Mentari Dalam Melody

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Genta Amethyst

Chapter 2

 Gilang merasakan kakinya nyut-nyutan. Dia melihat ponsel yang berada di sisinya bergetar. Satu buah pesan masuk. Seketika wajah anak itu memucat. Keringat memenuhi dahinya.
“Kenapa?” Hampir saja terlempar ponselnya. Gilang kaget saat melihat adiknya sudah berdiri di ambang pintu.
“Kamu!” Gilang berseru.
“Apa? Biasa aja lagi. Kok mukanya tegang gitu?” Tara mengernyit heran. Melihat Gilang yang seperti menyembunyikan sesuatu di bawah bantal. Gilang cepat-cepat mengubah ekspresinya lebih natural daripada sebelumnya.
“Ngg ... gak! Nggak ada. Ngapain ke sini?” tanyanya balik. Ketus.
“Itu apa?” Seolah menghiraukan pertanyaan Gilang. Tara menunjuk dengan dagu ke arah bantal.
“Bukan apa-apa.” Gilang buru-buru menyahut. “Ngapain sih ke sini?” tanyanya lagi dengan nada lebih meninggi.
“Nih. Disuruh nganterin ini,” Tara mengangkat nampan yang ada mangkuk di atasnya dan segelas susu.
“Taruh situ.” Gilang bermuka datar. Menunjuk meja dengan tatapan. Tara yang masih penasaran dengan gelagat kakaknya buru-buru menyerbu hendak mengambil sesuatu di bawah bantal Gilang.
“Tara! Kamu apa-apaan!” Gilang melotot berusaha mempertahankan posisi tangannya yang menindih bantal itu.
“Aku mau tau kamu nyembunyiin apa,” ujar Tara yang semakin membuat Gilang blingsatan.
“Jangan sentuh! Keluar sana!” Setelah beradu kekuatan, Gilang yang tidak begitu fit, tetap saja kalah. Tara berhasil mengambil ponsel kakaknya.
“Kenapa kamu ketakutan? Pasti ada sesuatu di ponsel ini.” Tara menerka. Membuat wajah Gilang semakin panik.
“Tara, balikin nggak!” Gilang coba menggayuh. Tapi Tara menjauh.
“Serahin sini!” Tara tak menghiraukan. Dia membuka menu awal. Menekan yang bergambar pesan. Meski Tara tak cukup mampu membaca, tapi dia bisa sedikit-sedikit mengoperasikan ponsel. Dicobanya membaca.
“K-kam ... K-kam ....” Susah payah dia membaca. Tahu-tahu Gilang berteriak. Anak itu terjatuh ke lantai karena berusaha menghalau Tara.
“Gilang!” Suara berat terdengar dari luar. Ayah mendelik. Tara yang baru menyadari menatap kehadiran ayah terkejut.
“Apa yang kamu lakukan sama kakakmu? Hah?” Ayah mendelik dan bergegas membantu Gilang untuk kembali ke atas kasur. Gilang semakin tegang. Bukan rasa sakit di kakinya. Tapi kehadiran ayah. Bisa-bisa ayah tahu apa yang terjadi padanya saat ini.
“Tara mau ambil ponselku, Yah.” Gilang mendahului Tara. Tara tak jadi menjelaskan.
“Apa?” Ayah terlihat marah. Dia merampas ponsel dari tangan Tara.
“Tapi, aku ....”
“Beraninya kamu ganggu kakakmu! Keluar sana!” Ayah menuding ke arah pintu. Tara hanya menarik napas, pergi.
***
Di kelas, Tara merenung. Pikirannya terasa kosong. Dilihat buku yang dipegang. Sebuah dongeng tentang gaun biru warisan. Tara mendesah, dicobanya membaca.
“Pa-pada ... Ssua-tu ....” Baru dua kata saja, dirasakan kepalanya pusing dan hampir muntah. Tara mengangkat wajah, mendesah. Lalu coba membaca lagi.
“Ha-ha-hari ... aargh!” Dia mulai kesal. Dilemparnya buku itu sampai jatuh di lantai. Tara memukul-mukul meja, sampai dirinya kelelahan. Beruntung masih pagi. Tidak ada guru. Jadi dia tidak akan kena hukum.
“Kenapa sih, aku bodoh sekaliiii,” Tara mengerang. Mengacak rambutnya.
“Tara nggak bodoh kok.” Tara kaget. Tahu-tahu Luna sudah ada di sisinya mengambilkan buku Tara yang terjatuh tadi.
“Luna ....” Anak perempuan itu tersenyum.
“Tara kalo baca harus tenang. Ayo kita belajar sama-sama.”
“Tapi, Lun. Aku nggak bisa. Aku nggak tau kenapa aku beda dari yang lain. Kenapa aku sebodoh ini,” terlihat raut muka putus asa di wajah Tara.
“Aku pengen buktiin ke Ayah, kalo aku juga pinter. Bukan Kak Gilang aja. Apa salah?” Luna menggeleng.
“Tara perlu kerja keras yang lebih.”
