa arti perhatianmu kalau nyatanya kamu masih lebih memerhatikannya. Apa ini hanya sebuah janji palsu?
Menjadi satu-satunya orang yang mencintai tanpa dicintai akan terasa menyakitkan. Namun akan jauh lebih sakit ketika dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu hanya karena sebuah keadaan. Keadaan tidak mendukung meski banyak orang yang mendukung sama saja tidak akan berhasil. Seperti hubungan Arisa dan Benny yang mendapatkan dukungan penuh dari Arinda namun tidak mungkin bersatu karena masih ada Renata di antara mereka.
Ting
Suara ponselnya berbunyi. Dengan wajah yang sudah penuh air mata, Arisa mengambil ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari Benny.
Maaf karena aku belum bisa memberimu kepastian. Maaf karena aku hanya seperti memberimu kepalsuan. Tunggulah aku sampai aku dapat mewujudkan apa yang telah aku janjikan. Satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu, Arisa.
Bagaimana Arisa dapat melepaskan Benny kalau laki-laki itu terus saja memintanya untuk menunggu. Dia lelah karena merasa terombang-ambing tanpa kepastian.
Dengan segenap rasa aku mencintaimu
Dengan segenap rindu aku menunggumu
Kini aku hanya termangu menghitung waktu
Aku ingin segera menyambutmu
Namun kau tak kunjung mengunjungiku
Jadi, jangan salahkan aku ataupun waktu
Kalau rasa ini sudah bukan untukmu
Sebuah pesan terkirim. Ada sedikit kelegaan tersendiri ketika Arisa mengirimkan apa yang bercokol di dalam hatinya. Tak lama sebuah pesan singkat kembali datang.
Maaf ...
Hanya satu kata namun menjelaskan semuanya. Dia harus menunggu lebih lama lagi. Beberapa tahun ini seolah bukan waktu yang lama untuk Benny sampai-sampai meminta Arisa untuk menunggunya lebih lama lagi.
Arisa tertawa, menertawakan kebodohannya yang masih saja menyukai orang yang sama untuk waktu yang lama. Bahkan meski kini Benny sudah berstatus sebagai suami orang, namun seperti orang bodoh dia tetap menunggunya dengan harapan waktu tunggunya akan membuahkan hasil yang memuaskan.
“Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan sampai bertahun-tahun yang akan datang aku rasa perasaan ini akan tetap bertahan. Jadi aku harus bagaimana? Kamu bukan cinta pertamaku, bahkan hubungan kita tidak berjalan dengan bagus, tapi kenapa kamu meninggalkan kesan yang kuat hingga aku tidak bisa pergi dari bayanganmu? Aku bahkan rela pindah ke Jakarta untuk lebih dekat denganmu. Pelet apa yang kamu berikan padaku, Ben?”
***
Other Stories
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...