Chapter 8
Jari-jari tangan Tara menari lincah di piano. Dengan penuh perasaan ia memainkan lagu ciptaannya sendiri berjudul ‘Mentari dalam Melodi’ Sepanjang permainan piano pikirannya hanya tertuju pada seseorang, Luna. Bagi Tara Luna adalah mentari keabadian. Tanpa hadirnya Luna mungkin sampai detik ini Tara masih terjebak dalam kegelapan tak bertepi.
Ini adalah konser akbar pertamanya di negeri sendiri. Selama ini, Tara sibuk konser di berbagai negara. Setelah ia memenangkan festival musik tujuh tahun lalu, Tara menjadi terkenal. Dia juga disebut-sebut sebagai pianis termuda dunia. Ia bertemu banyak pianis hebat dari berbagai penjuru bumi. Tak segan Tara sering meminta mereka berbagi ilmu dengannya. Tara sangat cemerlang. Segala genre musik dilahapnya. Selain jenius, Tara juga seorang yang pantang menyerah. Ia memiliki keyakinan kuat.
Tepuk tangan riuh bergemuruh memenuhi sudut-sudut stadion ketika Tara usai memainkan pianonya. Ia pun berdiri seraya membungkukkan badan ke penonton.
“Tara, bagaimana perasaanmu kembali ke tanah air?” tanya host lagi. Remaja berbadan tegap itu tersenyum.
“Saya sangat senang. Dan tidak menyangka. Ini semua seperti mimpi.”
“Boleh bercerita sedikit pengalamanmu?”
“Ya. Tentu saja. Selama 7 tahun ini saya dilatih menjadi pemusik profesional. Saya tidak hanya mempelajari piano. Tapi juga alat musik lain. Saya bertemu orang-orang luar biasa.” Tara menceritakan pengalamannya. Yang membuat penonton sesekali berseru gemas. Tertawa, ada pula yang terharu mendengar cerita masa kecil Tara.
“Siapa orang yang paling berjasa menurutmu?”
“Tentu keluarga saya. Ayah, Ibu dan Kak Gilang. Lalu Mas Raka yang luar biasa. Tanpanya saya tidak mungkin bisa berada di sini. Dan terakhir seseorang yang sangat istimewa menurut saya. Dia sahabat kecil sekaligus sumber inspirasi saya dalam menciptakan lagu yang saya bawakan tadi. Hanya saja ... saya dan dia hilang kontak.” Lagi-lagi penonton bergemuruh menyayangkan hal ini.
“Apakah kamu sudah coba mencarinya?” Tara mengangguk.
“Kabar terakhir yang saya dapat dia di Amerika. Setelah saya telusuri alamatnya, ternyata dia sudah pindah. Saya sangat berharap bisa bertemu dengannya.”
“Seandainya dia nonton acara ini apa yang ingin kamu katakan padanya?” Tara mengangguk. Memposisikan dirinya menghadap kamera.
“Hai, Luna. Apa kabar? Kamu di mana? Aku selalu mencarimu. Aku ingin berterima kasih padamu. Kamu sahabat terhebat yang pernah aku miliki. Bagiku kamu adalah mentari keabadian. Tanpa hadirmu mungkin sampai detik ini aku masih terjebak dalam kegelapan tak bertepi. Aku berharap, kita bisa bertemu lagi.”
***
Luna berdesak-desakkan dengan penonton yang lain. Perjuangannya bertemu Tara cukup sulit. Tara terlalu susah ditemui. Jadwal yang padat dan pengawalan yang ketat membuat Luna begitu kesulitan. Luna terjatuh dan hampir saja terinjak. Gaun selutut berwarna lembutnya juga kotor terkena injak orang-orang ketika ia jatuh. Tapi itu tak menyurutkan semangat Luna.
Dengan sedikit nekat, Luna menerobos kumpulan penjaga berbaju hitam.
“Hei Nona mau ke mana?” Mereka menghalang-halangi. Mendorong dengan paksa gadis itu. “Saya mohon, Pak. Saya ingin bertemu dengan Tara.” Luna memelas. Tapi mereka tidak mudah luluh segampang itu. Luna hanyalah sekian dari puluhan manusia yang melakukan kenekatan menerobos demi menemui Tara. Hingga seseorang mengizinkannya masuk.
“Luna!” Tara terkejut menyaksikan tak percaya. Luna berdiri di depannya. “Kamu ....” Tara melihat Luna berdiri di atas kedua kakinya. Gadis itu tersenyum. “Sekarang kamu tambah tinggi,” ujarnya tertawa lembut. Tara sangat merindukan sahabatnya ini.
“Kamu bisa ....”
“Ya, Tara. Aku berhasil sembuh.”
“Tapi, kan Dokter bilang ....”
“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Semua bisa saja terjadi. Apa yang terjadi padamu dan padaku, ini semua di luar kendali kita. Kita hanya bisa berusaha sesuai kemampuan kita. Dan pasrahkan semua hasilnya pada-Nya.” Tara tersenyum menatap gadis di depannya. Tidak ada yang berubah dari Luna. Ia masih sama seperti yang dulu. Hanya saja, sekarang tak ada lagi rambut kepang dua. Luna membiarkan rambutnya tergerai indah. Dalam hati, Tara menyakini apa yang diucapkan Luna. Dengan keyakinan, ia mampu menerobos keterbatasan.
-Tamat-
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Menjelang Siang
Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...