“Luna, aku itu bukan pemalas. Asal kamu tau, hampir seluruh waktu kugunakan untuk belajar, membaca dan membaca. Gara-gara kebodohanku ini aku kehilangan indahnya masa kecil.” Tara bersungut. Ia merasa tersinggung tiap kali diejek malas. Tara tidak malas. Dia malah belajar lebih banyak dibanding Gilang. Tapi kenapa? Kenapa dia sebodoh itu? Luna hanya memandangi anak laki-laki di depannya. Dia tidak ingin melanjutkan lagi percakapan hari ini. Tara terlihat kesal dan marah.
“Yaudah, kita main yuk!” ajak Luna.
“Aku lagi males. Ini hari Sabtu, Lun. Ayah bakal marah kalo aku nggak tau apa isi buku itu. Setiap hari Minggu, Ayah minta aku buat cerita ulang isi buku yang aku baca.” Tara menunduk sedih.
“Dan aku selalu gagal menceritakannya. Biasanya Ayah akan memukuliku pake sabuk. Begitu terus tiap minggu.” Tara lelah. Luna menatap prihatin. Yang entah dari mana, Luna tiba-tiba mendapat ide.
“Tara bawa kotak musik Luna?” Sejenak Tara diam. Lalu mengangguk.
“Coba Tara dengerin itu. Biar Tara nggak sedih lagi.” Tara mengikuti perkataan Luna. Mengeluarkan kotak musik dari dalam tas dan membukanya.
“Nah. Sementara Tara dengerin itu, biar Luna yang bacain buku ini,” ujar anak perempuan itu bersemangat.
“Pada suatu hari, Nenek memberi hadiah gaun biru untuk Aini. Ini hari ulang tahunnya. Nenek berharap Aini memakainya, meski Aini tidak suka. Itu baju model lama. Aini ingin yang terbaru. Karena takut menyinggung hati nenek, Mama membujuk Aini agar mau menerimanya. Dan memakainya di hari ulang tahun nanti.
Keesokan harinya, Aini melihat anak perempuan dari balik jendela. Anak itu juga memakai gaun yang sama seperti gaun yang diberi Nenek. Anak perempuan itu memanggil-manggil namanya. ‘Aini-Aini ... Aini-Aini,’ panggilnya. Aini penasaran dan berlari keluar rumah untuk melihat gadis itu. Tapi, begitu sampai di depan rumah, dia tidak menemukan siapa-siapa. Keesokan harinya, lagi-lagi Aini melihat gadis itu di depan jendela kamarnya. Saat di tengok ke halaman, gadis itu ternyata tidak ada. Aini mulai ketakutan. Apa itu hanya khayalannya. Sampai suatu malam, ketika makan malam,
Aini menceritakan ini kepada keluarganya. ‘Ada anak perempuan seumuranku yang selalu ada di depan jendela memanggil-manggil namaku.’ Ceritanya. Yang membuat semua orang saling berpandangan. ‘Dia memakai baju yang sama seperti baju yang diberi Nenek’. Nenek menyahuti, ‘Aini mengenalnya?’ Aini menggeleng. Gadis itu hanya memanggil dirinya. Tidak menyebutkan namanya.” Luna berhenti sebentar menarik napas. Diliriknya Tara yang tengah asyik mendengarkan. Gadis itu tersenyum. Lalu bercerita lagi.
“Saat tertidur Aini bermimpi gadis itu. Ia melihat anak perempuan masih mengenakan baju yang sama. Duduk menepuk pundak Aini. ‘Hai Aini. Aku Aina,’ ujar gadis itu. Wajahnya sangat mirip dengan Aini. Bahkan namanya. Aini berpikir apakah Aina itu kembarannya. Tapi kenapa Mama tidak menceritakannya. Keesokan paginya, Aini bercerita saat sarapan pagi. Nenek yang tiba-tiba menangis membuat Aini bingung. Lalu kemudian menjelaskan. Aina itu Bibi Aini. Dia Kakak dari Mama yang meninggal saat usianya seumuran Aini. Dia memiliki nama dan wajah yang mirip dengan Aini. Karena itulah, setiap melihat Aini, Nenek seperti melihat Aina. Anaknya yang sudah meninggal. Itu sebabnya Nenek memberikan salah satu baju Aina, yang harusnya dipakai saat ulang tahun. Tapi, Aina tertabrak motor dulu saat pulang sekolah. Sampai dia tidak memiliki kesempatan untuk memakai gaun birunya. Aina sangat senang sekali dengan baju itu.
Aini merasa bersalah kepada Nenek. Sejak saat itu, Aini tidak pilih-pilih lagi. Dia mengenakan gaun itu dengan suka cita. Saat hari ulang tahunnya tiba, Aini melihat Aina melambaikan tangan di halaman rumah. Tentu, hanya dia yang melihat. Aina tersenyum, melambaikan tangan dan pergi. Aini tersenyum. Bersyukur dia bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 10 tahun. Tidak seperti Aina. Selesai.” Luna menutup bukunya. Beralih kepada Tara.
“Nah, sekarang giliran Tara cerita ulang, ya.” Tara menceritakan ulang. Tidak seluruh bagian. Hanya inti dari ceritanya saja.
