Tidak Semua Bisa Kau Bahagiakan
Senja itu masih terasa kelabu dalam nadiku. Dalam raga dan asa yang mulai meronta untuk segera berhenti mencintai. Dia dan air matanya masih berdiri di depan pintu dalam suara sunyi. Matanya yang bulat semakin nanar menatapku yang sedang berkemas untuk pergi.
“Apa salahku?” dia berkata dengan nada sayu.
Seperti tak peduli, aku masih terus merapikan kepingan hati. Lalu dia berjalan mendekat. Semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya.
“Menetaplah,” ringiknya, sambil menaruh satu per satu kepingan yang sudah kurapikan.
“Di mana yang menurutmu salah?” dia masih menatapku dengan bulat mata nanarnya.
Sekarang air matanya benar-benar jatuh, mengenai tanganku dan semakin melukai hatiku. Aku masih bertahan dalam keterdiaman yang panjang. Seberapa keras pun usahanya, tak akan meruntuhkan niatku untuk berkemas dari hatinya.
“Bisakah kau mendengarkanku kali ini?!” dia berteriak tepat di depan mukaku. Aku hanya mengangkat kepalaku yang dari tadi tertunduk untuk merapikan beberapa hal berserakan yang pada waktu itu aku bersukarela membawanya sekedar berbagi bahagia dengannya.
Kuhentikan aktivitasku dan kuarahkan fokusku padanya. Iris mataku menatap penuh mata yang dari tadi sudah basah dengan air mata.
“Aku mohon,” dia masih bersuara mengiba.
“Jangan memohon, aku bukan Tuhan,” datarku.
“Jangan pergi.”
“Beri aku alasan.”
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Mungkin maksudmu kau tidak ingin kehilangan pengemar.”
“Bukan seperti itu.”
“Lantas? Apa namanya jika mempertahankan tanpa ada tujuan? Aku hanya salah satu dari sekian banyak orang yang kau simpan di hatimu. Yang akan kau pilih jika kau bosan dengan salah satu yang kau mau.”
Dia terdiam. Kata-kataku sepertinya benar-benar membuatnya bungkam. Tanpa banyak bicara dia memelukku kali ini. Suara tangis yang terisak dan lelehan air mata, terasa di telinga.
“Maafkan aku. Kumohon jangan pergi.”
“Apa pun yang sudah hancur tidak akan bisa diperbaiki.”
“Jadi aku harus apa?”
“Mulailah dengan menentukan pilihan.”
“Jika aku memilih maka akan banyak yang tersakiti,” ucapnya
“Disakiti dengan kejujuran masih lebih menyenangkan daripada dibahagiakan dengan pengharapan yang berujung kebohongan.”
“Aku hanya takut, akan banyak yang tidak bahagia.”
Senyumku mulai terkembang, dia terlalu lugu atau aku yang kembali tertipu. Namun, hatinya masih kukategorikan sebagai orang baik yang memikirkan perasaan-perasaan di luar sana. Kutepuk tiga kali ujung pundaknya seraya berkata.
“Tidak semua hati bisa kau bahagiakan!
Other Stories
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
O
o ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...