Percikan Kembang Api
Tahun lalu, pada jam yang sama seperti hari ini. Kita masih sibuk bercerita tentang kembang api dan gema takbir di kota kita masing-masing. Namun, tahun ini kenapa aku hanya bisa merasakan ledakannya saja?
Entah siapa yang harus bertanggung jawab dengan kondisi setelahnya, yang kutahu hanya kau yang terduduk lesu di depan pintu dengan mata sayu. Kau bilang aku tak boleh pergi.
Kau berkata bahwa aku salah. Jika ingin membahagiakan, bukan begini caranya. Kau bilang aku hanya manusia, tidak semua hal bisa aku buat bahagia, terlebih jika itu membuat perasaanku terluka.
Kau terus bersikeras aku tak boleh lepas. Aku hanya tertawa miris melihat sikap kekanak-kanakanmu hari itu. Bagaimanapun juga, kau tampak lucu. Dengan badan tegapmu, matamu nanar menatapku sambil merengek supaya aku tetap di sisimu.
“Haruskah?” nada suaramu bergetar.
“Iya, harus,” ucapku sambil mengembangkan senyum.
“Apa salahku? Apa aku sudah tidak baik lagi di matamu?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Aku hanya terdiam.
“Seseorang yang memutuskan untuk pergi pasti mengganggap bahwa tidak ada lagi alasan untuk menetap karena yang lama ditinggali sudah tidak baik lagi.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Dia memang selalu lucu. Bahkan jika sedang marah atau merajuk seperti hari ini.
“Kenapa jadi puitis gini sih? Kan aku penulisnya,” ledekku sambil terus menatap dua bola matanya yang berbinar.
“Aku gak mau kamu pergi.”
“Banyak hati yang harus kujaga.”
“Bagaimana dengan hatiku?”
“Dia pasti menemukan pemiliknya yang lebih baik dariku.”
“Bagaimana kau bisa berpersepsi seperti itu, kau tau apa tentang isi hati seseorang?” sekarang suaranya mulai meninggi.
“Aku hanya ingin kau menetap, apa itu permintaan yang berat?” lanjutnya.
“Tidak, Andromeda Ghifakhri. Aku tidak bisa menetap di hati seseorang yang masih bingung dengan hatinya sendiri.”
Dia terdiam. Namun air mukanya mengisyaratkan penolakan akan keputusan. Aku masih tersenyum menatapnya. Bukan bahagia melihat keadaannya, namun kata orang, sesakit apapun perasaanmu, dengan tersenyum semuanya akan lebih mudah untuk dijalankan.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...