“Seorang gadis yang diberi gaun biru warisan oleh Neneknya. Dia tidak mau. Lalu bertemu Bibinya yang sudah meninggal mengenakan gaun yang sama.” Luna tepuk tangan. Tara menjelaskannya sangat ringan sekali. Tara juga terkejut akan jawabannya.
“Nama anak perempuannya?”
“Aini.”
“Nama bibinya?”
“Aina.”
“Aini menyangka Aina siapa?”
“Kembarannya.”
“Siapa yang memberi gaun untuk Aini?”
“Nenek.”
“Bagaimana reaksi Aini?”
“Ia tidak mau. Karena bajunya kuno.”
“Aina biasanya muncul di mana?”
“Di depan jendela Aini,” ujar Tara seperti tanpa berpikir. Luna ternganga.
“Taraa ... selamat! Tara berhasil!” Luna menjabat tangan Tara. Tara bengong tak percaya.
“Lun, apa benar semua jawabannya?” Luna mengangguk antusias.
“Tara bisa menjawab semuanya dengan benar. Yeay!” Tara terdiam.
“Hei, kok diem. Tara nggak seneng?” Tara menggeleng cepat.
“Nggak gitu. Aku heran aja. Lun, itu ingatan terpanjang sepanjang yang pernah aku ingat,” ujarnya masih tidak percaya.
“Menurut Tara apa kira-kira penyebabnya?” Mereka saling pandang. Lalu melihat kotak musik itu.
“Apa karena kotak musik ini?” terka Tara. Luna mengangguk.
“Jangan-jangan kotak musik ini ngasih keajaiban buat Tara,” cetus Luna yang disambut gembira oleh Tara.
“Menurut Luna, Tara kalo mau baca sambil dengerin ini aja.”
Tak seperti biasanya, Tara merasa dirinya lebih ringan. Ia melangkah ceria menuju ruang tengah, di mana ayah sudah menunggunya. Ini waktu untuk meresume apa yang sudah dia baca. Bukan hanya Tara yang melakukan ini. Gilang dulu juga. Begini cara ayah untuk menanamkan minat baca di keluarga. Tapi melihat kecerdasan Gilang, ayah jadi membebaskan anak itu dari segala tuntutan.
Ayah yang melihat kedatangan Tara, langsung menutup korannya.
“Apa yang kamu baca Minggu ini?”
“Gaun biru warisan.” Ayah mengambil buku yang dibawa Tara, lalu membukanya.
“Ceritakan!” pinta ayah. Tara menjelaskan. Untuk pertama kalinya ia bisa menjawab dengan lancar. Entah mengapa, ingatan kemarin masih menempel kuat di otaknya. Luna benar. Mungkin kotak musik itu membawa keajaiban.
“Oke. Selesai. Seperti ini dong!” Ayah menutup bukunya setelah hampir lima belas menit, mereka bertanya jawab. Tara ingin saja meloncat tinggi-tinggi. Tapi mengingat di depannya ini ayah, Tara pantang melakukan itu. Masih bersikeras dengan sikap dinginnya, Tara beranjak menuju kamar.
“Tara selamat!” Tara tidak percaya ini. Begitu ia akan pergi, ayah berkata. Hatinya diluapi kebahagiaan tak terkira. Andai saja, setiap hari ayah begini. Tapi itu mustahil. Tara harus belajar lebih keras lagi.
***
Makan malam hari ini, ayah tidak banyak bicara atau bahkan menyinggung Tara seperti biasanya. Paling hanya menanyakan bagaimana keadaan kaki Gilang dan mengabarkan besok adalah waktu untuk Gilang check up. Tara melangkah sangat ringan menuju kamarnya. Dia bertekad akan mengerjakan soal matematika malam ini. Ibu yang melihat Tara tidak seperti biasanya, terlihat senyum-senyum. Meski dia tidak menunjukkan terang-terangan di depan anaknya.
Tara membuka buku pelajarannya. Untuk pertama kalinya dia tidak merasa tertekan. Diputar pula kotak musik itu, sampai membunyikan alunan-alunan merdu. Setiap nada yang keluar, itu seperti menenangkan hati Tara. Tara mulai melihat soal-soal latihan rumahnya. Ada beberapa model perkalian. Dicobanya mengerjakan. Baru beberapa saat dirinya sibuk, dirasakan seseorang sedang mengamatinya. Tara menoleh, dilihatnya ayah yang baru saja melintas berdeham.
“Nah, gitu dong. Terus belajar yang rajin, ya!” ujarnya setengah cuek seperti biasanya. Tara tidak menjawab. Dia lebih memilih fokus sama bukunya. Tapi diam-diam, di hatinya merasakan bahagia yang jarang dia rasakan. Ini semua berkat Luna. Berkat kotak musik ini. Berkat doa-doanya kepada Tuhan. Tara anak yang rajin beribadah. Melakukan sholat seperti yang sudah diajarkan gurunya di sekolah. Kata gurunya, Tara harus lebih giat lagi berdoa. Agar Tuhan memberikannya kepintaran seperti Kak Gilang. Dan Luna, anak perempuan itu menolongnya. Mungkin begini cara Tuhan membantu dirinya. Lewat tangan orang lain.
Tara fokus lagi pada tugasnya. Dia terasa ringan mengerjakan semua tugas-tugas malam ini.
“Wah, Tar. Ini Tara yang ngerjain sendiri?” Luna takjub saat diminta mengoreksi. Dari lima soal perkalian, Tara benar dua. Salah tiga. Tara mengangguk antusias. Memang masih banyak salahnya. Tapi anak laki-laki itu merasa senang. Benar dua itu seperti keajaiban. Selama ini, Tara seringnya salah semua. Dapat nilai nol. Ini kemajuan yang pesat baginya. Dan lagi, Tara mengerjakannya sendiri. Luna memberitahu di mana saja letak kesalahan sahabatnya itu.
“Makasih, ya, Lun!”
***
Ibu Guru Novika juga mendapat kabar baik dari ibu guru Ina. Guru matematika yang baru saja mengajar kelas tiga, menyampaikan perihal kemajuan Tara. Saat jam istirahat, ditengoknya diam-diam Tara. Anak itu memang jarang keluar kelas. Selain makan bersama Luna, Tara paling menghabiskan waktu mereka untuk bercerita, dan belajar. Melihat kemajuan yang dibawa Tara, Bu Novika berkesimpulan jika Luna membawa dampak baik bagi Tara. Menjadi seorang teman memang harusnya mewarnai. Bukan diwarnai. Dan Luna mampu memberikan itu. Sambil kembali menuju kantor, timbul kelegaan di hati Bu Novika. Apa yang sangat dikhawatirkannya selama ini, ternyata tidak terjadi. Mungkin dia terlalu berlebihan memikirkan mereka.
Segerombolan anak memasuki kelas tiga. Mereka Aldan, Fiki dan Rey. Tara dan Luna tampak tak menyadari jika ada trio itu.
“Hei, Luna!” Aldan membuka mulut. Ia melipat tangan di depan dada. Luna dan Tara segera memandang anak laki-laki itu. Aldan dan teman-temannya anak kelas empat. Mantan teman sekelas Tara.
“Luna?” Luna tidak yakin dengan panggilan Aldan, hingga menyebut ulang namanya sendiri.
“Iya, kamu!” tegas Aldan. Tara yang sudah mencium gelagat tidak baik akan kedatangan Aldan mengepalkan tangan kuat-kuat, berusaha menahan diri.
“Keluar kamu!” Aldan meminta Luna untuk pergi. Luna bengong.
“Aku punya urusan sama Tara!” ujarnya lagi. Aldan yang bergaya ala-ala bos, mengisyaratkan pada kedua temannya untuk menjauhkan Luna dari Tara. Tapi Tara menghalangi mereka.
“Berani kalian macam-macam, akan aku pukul kalian!” Luna kaget mendengar ancaman Aldan. Dia menatap Tara, berharap anak laki-laki di depannya ini menepati janji untuk tak bertengkar lagi. Tara bisa melihat anak perempuan itu memelas. Aldan dan teman-temannya tersenyum sinis, meremehkan.
“Ini semuakan ulah kamu, Tar! Kamu yang hajar Niko kemarin, kan?” Tara mengernyit. Siapa Niko? Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu. Seorang anak gendut yang telah dibuat kepalanya bocor.
“Asal kamu tau ya, Tar. Dia itu sepupu aku. Beraninya kamu macam-macam sama sepupu aku.” Aldan membusung. Napasnya terlihat tersengal-sengal menahan emosi. Fiki dan Rey ikut-ikutan.
“Oh itu sepupumu. Terus apa hubungannya kalian ke sini?”Aldan saling berpandangan dengan teman-temannya, lalu mentertawakan pertanyaan Tara.
“Hahaha. Emang apa lagi maksud kita ke sini? Kalo nggak buat balas dendam? Bodoh kok dipelihara,” ucap Aldan yang segera disambut tawa yang lain. Luna membuka mulut bersamaan dengan melebarnya matanya.
“Jadi maksud kalian?” Tara bergegas. Dia langsung menuju tempat yang sedikit lapang, di belakang bangku-bangku. Di sini ada ruang yang cukup luas. Sebisa mungkin dia menghindari benturan. Tara tak lupa menarik Luna, dan berada di depannya memasang kuda-kuda. Kadang Luna heran, bagaimana bisa Tara menjadi sekuat itu, padahal dia tidak pernah melihat Tara ikut olahraga bela diri. Dan di sekolahnya memang tidak ada ekskul bela diri.
“Hajar!” seru Aldan mengkomandoi. Fiki dan Rey maju. Tapi dengan sekali hentakan bergantian, kedua anak itu jatuh tersungkur. Kini giliran Aldan.
“Tara ....” Luna panik. Ingin menghentikan tapi tidak tahu caranya. Semoga Tara masih mau mendengarkannya. Aldan yang bertubuh kurang lebih hampir sama gendutnya seperti Niko, begitu mudah untuk dikalahkan. Aldan terjerembab di sisi kursi. Hampir saja mengenai kursi. Rupanya tubuh besar mempengaruhi gerak lincahnya. Sedikit keuntungan bagi Tara. Di saat semuanya jatuh, di situlah Tara segera menarik tangan Luna pergi keluar kelas.
“Tara ... tapi mereka?”
“Mereka tidak akan apa-apa. Ayo cepat!” timpal Tara dengan yakin.
***
Gilang memaksa untuk masuk sekolah. Dia bosan terus-terusan di rumah. Lagian, kakinya juga tidak begitu bahaya. Dia masih bisa berjalan dengan alat bantu.
“Gilang mohon, Yah. Sudah hampir seminggu Gilang nggak masuk,” keluhnya. Membuat ayah menghela napas. Tara tak begitu banyak omong. Dia hanya mendengarkan saja. Kali ini, ayah mulai baik padanya. Dan Tara tidak ingin membuat ayah marah lagi. Tara berpikir, dengan begini Tara bisa sedikit demi sedikit mendapat kasih sayang ayahnya.
Ayah mendesah pelan. Permintaan Gilang cukup berat baginya. Lelaki paruh baya itu menghentikan makan dan menatap anak sulungnya.
“Tapi Gilang ....”
“Gilang janji, Gilang nggak akan kenapa-napa. Yah, pliis! Pliiss, Yah!” rengek Gilang. Seperti anak kecil batin Tara. Dalam hatinya dia bergumam sengit. Bagi Tara Gilang itu lemah. Yang bisanya cuma mengandalkan orang tua. Bersembunyi di balik tubuh ayah. Apa-apa ayah. Berbeda dengan dirinya yang selalu membereskan semua sendirian. Tara ingat beberapa waktu lalu ia mendengar keluhan Gilang tentang teman sekelasnya yang berusaha mencontek saat ulangan harian.
Gilang memberi tahu ibu guru, dan anak itu segera diberi teguran. Ayah sangat mengapresiasi upayanya. Menurut ayah, itu harus dilakukan. Sebuah tindakan patriotik. Tara mendecih. Itu terlalu berlebihan baginya. Dia juga pernah melakukan hal yang sama pada seorang anak. Walau dirinya bodoh, tidak lantas membuat Tara mengambil jalan pintas. Perbuatan mencontek itu tidak terpuji. Begitu kata guru PKN-nya. Tapi Tara tidak juga melaporkan. Dia menegur anak itu setelah ulangan harian. Dan mengancam, kalau sampai anak itu mencontek lagi, Tara akan melaporkannya pada ibu guru.
Anak perempuan yang ketahuan itu ketakutan. Apalagi yang dihadapinya seorang Tara. Melihat reputasi Tara yang terkenal suka berkelahi. Dan sering disebut-sebut berpotensi sebagai preman, membuat anak itu menurut. Sejak saat itu, tidak pernah lagi ditemuinya teman-teman yang suka mencontek.
***
Pagi ini, Tara melihat Gilang sudah siap dengan seragamnya. Anak laki-laki itu berjalan dengan alat bantu. Tak ada sapaan dari Tara. Dia malas jika harus menyapa kakaknya itu.
“Gilang kamu harus jaga diri, ya!” pinta ayah dengan raut muka khawatir. Gilang mengangkat jempolnya untuk meyakinkan Tara. Sopir membukakan pintu untuk Gilang di depan. Sedang Tara bisa membuka sendiri di belakang. Ayah dan ibu menaiki mobil satunya. Karena arah yang mereka tuju berlawanan, ayah memakai jasa sopir. Kantornya cukup jauh. Dia takut, tidak keburu.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Tara dan Gilang masih tetap geming. Tak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Hingga dilihatnya seorang anak perempuan berkepang dua yang sedang menunggu di depan gerbang. Anak perempuan itu tampak ceria begitu melihat mobil yang biasa mengantar Tara.
“Siapa dia?” Suara Gilang terdengar bersamaan dengan berhentinya mobil.
“Bukan urusanmu!” Tara menjawab ketus. Dia keluar dan disambut antusias oleh Luna. Luna selalu menunggunya di depan gerbang. Setiap hari. Bahkan dulu, awal-awal dia baru naik kelas tiga, satpam selalu memintanya untuk masuk saja duluan. Jangan menunggu di depan. Tapi Luna bersikeras untuk tetap menunggu di depan. Sekarang satpam tidak pernah lagi memintanya untuk pergi. Setelah Luna memberi pengertian kepadanya dan hampir menangis.
“Halo, Kak!” Luna menyapa Gilang yang membuka kaca mobil. Tara menyayangkan perbuatan Luna. Ngapain dia nyapa kakaknya? Tara terlihat tidak suka. Gilang menyambut dengan seulas senyum.
“Hai. Siapa namamu?”
“Luna, Kak.” Gilang membulatkan bibirnya, mengangguk.
“Temennya Tara, ya? Apa kamu emang sengaja berdiri di sini buat nungguin dia?” Gilang mengedikkan dagu ke arah adiknya. Luna tersipu. Tapi perlahan dia mengangguk.
“Hati-hati, Lun. Jangan sampe kamu terbawa sama dia. Dia nakal dan suka bikin masalah!” tukas Gilang. Tara melotot.
“Apaan sih, kamu! Emang kamu pikir lebih baik dari aku?” Tara berbicara kasar kepada Gilang. Luna melihat hubungan kakak beradik ini sepertinya tidak begitu baik.
“Kenyataannya, kan, memang begitu?” Gilang tersenyum sinis melihat adiknya. Tara yang sudah siap dengan kepalan tangan segera merangsek maju. Tapi Gilang sudah menutup kaca mobilnya lebih dulu, dan meminta sopir untuk pergi.
“Tara, udah!” Luna coba menghentikan. Tanpa suara, Tara masuk ke halaman sekolah sedang Luna terus mengikutinya.
“Kenapa Tara kasar ngomongnya sama Kakak Tara? Tara kan adiknya,” ujar Luna. Berusaha mengejar langkah Tara yang besar-besar. Dia sedikit tertinggal di belakang.
“Terus mau kamu?” sambutan Tara terdengar tak enak di telinga Luna. Gadis itu menarik napas.
“Ya ... Tara harusnya panggil Kakak ke dia.” Tara langsung menghentikan jalannya membuat Luna hampir menabraknya.
“Kamu nyuruh aku panggil kakak sama Gilang?” Tara menyeringai. Luna mengangguk. Anak laki-laki itu menghela napas, lalu berjalan lagi.
“Kenapa?”
“Kamu nggak tau, Lun. Kelakukannya dia kayak apa. Coba kamu tau,” kesal Tara.
“Tapi, kan dia Kakak Tara,” timpal Luna yang membuat Tara ingin mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Bisa nggak sih, kamu nggak usah ikut campur urusanku sama kakakku?” Wajah polos Luna memerah. tidak tahu jika Tara akan marah padanya. Bahkan menyentaknya dengan suara kasar.
“Tara marah sama Luna?” ujarnya lirih hampir menangis. Yang membuat Tara jadi serba salah. Dia tidak tega juga melihatnya.
“Enggak. Kalo Luna nggak bahas dia lagi,” suara Tara melunak. Luna menunduk.
“Luna kan cuma mau ngingetin. Tara jangan marah, ya, sama Luna. Luna janji deh. Luna nggak akan ungkit-ungkit tentang Kakak Tara lagi,” ujarnya menyerah. Tara menghela napas. Lalu tersenyum. Mengajak Luna untuk masuk ke kelas.
***
Sesuai perintah, pak sopir mengantar Gilang sampai ke kelasnya. Di kelas, seorang anak laki-laki sudah menghadangnya lebih dulu.
“Kamu!” Gilang kaget saat melihat anak laki-laki itu. Dia Dody. Anak yang kemarin hari menyerempetnya. Juga yang terus-terusan mengancamnya lewat SMS. Gara-gara kapan lalu dengan beraninya Gilang melapor ke ibu guru perihal Dody yang membawa kertas contekan. Yang disembunyikan di balik lipatan dasi. Dody diikuti empat orang temannya yang berada di belakang. Mereka bersedekap, menatap sengit Gilang.
“Kupikir kau mati!” Tatapan Dody tajam. Diam-diam Gilang bergidik. Merasa ngeri sendiri dengan kedua mata itu.
“Ini peringatan! Kalo sampe macem-macem lagi sama kita, rasakan sendiri akibatnya!” Dody mengisyaratkan kepada teman-temannya untuk pergi. Gilang menghela napas lega. Bersyukur karena anak-anak itu tidak memukulinya. Setelah kejadian itu, Dody dihukum berdiri menghadap bendera sampai jam pulang dan mendapat sanksi point.
Seharian ini, Gilang selalu membuat dirinya bergabung dengan teman-teman yang lain. Berharap dengan begini, semakin kecil peluang Dody untuk memiliki kesempatan mendekatinya. Setelah tidak ada tanda-tanda membahayakan, Gilang merasa keadaan menjadi aman kembali. Sebab dendam mereka telah terbalaskan dengan hampir mematahkan kaki Gilang.
***
Tiga orang anak mengamati Tara dan Luna yang baru saja keluar dari koperasi menuju kelas. Tara menemani Luna yang ingin membeli isian pensil. Mereka terlihat asyik sendiri. Entah apa saja yang sedang dibincangkan. Tiga anak itu, terus mengamatinya dengan sinis.
“Nanti, sepulang sekolah kita hajar Tara!” kata Aldan. Dia masih kesal dengan anak itu. Sebelum Aldan memukulnya sampai jatuh, Aldan tidak akan berhenti. Mereka sudah menyiapkan kayu untuk memukuli Tara.
***
Sialnya, pada saat pulang sekolah, Gilang menyempatkan diri ke toilet. Dia bertemu Dody bersama teman-temannya. Gilang yang baru saja hendak masuk, melihat Dody dan ke empat kawannya menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh. Gilang mendelik. Lalu beberapa juga menenggak pil-pil kecil warna kuning. Tanpa pikir panjang, Gilang dengan tubuh gemetar merekam kejadian itu. Gilang selesai mengambil gambar mereka. Karena saking gugupnya, tak sengaja ponselnya terjatuh dekat tong sampah yang terbuat dari seng. Benturan yang cukup keras membuat orang-orang di dalam toilet mendengarnya.
“Siapa itu?” Gilang tergeragap. Susah payah dia membungkuk, mengambil ponselnya. Dia merangkak. Lalu perlahan menggeser tubuh ke samping dan berjalan perlahan setelah berhasil mendapatkan ponselnya kembali. Gilang memilih lewat belakang kelas. Bersembunyi di balik lengkungan tembok.
“Nggak ada siapa-siapa, Boss!” lapor salah seorang kepada Dody. Begitu melongokkan kepala keluar toilet.
“Coba cek tempat lain.” Kelima anak itu buru-buru mengemasi barang-barangnya. Mereka berpencar mencari.
Gilang tergesa. Dia harus lebih cepat. Ada sebuah beton melintang di depannya. Gilang mengumpat kesal.
“Sialan!” makinya. Dengan susah payah coba dilewatinya. Tapi kakinya terantuk beton itu, dan hampir saja jatuh.
“Aw!” Suara aduhannya itu sampai terdengar ke arah salah seorang. Seorang anak berkepala botak melihat Gilang yang bersusah payah berlari.
“Di sini Boss!” teriaknya. Membuat segerombolan yang lain segera memburu ke tempat yang ditunjuk anak tadi. Lari Gilang yang tak begitu cepat, membuat mereka menemukannya.
“Hoy! Jangan lari kamu!” teriak mereka. Dody mendelik saat tahu itu Gilang.
“Sialan! Anak itu lagi,” ujarnya memaki dan meludah. Gilang lari pontang-panting sampai mencapai mobil. keringat dingin mengalir deras di seluruh tubuhnya.
“Jalan, Pak!” pinta Gilang yang diiringi napas lega. Dia menengok ke belakang. Anak-anak itu tak ada lagi. Fiuth ... Gilang bisa tenang sekarang. Besok, akan ditunjukkannya bukti-bukti yang sudah berhasil dia dapat kepada kepala sekolah. Gilang tidak menyangka, jika Dody menggunakan obat-obatan terlarang.
***
Gilang jenuh dan memainkan game di ponselnya. Itu ponsel kemenangan yang diberi ayah untuknya ketika dia baru menang lomba melukis untuk pertama kali. Tapi kemudian ia ingat sesuatu. Dan lebih memilih melihat foto-foto tadi. Membuka galeri foto dan mengamatinya. Ada sekitar 5 kali jepretan. Agak ngeblur karena diambilnya sembarang. Tapi cukup jelas. Ia juga sempat merekam adegan mereka. Namun sayangnya hanya berdurasi 56 detik. Hah ... Gilang menghembuskan napas. Video yang terlalu pendek. Tapi sepertinya cukup untuk menjadi bukti. Ini gawat. Gilang harus melaporkannya ke kepala sekolah besok.
“Jadi kamu di sini!” Suara berat yang sangat familiar itu membuat Gilang menoleh. Matanya mendelik. Dody dan teman-temannya!
“Kalian ....”
“Iya! Kenapa! Kamu emang suka nyari masalah ya, sama kita! Keluar sini!” Dody mencengkeram kerah Gilang dan menariknya keluar mobil. Posisi mobil yang cukup jauh dari gerbang sekolah Tara, di parkir di bawah pohon ceris membawa keuntungan buat Dody. Anak itu menempelkan Gilang ke mobil dan menekannya.
“Apa yang tadi kamu liat!” desaknya. Mata Dody membuat Gilang takut. Tajam dan menikam. Gilang menggeleng cepat.
“Liat ... liat apa?” tanyanya pura-pura tak mengerti.
“Alaaah ... udah deh, Lang. Akuin semuanya! Kamu tadi liat kita, kan?” Dody melotot. Membuat Gilang berkeringat dingin. Anak laki-laki itu menelan ludah. Tenggorokannya terasa sakit, saat ditekan oleh siku Dody. Sedang dua orang sudah memegangi tangan Gilang untuk mengantisipasi perlawanan.
“Apaan sih, kalian! Aku bener-bener nggak tau apa yang dimaksud.” Gilang berdalih membuat Dody semakin berang. Ditariknya kerah Gilang dan dihantamkannya ke mobil.
“Bohong! Aku nggak percaya sama kamu!” Dody mengisyaratkan kepada teman-temannya dengan mata. Gilang yang paham maksud itu mendelik.
Bruaak! Satu tinju telak mengenai pipi kiri Gilang. Serangan dadakan itu, membuatnya terhuyung. Tapi Gilang masih bisa berdiri berpegangan pada mobil.
“Ngaku nggak!” desak mereka. Gilang menggeleng. Pipinya terasa nyeri. Beruntung tidak ada darah yang keluar dari tepi bibirnya. Bruaak! Satu kali lagi di pipi kanannya. Gilang masih berusaha keras tidak mau mengaku.
“Kamu tadi liat kita, kan di toilet sekolah?” tanya Dody. Yang membuat Gilang lagi-lagi menggeleng. Kali ini dirasakannya sesuatu mengalir di tepi bibir.
“Sueer! Aku nggak liat!” Dody tidak mempercayai omongan Gilang. Anak ini licik. Dia meludah ke sisi kiri.
“Kayaknya kita harus bikin dia ngaku deh!” Belum sempat Gilang mencerna kalimat Dody dia sudah mendapat pukulan pada perutnya. Anak-anak masih memeganginya. Gilang terlempar ke sana kemari sampai dia roboh. Lalu mereka menginjak-nginjak kaki Gilang yang digips.
“AARRGHH!” Gilang menjerit kesakitan. Entah dia masih bisa bertahan atau belum. Keributan itu tak begitu mengundang banyak perhatian. Penglihatan orang-orang terhalang mobil. Membuat Dody lebih leluasa memukuli Gilang. Pintu gerbang mulai sepi. Hanya tinggal dua orang anak yang baru saja muncul.
“Nah, itu jemputan Tara udah datang,” seru Luna menunjuk mobil. Tara melambai pada anak gadis itu menuju mobil. Ia terperanjat begitu disaksikannya Gilang diinjak-injak di bawah.
“Kakak!” histeris Tara berlari menuju Gilang. Tubuh Gilang sama sekali tak begerak. Tara mengguncang tubuh kakaknya.
“Kakak! Bangun!” Tara terisak. Masih tak ada sahutan. Dody yang hanya tersenyum sinis menyaksikan Tara, tidak peduli. Ia mengisyaratkan untuk pergi kepada teman-temannya. Tapi sebelum itu, Tara sudah bangkit berdiri.
“Hey kalian! Kalian harus tanggung jawab! Kalian apa kan Kakakku!” lantang Tara dengan tubuh gemetar karena marah. Dody dan teman-temannya menoleh.
“Kamu ngomong sama kita?” ledeknya yang disambut tawa. Tara menggeram.
“Tanya sendiri tuh sama Kakakmu. Dia sudah sok ikut campur urusan kita!” Dody tertawa-tawa. Mengajak teman-temannya untuk pergi saja, tidak perlu meladeni bocah kecil.
“Hyaaattt!” Tara berteriak dan berlari sekencang-kencangnya. Dody terhenti begitu mendengar teriakan Tara. Anak itu mengerang dan tersuruk ke depan saat dirasakannya sebuah tendangan telak mengenai kepalanya.
“Hei kamu!” Teman-teman Dody bereaksi. Dia memandang anak kecil berseragam SD itu. Dody mengumpat. Balik badan menghadap Tara.
“Sialan! Besar juga nyalinya. Hajar dia!” Dody mengkomando. Yang segera disambut oleh teman-temannya. Dua orang maju mau memegangi Tara. Tapi sayangnya mereka malah terkena tendangan kaki Tara dengan gerakan memutar sekaligus. Buk! Buk! Dua anak tersuruk mundur. Lalu maju dua lagi. Satu menyerang di sisi kanan, satunya lagi di sisi kiri. Tara menggenggam tinjuan dari yang kanan lalu melakukan hal yang sama. Menggenggam kepalan tangan anak dari yang kiri. Diputarnya tangan anak-anak itu sampai mereka menjerit kesakitan.
Sialan! Anak ini jago juga kelahi! Batin Dody yang dari tadi hanya mengamati. Tara dikeroyok empat orang sekarang. Dari kanan kiri depan belakang. Mulanya anak itu bisa menghindari. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Juga tenaganya tidak mungkin menangani anak-anak ini.
Tara berjuang keras. Paling enggak meski dia babak belur, Tara harus membuat lawannya cidera. Dilihatnya sejenak Gilang. Dia memang membenci Gilang. Tapi melihatnya seperti ini, tidak membuat Tara senang. Bagaimanapun, Gilang adalah kakaknya. Tara benci jika harus mengakui, dirinya sebenarnya menyayangi Gilang.
Samar-samar Gilang mendengar suara keributan itu. Perlahan matanya membuka. Dilihatnya Tara sedang balas memukuli mereka. Gilang tersenyum, tapi kemudian berangsur-angsur kesadarannya lenyap kembali.
“Dia kuat banget, Boss!” seru seseorang yang memegangi hidungnya berdarah. Dody meyakini itu. Gerakannya yang membabi buta tanpa pikir panjang, membuat Tara mampu menghajar habis-habisan temannya. Tapi Tara lengah. Saat seorang anak berada di belakangnya dan memukuli kepalanya dengan batu lancip berkali-kali. Sampai dirasakannya sesuatu yang lengket memenuhi rambut. Tara terhuyung. Mereka memukul-mukul anak itu. tapi herannya, Tara masih sanggup berdiri dan memberi perlawanan. Desakan mereka membuat Tara terlempar ke jalanan.
“Taraaa ....” Luna yang dari tadi diam terngaga. Tidak bisa mengeluarkan suara, akhirnya berteriak juga. Tara jatuh ke tengah jalanan. Ditatapnya Luna yang menangis. Tara hendak bangkit. Kepalanya sangat pusing. Darah terus keluar membasahi seragamnya. Tapi kemudian dirasakannya sebuah tubuh mendorong dia dengan kuat bersamaan bunyi klakson dan suara hantaman. Tara terbangun duduk. Kejadian itu begitu cepat. Suara ramai-ramai terdengar. Tapi kepalanya sudah sangat pusing. Darah keluar banyak dari kepalanya. Dilihatnya sebuah tubuh terkapar di tengah jalan. Tubuh seorang gadis, dengan banyak darah di sekelilingnya.
“Lunaaa!” Tara berteriak histeris. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.

Other Stories
Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Download Titik & Koma